
Tujuan wisata terakhir mereka hari ini adalah Lawang Sewu, bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang sempat menjadi kantor pusat perusahaan kereta api swasta saat berdiri pertama kalinya.
Sampai di sana, Cilla memilih duduk di bagian luar bangunan yang memiliki arti “Seribu Pintu” dalam Bahasa Indonesia.
“Kamu nggak masuk, Cil ?” Theo menghampiri Cilla yang sudah duduk di dekat gerbang.
“Nggak Om, lebih baik om cepat menyusul, tadi Cilla sudah minta pemandu di sini untuk menemani om semua.”
Theo akhirnya mengangguk dan melambaikan tangan pada Cilla saat Luki memanggilnya untuk segera bergabung.
Cilla menunggu sambil membuka galeri fotonya. Ia tersenyum sendiri sambil melihat foto-foto yang menambah koleksinya.
“Sakit lagi ?”
Cilla terkejut saat melihat lagi-lagi Arjuna sudah ada di dekatny bahkan akhirnya duduk di sebelahnya.
“Nggak, Pak, aman,” Cilla memperlihatkan senyuman manisnya.
“Terus kenapa malah pilih duduk di sini ?”
“Tidak tertarik, Pak. Apalagi sedang datang bulan, rasanya tidak nyaman masuk ke tempat semacam ini,” Cilla tertawa pelan. “Bapak sendiri kenapa nggak ikut rombongan.”
“Mau temani kamu,” jawab Arjuna asal.
Cilla menepuk jidatnya dan tergelak.
“Pak Arjuna terhormat,” Cilla memiringkan badannya menghadap Arjuna. “Bapak melarang saya baper karena sudah punya C-A-L-O-N I-S-T-R-I, tapi ucapan Bapak itu memancing jiwa kebaperan saya,” omelnya dengan wajah cemberut. Cilla sengaja menegaskan kata calon istri sambil mendekatkan wajahnya pada Arjuna.
Arjuna malah tertawa, ia ikut memutar badannya hingga posisi mereka sekarang berhadapan. Arjun menyentil kening Cilla, membuat gadis itu meringis lalu mengelus keningnya dengan wajah cemberut.
“Nama saya Pricilla bukan Amanda,” Cilla menggerutu pelan, namun Arjuna tetap mendengarnya.
“Saya juga tahu kalau kamu Pricilla dan bukan Amanda. Melihat muka kamu yang jelek saya langsung tahu kalau kamu bukan adik saya. Mencium bau badan kamu apalagi,” Arjuna sengaja mengernyit sambil menutup hidungnya.
Cilla langsung mencium kedua ketiaknya bergantian dan melihat sebal wajah Arjuna yang malah tergelak.
“Bau darimana ? Kalau perlu sehari saya mandi tiga kali. Jangan lupa pembalasan lebih berat, Bapak Arjuna !” Cilla mencebik.
“Atau jangan-jangan sebetulnya Bapak menyukai saya juga ? Bau badan saya sudah candu di hidung Bapak ?” Cilla mencondongkan wajahnya lumayan dekat dengan wajah --Arjuna dengan mata menyipit.
Arjuna terkejut dan memundurkan wajahnya hingga tidak sadar ia berada terlalu pinggir dan hampir saja terjatuh. Spontan Cilla menarik tangan Arjuna hingga bukannya jatuh ke belakang, Arjuna justru terhuyung ke depan. Tanpa sengaja posisinya malah memeluk Cilla.
Keduanya sempat terdiam dalam posisi yang tidak terduga itu, sampai akhirnya Arjuna tersadar, melepaskan pelukannya dan bergegas berdiri.
Cilla pun ikut salah tingkah dengan wajah memerah bukan hanya sekedar bangun, tapi ia berjalan menjauh dari Arjuna. Ia memegang dadanya karena jantungnya berdetak begitu kencang hingga rasanya mau copot.
