MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kencan yang Belum Usai


__ADS_3

Mami Siska belum ingin berpisah dengan Cilla, masih ingin mengobrol banyak dengan anak Sylvia itu. Namun Cilla sendiri ingin memanfaatkan waktu berdua dengan Arjuna yang masih tersisa beberapa jam lagi.


 


“Biarkan Cilla pulang dulu, Mam. Nanti aku akan mengajaknya main ke rumah dan mami bisa ngobrol sepuasnya,” ujar Theo menengahi. Arjuna sendiri memilih diam dan agak menjauh.


 


Sejak keluar dari restoran Korea, baik Theo maupun Arjuna tidak ada yang memulai percakapan.  Arjuna bisa mengerti sikap Theo yang pasti sangat kesal padanya.


 


“Iya Tante, saya janji akan datang ke rumah Tante asal Om Theo mau jemput dan sediakan makanan yang enak – enak untuk saya,” timpal Cilla sambil merangkul lengan mami Siska.


 


Entah mengapa hatinya merasa dekat dengan mami Siska seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun. Ada rasa nyaman saat Tante Siska membiarkannya bergelayut manja atau merangkul bahu mami Siska layaknya seorang anak pada ibunya.


 


“Kalau soal makanan jangan takut, Cil. Mami jago masak dan bikin kue,” ujar Theo.


 


Akhirnya mami Siska membiarkan Cilla pamit pulang dengan Arjuna. Theo masih tidak mau menatap Arjuna saat ia pamit pada sahabatnya itu. Cilla dibuat bingung dengan sikap Arjuna dan Theo yang tidak seperti biasa.


 


 


“Bapak sudah mau pulang ?” tanya Cilla saat keduanya sudah kembali ke dalam mobil yang perlahan keluar dari parkiran mal.


 


Arjuna masih terdiam dengan pandangan fokus ke depan. Cilla merubah posisinya miring menghadap ke Arjuna.


 


“Pak Arjuna,” panggil Cilla sekali lagi dengan suara sedikit lebih keras,


 


“Pak Arjuna !” Cilla berteriak sambil memukul bahu pria itu. Arjuna terkejut dan reflek menginjak rem, Untung saja tidak ada mobil di belakang mereka.


 


Arjuna menatap Cilla dengan wajah marah sambil mengusap bahunya yang dipukul tadi.


 


“Jangan suka mengagetkan orang yang sedang konsentrasi menyetir !” bentak Arjuna. “Nggak bisa kamu duduk tenang dan menutup mulutmu yang nggak bisa berhenti mengoceh ?”


 


Cilla tercengang dengan sikap Arjuna yang belum pernah ia lihat sebelumnya, Bahkan saat muntah-muntah dalam perjalanan dari Ambarawa ke Gunungpati, Arjuna tidak membentaknya dengan suara tinggi seperti sekarang ini.


 


“Maaf,” lirih Cilla sambil memutar badannya. Posisinya telah kembali semula dengan pandangan ke depan, namun kepalanya menoleh ke jendela samping dan salah satu tangannya memegang tali seatbelt yang merentang di depannya.


 


Arjuna menghela nafas dan kembali menjalankan mobil perlahan.


 


“Saya akan mengantar kamu pulang, nanti saya akan naik ojol ke tempat kost.” Ujar Arjuna dengan nada yang sudah kembali normal.


 


Cilla hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun. Arjuna merasa bersalah telah bersikap kasar pada gadis itu. Ia menepikan mobil dan berhenti,


 


“Maaf, saya nggak bermaksud membentak kamu seperti tadi. Reflek saya jelek kalau dikagetkan saat menyetir.”


 


Cilla kembali hanya menggangguk namun pandangannya tetap ke arah samping.


 


“Cilla,” Arjuna menyentuh jemari  Cilla yang memegang seatbelt. “Saya minta maaf.”


 


Terlihat tarikan nafas panjang gadis itu sebelum akhirnya menoleh menatap Arjuna sambil tersenyum. Ia menarik jemarinya yang sempat dipegang Arjuna


 


“Saya yang salah, Pak Arjuna. Maaf. Saya tidak bermaksud mengagetkan Bapak. Maaf juga kalau kebawelan saya ternyata mengganggu Pak Arjuna. Saya janji, mulai sekarang saya nggak akan jadi anak bebek lagi di depan Pak Arjuna,” ucapan Cilla yang disertai senyuman namun dengan mata berkaca-kaca, membuat Arjuna terdiam sambil menatap muridnya itu.


 


“Bukan maksud saya seperti itu,” tukas Arjuna cepat. “Saya tidak bermaksud meminta kamu untuk tidak bawel. Saya…” Arjuna bingung memilih kata-kata yang tepat untuk Cilla.


 


Ia sempat menoleh ke arah lain saat Cilla menatapnya sambil mengerjapkan matanya. Meskipun tidak sampai mengeluarkan air mata, namun Arjuna bisa melihat kalau mata itu kembali terluka seperti yang pernah ia lihat sebelumnya.


