MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kebohongan untuk Kebaikan


__ADS_3

Begitu sampai di Bandara Narita, sambil menunggu bagasi Arjuna mengeluarkan handphonenya.


“Sh*t ! Gue lupa nge-charge handphone semalam,” gerutu Arjuna dengan wajah kesal saat gagal mengaktifkan handphonenya.


“Kenapa bisa kelupaan, Bro ? Keasyikan sayang-sayangan sama anak bebek elo ?” ledek Tino sambil tertawa.


“Itu mah nggak usah ditanya, udah jadi rutinitas. Kalau perlu kayak minum obat sehari tiga kali,” sahut Arjuna sambil tertawa meledek.


“An**rit, nggak ada malu-malunya ngomong begitu sama jomblo,” sahut Tino sambil mencibir.


“Jomblo yang udah nggak perjaka,” cebik Arjuna. “Udah cepetan, gue pinjam handphone elo dulu,” Arjuna mengulurkan tangannya meminta Tino meminjamkan handphone miliknya.


“Sebentar Bro, tadi gue matiin pas di pesawat.”


Tino langsung menghidupkan handphonenya dan matanya membelalak saat membaca notifikasi pesan dari papa Arman.


Tolong kamu alihkan Arjuna supaya jangan menghubungi Cilla dulu biar dia fokus dengan jadwal meetingnya.


Cilla tadi jatuh di mal dan sudah dibawa ke rumah sakit.


Ami sudah merubah tiket kalian, dimajukan ke besok, pesawat jam 3 sore.


Tino buru-buru menghapus semua pesan papa Arman karena tidak ingin Arjuna membacanya.


“Lama amat sih,” gerutu Arjuna dengan wajah tidak sabaran.


“Pindah negara, Boss, bukan lintas kota doang. Udah pasti cari sinyal dulu, dan gue aktifin fasilitas wifi dulu. Bisa-bisa gaji dipotong kalau tagihan bulan depan membengkak.”


Arjuna hanya mendengus kesal dan menerima alasan Tino yang masuk akal.


Beberapa kali mencoba menghubungi nomor Cilla, tapi selalu langsung masuk ke kotak suara.


“Kemana sih nih anak,” gerutu Arjuna saat panggilan keempatnya lagi-lagi masuk kotak suara.


“Biasa kalau ciwi-ciwi jalan di mal, Jun. Lupa diri, lupa status dan lupa limit belanja,” ledek Tino sambil terkekeh.


“Bukan nggak diangkat, tapi langsung masuk kotak suara, berarti handphone Cilla nggak aktif.”


“Sinyal Bro, sinyal. Kadang kalau lagi di mal, nggak semua operator sinyalnya kuat.”


Lagi-lagi Arjuna hanya mendengus kesal dan mengembalikan handphone milik Tino. Keduanya mengambil koper mereka yang sudah terlihat di ban berjalan.


“Coba nanti telepon lagi. Bisa jadi Cilla kehabisan baterai kayak elo karena seharian di mal.”


“Nggak punya nomor temannya Cilla ? Febi, Lili atau Jovan ?”


“Nggak punya.”


Arjuna menghela nafas dengan perasaan sedikit kesal, namun tidak bisa berlama-lama karena yang menjemputnya bukan orang suruhan melainkan Mr. Akira langsung.


Mr. Akira, adalah seorang pengusaha asli Jepang yang berminat menjual hasil produksi PT Indopangan di pasar Jepang dan negara sekitarnya.


Dari bandara, Mr Akira langsung mengajak Arjuna dan Tino makan siang di salah satu restoran mewah dengan menu khas Jepang yang letaknya di pusat kota Tokyo.

__ADS_1


Sibuk dengan pekerjaannya, Arjuna sudah lupa dengan kekesalan hatinya karena gagal menghubungi Cilla.


Tino bisa bernafas lega karena tidak perlu banyak berpikir untuk mencari cara mengalihkan perhatian Arjuna pada Cilla.


Jam 12 malam waktu Tokyo, yang artinya jam 10 malam waktu Jakarta, Arjuna dan Tino baru diantar ke hotel. Saat makan malam tadi, demi menghargai rekan bisnisnya, Arjuna akhirnya mengkonsumsi sake, minuman beralkohol khas Jepang.


