MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2 Kedatangan Para Sahabat


__ADS_3

Sekitar jam 18.30 Cilla keluar kamar dan membawa Sean turun. Arjuna sudah tidak ada di kamar saat Cilla membuka mata, hanya Sean yang langsung tertawa melihat Cilla ada di sampingnya.


“Gemoi, ayo gendong sama onti,” Amanda yang baru keluar dari dapur langsung merentangkan tangannya.


Sean malah berbalik dan menyembunyikan bawahnya di ceruk leher Cilla.


“Dih sombong amat, sih,” gerutu Amanda yang langsung mencubit pipi gemoi baby Sean.


Cilla tersenyum saat melihat Amanda sudah tidak ngambek lagi. Untung saja Jovan datang, membantu Cilla membuat mood Amanda normal lagi.


“Kayaknya efek gue tinggal kuliah, Man. Kemarin seharian rewel, mama dan tante Siska nggak mempan bujukin Sean, makanya tadi pagi habis anter gue, Mas Juna balik lagi. Kasihan kalau pas bangun Sean nggak ngeliat papi atau maminya.”


Cilla mengerutkan dahi saat Bik Jum keluar dari dapur membawa 5 gelas air jeruk.


“Ada siapa ?”


“Rombongan sirkus,” sahut Amanda masih mencoba membujuk Sean untuk pindah ke dalam gendongannya.


Cilla bergegas ke ruang tamu, suara cempreng Lili membuatnya langsung senyum-senyum.


“Ya ampun perusuh udah berantakin rumah orang aja,” Cilla geleng-geleng kepala saat melihat kertas koran, karton bekas, lem, dan beberapa benda lainnya berserakan.


Ada Lili, Febi dan Jovan di ruang tengah yang sedang sibuk membuat atribut untuk ospek hari terakhir.


”Enak aja perusuh, yang ada kita jadi pesuruh nih. Dipaksa datang sama Pak Juna, pakai alasan mau ngomongin kerjaan sama Dimas,” gerutu Lili.


“Lagian kenapa mau ?” ejek Jovan.


“Takut disuruh remedial sama Pak Juna,” ledek Febi membuat semuanya tergelak.


Sean mendongak menatap maminya lalu ikut tertawa saat melihat Cilla tertawa.


”Siapa yang mau remedial ?” Arjuna yang sudah selesai berbincang dengan Dimas ikut bergabung di ruang tengah.


“Lili, Pak. Lili mau remedial matematika lagi, soalnya nilai di ijazah pas kkm,” sahut Jovan.


“Dih sombong banget nih calon dokter. Mentang-mentang juara umum,” Lili mencebik


Sean langsung mengulurkan tangan saat Arjuna mendekat. Amanda yang sejak tadi penasaran ingin menggendong Sean langsung mengambil bayi itu dari belakang.


Merasa terlepas dari maminya dan tidak digendong papinya, Sean langsung menangis kencang.


“Dih sombong banget sih nih bocah,” gerutu Amanda menyerahkan bayi gemoi itu pada Arjuna.


“Lagi manja sama maminya gara-gara ditinggal kuliah,” sahut Arjuna sambil membujuk Sean.


“Kayak papinya Man, nggak bisa istrinya tarik nafas sedikit dekat cowok lain, langsung senggol bacok,”ledek Lili sambil terkekeh,


“Setuju banget kalau itu,” Amanda langsung menyahut. “Tuh habis ngamuk di kampus gara-gara senior ganteng.”


“Siapa ?” tanya Febi mengerutkan dahinya.


“Hans ya ?” tebak Lili.


“Kok elo tahu ?”


“Udah dari tahun lalu, Eh, bukannya dia harusnya udah lulus ?” Lili menautkan kedua alisnya.


“Lanjut S2,” sahut Cilla.


“Seriusan ? Jangan-jangan dia sengaja lanjutin S2 demi ketemu elo, Cil. Soalnya pas kita semester 2, dia sering nanya-nanya soal elo.”


“Nah itu Lili tambah pintar, nggak perlu remedial lagi,” ujar Arjuna menanggapi.


“Tebakan saya benar, Pak ?” mata Lili membola.


“Itu bisa-bisanya Mas Juna, deh,” Cilla menepuk paha suaminya yang sudah duduk di sebelahnya sambil memangku Sean.


“Nggak, tebakan Lili benar kok, tadi si kepo memang ngomong begitu sama Mas Juna. Makanya Mas Juna ancam, kalau masih berani sama Cilla, kerjasama orangtuanya Mas Juna stop aja.”


Cilla hanya diam dan menghela nafas. Kalau sudah begini memang lebih baik menuruti permintaan Arjuna.


“Wah Lili tambah pintar nih sejak pacaran sama Dimas,” ledek Jovan. “Awas malah elo gantian ketularan absurdny Lili.”


“Nggak apa-apa, kalau dia nggak bawel berasa sepi,” Dimas senyum-senyum membela kekasihnya yang langsung sumringah.

