MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2


__ADS_3

Pagi ini Arjuna masih irit bicara dan Cilla sendiri tidak berminat untuk merayu-rayu apalagi meminta maaf pada Arjuna. Keduanya berkeras pada pikiran yang tidak nyambung sama sekali.


Di satu sisi, Cilla tidak tahu kalau sumber kekesalan Arjuna bukan karena Cilla membiarkan panggilan telepon Arjuna tidak terjawab sampai 10 kali tapi karena firasat Arjuna mengatakan kalau Cilla berbohong padanya.


Arjuna yakin kalau Cilla tidak hanya berniat ke toilet yang ada di lantai 2 tapi kemungkinan besar bertemu juga dengan Glen yang dilihat Arjuna sedang menuruni tangga dari arah yang sama dengan posisi Cilla.


“Kenapa lagi ?” Febi dan Lili yang sudah janjian dengan Cilla untuk makan siang bareng langsung bertanya saat melihat wajah sahabat mereka lesu.


“Habis digempur semalam ?” bisik Lili sambil tekekeh. “Siap-siap kasih Sean adik pas dia setahun.”


“Boro-boro digempur,” Cilla tersenyum getir. “Biasa Pak Guru lagi ngambek gara-gara gue nggak angkat telepon pas dia jemput kemarin.”


“Memangnya kemana ? Habis selingkuh ?” ledek Febi.


“Selingkuh sama kloset,” sahut Cilla dengan wajah cemberut. “Gue kebelet pipis, WC di lantai 1 malah sedang dalam perbaikan.”


“Terus ?”


“Lagi malas bujuk-bujuk Pak Guru pakai ilmu pelet,” sahut Cilla asal lalu meneguk habis minumannya.


“Repot amat pakai ilmu pelet, tinggal gaya daster melambai juga Pak Juna melehoi,” ledek Lili sambil tertawa.


“Nggak mempan, udah pakai merah menggoda juga diabaikan,” sahut Cilla yang akhirnya ikut tertawa.


Kemarin pikiran dan badan Cilla cukup lelah karena kuliah dari jam 9 hingga 3 sore ditambah lagi bertemu dengan Glen yang mencuci otaknya dengan ucapan yang seharusnya diabaikan saja. Sayangnya tatapan Glen dan cara bicaranya yang serius dan penuh amarah membuat Cilla jadi penasaran.


Ada apa dengan Arjuna dan Glen di masa lalu ? Mungkin saja semua perbuatan Glen saat ini bukan karena ia benar-benar menyukai Cilla, tapi hanya menggunakannya untuk balas dendam pada Arjuna.


”Tuh kan ngelamun lagi, kurang air putih ?” senggol Febi saat melihat tatapan kosong Cilla saat mereka berjalan melintasi taman selesai makan di kantin.


“Nggak cuma lagi mikirin…”


“Saya mau bicara,” suara bariton yang datang dari belakang ketiganya membuat mereka langsung menghentikan langkah dan menoleh.


Pria yang sedang meracuni pikiran Cilla sudah muncul aja seperti tahu kalau akan jadi topik pembahasan Cilla dengan Lili dan Febi.


Ketiganya menatap Glen, memastikan siapa yang dimaksud oleh dosen mereka.

__ADS_1


“Saya ingin bicara dengan Priscilla,” ujar Glen menjawab tatapan ketiganya.


“Saya ada kelas jam 1.30, Pak,” ujar Cilla berusaha menghindar.


“Sekarang baru jam 1, masih ada waktu 30 menit dan saya yang akan masuk ke kelas kamu setelah ini.”


Cilla mengutuki dirinya yang lupa kalau memang Glen yang akan menjadi pengajar di jam kuliah berikutnya.


Keduanya berjalan beriringan menuju ruangan Glen yang ada di lantai 2 dan berlawanan arah dengan posisi toilet.


“Masuk,” Glen membukakan pintu.


Beberapa mahasiswa yang duduk di selasar sempat memperhatikan interaksi dosen dan mahasiswa itu. Keduanya sempat jadi bahan gibah meski sudah diklaridikasi kalau hubungan mereka sebatas di kampus saja.


“Sudah kamu pertimbangkan tawaranku ?”


“Tawaran yang mana ? Bukannya Bapak hanya meminta saya lebih memperhatikan saat Bapak mengajar dan tidak perlu bilang pada Mas Juna kalau saya akan mendengarkan cerita soal sisi buruk Mas Juna ?”


