MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Hati yang Galau


__ADS_3

Arjuna melangkah di depan Cilla dengan perasaan yang kesal dan campur aduk. Biasanya pria itu akan menggandeng Cilla menyusuri lorong hotel menuju kamar mereka.


Saat mereka berjalan di daerah Kuta, lagi-lagi ada sekelompok cowok yang mengajak anak bebek kesayangan Arjuna berkenalan. Bahkan baru ditinggal sebentar hanya untuk membeli minuman, dua orang turis Jepang mendekati Cilla dan bertanya-tanya soal jalan hingga akhirnya mengajak kenalan.


Arjuna langsung masuk ke kamar mandi setelah sampai di dalam kamar. Cilla menghela nafas. Cilla sendiri berusaha menjaga perasaan Arjuna dengan menolak memberikan nama apalagi nomor telepon pada pria-pria yang mendekatinya.


“Mas Juna,” Cilla ikut menerobos masuk ke dalam kamar mandi dan terkejut saat melihat keadaan Arjuna yang sudah polos hendak masuk ke dalam bathup yang baru terisi sedikit.


Cilla langsung berbalik badan dengan wajah merona. Meskipun sudah berkali-kali melewati malam panas dengan pria tampan itu, Cilla masih suka malu melihat kepolosan Arjuna di kamar mandi seperti ini, apalagi dengan cahaya yang terang benderang.


“Mas Juna jangan ngambek begitu dong, nanti cepat tua,” ujar Cilla masih berdiri dekat pintu dan membelakangi suaminya.


“Kenapa ? Malu ? Menyesal punya suami yang usianya 10 tahun lebih tua ?” sahut Arjuna dengan nada ketus. “Susah terima kenyataan kalau suaminya memang kelihatan lebih tua ?”


Cilla tersenyum, tidak berani tergelak karena bisa membuat emosi Arjuna naik level ke tingkat dewa.


“Siapa yang malu apalagi menyesal,” sahut Cilla dengan suara menahan tawa. “Malah Cilla bahagia punya suami yang beda jauh usianya karena sudah matang dan pintar memabahagiakan istri.”


“Matang karena udah ketuaan, kan ? Terlalu matang akhirnya busuk duluan,” dengus Arjuna kesal.


Cilla menghela nafas bukan karena emosi dengan sikap Arjuna. Cilla memahami kekesalan Arjuna karena hampir sepanjang hari ini mereka bertemu dengan orang-orang yang tidak percaya kalau Arjuna adalah suami Cilla.


“Mas Juna nggak kelihatan tua, beneran deh,” Cilla berjongkok di pinggir bathup setelah melawan rasa canggungnya. Apalagi Arjuna berendam tanpa menggunakan banyak sabun.


“Cilla tuangin sabunnya ya,” Cilla beranjak dan mengambil sabun cair yang disediakan hotel untuk berendam. Setidaknya dengan busa melimpah di bathup, Cilla tidak perlu menahan diri untuk tidak melirik keindahan tubuh suaminya.


“Udah jangan marah, dong. Cilla ngerti kekesalan hati Mas Juna dan Cilla akan merasakan hal yang sama kalau sampai keadaan kita terbalik. Cilla beneran sayang sama Mas Juna, nggak malu apalagi menyesal menikah dengan cowok yang umurnya lebih tua 10 tahun. Cilla udah cinta banget sama Mas Juna, nggak bisa pindah ke lain hati lagi.”


Cilla mengusapkan buih sabun ke dada dan bahu Arjuna.


“Cilla pijit punggungnya, ya. Pasti saraf lehernya pada tegang karena menahan emosi sejak siang tadi.”


Cilla berpindah ke ujung bathup untuk memijat punggung pria kesayangannya.


“Enak nggak ?” tanya Cilla setelah beberapa menit tangannya memijat bagian leher dan bahu Arjuna.


“Hhmm…”


“Yah masa hhmm doang… Kan Cilla tadi juga nggak pernah mau kasih tahu nama apalagi nomor handphone.”


”Terus maunya gimana ?”


“Jangan ngambek lagi dong ! Bukannya mau Cilla dideketin sama cowok-cowok, apalagi niat menarik perhatian mereka. Cilla udah tahu rasanya gimana. Kan sebelum menikah, banyak cewek-cewek juga yang deketin Mas Juna. Malah situasi itu lebih nyakitin karena Mas Juna seperti memberi kesempatan para penggemar Mas Juna untuk nempel-nempel sampai kecolongan cium bibir segala,” ujar Cilla dengan nada sedih.


“Jadi ceritanya Cilla mau balas dendam sama Mas Juna,” sindir Arjuna dengan tawa sinis.