 


“Saya nggak apa-apa, Pak,” ujar Cilla sambil tertawa pelan. “Tidak masalah kalau Bapak merasa terganggu dengan kebawelan saya. Saya janji akan menguranginya kalau sedang bersama Bapak.”

__ADS_1


 


“Jangan !” protes Arjuna cepat. Cilla menyipitkan matanya, memandang bingung dengan sikap Arjuna.


 


Arjuna sedikit salah tingkah dan semakin gugup memilih kata apalagi kalimat. Ia mengusap tengkuknya.


 


“Tetaplah jadi diri kamu apa adanya, anak bebek yang lucu,” Arjuna berusaha tertawa meski sedikit terdengar seperti terpaksa,


 


Cilla hanya tersenyum getir. Ternyata dia hanya anak bebek di mata Arjuna, tidak akan pernah menjadi putri angsa yang cantik. Cilla jadi teringat dengan cerita Ugly Duckling yang menjadi kegemarannya. Seringkali Cilla merasa seperti bebek jelek itu yang terpisah dari orang-orang yang seharusnya mencintainya,


 


“Saya antar pulang kamu sampai rumah, biar nanti saya naik ojol ke  tempat kost,” Arjuna mengulang kembali ucapannya dan menyalakan mesin mobil.


 


“Tapi saya masih lapar,” ujar Cilla.


 


Arjuna menoleh dengan wajah tercengang, Serpertinya tadi dia melihat Cilla makan cukup banyak. Bukan hanya bakaran saja tapi juga ada Japcchae, tteokbokki pedas plus side dish lainnya.


 


“Saya mau makan es krim. Bapak tadi kan belum jadi traktir saya. Boleh saya ganti dengan es krim saja ?” tanya Cilla dengan senyum mengembang.


 


Memang acara traktiran makan yang direncanakan Arjuna gagal karena mami Siska melarang Arjuna ikut mambayar. Sementara kalau Arjuna yang membayar semua tagihan bon, bukan masalah gaji tidak cukup, maka sisa dua minggu ke depan semua biaya harus ditekan seminimal mungkin , bahkan ongkos pp mengajar  perlu ikut dipangkas sebagian.


 


Arjuna mengangguk dan mulai memindahkan kopling, melajukan mobil menuju tempat makan es krim yang diinginkan oleh Cilla.


 


Ternyata tempat yang dituju Clla letaknya tidak jauh dari SMA Guna Bangsa. Semacam café yang tidak terlalu luas ukurannya, hanya menawarkan hidangan penutup, cemilan dan minuman. Suasana di dalam cukup ramai, mungkin karena hari Sabtu. Terlihat kalau pengunjung tempat ini kebanyakan anak sekolah atau kuliah. Harganya tidak terlalu mahal namun variasinya cukup menarik.


 


“Bapak tadi kenapa berantem sama Om Theo ?” tanya Cilla sambil menikmati segelas es krim yang dipesannya. Arjuna sendiri hanya memesan secangkir kopi panas.


 


“Siapa yang berantem ?” Arjuna mengangkat alisnya sebelah sambil menggeleng.


 


 


“Biasa, namanya juga berteman. Sesekali ada ketidakcocokan,  makanya begitu. Memangnya kayak abege, kalau berselisih paham main siram-siraman,” sindir Arjuna sambil tertawa.


 


“Siapa juga yang berteman dengan Sherly ?” sahut Cilla dengan nada sewot. Ia langsung menangkap sindiran Arjuna. “Lagipula urusan dia tidak ditanggapi sama Jovan, kenapa saya yang jadi tumbal ? Saya juga nggak pernah dekati Jovan.”


 


Arjuna tertawa. Hatinya merasa sedikit tenang karena Cilla sudah kembali menjadi dirinya yang cerewet dan mudah emosional. Arjuna sempat merasa sangat bersalah karena telah membentak Cilla dengan keras saat di mobil.


 


“Kamu nggak mau baikan sama Jovan ? Kasihan dia, sepertinya sudah lama berusaha memperbaiki hubungannya dengan kamu.”


 


“Kalau sekedar kata memaafkan sudah lama, Pak. Tapi luka di sini,” Cilla menunjuk ke dadanya. “ Tidak bisa semudah itu dihilangkan. Kata orang  lebih mudah menyembuhkan luka berdarah yang kasat mata daripada yang tidak berdarah dan tersimpan di dalam hati.”


 


Arjuna menyenderkan tubuhnya ke kursi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia hanya tersenyum saat Cilla kembali mengeluarkan kata-kata bijaknya. Mulutnya terus berceloteh sementara tangannya juga sibuk memasukan es krim ke dalam mulutnya.


 


“Bapak ngiler, ya ?” Cilla memicingkan mata memperhatikan Arjuna yang menatapnya sambil senyum-senyum. Ada perasaan berdebar di hati Cilla, namun ia berusaha menepisnya.


 


“Cobain, Pak. Es krim rasa pistasio ini adalah jagoannya café ini.” Cilla menyoddorkan es krim pistasio ke dekat mulut Arjuna.


 


“Saya nggak terlalu suka es krim,” Arjuna menggeleng sambil menahan sendok yang disodorkan Cilla. “Buat kamu saja.”


