
Hari Sabtu Pagi, rumah Arjuna dan Cilla sudah sibuk dengan persiapan ulangtahun pertama Sean yang akan diadakan di halaman belakang. Tidak ingin merepotkan siapapun ,Cilla sudah menyewa jasa dekorasi dan katering untuk acara hari ini.
Tidak banyak yang diundang, hanya keluarga dan para sahabat Arjuna dan Cilla karena menurut pasangan muda ini, Sean juga belum terlalu mengerti dengan pesta meriah yang membuang-buang biaya.
“Gantengnya anak Papi, nih,” ujar Arjuna mengambil alih putranya yang sudah mulai bisa berjalan dari gendongan Cilla.
Pagi ini, Cilla sudah sibuk mengurus Sean sejak bangun tidur hingga acara mandi pagi. Mama muda ini tidak gampang menyerahkan urusan putranya pada babysitter, selama ada kesempatan sebisa mungkin Cilla turun tangan sendiri.
“Cilla mandi dulu Mas Juna, titip Sean.”
“Iya Cilla siap-siap aja, Mas Juna bawa Sean ke bawah sekalian mau cek persiapannya.”
Cilla mengangguk dan bergegas ke kamar mandi karena sebagian bajunya basah terkena cipratan Sean yang tidak mau diam saat dimandikan.
30 menit kemudian, Cilla ikut turun ke bawah. Ternyata Papa, Mama dan Amanda sudah datang dan sedang bermain dengan Sean, sementara Arjuna sedang berbincang dengan jasa dekorasi yang sudah selesai dengan pekerjaan mereka.
Cilla langsung menghampiri keluarga Arjuna dan menyapa semuanya. Sean langsung mencoba berlari menghampiri maminya dengan tawa bahagia. Satu hal yang membuat Cilla sedikit melow saat ini adalah kerinduannya pada Papi Rudi yang tidak pernah sempat melihat cucunya.
Sekitar jam 10.30, keluarga Cilla dan sahabat mereka mulai berdatangan, hanya tinggal Jovan yang belum kelihatan batang hidungnya. Rencananya Jovan akan datang bersama keluarganya sama seperti Lili dan Febi yang mengajak kedua orangtua dan adik mereka.
Tidak ada acara formal yang dipersiapkan Cilla dan Arjuna karena dari antara keluarga dan sahabatnya, hanya ada Hana dan Steven yang memiliki anak. Untuk ketiga bocah itu, Cilla sudah menyiapkan bingkisan khusus.
Sedangkan Bimo dan Mimi tinggal menunggu waktu kelahiran anak pertama mereka yang menurut perkiraan dokter akan lahir sekitar 2 minggu lagi.
Arjuna sempat cemberut saat melihat dokter Steven datang bersama kedua orangtuanya dan Raven, anaknya yang sekarang sudah sekolah di taman kanak-kanak. Dokter tampan itu memang senang meledek Arjuna karena Cilla sering memuji ketampanannya.
“Kok tambah nggak mirip Arjuna ?” ledek dokter Steven saat memberi selamat pada Sean yang sedang digendong Arjuna.
“Nggak mirip gimana, dari semua orang yang melihat saya menggendong Sean, hanya dokter yang bilang kalau anak saya ini nggak ada mirip-miripnya sama saya,” omel Arjuna membuat Cilla memutar bola matanya.
“Terima aja pendapat orang susah banget, sih !” Cilla ikutan mengomel. “Sean itu kan hasil kerjasama kita berdua, masa semuanya harus mirip sama Mas Juna. Memangnya kalau Sean ada miripnya sama Cilla kenapa ?”
“Bukan begitu, Sayang. Sepertinya Steven terlalu sering melihat anak-anak makanya matanya suka sedikit ngaco untuk melihat kemiripan bentuk wajah anak dengan orangtuanya.”
“Au ahh,” omel Cilla meninggalkan Arjuna yang sempat melotot pada Steven namun dokter tampan itu malah tertawa.