“Au aahh, kesel sama Mas Juna. Cilla udah bilang berkali-kali kalau bukan maunya Cilla diajak kenalan dan nggak ada satu pun yang Cilla tanggapi karena Cilla menghargai Mas Juna sebagai suami dan tahu rasanya sakit hati pas lihat pasangan te-pe te-pe.”


Cilla beranjak bangun dengan hati dongkol dan kakinya mulai terasa pegal. Baru dua langkah, tangan Arjuna menahannya.


“Mas Juna takut Cilla tergoda karena merasa senang masih bisa menarik perhatian cowok-cowok yang lebih muda dari Mas Juna. Apalagi sebentar lagi Cilla bakal jadi mahasiswa. Pasti banyak ketemu cowok-cowok yang lebih dari Mas Juna yang tertarik sama Cilla.”


“Cilla nggak yakin situasi yang Mas Juna takutin bakal nggak ada di kampus, tapi Cilla berani menjamin kalau perasaan Cilla nggak akan pernah berubah sama Mas Juna sekalipun ada yang lebih, lebihnya banyak lagi. Tapi Cilla nggak peduli karena hati Cilla cuma bisa melihat Mas Juna.”


Cilla tersentak saat merasakan tubuh basah Arjuna memeluknya dari belakang.


“Mas Juna ngapain ?” tanya Cilla dengan nada gugup

__ADS_1


“Mau peluk Cilla. Kenapa ? Nggak boleh ?”


“Bukan begitu, kan baju Cilla jadi basah semua,” Cilla mengomel sambil berbalik, lupa kalau Arjuna dalam keadaan polos.


Tanpa disadari, Cilla langsung menoleh ke bawah membuat Arjuna tertawa karena wajah anak bebeknya langsung merona dan tersipu dan membuang muka ke lain arah.


“Cilla belum mandi juga kan, kita mandi bareng.”


“Iihhh nggak ah, Cilla belum bersihin muka dan ambil baju.”


“Nggak usah !” Tangan Arjuna sudah memegang kedua ujung kaos Cilla. “Kata orang, masalah suami istri paling cepat diselesaikan di atas ranjang.”


“Iiihh itu mah bisa-bisaan aja,” tukas Cilla masih dengan wajah merona dan malu menahan lengan Arjuna yang bergerak di ujung kaosnya.


“Kita coba kalau begitu, bukan di ranjang tapi di kamar mandi. Belum pernah kan anak koala main di kolam,” ledek Arjuna sambil tertawa.


“Kalau di dalam air namanya bukan anak koala, tapi anak bebek lagi,” sahut Cilla dengan tawa pelan karena kegelian.


“Apa aja sayang, yang penting gaya baru,” bisik Arjuna sambil menggigit daun telinga Cilla membuat istrinya itu bergidik kegelian.


“Dasar mesum, memanfaatkan situasi banget,” ujar Cilla yang akhirnya mengalungkan tangannya di leher Arjuna.


“Siapa suruh mancing-mancing singa jantan yang lagi emosi. Pakai alasan mau membuat rileks saraf Mas Juna yang tegang. Akhirnya bagian leher rileks, yang bawah gantian jadi tegang,” ujar Arjuna terkekeh.


Cilla akhirnya menyerah dengan ciuman dan pelukan hangat Arjuna, menciptakan suasana baru di kamar mandi yang dipenuhi dengan gelora cinta.


🍀🍀


Bukan hanya Arjuna yang sempat galau di Bali, ternyata Jovan sama galaunya.


Sudah dua hari ini, Amanda yang sedang menikmati liburan di Singapura bersama teman-teman sekolahnya tidak membalas pesan yang dikirim oleh Jovan, apalagi mengangkat panggilan teleponnya.


Jovan : kamu kenapa nggak balas pessn aku apalagi angkat telepon ? Ngambek ? Boleh tahu kenapa ? Kalau aku salah enaknya dikasih tahu, jangan didiemin begini aja. Ujung-ujungnya bisa salah paham karena pikiran kemana-mana.


Kiriman pesan terakhir Jovan tidak terbaca, tapi ia yakin kalau Amanda sudah membacanya saat notofikasi pesan muncul di layar handphone Amanda.


“Kenapa lagi ? Galau banget,” tanya Pingkan, sahabat Amanda yang ikut jalan ke Singapura.


“Apaan sih ?” tukas Amanda dengan wajah dibuat biasa saja.


“Jangan bohong ! Jovan kirim apa lagi ? Elo tega amat biarinin pacar nggak terima kabar dua hari.”


“Biar bisa saling mikir,” sahut Amanda singkat.


“Mikirin apa lagi sih ? Kebanyakan mikir akhirnya cowok elo capek terus gampang tergoda sama yang lebih perhatian.”


“Ya udah, namanya belum jodoh,” ketus Amanda.


“Belum kejadian aja udah senewen,” Pingkan tergelak. “Pakai bilang biarin segala. Nanti bener kejadian udah bukan senewen lagi, nangis gesor-gesor lagi.”


