
“Udah dipastikan nggak ada yang ketinggalan ?” Arjuna meyakinkan Cilla yang sudah siap dengan dandanan ala mahasiwa baru yang akan menjalankan ospek.
“Udah, tapi kok berat juga ya mau ninggalin Sean,” wajah Cilla terlihat sedih saat melihat putranya masih tertidur pulas di dalam boks bayi.
Selama menjalani ospek, Sean tidak dibawa ke rumah mama Diva karena Cilla harus berangkat subuh. Kasihan kalau Sean harus dibawa pagi-pagi ke rumah keluarga Arjuna.
Bik Mina dan seorang baby sitter akan menjaga Sean dan mama Diva atau tante Siska akan gantian ikut menemani bayi gemoi yang berusia hampir 6 bulan itu.
“Cilla, ayo,” Arjuna menarik tangan istrinya yang masih betah menatap Sean dengan wajah sedih.
“Kalau kamu berat ninggalin Sean, batal kuliah aja gimana ?”
“Eh jangan dong,” Cilla buru-buru menggandeng tangan Arjuna yang sempat dilepaskan. “Cilla masih mau ngelanjutin sekolah, biar nggak bikin malu Mas Juna.”
“Jangan mulai deh,” Arjuna langsung melotot membuat Cilla tertawa. “Kalau mau kuliah ya udah ayo jalan sekarang, udah jam 5.30. Nanti kamu terlambat, hari pertama malah dihukum.”
Cllla menurut dan menyampaikan pesan-pesannya entah untuk yang keberapa kali pada Bik Mina dan Imah, babysitter yang menjaga Sean.
Arjuna membawa mobil menuju kampus Cilla. Amanda, adik Arjuna juga kuliah di tempat yang sama dan sekarang menjadi teman satu angkatan dengan Cilla.
Sebetulnya Arjuna sudah menyarankan supaya adiknya menginap di rumah mereka selama masa ospek biar bisa berangkat bersama dengan Cilla, tapi adiknya menolak dan memilih tetap tinggal di rumah bersama papa Arman dan mama Diva.
Jalanan di kota Jakarta masih cukup sepi di pagi hari. Hanya butuh waktu 25 menit untuk sampai di kampus Cilla.
“Mas Juna jangan turun !” Cilla menahan Arjuna yang sudah bersiap melepaskan sabuk pengaman. Mobilnya berhenti 200 meter dari gerbang kampus.
“Nggak boleh ada bantuan selama ospek, nanti Cilla malah dihukum.”
Arjuna mengangguk lalu tertawa pelan saat menatap wajah istrinya yang terlihat lucu. Pipinya sengaja diberi perona yang tebal hingga merah menyala, rambutnya dikuncir lima dengan tali rami sebagai pitanya.
“Awas nggak boleh menggoda senior ya !” Arjuna menjawil hidung Cilla dengan gemas.
“Sudah punya suami Pak Guru tampan, nggak minat cari yang lain,” sahut Cilla sambil terkekeh.
“Gombal !” Arjuna menyentil kening Cilla membuat wanita itu meringis.
“KDRT,” gerutu Cilla masih mengusap keningnya. “Kasih Cilla ciuman penyemangat dong,” Cilla menunjuk ke pipinya
__ADS_1
“Nggak mau, merah begitu, kayak cium jalapeno,” Arjuna menggidikan bahunya.
“Ya ampun Mas Juna, masa pipi chubby nan menggemaskan ini disamain sama jalapeno,” bibir Cilla langsung mengerucut membuat Arjuna tergelak.
Dandanan menornya membuat Cilla mirip topeng badut yang sedang marak dipakai orang di pinggir jalan.
“Kalau yang ini nggak mau juga ?” Cilla menunjuk bibirnya.
Arjuna langsung mengecup bibir itu dengan gerakan cepat hingga membuat Cilla kembali cemberut.
“Kok cuma sebentar ?”
“Nanti dandanan ala badutnya malah berantakan.”
Cilla mengangguk dan akhirnya melepas sabuk pengamannya dengan wajah tidak rela. Sudah setahun menjalani hidup sebagai istri Arjuna, rasanya berat harus memisahkan diri, sibuk dengan kegiatan barunya sebagai mahasiswa.
“Mas Juna serius nih, kalau Cilla ragu-ragu nerusin kuliah, dengan senang hati Mas Juna ngomong sama Sebastian untuk membatalkan kuliah Cilla.”
“Iya… iya… Cilla mau kok kuliah lagi, tapi udah kebiasaan dekat sama Mas Juna setiap hari rasanya ada yang hilang.”
