
Sejak Arjuna memberikan ancaman hukuman untuk teman-teman sekelasnya, Cilla tidak lagi menghindari jam pelajaran Arjuna di minggu ini.
Tepat di hari Jumat, setelah Arjuna mengajar 2 jam pelajaran terakhir di kelas XII IPS-1, Cilla mengikuti ulangan susulan yang diadakan di ruang kelasnya.
Kesempatan emas buat Arjuna karena ia bisa puas memandangi Cilla yang fokus mengerjakan soal ulangannya.
Tidak ada helaan nafas atau wajah kepusingan saat mengerjakan sepuluh soal pilihan ganda dan lima soal esai yang sudah Arjuna siapkan.
“Jangan kelamaan mangap, Pak. Itu iler udah mulai keluar di ujung bibir,” ujar Cilla tanpa mendongakan kepalanya.
Spontan Arjuna langsung menyentuh ujung bibirnya yang ternyata aman-aman saja. Cilla langsung terbahak dari kursinya.
“Gampang banget dibohongin sih, Pak,” ujar Cilla disela-sela tawanya. “Pantas saja pacar mendua berkali-kali nggak sadar juga. Cukup pakai kedipan mata, Luna sudah bisa bikin Bapak lupa melek dan berpijak pada bumi.”
Arjuna mendengus kesal dan berjalan mendekati meja Cilla.
“Kamu sengaja cari perhatian sama saya ?” Arjuna berdiri di samping meja Cilla dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas meja.
Cilla menyandarkan tubuhnya pada kursi dan mendongak menatap Arjuna.
“Sepertinya Bapak mulai terjangkit virus over pe-de,” Cilla mencibir.
“Ulangan kamu sudah selesai ?” Arjuna melirik kertas soal dan jawaban Cilla.
Cilla tidak menjawab, hanya menggeser lembarannya ke samping supaya bisa terlihat oleh Arjuna.Masih ada 3 soal esai yang belum diselesaikannya.
“Bapak jangan berdiri terlalu dekat, saya nggak bisa konsentrasi mengerjakan soal,” Cilla mendongak sambil memberi isyarat supaya Arjuna menjauh.
“Saya jauh dekat memang selalu bikin kamu berdebar dan nggak bisa konsentrasi kan ?” Ledek Arjuna.
“Sejak kapan Bapak berubah jadi sopir Jak Lingko ? Jauh dekat satu tarif ?” Balas Cilla sambil kembali kembali mengerjakan soal ulangannya.
“Sejak ciuman sama kamu,” bisik Arjuna di telinga Cilla. “Hati saya jauh dekat tetap ingatnya sama kamu.”
Wajah Ciila langsung memerah. Ia menutup telinganya yang berada di sisi Arjuna supaya pria itu todak bisa lagi berbisik yang membuat bulu kuduknya meremang dan jantungnya serasa butuh CPR.
Untung saja otak Cilla paling encer menghadapi pelajaran matematika, jadi biar konsentrasinya dibuat kacau oleh Arjuna, tangannya tetap lancar menuliskan jawaban. Hanya saja Cilla tidak yakin kalau hitungannya akan benar meski kalimat matematikanya tidak perlu diragukan.
Arjuna sengaja begeming di samping meja Cilla sambil memperhatikan gadis itu menyelesaikan 3 soal esainya.
Saat Cilla hampir menutup pekerjaannya dengan tanda sama dengan, terdengar teriakan mengaduh dari luar.
Cilla yang sudah hafal dengan suara Lili langsung menggelengkan kepala sementara Arjuna melangkah menuju pintu kelas yang memang terbuka untuk melihat pemilik suara yang teriak megaduh.
Tangannya kembali melipat di depan dada dengam alis terangkat sebelah. Ia menghela nafas sambil menggelengkan kepala saat posisinya sudah berada di luar kelas.
“Kalian sengaja ajak Pak Dono atau Pak Dono yang menugaskan kalian berdua ?”
Ketiganya saling pandang dan tersenyum kikuk. Ternyata bukan hanya Febi dan Lili yang sedari tadi mengintip Arjuna dan Cilla, tapi guru walikelas merangkap sahabatnya itu jadi bagian tim mata-mata.
Dono merapikan kemejanya dan berdehem sebelum berucap supaya terlihat berwibawa,
__ADS_1
“Bukan begitu Pak Juna, sebagai walikelas yang baik, saya perlu memantau situasi murid saya yang sedang mengikuti susulan.”
“Maksudnya ?” Arjuna masih dalam posisi melipat kedua tangannya sambil menautkan alis.
“Yah seperti kata orang tua, tidak baik bila laki-laki dan perempuan terlalu lama berduaan di dalam ruangan, takut kedatangan pihak ketiga yang jadi penggoda..”
Febi dan Lili terlihat mengangguk-angguk di belakang Dono.
“Dan pihak ketiganya ya kalian bertiga,” sahut Arjuna sambil menunjuk ketiganya. “Mengganggu konsentrasi Cilla yang sedang mengerjakan soal.”
“Tapi saya nggak terganggu kok, Pak,” Cilla sudah berdiri di depan pintu sambil membawa kertas ulangannya.
Gadis itu sudah bersiap pulang karena tas sekolahnya sudah tersandang di kedua bahunya.
“Yakin nggak remedial ?” Tanya Arjuna sambil menerima kertas ulangan Cilla. Gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya.