 


“Kenapa ? Takut ketularan virus bawel saya, ya ? Atau jijik berbagi sendok dengan saya ?” Cilla mencebik dan memasukan sendok es krim pistasio ke dalam mulutnya sendiri.


 


“Padahal Bapak pernah maksa saya makan duren yang sudah sempat terkena mulut Bapak juga,” sindirnya dengan senyuman mengejek.


 


Arjuna hanya tertawa pelan. Dirinya sangat malu kalau mengingat kejadian makan duren itu. Bisa-bisanya dia memberikan duren yang sudah dicicipinya pada Cilla.


 

__ADS_1


“Waktu itu saya tidak sadar melakukannya. Kalau kamu kan sekarang sangat sadar,” sahut Arjuna menangkis omongan Cilla.


 


Cilla hanya mencebik dan kembali menikmati es krimnya yang tinggal separuh. Arjuna juga mengambil gelas kopinya dan meneguknya sedikit,


 


Ia mengedarkan padangan pada suasana café yang semakin ramai. Wajahnya tertegun saat mendapati sebuah ponsel mengarah ke meja mereka. Sepertinya orang itu sedang mengambil fotonya dengan Cilla.


 


Arjuna segera berbalik dan mengambil selembar menu yang ada di meja dan menjadikannya penutup wajahnya dan Cilla.


 


“Kenapa, Pak ?” Cilla kebingunan karena wajah Arjuna menunduk dan mendekat dengan tangan memegang menu yang menutupi mereka.


 


“Sepertinya ada yang mengambil foto kita dari meja yang ada di sebelah kanan, arah jam 3.”


 


Bukannya ikut khawatir. Cilla meletakkan sendok es krimnya dan bangun dari kursi, mengedarkan pandangan ke arah yang disampaikan oleh Arjuna. Matanya memicing, berusaha mengenali beberapa orang yang duduk di sana.


 


“Cilla, kamu mau kemana ?” Arjuna menahan lengan Cilla yang sudah menggeser kursinya untuk keluar.


 


“Samperin bigos kurang kerjaan. Kita juga nggak ngapa-ngapain, jadi nggak usah takut, Pak.”


 


Cilla melepaskan tangan Arjuna dan berjalan menghampiri meja yang dimaksud oleh Arjuna.


 


“Ngapain foto-foto orang ? Kalau memang diam-diam jadi penggemar, nggak usah foto gue kayak orang maling begitu.  Dengan senang hati gue akan melayani permintaan elo. Gratis pula,” ujar Cilla dengan senyum mengejek.


 


Cilla berdiri di hadapan Sherly, Ita dan Susan yang ternyata duduk di meja itu. Tatapan Cilla terlihat galak dengan kedua tangan bertolak di pinggang.


 


‘Dasar b**tch. Nggak puas sama Jovan, sekarang giliran guru baru itu jadi sasaran elo ?” sindir Sherly dengan nada sinis dan senyum mengejek.


 


“Kenapa elo harus nyalahin gue karena Jovan nggak tertarik sama elo ?” Balas Cilla masih dengan  senyuman sinis. “ Seharusnya elo sering-sering ngaca, kenapa sampai Jovan ogah sama elo, padahal bedak sama lipstik elo lebih daripada dandanan badut.”


 


Sherly yang terpancing emosi beranjak  dari kursinya. Susan menahan lengan sahabatnya lalu menggeleng karena beberapa orang dari meja-meja sebelah mulai melihat ke arah mereka.


 


“Elo…” Belum sempat Sherly meneruskan kalimatnya, terlihat Jovan mendekati mereka dan berbicara dengan Cilla.


 


“Elo udah duluan sampai, Cil ? Sorry gue agak telat. Pak Arjunanya kemana ?”


 


Cilla yang masih bingung dengan pertanyaan Jovan hanya menggerakan kepalanya ke arah Arjuna yang masih duduk di kursinya dengan wajah menoleh ke samping. Sepertinya ia tidak janjian dengan Jovan. Atau jangan-jangan Pak Arjuna yang memberitahu Jovan dimana keberadaan mereka.


 


“Yuk ke sana,” Jovan memberi isyarat pada Cilla untuk kembali ke mejanya,  Ketos tampan itu hanya melambaikan tangannya pada Sherly, Susan dan Ita yang masih melongo.


 


“Selamat malam Pak Arjuna,” sapa Jovan sambil menyeringai menatap Arjuna.


 


Arjuna sendiri terkejut melihat Jovan ada di sini.  Apalagi melihat ketos tampan itu menyeringai kepadanya. Rasanya Arjuna ingin menepuk jidatnya sendiri. Niatnya tulus ingin berterima kasih pada Cilla yang sudah membantunya dengan menjadi teman kencan sehari untuk Cilla.


 


Tapi sepertinya alam tidak merestui niat baiknya untuk memberikan Cilla kesenangan sehari saja.  Mereka malah dipertemukan dengan Theo dan Jovan.


Dua pria yang sama-sama meminta bantuan Arjuna untuk bersaing mendapatkan Cilla.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2