Cilla berjalan sedikit tergesa keluar area Lawang Sewu, mencari minimarket untuk membeli minuman.
__ADS_1
Saat membuka lemari pendingin, ia teringat pesan Arjuna untuk tidak mengkonsumsi minuman dingin saat perutnya sakit karena datang bulan.
Cilla memukul kepalanya sendiri. Kenapa malah harus mengingat nasehat pria plin plan yang terkadang memberinya perhatian tetapi selalu mengingatkan Cilla kalau ia adalah pria yang sudah memiliki calon istri.
Cilla menggeleng, berusaha menghilangkan pikiran tentang Arjuna dari otaknya.
Akhirnya ia memilih 5 minuman di lemari pendingin dan satu dari rak biasa untuk dirinya sendiri.
Saat Cilla kembali, ia melihat Lima Pandawa sudah berkumpul di tempat ia duduk tadi.
“Kemana aja Cil ?” Tanya Boni sambil mengelap peluhnya yang bercucuran di wajahnya.
Cilla hanya menunjuk tas belanjaannya. Hari ini cuaca memang cukup terik di kota Semarang. Bukan hanya Boni yang dibajiri peluh, yang lain juga, apalagi Cilla yang baru saja berjalan bolak balik ke minimarket.
Cilla memberikan tas belanjanya dan langsung diterima oleh Luki lalu membagikan isinya pada para sahabatnya.
“Tadi kenapa nggak ikut, Jun ?” Erwin melirik sahabatmya yang terlihat begitu canggung dengan wajah memerah.
“Jangan bilang kalau elo….” Boni memberi isyarat ke arah bangunan Lawang Sewu.
“Gue udah pernah kemari sama Amanda,” sahut Arjuna cepat. Wajahnya masih memerah dan ia menghindari tatapan dengan Cilla.
Theo memicingkan matanya, memperhatikan tingkah Cilla dan Arjuna yang sedikit mencurigakan, namun ia tidak bicara apa-apa.
“Tempatnya keren, Cil,” Luki mengangkat jempolnya. “Tapi memberi kesan angker karena bangunannya masih dipertahankan keasliannya.”
“Iya, Om. Konon memang ada sedikit cerita-cerita seram tentang Lawang Sewu, terutama bagian ruang bawah tanahnya yang menurut sejarah pernah dijadikan penjara,” sahut Cilla yang lanjut meneguk minuman botolnya.
“Minuman nggak dingin, Pak,” Cilla sengaja mendekatkan botolnya ke hadapan Arjuna untuk mengurangi kecanggungannya. Pria itu hanya mengangguk dan tersenyum kikuk.
“Habis ini kemana lagi, Cil ?” Tanya Theo. Dia senyum-senyum sendiri dan yakin kalau terjadi sesuatu antara Cilla dan Arjuna.
“Mau beli oleh-oleh khas Semarang, Om ?”
“Bisa besok aja sekalian ke arah bandara, Cil ?” Tanya Boni yang terlihat masih kepanasan.
“Bisa aja Om, besok masih keburu, kok.”
“Kalau balik hotel dulu gimana, Cil ?” Tanya Erwin yang terlihat sedikit lemas karena kepanasan.
“Oke kalau begitu kita balik hotel, ya. Om pada istirahat, nanti kita kumpul di lobby jam 5, biar waktu malamnya lebih panjang.”
Keempat pria itu mengangguk sedangkan Arjuna kembali meneguk minumannya sampai habis.
Mereka pun kembali ke hotel yang hanya berjarak 5 menit dari Lawang Sewu dan kembali ke kamar masing-masing dengan wajah mengantuk.
Sore harinya, seperti biasa, Cilla yang pertama menunggu di lobby sementara Lima Pandawa belum terlihat batang hidungnya.
__ADS_1
Cilla kembali mengisi waktunya dengan bertukar pesan dengan Febi dan Lili yang masih menikmati liburan bersama keluarga mereka. Cilla menghela nafas, menghapus rasa iri dalam hatinya yang lebih sering menghabiskan waktu liburan sendiri atau malah bekerja untuk menghalau kesedihannya.
