MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2 Aksi Adu Domba


__ADS_3

Cilla sedang menikmati segelas es jeruk di kantin kampus, menunggu Febi dan Lili yang berjanji akan menemuinya saat kelas mereka berakhir jam 11.45.


Semula Cilla berencana ke kantor Arjuna dan makan siang dengan suaminya karena kelas pagi ini berakhir jam 11 dan baru mulai lagi di jam 1 siang. Tapi Arjuna bilang tidak bisa karena jam 11.30 harus keluar bersama Papa Arman untuk bertemu distributor sekaligus makan siang.


“Tidak enak makan sendirian.”


Tanpa permisi Glen sudah duduk di depan Cilla dengan nampan makanan dan minuman. Mata Cilla langsung membola dan tatapan matanya sempat melihat beberapa mahasiswa yang ada di situ langsung menjadikan mereka topik pembicaraan dan siap meluncurkan gosip.


“Meja lain masih banyak yang kosong, Pak, saya lagi nunggu teman,” ujar Cilla dengan nada ketus.


“Makan siangku pasti sudah selesai saat temanmu datang. Lagipula kan sudah kubilang kalau makan sendirian tidak enak. Kita berdua sama-sama sendirian dan sudah saling kenal, jadi akan lebih menyenangkan kalau bisa duduk bareng.”


“Saya lebih suka sendirian,” Cilla sudah meraih gelas minumannya dan bersiap untuk bangun tapi tangan Glen malah meraih jemarinya yang memegang gelas.


Tubuh Cilla langsung menegang karena tatapan para mahasiswa makin intens ke arah mereka. Sadar sebagai maba yang sudah punya jejak soal cowok saat ospek. Cilla yakin kalau berita yang simpang siur itu makin tambah sedap dengan kejadian ini.


“Jangan membantah kalau tidak ingin menarik perhatian yang lainnya. Duduk !” suara tegas Glen dan tatapan matanya yang mengancam membuat Cilla batal beranjak dan melepaskan tangan Glen.


“Anggap saja kamu sedang pendekatan dengan dosen sebagai maba di kampus ini,” ujar Glen santai sambil menyuap makanannya.


Cilla diam saja dan meraih handphonenya yang tergeletak di atas meja, mengirim pesan pada kedua sahabatnya supaya cepat datang ke kantin begitu kuliah mereka berakhir.


“Laporan sama Arjuna ?” sindir Glen.


“Bukan urusan Bapak saya mau lapor atau memberitahu suami saya,” sahut Cilla dengan ketus.


“Laporan aja,” tantang Glen sambil tertawa. “Dan siap-siap saja kamu ditarik keluar dari sini. Tapi kemana pun kamu dibawa pergi oleh Arjuna, karena kita sudah fixed berjodoh, dengan cara apapun kita pasti bertemu.”


Dasar cowok gila  ! batin Cilla memaki kelakuan pria di depannya.


***


Sementara di kantor Indopangan, Arjuna baru saja masuk ke dalam lift saat notifikasi handphonenya berbunyi. Wajahnya langsung tegang dan matanya menatap layar handphone penuh rasa marah


“Ada kiriman apa lagi ?” tanya Tino langsung menebak reaksi wajah Arjuna.


Tadi pagi saat keluar dari ruangan Papa Armanselesai membahas soal pekerjaan, Arjuna yang langsung memeriksa handphonenya dikejutkan dengan kiriman foto dari nomor tidak dikenal.


Sama seperti yang lalu, nomor yang berbeda mengirimkan foto tentang aktivitas Cilla yang mampu membangkitkan emosi Arjuna hingga ke ubun-ubun.


Buka hanya insiden tabrakan Cilla dengan Glen, tapi saat pria obses itu menahan lengan Cilla juga dikirim


dalam bentuk foto ke nomor Arjuna.

__ADS_1


“Nomor yang sama ?”


“Iya, nomor yang tadi pagi mengirim foto dan sekarang kirimannya tentang Cilla dan Glen lagi.”


Arjuna langsung menyodorkan handphonenya pada Tino. Terlihat Cilla sedang duduk berdua dengan Glen di kantin lalu lagi-lagi adegan keduanya saling memegang dengan gelas minuman bersamaan.


“Gue yakin kalau nomor ini terdaftar atas nama orang yang tidak jelas. Sama seperti sebulan yang lalu,” ujar Tino sambil mengembalikan handphone Arjuna.


“Lacak aja. Ini orang sedikit nekat karena tidak langsung menon-aktifkan nomornya,” ujar Arjuna dengan wajah kesal dan keluar dari lift.


“Jangan terlalu emosi dan berpikiran buruk dulu karena itu memang yang diinginkan sama si pengirim. Cilla bukan istri yang gampang selingkuh.”


“Gue tahu, tapi yang bikin gue kesal kenapa dia nggak kasih kabar kalau Glen itu ada di kampus yang sama.”


“Kalau dari penampilannya, gue yakin kalau Glen bukan mahasiswa tapi dosen.”


“Gue coba hubungi Sebastian untuk memastikan status tuh cowok gila di kampus Cilla.”


“Bro, ini masalah pribadi elo, masalah rumah tangga. Jangan terlalu sering juga melibatkan orang lain untuk menyelesaikannya. Lebih baik elo bicara baik-baik sama Cilla .


Jangan gegabah mengambil keputusan apalagi sampai berniat menarik Cilla dari kampus itu. Elo nggak lupa kan kalau istri elo itu cewek istimewa, jadi cukup elo bicara sama dia dari hati ke hati dan susun strategi buat nyusun rencana yang terbaik.