__ADS_1
Suasana pesta kebun yang dipilih oleh Cilla untuk merayakan ulangtahun putranya terasa meriah, bukan karena banyaknya tamu undangan, tapi hubungan kekeluargaan yang sudah terjalin lama membuat semuanya akrab satu dengan yang lainnya. Untung saja cuaca cukup mendukung, sedikit mendung tapi tidak sampai turun hujan.
Tante Siska pun mengumumkan soal Theo yang akan segera melamar Yola dan melangsungkan pernikahan mereka di penghujung tahun. Jangan ditanya bagaimana pengumuman itu memancing ledekan dari Pandawa lainnya.
Rasanya waktu cepat berlalu, Cilla sering merindukan kebersamaan mereka saat pergi ke Ambarawa dan Semarang. Sulit untuk mengulangnya kembali karena kehidupan mereka harus terbagi dengan keluarga.
Cilla mengerutkan dahinya saat Bik Mina menghampirinya, memberitahu kalau ada tamu yang tidak dikenal datang ingin bertemu dengan Cilla. Arjuna pun menghampiri istrinya dan memutuskan untuk menemani Cilla untuk menemui orang yang mencarinya.
“Pak Glen ? Bu Susan ?”
Cilla mengerutkan dahi saat melihat Glen dan Susan sudah duduk di ruang tamu. Keduanya tidak masuk dalam daftar undangan tapi kalau dilihat dari penampilan dan kado yang diletakkan di meja sepertinya mereka bukan tanpa rencana datang kemari.
“Kami memenuhi undangan ulangtahun anak kalian,” ujar Glen menjawab kebingungn Cilla.
Cilla melirik suaminya yang sempat menautkan alis, ekspresi wajahnya juga terlihat bingung dan bertanya-tanya seperti Cilla.
“Kamu yang mengundang aku, Juna, lupa ya ?” Susan menjawab dengan senyuman manis. “Kita nggak sengaja ketemu di kampus waktu kamu lagi nunggu Priscilla dan aku yang mengajak Glen kemari supaya tidak sendirian.”
Cilla sempat melirik Arjuna yang masih mengerutkan dahi mencoba mengingat-ingat ucapan Susan, tapi belum sempat menemukan jawaban, Cilla langsung menyuruh kedua tamunya masuk ke dalam dan bergabung dengan yang lainnya.
“Sepertinya otak sama mulut Mas Juna nggak bisa sinkron kalau sudah berhadapan dengan Susan,” ketus Cilla dengan lirikan mautnya.
“Lupa dengan kejadian di pernikahan Om Boni dan Kak Mimi waktu Mas Juna ketemu dia ? Udah kayak kena hipnotis, Mas Juna sampai bergeming diajak ngomong sama dia. Memang cinta pertama susah dilupakan buat kaum pria ya.”
Dengan wajah kesal Chelsea berjalan menjauhi Arjuna dan mencari Sean untuk acara tiup lilin, sementara pria itu mengusap-usap tengkuknya sambil menautkan alis.
“Nggak salah elo ngundang macan masuk kemari ?” sindir Theo yang segera menghampiri saudara iparnya saat melihat Chelsea menjauh dengan wajah cemberut.
“Sumpah gue kaggak ingat kapan ngundang Susan. Nggak mungkin juga gue melakukannya dengan sadar setelah perbuatannya sama gue dan Cilla,” tukas Arjuna.
“Terus kenapa diajak masuk ?”
“Cilla yang mengajak mereka masuk karena nggak mungkin juga mengusir tamu yang sudah datang bawa-bawa kado pula. Posisi Cilla juga serba susah karena mereka berdua dosen yang mengajar Cilla di kampus.”
“Bro, elo nggak salah ?” tanya Tino yang datang menyusul Arjuna dan Theo.
