MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2


__ADS_3

Cilla baru saja selesai mengikuti kuliah terakhir di jam 3.30 sore. Hilda dan Fino sudah pulang duluan karena ada keperluan sementara Dita baru saja dijemput.


Cilla menunggu Arjuna yang tidak kunjung datang dan tidak bisa dihubungi juga. Entah kenapa Cilla sedikit gelisah, mungkin karena pikirannya langsung teringat pada Sean.


Bulan depan putranya yang menggemaskan itu akan merayakan ulangtahun yang pertama. Cilla dan Arjuna sudah sepakat merayakannya secara sederhana di rumah, lebih kepada syukuran daripada pesta.


Cilla kembali mencoba menghubungi Arjuna namun tidak juga diangkat, bahkan pesan yang dikirimnya tidak ada yang dibaca.


Cilla meggerutu, mendadak ia ingin buang air kecil dan susah untuk menahannya. Takut kalau terkena macet di jalan, akhirnya Cilla bergegas ke kamar kecil yang ada di dekat lobby gedung utama.


Cilla menghela nafas saat membaca tulisan kalau toilet sedang diperbaiki, artinya ia harus naik ke lantai 2 dan letak toiletnya sedikit jauh dari tangga.


Karena desakan buang air kecilnya semakin menuntut, Cilla bergegas naik ke lantai 2 dan setengah berlari menuju ke toilet. Cilla tidak sadar kalau handphonenya bergetar, ada panggilan masuk dari Arjuna yang ingin memberi kabar kalau terlambat menjemput Cilla.


Cilla tersenyum saat urusan buang kecilnya tuntas namun langsung terkejut saat tangannya ditarik masuk ke dalam satu ruang kelas yang dilewatinya.


Mulutnya langsung dibekap dan mata Cilla membelalak menatap pria yang berdiri di depannya.


“Sepertinya tidak ada cara lain untuk berbicara denganmu selain seperti ini, bahkan saat di kelas kamu hanya mendengarkan dan tidak memperhatikan.”


Cilla terdiam karena mulutnya masih dibekap dan posisinya terjepit, sulit melakukan perlawanan.


“Setidaknya selama menjadi mahasiswa di sini kamu tidak bisa mengabaikan aku. Kalau Arjuna takut seharusnya dia melarangmu untuk melanjutkan kuliah. Dan satu hal lagi, apa kamu pikir pria yang kamu akui sebagai suami itu adalah orang baik-baik ? Sudah kamu selidiki sebelum menikah dengannya ?”


Cilla mengerutkan dahi, bingung dengan ucapan Glen yang berbicara dengan senyuman sinisnya.


“Aku akan melepaskan tanganku, jangan berteriak apalagi kabur kalau kamu ingin mendengar cerita tentang sisi gelap Arjuna.”


Cilla mengangguk, setidaknya posisinya akan lebih nyaman kalau Glen melepaskan tangannya. Cilla juga mengangkat jemarinya dan membentuk huruf V, meyakinkan Glen kalau ia berjanji memenuhi permintaan dosennya itu.


Perlahan Glen melepaskan tangannya dan memberi jarak pada Cilla.


“Apa maksud Pak Glen ?” tanya Cilla sambil menautkan alisnya.


“Arjuna tidak sebaik yang kamu kira, Priscilla. Saat ini banyak orang melihatnya sebagai seorang CEO yang berhasil dengan kehidupan yang begitu sempurna karena selain berhasil menjadi pengusaha sukses, Arjuna memilikimu sebagai istri yang masih belia dan keluarga kaya. Sayangnya banyak dari mereka tidak tahu sisi kelam seorang Arjuna.”


“Saya tidak suka berbasa basi, Pak Glen. Kalau memang Pak Glen mengetahui sisi gelap itu, mungkin akan lebih baik Bapak mengatakannya langsung pada saya.”

__ADS_1


“Dan kamu akan percaya ?” tanya Glen sambil tersenyum sinis.


“Tergantung, apakah cukup masuk akal cerita Bapak karena selama ini saya tidak pernah mendengar apapun dari sahabat Mas Juna, bahkan dari Kak Theo, sepupu saya.”


“Tentu saja mereka tidak akan memberitahumu karena mereka ikut menguburnya sebagai masa gelap Arjuna.”


Cilla menarik nafas panjang. Hatinya tidak bisa langsung percaya namun melihat tatapan Glen yang menyiratkan dendam sepertinya ada satu benang merah yang membuat Glen begitu terobsesi untuk merebut Cilla dari Arjuna.


“Kalau kamu ingin mengetahui sisi gelap itu, jangan pernah mengabaikan aku lagi di dalam kelas atau semuanya akan menjadi lebih buruk lagi,” ujar Glen tersenyum sinis dan berjalan ke arah pintu.


Glen mendengar handphone Cilla bergetar dan ia yakin kalau Arjuna yang menghubungi mahasiswinya itu. Saat menarik Cilla masuk ke dalam ruangan, Glen bisa merasakan kalau handphone Cilla bergetar juga.