“Nyumpahin ?” Amanda melotot menatap Pingkan.


“Habisnya elo, kalau ada ganjelan di hati ya diomongin jangan dibiarinin. Memangnya masalah tahu cari jalan keluar sendiri ? Masalah apaan sih ?”


“Jovan membatalkan beasiswanya ke Jepang, dia tetap pilih kuliah di Jakarta. Bahkan udah diterima di PTN di luar Jakarta, juga dia tolak.”


“Alasannya ?”

__ADS_1


“Jovan nggak suka hubungan LDR, jadi dia lebiih milih tetap satu kota sama gue. Dia bilang, kuliah kedokteran bakalan sibuk dengan berbagai tugas, jadi dia nggak mau kuliah di luar Jakarta, biar tetap bisa luangin waktu buat gue kalau lagi senggang.”


“Nah keputusan yang bikin hati melambung, tuh. Terus kenapa elo jadi galau ?”


“Bo-nyok nya Jovan kelihatan kesal masalah Jovan batal ke Jepang. Mereka pasti berpikir kalau penolakan Jovan gara-gara gue.”


“Memangnya Jovan nyebut nama elo sebagai alasan dia batal pergi ?”


“Kayaknya nggak sih, Jovan cerita ke gue tanpa membawa-bawa nama gue di depan bo-nyok nya.”


”Ya udah, jangan nethink. Elo harusnya bahagia dengan keputusan cowok lo itu dan mendukungnya, apalagi dia harus menghadapi omelan ortunya. Masalah bo-nyok nya kesal ya wajar-wajar aja. Namanya juga ortu, pasti kepingin anaknya kuliah di luar negeri.”


“Jadi gue harus gimana ?”


“Manda, elo itu punya pacar yang hampir sempurna dan sayang sama elo, jangan elo sia-siakan dengan kebanyakan mikir yang nggak penting. Lebih baik elo pakai waktu buat balas perhatian dan sayangnya Jovan.”


Amanda tersenyum tipis. Apa yang dikatakan Pingkan benar banget. Rasanya kangen banget nggak dengar celoteh cowok tampan itu.


Tangan Amanda langsung bergerak membalas pesan Jovan membuat mantan ketos itu langsung menyunggingkan senyum. Sejak tadi Jovan memang menunggu balasan Amanda dengan hati harap-harap cemas.


Amanda : sorry baru balas pesan kamu. Keasyikan liburan sama ciwi-ciwi 😍😍😂. Kamu gimana di Jakarta ? Repot persiapan ospek ya ?


Jovan tidak membalas tapi langsung melakukan panggilan vc.


“Cie cie yang langsung ditelepon pacar,” ledek Pingkan saat melihat wajah Amanda yang sumringah.


“Apaan sih lo,” Amanda mencibir dengan wajah merona.


“Udah cepetan angkat, keburu putus, Jovan pikir elo lagi sama cowok lain.”


“Jauh-jauh sana !” Amanda mengibaskan tangannya menyuruh Pingkan menjauh.


“Halo,” sapa Amanda saat wajah Jovan terlihat di layar handphonenya.


“Jovan, ada yang kangen berat tuh sama pacarnya,” ledek Pingkan yang langsung muncul di belakang Amanda.


“Pingkan !” Amanda mengomel sambil menggeser posisi handphonenya.


“Jangan didengerin… hoax,” ujar Amanda saat sudah jauh dari Pingkan yang masih cekikikan.


“Beneran juga nggak apa-apa,” sahut Jovan tertawa senang. “Aku juga kangen berat sama kamu, apalagi udah dua hari dicuekin.”


“Sorry,” Amanda tersipu menjawab Jovan.


“Nggak apa-apa kalau memang lagi hepi-hepi sama teman kamu, yang penting jangan selingkuh.”


“Aman Jo, kita jagain Amanda, asal jangan lupa traktirannya,” teriak Pingkan yang sudah bergabung dengan Sandra dan Mika yang baru masuk kamar.


“Pingkaannn !” pekik Amanda sambil melotot ke arah teman-temannya yang tertawa meledeknya.


“Biarin aja, sayang. Mereka kan udah berbaik hati jagain kamu.”


“Cie cie sayang niihh… Bikin hati kita-kita jadi melehoy,” ledek Mika.


Jovan tertawa mendengar ledekan teman-teman Amanda dan menatap kekasihnya yang sedang cemberut dan mengomel pada teman-temannya.


Rasanya bahagia pikiran buruknya tidak jadi kenyataan. Ditambah lagi melihat postingan kebahagiaan Cilla yang sedang bulan madu di Bali.

__ADS_1


Akhirnya teman kecil Jovan itu bisa membanggakan dirinya di medsos dan tidak lagi kesepian atau merasa sendirian.


__ADS_2