Arjuna baru teringat kembali kalau ia belum menghubungi Cilla seharian ini. Arjuna langsung mengisi ulang baterai handphonenya lalu ke kamar mandi membersihkan diri.


Hanya 15 menit Arjuna sudah selesai dan kembali duduk di pinggir ranjang. Dengan tidak sabar ia langsung meraih handphonenya yang masih tersambung dengan pengisi daya yang ada di atas nakas.


Tangannya langsung menekan nomor Cilla namun lagi-lagi ia merasa kesal karena panggilannya langsung dijawab dengan kotak suara otomatis.


Akhirnya Arjuna membuka pesan masuk yang cukup banyak. Matanya memicing saat ada nomor asing muncul di paling atas.


Mas Juna, ini Cilla. Handphone Cilla tadi jatuh di mal dan kondisinya mati total. Ini nomornya Febi, Cilla pinjam dulu untuk kasih kabar sama Mas Juna.


Tangan Arjuna pun dengan tidak sabaran langsung mengetik membalas pesan di nomor asing itu.


Malam Febi, ini Arjuna. Maaf kalau ganggu kamu malam-malam.


Saya baru baca pesan masuk dari Cilla karena kehabisan baterai sejak sampai di Jepang.


Apa hari ini kamu menginap di rumah menemani Cilla ?


Arjuna menunggu hingga beberapa menit, tapi pesannya hanya centang dua tanpa terbaca oleh penerimanya.


Arjuna menghela nafas, melihat angka yang menunjukkan waktu di handphonenya. Jam 00.35 yang artinya jam 22.35 waktu Jakarta.


Sedih rasanya tidak bisa memberikan ucapan selamat malam dengan Cilla, tapi bingung harus menghubungi siapa karena handphone Cilla sedang rusak.


Akhirnya karena telalu lelah dengan penerbangan dan pekerjaan hari ini, Arjuna merebahkan tubuhnya di ranjang dan terlelap hanya dalam hitungan menit.


🍀🍀


Jam 6.30 pagi, Arjuna sudah duduk di dalam mobil yang menjemputnya dan Tino di hotel. Jadwal meeting yang seharusnya baru dimulai jam 9 pagi dimajukan ke jam 7 pagi, breakfast meeting.


Rasanya belum lama menikmati empuknya ranjang hotel, jam 5 pagi Tino menghubunginya lewat telepon hotel dan meminta Arjuna bersiap sebelum jam 6.30.


Bahkan yang mengejutkan, Tino mengabarkan kalau mereka akan kembali ke Jakarta hari ini juga dengan pesawat jam 3 sore.


Padahal kalau sesuai jadwal, lusa mereka baru pulang karena ada beberapa meeting dan kunjungan ke kantor Mr. Akira di pagi hari sebelum kembali ke Jakarta.


“Yakin nggak ada apa-apa sampai harus balik hari ini juga ?” mata Arjuna menyipit, wajahnya penuh selidik menatap Tino.


“Nggak ada apa-apa. Semua aman terkendali. Om Arman yang minta begitu, gue juga dikabarin sama Ami begitu dia beres merubah jadwal pesawat.”


“Papa nggak apa-apa, kan ?” kali ini ada nada khawatir dalam ucapan Arjuna karena ingat kalau kondisi papa Arman sedang kurang sehat hingga minta Arjuna yang berangkat ke Jepang.


Tangan Arjuna mengeluarkan handphone. Pesan yang dikirimnya untuk Febi masih belum terbaca hingga membuatnya menghela nafas panjang.


“Kenapa ? Istri belum kasih kabar ?” ledek Tino.


“Handphone Cilla rusak, jatuh pas lagi di mal. Kemarin dia pinjam handphonenya Febi, tapi semalam gue kirim pesan ke nomornya Febi sampai pagi ini masih belum dibaca.”

__ADS_1


“Di Jakarta masih jam 4.40, Bro. Mereka pasti lagi menikmati saat-saat terakhir bisa bangun siang karena pas ospek nanti subuh-subuh sudah harus ada di kampus.”


“Begitu di Jakarta, gue bakal langsung minta semua nomor telepon para pekerja di rumah dan teman-temannya Cilla.”


