MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Karena Ada Kamu


__ADS_3

Sudah seharian ini Arjuna mengecek handphonenya berharap ada pesan dari Cilla yang menerima ajakannya.


Tetapi kelihatannya sangat tidak mungkin, karena saat bertemu di sekolah, Cilla benar-benar menghindarinya dan memilih putar arah saat melihat Arjuna dari kejauhan.


 


Hatinya kecewa dan sedih. Meski mendapat ucapan selamat dari sesama rekan guru yang dipelopori oleh Dono dan banyaknya ucapan lewat pesan handphonenya, tapi tidak ada yang membuat Arjuna bahagia tanpa pesan dari Cilla.


 


Bahkan sore hari, saat Theo menjemputnya di tempat kost, wajah Arjuna terlihat lesu dan tidak bersemangat.


 


“Muka lo kenapa, Jun ? Bukan kena bully anak-anak atau dapat SP dari sekolah kan ?” tanya Theo dengan wajah pura-puranya.


 


Sepertinya hanya Arjuna yang tidak tahu kalau acara sore ini bukan sekedar kumpul dengan para sahabatnya , tapi acara kejutan spesial yang dipersiapkan langsung oleh orangtuanya.


 


“Sudah seminggu ini hubungan gue sama Cilla renggang, Bro,” sahut Arjuna dengan sendu.


 


“Ribut kenapa lagi ?” Theo mengerutkan dahinya. “Tuh anak nggak ada cerita apa-apa sama gue. Cuma beberapa kali menolak pas disuruh datang ke rumah sama nyokap karena lagi sibuk sama ulangan umum.”


 


Arjuna menghela nafas panjang. Ia pun menceritakan kalau Cilla adalah anak teman papa Arman yang mau dijodohkan dengannya. Arjuna tidak lupa menceritakan bagaimana marahnya dia pada Cilla saat mengetahui kebenaran itu, termasuk ucapannya yang menyakiti Cilla.


 


“Ah gila, Bro ! Jadi elo jodoh beneran sama Cilla ?” ujar Theo sambil tertawa.


 


“Memangnya Cilla nggak pernah cerita kalau dia itu cewek yang gue tinggal kabur ke rumah elo malam itu ?”


 


“Belum pernah, Bro,” sahut Theo sambil tertawa. “Sepertinya elo kena karma karena udah melawan permintaan orangtua. Belum lagi elo kan begitu sebal banget sama Cilla karena suka dikerjain sama tuh anak bebek. Eh malah sekarang elo jatuh cinta dan ternyata dia cewek yang dijodohkan sama elo.”


 


“Gue menyesal sudah bersikap kasar sama tuh anak bebek.”


 


Theo melirik sejenak ke arah Arjuna sambil tersenyum simpul.


 


“Kayaknya elo nggak gampang meledak pas jalan sama Luna. Bahkan dengan elegan elo bisa tetap bersikap tenang pas melihat Luna selingkuh di depan mata. Kenapa nggak bisa bersikap yang sama dengan Cilla ? Karena elo menganggap dia anak kecil yang seharusnya patuh dan nurut sama elo ?”


 


“Karena gue cinta banget sama dia, Theo. Gue mendadak jadi berasa  posesif karena takut kehilangan dia.”


 


Theo mengerutkan dahinya dan tertawa melihat ekspresi Arjuna. Sahabatnya itu langsung menoleh dan wajahnya berubah masam karena Theo masih menertawakannya.


 


“Gue baru pernah dengar Arjuna bicara soal cinta sampai melow begini,” ujar Theo di sela-sela tawanya. “Sepertinya elo benar-benar kena karma dari ucapan elo sendiri.”


 


“Dengan senang hati gue terima karma apapun asal Cilla bisa baik lagi dan mau ngomong kayak biasanya sama gue.”


 


Theo menghentikan tawanya dan tersenyum tipis. Sebelah tangannya menepuk-nepuk bahu Arjuna dari samping.


 


“Belajar bersabar, Bro. Selama elo terus berusaha gue yakin kalau Cilla bakal memaafkan dan menerima elo. Masa kalah sama Jovan, dia aja sabar menunggu sampai sembilan tahun.”


 


“Ah gila !” mata Arjuna langsung membelalak. “Masa gue juga harus menunggu segitu lamanya sampai Cilla mau ngomong lagi sama gue.”


 


“Katanya cinta,” ledek Theo. “Sembilan tahun belum ada apa-apanya. Lagipula sembilan tahun ke depan umur elo baru juga 35, belum kepala empat.”


 


“Tapi gue maunya cepat-cepat sama Cilla,” gerutu Arjuna dengan wajah cemberut, membayangkan dirinya harus seperti Jovan menunggu Cilla memaafkannya sampai sembilan tahun lamanya.


Tentu saja sembilan tahun buat Jovan yang masih unyu-unyu tidak masalah, karena sekarang pun usianya baru 18 tahun.