__ADS_1


“Aduh Dimas, bikin aku jadi melehoy. Tambah sayang sama Dimas sekebon deh,” Lili langsung bangun dan merangkul pinggang Dimas.


Dimas terkejut saat Lili merangkulnya. Wajahnya memerah karena malu dan belum terbiasa, apalagi ada Arjuna yang secara status adalah boss-nya.


“Ya sudah, kita makan dulu yuk,” Arjuna meraih tangan Cilla dan menggandengnya ke ruang makan.


Sean masih belum mau dibujuk untuk digendong Bik Mina atau babysitternya.


“Biar coba ikut makan aja Mas Juna, Cilla ada biskuit. Dokter bilang kalau usia sudah 6 bulan boleh mulai dikasih biskuit dan sari buah.”


Arjuna mengangguk.dan membiarkan Cilla menyiapkan makanan untuk Sean.


Para sahabat Cilla berbincang dan menikmati makanan yang disiapkan oleh Bik Mina. Cilla sibuk memberikan biskuit pada Sean yang tertawa senang.


Arjuna mengabadikan momen pertama putranya sambil makan malam dan menyuapi Cilla juga yang sibuk dengan putra mereka.


Lili langsung menyenggol tangan Febi dan memberi kode pada Arjunan dan Cilla yang bekerjasama mengurus putra mereka.


Keduanya tersenyum, bukan memandang Cilla dengan perasaan iri tapi bahagia.


Selesai makan malam, Cilla bergabung dengan teman-temannya menyelesaikan tugas untuk besok sedangkan Sean masih tidak mau lepas dari Arjuna, bahkan beberapa kali merengek minta digendong oleh Cilla.


Lili dan Febi sudah trampil membuat tugas yang diminta karena masih sama dengan tahun lalu sementara Cilla dan Amanda mengetik semacam makalah yang harus dikumpul besok pagi.


“Cil, Sean kayaknya udah ngantuk, diajak bobo dulu deh. Tugas Cilla tinggal yang mana , biar Mas Juna yang terusin.”


“Udah beres sih, tinggal diperiksa ulang dan diedit.”


“Iya, nanti Mas Juna yang beresin.”


Lili terlihat menguap beberapa kali. Untung saja pekerjaan tangan untuk Cilla dan Amanda sudah selesai.


“Kita balik dulu, Cil. Udah ngantuk banget nih.”


“Dih alasan deh,” Febi mencobir. “Kuliah nggak, kerja sampingan juga nggak, bawaanya capek melulu. Diapain aja sama Dimas ?”


“Diutek-utek, Feb,” ledek Jovan. “Dimas yang kerja, Lili yang kecapean.”


“Dih sembarangan kalau ngomong. Gue sama Dimas masih lurus hati dan otaknya,” ketus Lili. “Iya kan Dimdim ?”


“Iya, sayang.”


“Ya ampun Dimas, nggak nyangka elo bisa ayang-ayangan juga sama Lili,” ledek Cilla.


“Cilla baru sadar sekarang ? Nggak ingat waktu di pujasera Dimas ngeledekin Mas Juna ?” protes Arjuna.


“Dih dendam kesumat,” ledek Amanda.


“Jaman-jaman usaha Cilla mengejar cinta pak guru,” timpal Lili sambil tergelak. Febi ikut tertawa sambil mengangkat tangan, mengajak Lili tos.


“Guru yang dikejar-kejar Cilla sok-sok cool gimana gitu, giliran Cilla lagi makan bareng gue di pujasera, tanduk langsung keluar sepuluh,” Dimas ikut meledek.


“Kamu mau saya pindahin lebih jauh dari Batang, Dim ?” Arjuna berkata dengan tenang namun tegas.


“Dih dari tadi beraninya ngancam pekerjaan nih,” Cilla malah meledek suaminya.


“Terus kamu nyesel diterima cintanya sama pak guru ?”


“Nggak dong,” Cilla langsung merangkul lengan Arjuna, “Kalau nyesel mana ada Sean hari ini.”


Tanpa malu Cilla mencium pipi Arjuna dan membuat Sean malah menangis


.”Bibit-bibit bapaknya mulai kelihatan nih. Posesif,” ledek Jovan.


“Namanya juga anak, kalau nggak mirip bapaknya bisa-bisa disangka anak tetangga,” timpal Amanda.


Tangisan Sean tambah kencang dan susah dibujuk. Tangannya terulur minta digendong Cilla.


“Udah dih pada balik sana, Sean udah pusing nih,” Cilla mengibaskan tangannya menyuruh teman-temannya pulang.


“Dih penyakit, habis manis sepah dibuang,” gerutu Febi membuat Cilla tertawa.


“Thanks semuanya, ya. Sorry gue nggak bisa antar sampai depan.”


Amanda yang masih penasaran, mencuri ciuman di pipi Sean yang gembul membuat bayi 6 bulan itu bertambah kencang tangisnya.