Cilla menguatkan hati, membuka pintu mobil lalu mengambil peralatan ospeknya di jok tengah.
Berbagai atribut yang jadi bawaan wajib sudah Cilla buat seminggu sebelum jadwal ospek. Dibantu Lili, Febi dan Jovan, Cilla dan Amanda mempersiapkan semuanya.
“I love you Priscilla,” Arjuna tersenyum saat Cilla melongok dari jendela sisi penumpang. “Yang semangat ikut ospeknya.”
Cilla mengangguk dan berjalan menuju gerbang kampus yang jaraknya masih 200 meter di depan. Tidak boleh menoleh ke belakang adalah salah satu syarat yang tertulis dalam peraturan selama menjalankan ospek.
Mobil Arjuna juga belum bergerak, ingin memastikan istrinya aman masuk ke dalam kampus.
Cilla memberi salam pada senior yang berada di pos penjagaan yang letaknya kira-kira 50 meter dari gerbang.
Ada perasaan berdebar, takut kalau ada yang kurang, salah atau ketinggalan. Rasanya berbeda dengan masa orientasi pas SMA. Apalagi memikirkan kalau hanya ada Amanda, teman yang dikenalnya saat masuk kuliah.
Cilla kembali mengangguk pada para senior yang berdiri di gerbang, Wajah-wajah galak itu membuat hati Cilla sedikit ciut.
Cemen ! Cilla merutuki dirinya sendiri saat perasaanya tambah deg-deg kan hampir mirip dengan debaran menjelang malam pertamanya dengan Arjuna.
__ADS_1
Kepala Cilla sempat menoleh ke kiri kanan, berharap bisa menemukan sosok Amanda di antara para calon mahasiswa yang sudah berkumpul.
Matanya menyipit mencari sekelompok mahasiswa yang memakai atribut sewarna dengannya, serba oranye.
Cilla melangkahkan kakinya ke arah kanan gerbang, sebelumnya ia melihat papan yang menempelkan daftar kelompok selama ospek.
Tidak ada nama Amanda dalam kelompok Cilla, berarti mereka berdua terpisah, tugas-tugasnya pun bisa saja berbeda.
“Priscilla Darmawan !”
Panggilan itu menghentikan langkah Cilla, kepalanya kembali menoleh ke kiri dan kanan mencari orang yang memanggil namanya. Dipastikan kalau suara itu berasal dari seorang pria, tapi siapanya, Cilla belum hafal dengan suaranya.
“Akhirnya kita ketemu lagi di kampus ini.”
Cilla terperanjat saat melihat sosok cowok tampan dengan suara berbisik muncul dari belakang punggungnya.
“Kak Hans ?” Cilla mengernyit, memastikan ingatannya tidak salah.
Pria di depannya adalah Hans, senior yang pertama kali ditemuinya di kampus ini saat datang bersama Febi dan Lili untuk mengurus administrasi kampus.
“Bagus kalau elo masih ngenalin wajah gue, itu artinya elo memperhatikan gue.”
Hans, cowok itu tertawa bahagia saat Cilla langsung menyebut namanya.
“Gue yakin kalau elo belum menikah. Usia lo baru 18 tahun dan bapak-bapak yang waktu itulebih cocok jadi om lo. Elo pikir tidak akan bertemu dengan gue lagi setelah menunda kuliah selama setahun ?” Hans mencondongkan badannya dengan posisi wajah yang begitu dekat dengan Cilla.
Cilla mundur beberapa langkah membuat Hans malah tersenyum smirk. Tangan Cilla reflek ingin diangkat, memperlihatkan cincin kawin yang tersemat di jari manisnya, namun urung dilakukan karena Cilla ingat cincin itu dititipkan pada Arjuna karena selama ospek semua mahasiswa dilarang memakai perhiasan termasuk anting.
“Gue masih lanjut kuliah di sini dan akan mengajukan diri menjadi asisten dosen, jadi jangan coba-coba menghindar kalau mau kuliah lo aman sampai lulus.”
Cilla hanya terdiam, tidak mau berdebat di hari pertama masuk kampus apalagi dalam masa ospek.
Namun dalam hatinya Cilla tertawa, siapa Hans yang bisa mengancam Cilla soal aman tidak aman.
Cowok over pede di depannya ini belum tahu kekuatan suami Cilla lebih dari sekedar kekuasaan asdos.
Arjuna, pria kesayangan Cilla punya koneksi langsung dengan orang tertinggi di kampus ini.
__ADS_1