Kenyataannya perjalanan cinta elo memang tidak semulus dan selurus jalan tol Palimanan, Bro,” ujar Tino sambil terkekeh di akhir kalimatnya.


“Tolong pastikan aja sama Evan soal nomor yang mengirim foto-foto tadi. Kalau memang terdaftar atas nama orang yang sama dengan pengirim gelap bulan lalu, bisa tolong cari tahu kira-kira siapa orangnya.”


“Sip, elo fokus sama kerjaan dulu. Gue yakin bukannya Cilla nggak mau bilang, tapi belum bilang. Elo sadar kan kalau kaki elo bisa langsung melesat ke kampusnya kalau istri lo itu laporan ada Glen di sana,” ledek Tino sambil tertawa pelan.


Arjuna hanya melengos kesal dan berjalan ke arah pintu penumpang yang ada di belakang sopir sementara Papa Arman masuk dari sisi yang satunya.


Arjuna langsung mengeluarkan handphone yang ada di saku celananya, berniat mengirimkan pesan pada Cilla.


(Arjuna) Sudah makan siang ?


Arjuna mengerutkan dahi saat melihat status Cilla sedang online namun pesan yang dikirimnya tidak langsung dibaca apalagi dibalas.


Di sebelahnya  Papa Arman hanya senyum-senyum. Dari raut wajah putranya, Papa Arman tahu kalau Arjuna sedang berkirim pesan dengan Cilla.


(Arjuna) Cilla jadi makan siang sama Febi dan Lili ?


(Cilla)  Loh Mas Juna belum meeting ? Katanya mau lunch meeting ?


 

__ADS_1


(Arjuna) OTW


Cilla)  Bisa tolong telepon Cilla sekarang ?


Arjuna mengatur nafasnya untuk meredam emosi. Tangannya langsung menekan nomor Cilla yang sudah ada dalam daftar panggilan.


“Hufftt akhirnya Cilla bisa kabur juga,” suara Cilla terdengar bahagia saat telepon Arjuna masuk ke handphonenya.


“Ada apa ?” suara Arjuna yang dingin membuat Cilla mengerutkan dahi di tempatnya.


Cilla tersenyum tipis, sudah bisa menebak kenapa suara suaminya terdengar jutek.


“Jadi Mas Juna sudah dapat laporan kalau ada Glen di kampus ? Mas Juna nggak percaya sama Cilla sampai mengirim mata-mata untuk mengawasi Cilla ?”


“Kalau iya kenapa ? Kamu takut tidak bisa bebas dan macam-macam di kampus ?”


“Cilla menghubungi Mas Juna bukan karena ingin pamer karena ada Glen di sini. Supaya Mas Juna tahu aja kalau Cilla juga nggak nyaman dengan situasi ini tapi Cilla nggak akan lari sekalipun ada sepuluh Hans dan Glen yang harus Cilla hadapi !” tegas Cilla dengan penuh  emosi lalu menutup teleponnya.


Hatinya sudah kesal mendapati situasi harus berhadapan dengan Glen yang keras kepala, berharap Arjuna memberikan rasa tenang tapi malah omelan yang Cilla terima seperti biasanya.


“Kenapa lagi ?” tanya Papa Arman yang duduk di sebelah Arjuna saat putranya menyudahi panggilan teleponnya.


“Kenapa istri kamu sampai marah-marah begitu ?”


“Ada teman Juna yang mengejar Cilla sejak tahun lalu dan ternyata dosen di kampus Cilla,” ujar Arjuna menjelaskan dengan tarikan nafas kesal.


“Belajar dewasa, Jun. Sejak awal kamu kan sadar kalau istri kamu tuh masih muda banget dan wajar kalau banyak pria yang menganggapnya masih single dan layak untuk didekati. Tapi Papa percaya pada Cilla kalau dia tidak mudah tergoda dengan laki-laki lain sekalipun lebih baik dari kamu.”


“Pa !” protes Arjuna dengan wajah cemberut, Papa Arman malah tertawa.


“Kurangi rasa cemburu yang berlebihan dan berikan kepercayaan untuk Cilla. Selama hidupnya, Cilla sudah membuktikan diri bagaimana dia bisa tumbuh tanpa pendampingan orangtua. Kamu nggak lupa kan bagaimana Cilla membatalkan pertunangan kalian hanya karena kamu ragu-ragu dan tidak percaya kalau semuanya bisa berjalan dengan baik ?”


“Iya, Pa.”


Arjuna menyandarkan tangannya pada batas jendela samping dan menoleh ke arah jalanan yang mereka lalui.


Arjuna melihat handphonenya yang kembali bergetar dan melihat ada pesan masuk dari Tino.


(Tino) Sepertinya masih orang yang sama mengirimkan foto-foto itu ke nomor elo. Soalnya  nomor si pengirim masih  terdaftar atas nama Juminten, 70 tahun asal Cirebon.


 


Arjuna menarik nafas dalam-dalam. Rupanya ada yang berusaha membuat hubungannya dengan Cilla merenggang, tapi siapa orangnya Arjuna belum ada gambaran. Dia tidak yakin kalau Riana atau Luna yang melakukannya.

__ADS_1


Kalau melihat foto-foto yang diambil, kemungkinan orang itu memang berada dekat dengan Cilla hingga punya kesempatan untuk mengabadikan momen dadakan yang dikirimkan ke nomor Arjuna.


__ADS_2