__ADS_1
“Kita bicara nanti setelah acara tiup lilin,” sahut Arjuna yang langsung menghampiri Cilla dan Sean karena Cilla sudah memanggilnya dengan isyarat tangan.
***
Sekitar jam 4 sore hampir semua tamu pulang, hanya tersisa Lili. Febi, Jovan, Amanda, Tino, Theo dan Yola. Dimas tidak bisa ikut tinggal karena harus mengantar adiknya dan mengurus beberapa pekerjaan selama di Jakarta. Hari Senin pagi-pagi, kekasih Lili itu harus kembali lagi ke Semarang.
“Jadi elo mau bagaimana ?” tanya Theo saat ketiga pria itu sudah berada di ruangan Arjuna.
“Cilla bilang gue pasti pernah melakukan kesalahan sama Glen yang membuat dia ingin balas dendam sama gue. Tapi sampai kepala sakit, gue nggak berhasil mengingat perbuatan gue yang mungkin menyakiti Glen.”
“Kalian pernah rebutan cewek nggak ?” tanya Tino.
“Nggak pernah. Selama SMA gue sukanya sama Luna doang, nggak ada cewek lain. Glen tahu soal Luna dan nggak pernah ada tanda-tanda kalau dia suka juga, malah Glen suka manas-manasin supaya lebih agresif sama Luna.”
“Mungkin Cilla udah tahu tapi sengaja membiarkan elo mengingat sendiri,” ujar Tino kembali.
“Nggak mungkin sih, Cilla itu bukan model begitu. Kalau dia udah tahu pasti langsung ngomong dan udah habis gue diomelin.”
“Terus sekarang elo mau bagaimana ? Apa nggak lebih baik Cilla dipindah aja kuliahnya ?” tanya Theo.
“Gue juga maunya begitu, Yo, udah gue omongin juga ke Cilla, tapi dia kekeuh nggak mau. Cilla bilang mau kemanapun dia pergi, Glen pasti akan menemukan keberadaannya. Cilla berpikir dengan status Glen sebagai dosen, Cilla menbiarkan Glen berpikir kalau posisinya adalah kekuatan sementara di mata Cilla, status dosen adalah kelemahan juga. Cilla bilang kalau Glen sampai macam-macam di kampus, lebih mudah menjeratnya secara norma dan hukum karena Glen adalah dosennya. Setidaknya ada sanksi sosial juga yang bisa mmebuat Glen tidak sembarangan.”
“Jangan sampai elo melupakan Susan, Junn. Elo harus waspada sama tuh cewek karena dari sudut pandang gue, dia lebih berbahaya dari Glen. Sejak pertemuan kalian di acara Boni dan Mimi, gue perhatiin tuh cewek mendadak jadi agresif mendapatkan elo balik dan menyingkirkan Cilla.”
“Iya, selama ini dia yang kepo kirimin gue foto Cilla dan Glen.”
“Biasanya perempuan kalau udah obsesi lebih sadis dan menyeramkan Bro,” ujar Tino sambil menggedikan bahunya.
“No, elo bisa bantu gue cari tahu soal Glen ? Tolong cari tahu apapun yang mungkin jadi alasan dia nggak suka dama gue. Dan soal Susan, tolong cari tahu lewat koneksi Sebastian. Gimana ceritanya dia dan Glen bisa sama-sama jadi dosen di kampus yang sama.”
“Beres Boss,” Tino mengacungkan jempolnya.
“Bukan hanya Cilla yang harus elo waspadai, Jun, tapi diri elo juga. Jangan sampai ada cewek yang memanfaatkan kelemahan elo lagi. Kalau sampai elo macam-macam, bukan hanya surat cerai yang dilayangkan Cilla tapi gue bakal hidup elo menderita karena bikin sepupu gue sakit hati.”
“Haiss susah banget punya istri yang masih ada hubungan sama elo,” keluh Arjuna sambil menghela nafas.
__ADS_1
Tino terbahak sementara Theo tersenyum tipis dengan tatapan penuh ancaman.