MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2


__ADS_3

Arjuna mengerutkan dahi saat melihat Cilla sedang duduk di pinggir ranjang dengan wajah cemberut.


“Kenapa ?” Arjuna berlutut di depan Cilla dan menyibakkan rambut yang menjuntai.


Cilla mendongak dan mata Arjuna langsung membola melihat pipi chubby itu basah karena sisa air mata.


“Ada masalah apalagi di kampus ? Susan masih mengganggu ?”


Cilla menggeleng dan mengambil sesuatu dari samping pahanya lalu menyodorkan benda itu pada Arjuna.


“Ini…” Arjuna langsung tersenyum dan wajahnya berbinar bahagia.


“Kapan Cilla bisa selesai kuliah kalau hamil lagi,” lirih Cilla dengan wajah sendu.


“Sayang, ini berkat nggak boleh ditolak dan ditangisi. Masalah kuliah bisa tetap jalan, Mas Juna nggak akan minta Cilla berhenti kerja.”


“Tapi dengan kondisi 2 anak, Cilla akan sulit membagi waktu.”


“Mas Juna akan membantu Cilla, apalagi banyak yang membantu Mas Juna di perusahaan. Ada Dimas, Tino dan Luki juga Papa pasti akan mengerti dengan kesibukan Mas Juna sama Cilla. Jangan sedih, ya, Cilla harus bahagia karena di luaran banyak orang yang sulit mendapat keturunan.”


“Tapi habis ini Cilla program KB dulu ya, kalau bergantung sama pil, Cilla suka lupa.”


Arjuna mengangganguk-angguk sambil tertawa bahagia. Ia pun membawa Cilla ke dalam pelukannya.


“Terima kasih sudah mau manjadi ibu anak-anakku.” ujar Arjuna sambil mengusap-usap punggung Cilla.


“Enak aja anaknya Mas Juna doang, Cilla juga punya saham,” protes Cilla dengan wajah cemberut membuat Arjuna langsung tertawa.


”Iya, mana bisa Mas Juna punya anak sendirian. Kita langsung ke dokter hari ini, ya ? Mau jam berapa ?” tanya Arjuna setelah merenggangkan pelukannya.


“Cilla ada kuliah sampai jam 11, habis itu kosong. Nanti Cilla cek jadwal praktek dokter Wanda dulu.”


“Nanti Mas Juna jemput jam 11 an terus kita makan siang bareng baru ke dokter.”


“Cilla siap-siap dulu.” Cilla beranjak bangun menuju ke kamar mandi.


Arjuna kembali menatap 2 alat testpack yang diberikan Cilla sambil tersenyum. Dua garis merah yang membuat Arjuna kembali teringat waktu Cilla menangis saat pertama kali tahu dirinya hamil dan harus menunda kuliah.


Hebat kamu, Arjuna, acara tabur benihnya langsung membuahkan hasil. Kalau yang lalu nggak ditahan-tahan bisa-bisa setahun sekali panen bibit unggul, batin Arjuna sambil terkekeh dan wajahnya menunjukkan rasa bangga karena akan memiliki anak lagi.


*****


“Beda memang kalau udah punya istri. Jatah semalam bikin pagi lebih bercahaya lima kali lipat,” ledek Tino saat mengikuti Arjuna masuk ke dalam lift.


“Ini soal bukti bukan janji,” sahut Arjuna dengan wajah sombong.


”Elo berniat jadi caleg ?” ledek Tino.


“Cilla hamil lagi.”

__ADS_1


“What ? Serius lo ?” Mata Tino langsung membelalak.


“Mana ada suami menyebarkan berita hoax soal kehamilan istrinya. Ngiri kan lo ?” cibir Arjuna sambil tertawa apalagi melihat wajah Tino yang melongo sambil geleng-geleng kepala.


“Bini lo baru mau 20 udah hamidun lagi aja.”


“Dih om-om jablai, Cilla aja nggak keberatan gue bikin melendung lagi. Itu artinya lahan subur, bibit gue juga kualitas unggul.”


“Dasar guru mesum, udah nikahin murid di bawah umur, disundul terus sampai melendung.”


Arjuna malah tersenyum bangga dan tidak peduli dengan ejekan asistennya.


Baru saja mereka keluar lift, keduanya dikejutkan oleh Luna yang sudah berdiri bersandar pada dinding di depan lift.


Arjuna hanya mengerutkan dahi, menoleh ke arah Tino seolah bertanya bagaimana wanita ini bisa naik ke lantai ruangannya. Tino menggelengkan kepala sambil menautkan alisnya sebagai jawaban.


“Ada apa ?” tanya Arjuna dengan wajah ketus.


“Bisakah kita bicara di ruanganmu, ada hal pribadi yang ingin aku sampaikan,” sahut Luna sambil melirik Tino.


“Tino bukan orang lain, jadi bicara atau silakan tinggalkan tempat ini.”


Tino mengusap tengkuknya sambil tersenyum kikuk saat Luna menatapnya, wanita itu menarik nafas dalam-dalam sebelum bicara.


“Aku ingin bertemu dengan Priscilla, Mama sedang sakit parah dan harus segera dioperasi.”


“Akan aku sampaikan.”


