
Arjuna melewati teras dengan perasaan cemas dan deg-deg kan. Sudah hampir 8 bulan ia tidak pernah menapaki kakinya di sini, apalagi hari ini sudah bisa dipastikan kalau ia akan bertemu dengan papa Arman. Selain itu perkataan Cilla soal kemungkinan diundangnya sahabat papa dengan putrinya yang akan dijodohkan dengan Arjuna, membuat hatinya semakin tidak menentu.
Ternyata Amanda sudah menunggunya di ruang tamu. Hanya adiknya seorang diri, tidak ada mama Diva atau papa Arman.
“Kok temannya nggak diajak masuk. Kayaknya cantik juga, tapi Manda lihat bukan Kak Luna,” ujar Amanda begitu posisi kakaknya sudah dekat dengannya.
“Dasar tukang intip,” omel Arjuna sambil menoyor kening adiknya.
“Iiihh bukannya ngintip, tapi nungguin anak kesayangan yang udah lama nggak pulang. Mama takut kalau sampai di PHP sama Kak Juna,” Amanda mencibir dan mengikuti langkah Arjuna yang mulai melangkah masuk ingin menemui mamanya.
“Mama mana ?” tanya Arjuna sambil menoleh pada Amanda yang berdiri di belakangnya.
“Masih di dapur, siapin makan siang,” sahut Amanda santai.
“Terus kamu ngapain malah duduk di ruang tamu ? Dasar anak cewek pemalas ! Bukannya bantuin mama di dapur, malah asyik main handphone di depan,” omel Arjuna dengan wajah galaknya. Amanda hanya menjulurkan lidahnya.
“Udah dibilangin disuruh tunggu kedatangan Kak Juna. Mama takut Kak Juna cuma janji palsu doang,” sahut Amanda sambil mencibir.
Arjuna terpaku sampai di ruang makan. Dilihatnya mama Diva sedang menata makanan di meja dibantu oleh bibik. Rasa rindunya menyeruak membuat ia segera melangkah mendekati mamanya.
“Ma,” panggilnya perlahan. Mama Diva yang baru menyadari kedatangan Arjuna menghentikan aktivitasnya dan wajahnya langsung berbinar begitu mendapati putra sulungnya sudah berdiri di depannya.
“Juna,” panggil mama Diva penuh haru.
Arjuna langsung memeluk mamanya dengan erat, dan mama Diva yang membalas pelukan Arjuna tidak mampu menahan rasa harunya dengan tetesan air mata.
“Selamat ulangtahun, Ma,” Arjuna langsung mencium kedua pipi mama Diva setelah melerai pelukannya. Diberikan rangkaian bunga dan kado yang sudah disiapkannya. Ah, bukan hanya dia yang menyiapkan, tapi banyak peran serta Cilla di sana.
“Kamu kok repot-repot sampai membawakan semua ini buat mama,” ujar mama Diva sambil tersenyum bahagia dan terharu menerima pemberian anaknya yang sudah lama meninggalkan rumah.
“Nggak apa-apa, Ma. Tapi mungkin nggak semahal koleksi mama. Ini semua Juna beli dari hasil keringat Juna, Ma. Dari penghasilan Juna sebagai guru,” sahut Arjuna dengan wajah sedikit bangga.
“Iya, Mama senang menerima pemberianmu bukan karena harganya,” sahut mama Diva sambil mengusap-usap bahu Arjuna.
Amanda yang berdiri dekat situ hanya memandang bahagia semua yang terjadi di depannya.
“Manda, panggil papa biar makan siang sekarang. Kakakmu pasti sudah lapar,” ujar mama Diva sambil menoleh ke arah Amanda.
Adik satu-satunya Arjuna itu mengangguk dan memanggil papa Arman yang sedang berada di halaman belakang mengurus ikan-ikan peliharaannya.
Selesai bebersih, papa Arman masuk ke ruang makan dan mendapati istrinya tengah berbincang dengan anak sulungnya.
“Apa kabar, Pa ?” Arjuna langsung bangun dan menghampiri papa Arman. Ia merasa ragu ingin memeluk papanya, apalagi wajah papa Arman terlihat datar tanpa emosi.
“Hmmm,” hanya jawaban itu yang keluar dari mulut papa Arman dan langsung melewati Arjuna untuk duduk di kursi makan.
Keempatnya sudah duduk di meja makan dengan posisi Arjuna persis berada di seberang papa Arman yang duduk berdampingan dengan mama Diva.