“Cil,” Boni menepuk bahu gadis itu.
Cilla mendongak dan tersenyum saat melihat Lima Pandawa sudah siap dan terlihat lebih segar setelah mandi sore. Cilla bangun dari sofa dan memberikan senyumnya seperti biasa.
“Sudah lapar kan, Om ?” Tanya Cilla sambil melangkah ke pintu lobby. Pertanyaan yang diajukan untuk kelima pria mapan yang menjadi teman perjalanannya kali ini.
“Mulai dangdutan perutnya, Cil,” Erwin yang menyahut. Cilla mengangguk.
“Oke kalau begitu kita akan makan nasi goreng babat. Tadi saya sudah memastiksn kalau mereka sudah buka. Sepertinya mereka tahu akan didatangi pria-pria ganteng dari Jakarta,”’ujar Cilla sambil tertawa pelan.
Sore ini Cilla meminta Pak Tono melewati jalan yang berbeda, sedikit melambung, untuk memperlihtkan sisi lain kota Semarang yang belum pernah mereka lewati.
Sedikit lebih lama dari waktu normalnya mereka sampai di tempat tujuan. Cilla terlihat sudah mengenal dengan pemilik rumah makan.
“Gimana Om, suka nggak ? Tempat ini ramai banget kalau malam apalagi di akhir pekan. Makanan murah meriah yang cukup terkenal di Semarang.”
Kelimanya mengangguk termasuk Arjuna yang menikmati nasi goreng di depannya.
Dan satu jam kemudian mereka sudah kembali duduk di mobil.
“Gimana Om, mau coba tempat ngopi santai di cafe yang ada di Kota Lama ? Atau mau langsung jalan-jalan di Simpang Lima ?”
Mereka saling memandang dan akhirnya sepakat untuk pergi ngopi ke Kota Lama.
“Keren memang Cil, nggak kalah dengan suasana cafe di Paris,” ujar Erwin saat mereka sudah duduk di salah satu cafe lokal Semarang.
“Wah keren banget Om Erwin sudah pernah ke Paris nih, kapan-kapan saya mau ikut, dong,” sahut Cilla sambil tertawa.
“Kapan elo ke Paris, Win ?” Luki mengerutkan dahinya.
“Belum pernah,” Erwin nyengir kuda membuat Cilla melotot lalu mencibir.
“Jangan terlalu percaya sama Erwin, Cil,” cebik Boni. “Kebanyakan baca primbon jadi suka halu.”
“Eh bambang, biar belum pernah ke sana, minimal gue menyimak situasinya di film-film romantis. Emangny elo demennya nonton film horor. Sengaja biar Mimi nempel-nempel terus.”
“Biar anget lah, Bro,” Boni menaikturunkan alisnya.
“Geli loh!” Luki melempari Boni kertas pembungkus sedotan yang sudah dilinting olehnya.
Arjuna dan Theo hanya mendengarkan dan ikut tertawa. Keduanya lebih banyak menjadi pendengar pasif dan membiarkan keempat orang di depan mereka saling bersahutan.
“Penutup malam ini kita ke Simpang Lima ya, Om. Pak Tono hanya mengantar kita ke sana, pulangnya jalan kaki. Gimana ?”
“Nggak kemalaman Ciil ?” Theo melirik jam tangannya dan melihat waktu sudah jam 10.
__ADS_1
“Jajanan kaki lima di Simpang Lima rata-rata tutup jam 12 malam, Om. Sudah sampai di sini, sayang kalau tidak meihat-lihat Simpang Lima. Lagipula besok Om semua bisa bangun siang atau tidur lagi setelah breakfast dan kita check-out sekitar jam 12 untuk makan siang sebelum ke Bandara.”
Akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti Cilla menuju Simpang Lima.