“Bukannya elo punya nomornya si mantan ketos ganteng ? Biasa elo suka minta bantuan dia kalau urusan Cilla.”


“No ! Nggak bakalan gue suruh dia nengok Cilla di rumah pas gue lagi nggak ada. Gue masih belum percaya seratus persen kalau tuh anak nggak bakalan suka sama Cilla lagi kalau keseringan sama-sama.”


“Ya ampun, Jun ! Si Jovan itu sekarang pacaran sama Amanda, adik elo sendiri, adik iparnya Cilla. Mana mungkin juga Cilla mau menyakiti Amanda. Yang ada Cilla malah jagain Amanda dan bakal ngamuk sama Jovan kalau tuh cowok berani macam-macam.”


Arjuna hanya tersenyum tipis dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil lalu memejamkan mata karena selain masih merasa capek. Arjuna juga masih ngantuk.


2 meeting yang harus dituntaskan hari ini akhirnya selesai juga. Sekitar jam 1, Arjuna dan Tino sudah selesai check in dan menikmati makan siang di lounge bandara.


“Yakin lo nggak ada masalah apa-apa sampai kita harus maksa pulang sekarang ?” Arjuna kembali bertanya dengan mata menyipit dan tatapan penuh selidik.


“Sejauh yang gue tahu nggak ada Juna, elo tanya langsung aja deh sama Om Arman.”


Arjuna menghela nafas dan akhirnya menerima saja kondisinya saat ini. Balasan dari Febi sudah diterimanya dan baru sempat dibaca.


Maaf semalam saya sudah tidur Pak Juna. Kita pulang ke rumah masing-masing dan hari ini saya pergi tapi nggak sama Cilla.


Kalau nanti Lili sempat, saya akan minta Lili ke rumah Cilla biar Pak Juna bisa teleponan sama Cilla.


Lagi-lagi Arjuna hanya bisa menghela nafas membaca pesan Febi. Bahkan sampai Arjuna mau masuk pesawat, tidak ada satu pun pesan masuk dari Cilla menggunakan handphone siapapun.


Arjuna menebak kalau istrinya yang lagi sensi itu sedang ngambek lagi karena Arjuna terlambat membalas pesannya.


Jam 9 malam, Arjuna dan Tino sudah meninggalkan bandara Soekarno Hatta dengan mobil yang dikemudikan Dirman.


“Dir, Cilla kemana aja hari ini ? Saya nggak bisa kirim pesan soalnya handphonenya Cilla lagi rusak. Kemarin Cilla nggak pergi sama kamu ?”


“Ehhh nggak Den Juna. Kemarin Non Cilla dijemput sama Non Lili dan Non Febi, Non Lili yang setir.”


“Terus kenapa sekarang nggak ikut jemput saya ? Ngambek lagi di rumah ?”


Dirman terdiam dan melirik Tino lewat spion tengah. Posisi duduk Tino persis di belakang kursi pengemudi.


“Jun,” suara Tino terdengar ragu. “Sebetulnya firasat elo benar. Om Arman yang atur kita pulang hari ini karena Cilla masuk rumah sakit.”


“What !” Arjuna langsung melotot. “Dan elo tega nggak kasih tahu gue ?”


“Gue cuma jalanin pesannya om Arman supaya elo tetap tenang meeting. Ami udah usahain cari tiket yang paling cepat sampai Jakarta dan baru dapatnya jam 3.”


“Cilla kenapa masuk rumah sakit ?” tanya Arjuna dengan nada emosi.


“Kemarin jatuh di mal, kepalanya terbentur dan kakinya terkilir. Gue udah cari tahu ke tante Diva. Hasil CT scan normal, hanya memar di keningnya. Om Arman minta dirawat biar kakinya lebih cepat sembuh aja.”


Arjuna mendengus kesal dan membuang muka ke arah luar jendela.


“Sorry Jun, bukan niat gue mau ngebohongin elo tapi sumpah deh gue cuma jalanin permintaan om Arman dan tante Diva.”


“Hmmm…”

__ADS_1


Tidak ada pembicaraan lebih lanjut antara Ajuna dengan Tino, sementara Dirman melajukan mobil melintasi tol menuju rumah sakit Pratama.


__ADS_2