Suasana sedikit canggung karena papa Arman tidak terlalu menanggapi ucapan mama Diva yang beberapa kali berusaha membuka percakapan dengan Arjuna.
“Kamu betah jadi guru, Jun ?” tanya mama Diva di sela-sela makan siang mereka.
“Lumayan, Ma. Perlu belajar lagi, apalagi murid-murid Juna anak kelas 12, tidak bisa diatur dan dimarahi seperti anak-anak lagi,” sahut Arjuna sambil tertawa pelan.
__ADS_1
“Kakak mengajar di SMA Guna Bangsa, kan ?” tanya Amanda sambil mengunyah nasinya. “Aku punya teman juga di sana. Anak kelas 12, tapi umurnya sama denganku. Bukan teman langsung sih, tapi temannya temanku.”
“Siapa namanya ? Kakak mengajar seluruh anak kelas 12,” sahut Arjuna sambil mengambil gelasnya.
“Cilla. Priscilla Darmawan,” sahut Amanda santai.
Arjuna terkejut mendengar nama yang diucapkan oleh Amanda hingga air yang baru masuk ke dalam mulutnya menyembur mengenai sedikit wajah papa Arman. Untung saja piring beliau sudah kosong. Papa Arman langsung menatap Arjuna dengan kesal sambil menerima tissue yang diberikan oleh mama Diva.
“Maaf, Pa. Maaf,” ujar Arjuna dengan wajah penuh rasa bersalah.
Tanpa Arjuna lihat, Amanda menoleh ke samping dan tertawa pelan. Dia sudah menebak kalau kakaknya akan terkejut mendengar nama itu.
Papa Arman hanya diam saja dengan wajah galaknya, tidak memarahi atau menjawab permintaan maaf Arjuna.
“Kenapa ? Kok Kakak kaget banget mendengar nama itu ? Kenal dengan nama temanku itu ?” tanya Amanda dengan wajah dibuat sepolos mungkin.
“Kenal,” jawab Arjuna singkat dan meneguk sedikit minumannya. “Nggak ada yang nggak kenal sama Cilla. Anak pemilik sekolah yang juga langganan ruang BK, gadis cerewet yang sukanya mendebat guru,” ucap Arjuna lancar dengan ekspresi yang terlalu menjiwai karena sambil membayangkan wajah Cilla.
“Iih kok nyebelin tapi kakak senyum-senyum gitu ?” tanya Amanda sambil mengangkat kedua alisnya.
Arjuna yang tersadar dengan kelakuannya buru-buru menoleh ke arah lain dan sedikit terbatuk.
“Karena anak bebek itu terlihat lucu kalau wajahnya sedang kesal habis menerima hukuman ketua OSIS atau guru BK,” sahut Arjuna asal.
“Anak bebek ?” Amanda menautkan alisnya. “Perasaan teman aku nggak pernah memanggil dia dengan sebutan anak bebek. Memangnya itu panggilan khusus dari Kak Arjuna ?”
“Bukan ! Bukan panggilan khusus dari kakak. Tapi banyak orang memanggilnya begitu karena dia selalu bawel dan suka mendebat guru.”
“Tapi setahu aku, Cilla anak yang patuh sama guru. Apa karena Kak Juna guru yang spesial ?” ujar Amanda sambil tergelak. “Jangan bilang kalau kakak ada main mata dengan temanku itu !”
Wajah Arjuna langsung memerah mendengar ucapan Amanda membuat mama Diva dan papa Arman saling berpandangan.
“Waahhh sepertinya dugaan Manda betul nih, Pa, Ma. Tuh lihat wajah Kak Juna langsung blushing gitu,” ledek Amanda sambil tertawa.
“Mana ada guru main mata sama muridnya,” elak Arjuna sambil menatap tajam ke Amanda.
“Atau jangan-jangan yang mengantar tadi itu Cilla, ya ?” ledek Amanda. “Dari jauh kelihatan wajah cewek yang turun dari mobi masih imut-imut.”
Arjuna semakin melotot menatap adiknya dan memberi isyarat menyuruh Amanda untuk menutup mulutnya.
“Memangnya kamu diantar sama siapa, Jun ?” tanya mama Diva sambil mengangkat kedua alisnya.
“Calon menantu mama,” sahut Amanda cepat. “Orangnya imut dan kelihatan banget masih muda,” ledeknya kembali.
“Dasar anak kecil sok tahu !” gerutu Arjuna sambil melotot pada Amanda.
“Kenapa nggak diajak turun dan makan siang sekalian, Jun ?” tanya mama Diva kembali dengan senyuman keibuannya.