 


Theo hanya tertawa dan kembali fokus menyetir karena jalan yang dilalui mulai padat. Limabelas menit kemudian, mobil Theo memasuki area parkiran sebuah restoran.


 


“Kok kita kemari ? Sepertinya uang gue nggak bakal cukup buat bayarin kalian makan di sini,” tanya Arjuna dengan dahi berkerut.


 


“Gue terima hutangan, Bro. Bayarnya dicicil sampai tiga kali juga boleh,” seloroh Theo. “Jangan bikin yang lain jadi bete karena semuanya sudah diatur sama teman-teman kita.”


 

__ADS_1


Arjuna menghela nafas panjang. Kalau kondisinya masih bekerja di perusahaan papa Arman, tidak ada rasa khawatir mentraktir teman-temannya di restoran semacam ini. Tapi dengan gaji gurunya, Arjuna berniat hidup hemat dan menyisihkan untuk cadangan dananya agar tidak mengalami susah seperti saat pertama keluar dari rumah papa Arman.


 


Arjuna tersenyum namun dengan hati yang nelangsa saat para sahabatnya memberikan ucapan selamat ulangtahun untuknya. Semuanya lengkap, membuat Arjuna kembali teringat akan kebersamaan mereka saat liburan di Semarang.


 


 Arjuna memicing saat melihat masih banyak bangku kosong yang disediakan di dalam ruangan. Sepertinya semua sahabatnya sudah lengkap, tapi kenapa masih ada sekitar enam atau tujuh bangku kosong ?


 


“Itu bangku buat siapa lagi, Ki ?” tanya Arjuna pada Luki yang ada di dekatnya.


 


“Sepertinya elo harus tanya Theo, dia yang aturin semuanya,” sahut Luki sambil menunjuk Theo dengan dagunya.


 


Belum sempat Arjuna mendekati Theo, ternyata dari pintu ruangan masuk keluarganya. Papa Arman, mama Diva dan Amanda.


Terlihat kalau Arjuna terkejut, tidak menyangka kalau papanya akan datang juga di hari spesialnya. Rasa sedihnya sedikit terobati karena dengan hadirnya keluarga, Arjuna merasa kalau permusuhan dengan papanya sudah mulai terurai.


 


“Cilla mana ?” tanya Amanda setelah memberikan ucapan selamat pada kakak satu-satunya.


 


“Dia menolak datang, padahal kakak sudah membujuknya,” sahut Arjuna dengan wajah sedih.


 


“Memangnya kakak nggak bilang kalau hari ini ulangtahun kakak ?” Arjuna menggeleng menjawab pertanyaan Amanda.


 


Tidak lama para pelayan mulai menyajikan pesanan makanan dan minuman dan semua mulai menikmati hidangan yang disediakan.


 


“Jadi mama yang sengaja ajak teman-teman Juna makan di sini ?” tanya Arjuna mendekati mama Diva dan berbisik di telinga mamanya.


Ia sudah menebak kalau ini semua mama Diva yang mempersiapkannya. Bukan model Theo juga memilih tempat semi formal seperti ini.


 


“Iya, kamu sekarang sudah 26 tahun, harus bertambah dewasa,” sahut mama Diva sambil menepuk-nepuk tangan putra sulungnya yang ada di bahunya.


 


“Terima kasih kejutannya, ma,” ujar Arjuna sambil mencium pipi mama Diva.


 


Papa Arman dan Amanda terlihat senyum-senyum, karena Arjuna belum tahu kalau ini semua bukan puncak kejutannya.


 


 


Matanya terbelalak saat ia berhasil membuka pintu karena bukan hanya cahaya saja yang masuk, tapi di hadapannya berdiri Cilla yang tampil berbeda malam ini. Belum lagi kue ulangtahun lengkap dengan lilin yang menyala ada di tangan Cilla.


 


“Selamat ulangtahun Pak Arjuna,” sambut Cilla sambil tersenyum.


 


Arjuna masih terdiam dengan satu tangan memegang handle pintu. Matanya masih tidak percaya menatap Cilla berdiri di depannya dan di belakang gadis itu terlihat papi Rudi, tante Siska dan om Rio.


 


“Lilinnya ditiup dulu, Pak. Sayang kuenya kalau terkena tetesan lilin,” ujar Cilla mengingatkan Arjuna yang masih terbengong.


 


“Eh… iya…” Arjuna tersenyum kikuk dan meniup lilin yang terpasang di atas kue ulangtahun yang dibawa Cilla.



Selesai lilin ditiup, lampu ruangan kembali menyala dan lagu ulangtahun langsung terdengar dari speaker di ruangan. Para sahabat dan keluarga Arjuna ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan.


Amanda ternyata sudah berdiri di dekat mereka, segera mengambil kue yang masih dipegang Cilla.


 


“Selamat ulangtahun Pak Arjuna,” Cilla mengulurkan tangannya untuk memberikan ucapan selamat.


 


Arjuna semakin melebarkan senyumannya. Bukan hanya menerima uluran tangan Cilla, tapi ditariknya gadis itu hingga berada dalam pelukannya.