“Memperhatikan bukan sekedar di kelas tapi juga di luar kelas. Jangan menghindariku saat berpapasan di kampus dan tidak boleh menolak saat aku ajak bertemu di luar urusan kampus.”


“Kok jadi syaratnya tambah banyak ?” Cilla menautkan alisnya.


“Bagaimana aku bisa bercerita kalau kita selalu bertemu dalam keadaan formal seperti ini ?”


Cilla hampir saja bangun dari kursi hadap di depan meja Glen saat melihat pria itu bangun dari kursinya. Masih ada sedikit trauma dengan perbuatan Glen yang sedikit nekat.


“Kalau memang Bapak berniat cerita, sekarang pun bisa dilakukan, tidak perlu mengulur-ulur waktu atau mencari alasan untuk bertemu di luar.


Sebetulnya apa yang Mas Juna lakukan sampai Bapak begitu benci pada suami saya dan sekarang ingin membalaskan dendam itu dengan memanfaatkan saya sebagai istrinya ?”


“Jadi kamu sudah tahu ?”


Benar saja firasat Cilla. Belum sempat ia beranjak bangun, dengan sigap Glen sudah mengukungnya di kursi. Cilla sudah ancang-ancang menendang pusaka milik Glen kalau sampai dosen ini bertindak lebih jauh.


“Kalau saya sudah tahu, saya akan minta Mas Juna bertemu dengan Bapak dan bicara empat mata untuk menyelesaikan masalah yang belum usai.”


“Sampai kapan pun masalah itu tidak akan pernah berakhir,” wajah Glen semakin mendekati wajah Cilla sementara gadis itu semakin menjauhinya dan mencoba menahan tubuh Glen agar tidak semakin condong ke arahnya.

__ADS_1


“Memangnya…”


“Apa yang kalian lakukan ?”


Suara dari pintu membuat Glen menoleh dan Cilla langsung mendorongnya menjauh. Matanya membola saat melihat Arjuna berdiri di sana.


“‘Mas Juna,” Cilla buru-buru beranjak dari kursi dan berjalan mendekati Arjuna yang berdiri di dekat pintu yang tertutup.


“Syukurlah Mas Juna datang tepat waktu,” ujar Cilla dengan suara pelan dan memegang lengan suaminya.


Arjuna hanya melirik Cilla sekilas lalu kembali bertatapan dengan Glen yang tersenyum sinis berdiri di dekat mejanya.


“Sekarang aku mengerti kenapa kamu tergila-gila pada perempuan muda ini, bibirnya begitu manis, membuat aku susah melupakan rasanya.”


“Pak Glen !” pekik Cilla dengan mata melotot. “Jangan fitnah !”


Glen hanya tertawa, tangannya mengambil tisu dan mengelap bibirnya. Glen memperlihatkan ada noda lipstik yang menempel di tisu.


“Tadi kami nggak ngapa-ngapain Mas Juna ?” Cilla memegang kedua lengan Arjuna, dengan posisi mendongak Cilla menggelengkan kepalanya.


Arjuna menahan emosinya dan berusaha tenang di depan Glen.


“Aku lebih percaya pada istriku daripada noda di atas tisu yang kamu pegang. Kita pulang !”


Arjuna langsung menggandeng lengan Cilla dan membawanya keluar dari ruangan Glen. Ia berusaha bersikap biasa saja karena cukup banyak mahasiswa yang duduk-duduk di selasar dan sempat menatap ke arah mereka.


“Cilla masih ada kuliah,” bisik Cilla saat Arjuna membawanya menuruni tangga.


“Kalau gara-gara bolos kamu dikeluarkan, Mas Juna akan carikan kampus lain.”


Cilla hanya diam dan menuruti Arjuna menuntunnya. Sampai di ujung tangga lantai 1, terlihat Febi dan Lili bahkan Amanda menunggu di sana.


“Elo nggak apa-apa ?” tanya Lili saat Arjuna dan Cilla mendekati mereka.


“Nggak apa-apa, gue balik dulu. Tolong kalau ketemu Hilda atau Dita bilangin gue nggak lanjut kuliah siang ini.”


Arjuna hanya diam dengan wajah datar namun membalas sapaan Lili dan Febi dengan anggukan kepala.

__ADS_1


“Udah sana balik dulu sama Kak Juna,” ujar Amanda.


Cilla mengangguk dan kali ini ia menggamit lengan Arjuna yang sudah memakai kaca mata hitamnya menuju mobil.


__ADS_2