“Bukan pacar Arjuna, Ma,” sahut Arjuna cepat. “Itu mah bisa-bisanya Amanda saja. Dia cuma salah satu murid Arjuna.”
Amanda langsung tergelak mendengar jawaban Arjuna dan membuat mama Diva ikut tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
“Tuh kan beneran tadi yang antar kemari itu Cilla, pakai mengelak lagi,” Amanda menjulurkan lidahnya.
Arjuna langsung mengusap tengkuknya dan tersenyum canggung.
“Kasihan banget anak orang nggak kamu ajak masuk, hanya suruh anterin kamu doang kemari, Jun,” ujar mama Diva.
“Anak itu yang nggak mau diajak masuk, Ma,” sahut Arjuna.
“Ya nggak ditawarin,” cebik Amanda.
“Kepo ! Sok tahu !” sahut Arjuna sambil mencibir pada adiknya. “Sudah Kak Juna tawarin, tapi dia menolak.”
“Soalnya tawaran kakak itu hanya basa basi, nggak tulus ajak Cilla ikut masuk dan menemui mama papa,” sindir Amanda dengan senyuman mengejek.
“Nanti Cilla itu juga yang akan menjemput kamu, Jun ?” tanya mama Diva.
Papa Arman yang duduk di sebelahnya hanya terdiam dan menjadi pendengar yang baik sambil menikmati potongan buah yang sudah diambilkan oleh mama Diva.
“Nggak, Ma. Nanti Juna naik kendaraan umum saja,” sahut Arjuna sambil tersenyum.
“Mau Manda hubungi Cilla, Ma dan minta dia kemari ?” tawar Amanda.
“Nggak usah !” sahut Arjuna cepat sebelum mama Diva menjawabnya.
“Haisss… yang ulangtahun hari ini tuh Mama, bukan Kakak. Jadi nggak masalah dong kalau Mama mau undang Cilla datang kemari ?”
Arjuna menghela nafas dan meneguk minumannya sejenak, lalu menatap papa Arman yang sedang menikmati buahnya.
“Cilla nggak akan mau, karena selain karena ulangtahun Mama, Cilla meminta Kak Juna untuk membereskan masalah perjodohan yang sudah Papa siapkan untuk Arjuna.”
Papa Arman meletakkan garpu yang ada di tangannya dan menatap Arjuna dengan dahi berkerut.
“Jadi kamu pulang karena sudah tidak tahan hidup di luar tanpa fasilitas yang kamu terima selama ini ?” tanya papa Arman dengan senyuman sinis.
“Bukan, Pa,” Arjuna menggeleng. “Arjuna baik-baik saja dengan bekerja sebagai guru dan tidak kekurangan dalam hal materi. Tapi Arjuna datang karena sadar kalau papa dan mama terlalu berharga untuk Arjuna abaikan.”
Ucapan Arjuna membuat mama Diva dan papa Arman tercengang dan sempat saling bertukar pandangan.
“Seseorang telah mengajarkan Arjuna betapa berharganya nilai orangtua dalam kehidupan seorang anak, sampai ia berharap bisa bertukar tempat dengan Arjuna. Tapi maaf, Pa, Arjuna tidak bisa berjanji untuk menerima perjodohan yang papa sudah siapkan, namun Arjuna siap untuk dipertemukan dengan putri teman Papa itu. Arjuna tidak akan lari lagi. Itu semua bukan karena Arjuna ingin mendapatkan posisi CEO yang akan Papa berikan, tapi karena Arjuna ingin membahagiakan Papa dan Mama.”
Mama Diva terharu mendengar ucapan putranya yang semakin terlihat dewasa, sementara papa Arman hanya terdiam sambil menatap Arjuna, seolah mencari kesungguhan dalam ucapan anaknya.
“Bagaimana kalau sampai Papa tetap memaksa kamu untuk menikahi putri teman papa itu ?” tanya papa Arman dengan mata memicing.
“Arjuna memang sudah putus dengan Luna, Pa. Arjuna minta maaf karena tidak mendengarkan papa soal Luna. Tapi untuk masalah perjodohan, tolong berikan kepercayaan pada Juna untuk memilih pasangan hidup sendiri,” ujar Arjuna dengan wajah serius.
“Untuk masalah yang satu itu, Papa tidak bisa memberikan ijin,” papa Arman beranjak dari kursinya dengan wajah terlihat marah, lalu meninggalkan ruang makan.
Suasana berubah menjadi hening dengan Arjuna, Amanda dan mama Diva yang sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1