“Aku datang kemari bukan sekedar ingin memberitahu keadaan Mama tapi ingin minta Priscilla membantu pengobatan Mama. Biar bagaimana pun beliau…”


”Mau mengungkit jasa mamamu ?” sinis Arjuna. “Berapa biaya yang harus Cilla bayar untuk mengganti tenaga yang sudah dikeluarkan ?”


”Jangan menghina kami seperti itu ! Kalau tidak terpaksa aku tidak akan mengemis pada kalian !” sahut Luna dengan penuh emosi.


“Ternyata harga dirimu masih tinggi seperti dulu,” Arjuna berbalik badan, menatap Luna dengan wajah sinis.


”Kamu sendiri yang berniat mengungkit jasa mamamu membesarkan Cilla, kan ? Aku tidak menganggapmu pengemis, hanya mengiyakan permintaanmu untuk membantu biaya pengobatan.”


“Aku ingin bertemu dengan Priscilla langsung !” tegas Luna masih dengan nada suara tinggi.


”Kalau memang itu tujuanmu, untuk apa kamu datang kemari ? Kamu tahu tempat tinggal kami dan nomor handphone Cilla belum berubah !”


”Aku hamil dan membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi calon anakku dan mama,” suara Luna mulai melunak dan wajahnya menunduk.


”Tolong berikan aku pekerjaan. Aku bersedia bekerja apa saja,” lanjut Luna sambil menatap Arjuna dengan wajah memohon.


“Tidak bisa ! Kamu pernah menjadi duri dan racun dalam hidup pernikahan kami, jadi jangan berharap aku akan membiarkanmu mendekati keluargaku.”


Arjuna memberi isyarat pada Tino untuk membawa Luna turun sementara ia sendiri melanjutkan langkahnya menuju ruangan.

__ADS_1


“Arjuna, aku belum selesai bicara !” pekik Luna.


Arjuna mengabaikan ucapan Luna dan terus berjalan menjauh. Luna bergeming sambil mengepalkan kedua tangannya.


”Tidak ada gunanya memaksa Arjuna,” ujar Tino sambil menekan tombol lift menuju ke lobby.


Sesuai permintaan Arjuna, Tino ikut turun ke bawah, memastikan Luna meninggalkan kantor Indopangan tanpa menimbulkan keributan. Wajah calon ibu ini masih emosi saat keluar dari lift menuju lobby.


”Kak Luna ?”


Cilla menautkan alisnya saat berpapasan dengan mantan kakak tirinya di lobby kantor. Firasatnya langsung jelek apalagi wajah Luna terlihat sangat marah.


“Ada perlu apa Kak Luna kemari ?” Mata Cilla memicing sambil melirik Tino yang berdiri agak jauh dari posisi mereka.


“Kenapa ? Masih merasa terancam denganku ?” Luna balik bertanya dengan senyuman mengejek.


“Tidak !” tegas Cilla sambil tersenyum tipis. “Aku hanya tidak ingin suamiku terganggu dengan kedatangan ulat bulu seperti kakak.”


“Dasar sombong !” bentak Luna membuat beberapa orang yang berada dekat situ langsung menoleh.


“Bukan sombong tapi aku bicara kenyataan dan sebagai istri, sudah tugasku menjauhkan para ulat bulu dari suamiku,” sahut Cilla santai.


“Kamu…. “ tangan Luna sudah terangkat, berniat memukul Cilla namun Arjuna langsung menahannya.


“Akan kubuat kamu menyesal kalau berani menyentuh istriku !”


Arjuna bergegas turun begitu Tino meneleponnya, memberitahu kalau Cilla bertemu dengan mantan kekasih Arjuna di lobby.


“Oooo jadi begini aslinya anda Pak Arjuna Hartono ?” tatapan dan senyuman sinis Luna membuat Cilla langsung sebal melihatnya.


Arjuna melepaskan cengkramannya dan berdiri di antara Luna dan Cilla.


“Begini sikapmu setelah membuatku hamil ?” suara Luna cukup keras untuk didengar orang-orang yang ada di lobby.


Satu kalimat membuat orang mendadak kepo apalagi yang jadi lawan bicara wanita itu adalah CEO dan istrinya.


Tanpa sempat dicegah, Cilla melewati suaminya dan langsung menampar Luna membuat Arjuna, Tino dan beberapa orang yang sedang memperhatikan mereka tampak terkejut.


“Sudah lama aku ingin melakukannya,” geram Cilla.


“Akan aku tuntut kalau sampai ucapanmu itu tidak terbukti ! Jangan berharap kali ini aku akan mengalah dan membiarkanmu lepas begitu saja. Kalau perlu akan aku sebarkan hasil tes DNA bayi yang tidak jelas siapa ayahnya !”


Mata Luna membola dan wajahnya memerah menahan amarah. Kedua tangannya kembali mengepal di samping.


Arjuna langsung merangkul Cilla, mencoba menenangkan emosi.


“Ingat ada calon anak kita di dalam rahim Cilla,” bisik Arjuna sambil mencium pelipis istrinya.


Cilla menghela nafas beberapa kali untuk menenangkan hatinya. Terlalu emosi sampai lupa kalau hasil tes pagi ini adalah garis dua. Tangannya langsung mengusap-usap perutnya membuat Arjuna langsung tersenyum.

__ADS_1


“Amit-amit jangan sampai anak kita kayak dia,” gerutu Cilla dengan bibir mengerucut.


__ADS_2