“Saya maunya kamu remedial,” ujar Arjuna sambil tersenyum.
Febi dan Lili saling menatap dengan mata terbelalak.
Sepertinya Pak Arjuna harus puasa empatpuluh hari empatpuluh malam supaya harapannya terkabul.
“Kalau mau berduaan sama saya, tinggal traktir makan. Jangan bisanya cuma suruh saya susulan sama remedial. Bapak jadi terlihat seperti cowok yang lagi usaha tapi nggak punya modal,” sahutan Cilla dengan nada santai membuat wajah Arjuna memerah.
Apalagi Dono, Febi dan Lili tanpa malu-malu menertawakan ucapan Cilla yang membuat wajah Arjuna makin memerah.
“Memangnya kamu mau saya ajak kencan di luar ?” Balas Arjuna setengah emosi.
Arjuna menatapnya dengan mengangkat sebelah alisnya.
“Nggak usah buru-buru kasih jawaban, karena memang saya nggak mengharapkan jawaban Bapak,” ujarnya lagi sambil tertawa pelan.
“Selamat siang Pak,” Cilla membungkuk pada Arjuna dan menganggukan kepala saat melewati Dono.
“Saya duluan Pak Dono.”
Kedua sahabat Cilla ikut membungkuk dan menganggukan kepala sebagai tanda pamit pada Arjuna dan Dono lalu bergegas mengikuti Cilla.
“Cil, elo beneran pacaran sama Pak Arjuna ?” Lili yang paling kepo langsung menanyakan pada sahabatnya begitu langkah mereka sudah sejajar.
“Menurut elo ?” Tanya Cilla dengan malas.
“Gue lihat Pak Arjuna beneran suka sama elo, Cil,” timpal Febi yang berjalan di sisi lain Cilla.
“Memangnya boleh guru pacaran sama murid ?” Lili bertanya kembali.
“Ya jangan sampai ketahuan, dodol !” Sahut Febi sambil mencibir.
“Kalian cocok loh Cil, sama-sama pintar matematika,” ujar Lili kembali.
Febi dan Cilla spontan menghentikan langkah mereka dan saling berpandangan. Lili yang tidak sadar kedua sahabatnya berhenti masih terus melangkah sambil mengoceh.
__ADS_1
“Tandem yang bagus kan, yang satu guru matematika, yang satu anak pemilik sekolah,” celoteh Lili lagi.
“Lili !” Keduanya berteriak memanggil sahabat mereka yang suka error.
Lili berhenti dan baru sadar kalau ia hanya berjalan sendirian. Ia menoleh ke belakang dengan wajah bingung, apalagi melihat Febi dan Cilla terbahak sambil menunjuk-nunjuk padanya.
“Makanya oon jangan diperlihara, akibatnya jadi sering error,” ujar Febi sambil menoyor kening Lili yang posisinya sudah di dekat mereka.
“Mana ada orang milih pacaran karena alasan dua-duanya pintar matematika. Elo kira hati itu bisa dihitung pakai rumus logaritma ?” Cebik Febi.
Cilla masih tertawa apalagi melihat Lili masih berwajah bingung menggaruk-garuk kepalanya.
“Nggak ada hubungannya ya ?” Tanya Lili sambil tertawa kikuk.
“Nggak !” Jawab Febi dan Cilla kompak lalu terbahak.
Sementara kondisi Arjuna juga dicecar pertanyaan oleh Dono.
“Elo beneran mulai suka Cilla ?”
Arjuna yang sudah bisa menetralisir rasa malunya hanya mengangguk.
“Beneran mau nikung Theo ?”
“Haiiss memangnya Cilla sudah resmi jadi pacar Theo ?” Arjuna menatap Dono yang berjalan di sampingnya sambil menaikan kedua alis.
“Gue juga nggak tahu,” Dono mengangkat kedua bahunya.
“Selama belum resmi jadi pacar, gue boleh dong mendaftar jadi nominator,” ujar Arjuna sambil tersenyum.
“Rela keluarin uang buat beli sabun sekilo ?” Ledek Dono sambil tertawa.
“Bukan cuma sabun sekilo, tapi parfum segalon gue beli juga biar wangi.”
Dono tergelak sambil geleng-geleng kepala.
“Siap-siap diketawain sama bokap elo seumur hidup. Rela kabur jadi orang susah demi menghindar calon istri anak SMA, eh malah kejerat cinta anak SMA beneran.”
“Soalnya anak SMA yang ini memang beda dan unik,” sahut Arjuna sambil senyum-senyum.
“Terus anak SMA yang mau dijodohin sama elo gimana nasibnya ?”
“Yah kudu terima nasib gagal menikah sama gue. Lagian seperti elo bilang, cukup dengan Cilla hidup aman sentosa,” Arjuna menjawab sambil tertawa. “Bercanda Bro,” ia membentuk huruf V pada jarinya saat melihat ekspresi Dono yang langsung melotot menatapnya.
“An**irr , ternyata elo cowok matere juga,” sahut Dono sambil menggelengkan kepala.
“Bercanda Bro. Gue suka sama Cilla bukan karena anak tunggal pewaris sekolah. Tapi karena dia anak bebek yang selalu bikin dunia gue nggak pernah sepi dan berwarna.”
“Geli sama gombalan elo !” Dono mencibir.
Arjuna hanya tertawa dan merangkul leher Dono seperti saat mereka SMA dulu.
__ADS_1