“Satu lagi,” Glen membalikkan badan sebelum membuka pintu. “Jangan biarkan Arjuna tahu kalau kamu ingin mendengarkan cerita dariku. Sekali Arjuna tahu maka penawaranku tidak berlaku lagi.”


Glen keluar ruangan dan menutup pintu dengan kasar. Cilla menghela nafas, antara penasaran dan tidak percaya dengan ucapan Glen.


Handphonenya kembali bergetar dan nama Arjuna terlihat di layar.


“Cilla dimana ?”


“Habis dari toilet di lantai 2. Mas Juna ada dimana ? Sebentar Cilla turun dan langsung ke gerbang depan.”


“Mas Juna kok ada di sini ?”


“Kamu beneran dari toilet ?” dahi Arjuna berkerut.


“Iya beneran, tuh toiletnya di sebelah sana,” Cilla menunjuk ke arah yang tadi dilewatinya. “Mas Juna nggak percaya ? Mau ngecek ke sana ?”


Arjuna menggeleng dan mengulurkan tangan supaya Cilla menggandengnya.


“”Kenapa nggak ke toilet di lantai 1 ?” tanya Arjuna saat mereka menuruni tangga.


“Sedang dalam perbaikan, mau lihat ?” tanya Cilla yang sedikit gugup karena merasa bersalah tidak bisa jujur pada Arjuna soal percakapannya dengan Glen.


“Nggak usah. Mas Juna hanya ingin memastikan aja, soalnya hampir 10 menit handphone Cilla nggak diangkat-angkat.”


“Maaf tadi Cilla matikan suaranya saat kuliah dan lupa diaktifkan kembali, hanya menggunakan mode getar.”

__ADS_1


“Hmmm,”


Cilla terdiam, tahu kalau perasaan Arjuna sedang tidak baik-baik saja namun tidak terlintas dalam benak Cilla kalau Arjuna sempat melihat Glen datang dari sisi yang sama dengan Cillla.


Pikiran negatif langsung memenuhi otak Arjuna saat Cilla tidak mengatakan apa-apa soal Glen padahal ia yakin kalau istrinya itu pasti berpapasan atau minimal melihat Glen di sekitar toilet atau sepanjang lorong.


Sikap Cilla yang sedikit canggung membuat Arjuna yakin kalau ada sesuatu yang terjadi dengan istri kecilnya itu.


“Mas Juna nggak balik kantor lagi ?” tanya Cilla saat suaminya mengendarai mobil ke arah rumah, bukam ke kantor.


“Udah beres, sisanya bisa ditangani oleh Tino,” sahut Arjuna datar dengan tatapan fokus ke depan.


Sore ini Arjuna tidak mengajak sopir karena sudah berencana pergi berbelanja barang kebutuhan rumah dan melihat-lihat keperluan ulangtahun Sean.


“Kita nggak jadi ke supermarket ?”


“Mas Juna ada kerjaan, kalau Cilla mau nanti pergi sama Dirman aja sekalian ajak Sean.”


Cilla semakin mengerutkan dahinya melihat sikap Arjuna yang terlihat kaku.


“Mas Juna kenapa sih ?” tanya Cilla dengan nada kesal.


Seharusnya Mas Juna yang bertanya kenapa Cilla tidak bicara jujur kalau bertemu dengan Glen ? Batin Arjuna.


“Lagi banyak kerjaan dan tambah capek karena terlalu khawatir waktu Cilla nggak angkat- angkat telepon,” sahut Arjuna masih dengan suara datar.


“Iya maaf, namanya juga kebelet pipis dan cepat-cepat ke toilet, takut ngompol. Begitu beres kan Cilla langsung angkat telepon Mas Juna, lagipula tadi Cilla udah bilang kalau lupa mengaktifkan kembali nada panggilannya.”


Arjuna hanya diam, tidak mau berdebat dengan Cilla. Pikirannya kemana-mana apalagi banyak masalah di perusahaan yang menuntut Arjuna untuk memikirkan semuanya itu dibantu Papa Arman.


Tidak lama mobil Arjuna masuk ke halaman rumah. Meski suasana hatinya sedang tidak baik namun Sean tetap mendapat pelukan penuh cinta dari Papinya. Bayi gemoi itu seperti mengerti kalau situasi kedua orangtuanya sedang perang dingin dan saat ini Arjuna lebih membutuhkannya untuk membuat Papinya tertawa.


Cilla tidak bertanya lebih jauh meski hatinya kesal karena selesai mandi Arjuna bermain dengan Sean tanpa mengajal Cilla bahkan sengaja menghindar.


Selesai makan malam pun Arjuna memilih langsung masuk ke ruang kerja sampai akhirnya Cilla dan Sean tertidur berdua di ranjang.


Hati Mas Juna bertambah sakit karena kamu memilih diam daripada jujur pada Mas Juna, Cilla, batin Arjuna.

__ADS_1


Pandangannya fokus menatap anak dsn istrinya yang sudah tertidur pulas karena waktu hampir jam 12 malam.


Arjuna langsung berbaring setelah mencium Sean dan mengabaikan Cilla. Matanya langsung terpejam berharap besok Cilla akan bercerita dan hati Arjuna akan lebih baik juga.


__ADS_2