__ADS_1


“Onti jail nih,” Arjuna yang melotot. “Sana cium Jovan aja kalau gemes. Suruh gemukan sedikit biar kamu tambah enak cubitnya.”


“Kalau begitu saya perlu mengkonsumsi asi juga biar gemoi kayak Sean dong , Kak,” Jovan melirik sambil menaik turunkan alisnya.


“Asi kepalamu !” Arjuna melotot. “Saya kasih ini aja biar pipi kamu chubbi instan mau ?”


Arjuna menunjukkan kepalan tangannya membuat para sahabat Cilla langsung tergelak.


Mereka pun pamitan, Arjuna menemani Cilla karena Sean kembali menangis saat melihat Arjuna berjalan keluar. Hanya Amanda yang mengantar sampai ke teras sekalian Jovan yang juga pamit pulang.


Mobil Dimas lebih dulu keluar dari gerbang sementara Jovan belakangan.


“Hati-hati bawa motonya,” pesan Amanda pada Jovan yang hari ini membawa motor balapnya.


“Iya, kamu jangan bobo malam-malam, ya. Besok bakal seharian sampai malam, pasti capek banget.”


“Iya, habis ini juga langsung bobo, udah ngantuk juga.”


Saat Amanda selesai menguap, bibir Jovan langsung mengecup pipinya membuat wajah Amanda langsung merona.


“Mimpi indah, sayang.”


Amanda mengangguk malu-malu dan melambaikan tangannya saat Jovan sudah menyalakan motornya.


Amanda baru masuk ke dalam rumah setelah motor Jovan keluar gerbang.


Amanda senyum-senyum sambil memegang pipinya yang tadi dicium Jovan. Meskipun bukan yang pertama tapi rasanya selalu sama seperti ciuman pertama.


***


“Gue rasanya adem banget ngeliat Cilla sama Pak Juna,” ujar Lili saat mobil Dimas sudah menjauh


“Iya kalau ingat gimana tuh anak lebih banyak menghabiskan waktu sendirian kayak anak ayam nggak punya induk,”


“Benar banget, malam-malam masih di jalan naik motor. Aku sering nawarin antar jemput, tapi Cillanya nggak mau,” Dimas ikut berkomentar.


“Sekolah malam kalian gimana ?” tanya Febi.


“Masih jalan, Pak Wahyu dan Pak Slamet masih membantu Cilla dan Tami.”


”Kita harus jagain Cilla dari Hans nih, Li,.”


“Iya tuh cowok kayak kurang pilihan aja. Banyak cewek yang nguber-nguber dia, cakep-cakep pula, kenapa juga maksa deketin Cilla yang udah nikah,” gerutu Lili penuh emosi.


“Kan ada pepatah kalau punya orang lebih menggoda, tantangannya berbeda, memicu adrenalin,” ucap Dimas.


“Kamu juga punya prinsip begitu, ya ?” Lili langsung melotot dan memutar badannya menghadap Dimas.


“Nggak sayang, nggak perlu cari adrenalin yang lain. Sama kamu aja aku kayak lagi naik roller coaster.”


“Iiihh Dimas, masa aku disamain kayak mainan anak- anak,” Lili memukul bahu Dimas yang langsung tergelak.


Febi ikut tertawa sambil geleng-geleng kepala.


“Udah Li, kembali ke laptop dong,” sela Febi saat Lilo masih merajuk. “Gimana mau nggak ikutan jagain Cilla dari Hans ?”


“Mungkin Hans cuma iseng aja, apalagi melihat Pak Juna yang posesif banget kayak gitu,” ujar Dimas


“Tetap aja mana boleh begitu, Dim. Bahaya coba-coba iseng sama istri orang,” protes Febi sedikit emosi.


“Iya juga sih,” ujar Dimas.


“Padahal udah dari tahun lalu Cilla bilang kalau dia tuh udah nikah, malah Hans dan teman-temannya dikenalin juga sama Pak Juna,” protes Lili.


“Udah Li, daripada elo kesal doang, lebih baik kita bantuin Pak Juna jagain Cilla,” Febi menepuk bahu sahabatnya.


”Iya begitu lebih baik,” ujar Dimas.


“Dan kamu harus jagain Pak Juna di kantor dari para ulat bulu, ya !” pinta Lili pada Dimas.


“Iya sayang, jangan nge-gas gitu dong,” Dimas tertawa sambil mengusap kepala Lili.


“Dimas wooii… ingat ada jomblo di belakang nih,” omel Febi membuat Lili dan Dimas tertawa.


“Makanya jangan kebanyakan kasih syarat kalau cari cowok, Feb,” nasehat Lili.

__ADS_1


“Dih memangnya cari cowok kayak beli ikan di pasar ? Tinggal pilih yang bagus, segar dan murah ?” Febi mencebik.


Lili dan Dimas tertawa, membayangkan Febi memilih cowok seperti ibu-ibu yang sedang berbelanja ke pasar.


__ADS_2