 


“Terima kasih atas kejutannya,” bisik Arjuna di telinga Cilla. “Terima kasih karena sudah memaafkan aku.”


 


Cilla sedikit canggung dipeluk seperti ini oleh Arjuna, apalagi di belakangnya ada papi Rudi, tante Siska dan om Rio. Sementara di belakang Arjuna, bukan hanya keluarganya, tapi juga para sahabat Arjuna ada di sana. Tangan Cilla tetap di samping badannya, malu untuk balas memeluk Arjuna.


 


“Wooii Jun, ingat-ingat ada orangtua di sini. Jangan sembarangan peluk-peluk anak orang, lama pula,” celetuk Erwin, sahabat yang paling suka membanyol.


 


“Nggak ada rencana kabur lagi, Jun ?” timpal Theo.

__ADS_1


 


Spontan yang ada di situ langsung tergelak mendengar ucapan kedua sahabat Arjuna yang mengetahui bagaimana pria itu melarikan diri saat ingin dikenalkan dengan Cilla.


 


“Gue nggak bisa bantu cariin kerjaan lagi kalau elo kabur lagi, Jun,” Dono tidak mau kalah ikut menimpali candaan Erwin dan Theo.


 


Wajah Cilla langsung merona karena Arjuna tidak juga melepaskan pelukannya meski sudah diledek oleh para sahabatnya. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Arjuna, tapi pria itu malah mempererat pelukannya.


 


“Pak Arjuna, “ ujar Cilla sambil berusaha melepaskan diri.


 


“Selama kamu memanggil aku dengan sebutan bapak, tidak akan pernah aku lepaskan pelukan ini,” sahut Arjuna dengan berbisik.


 


“Mas Juna,” ujar Cilla pelan dan dengan wajah tersipu.


 


“Sepertinya kali ini Arjuna tidak akan kabur sendirian,” ujar papa Arman membuat semua menoleh pada pria baya itu.


 


“Kali ini Cilla pasti akan dibawa kabur sama Arjuna, langsung dibawa ke kantor catatan sipil,” ledek papa Arman.


 


“Pasti ditolak, Om,” sahut Boni, “Soalnya Cilla belum punya KTP.”


 


Ledekan papa Arman dan Boni kembali mengundang tawa dan komentar para sahabat Arjuna. Tidak lama papi Rudi yang masih berdiri di luar ruangan, ikut berbicara.


 


“Juna, kalau kamu peluk Cilla terus, om nggak bisa masuk ke dalam nih,” goda papi Rudi di belakang Cilla.


 


“Kalau tidak dikasih masuk dan ikut makan, bisa-bisa restu dari om dipending lagi karena perlu dikaji ulan,” timpal tante Siska.


 


Arjuna tampak malu saat mendengar ucapan papi Rudi karena masih tidak mau lepas memeluk Cilla. Akhirnya ia melerai pelukannya dan menggeser posisinya tapi tangannya tetap menggenggam Cilla.


 


“Maaf Om, saya terlalu senang karena melihat Cilla ada di sini. Apalagi ada om dan tante ikut datang juga.”


 


Papi Rudi tertawa sambil menepuk bahu lalu mengucapkan selamat ulangtahun calon menantunya itu,  disusul oleh Tante Siska dan Om Rio.


 


“Terima kasih kejutannya,” bisik Arjuna kembali setelah semuanya masuk.


 


Cilla hanya tersenyum dengan wajah merona dan tersipu malu. Apalagi tangan Arjuna seperti menempel di jemarinya.


 


Baru saja pintu ruangan akan di tutup, terdengar teriakan heboh yang membuat Arjuna urung menutupnya.


 


“Pak Arjuna, tunggu dulu dong !”


 


Arjuna dan Cilla menoleh ke arah suara. Ternyata sudah ada Jovan, Lili, Febi berjalan ke arah mereka, dan yang membuat keduanya tercengang saat melihat Pak Wahyu dan Pak Slamet ikut berjalan di belakang tiga sahabat Cilla itu.


 


“Kamu undang mereka semua ?” tanya Arjuna dengan suara berbisik.


 


Cilla dengan wajah bingung mendongak menatap Arjuna dan menggelengkan kepalanya.


 


“Cilla nggak tahu kenapa mereka ada di sini,” sahut Cilla juga dengan nada berbisik.


 


Arjuna tersenyum saat mendengar Cilla sudah tidak lagi menyebut dirinya saya kamu saat berbicara dengan Arjuna.


 


“Tidak apa-apa, semakin ramai, semakin seru. Dan akan jadi perayaan ulangtahun yang paling spesial karena ada kamu yang menemani aku,” bisik Arjuna sambil mencuri ciuman di pipi Cilla.


 


Cilla hanya bisa tersipu dengan wajah semakin merona. Berharap tidak ada yang melihat kalau Arjuna memberikan ciuman yang pertama di pipi Cilla.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2