MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Pengakuan Dadakan


__ADS_3

Beberapa menit sebelum Cilla terpaku menatap kedua sosok yang baru masuk ke dalam café, Cilla sempat berbalas pesan pada Amanda.


 


Amanda : Cil, elo dimana ? Nyokap suruh datang kemari.


Cilla : Ogah ! Nanti kelupaan kalau lagi main sandiwara di depan kakak lo.


 


Amanda : Tapi ini permintaan khusus dari nyokap yang lagi ulangtahun


 


Cilla : Nanti aja ketemu sebentar pas gue jemput kakak elo


 


Amanda : Dodol ! Sejak kapan elo mau jadi supirnya Kak Juna. Jangan mau dibudakkin sama dia biar elo udah terpesona sama kakak gue


 


Cilla : Gue nggak janji mau jemput sih 😝😝hahahhaa … Udah deh, nikmati aja acara ultah nyokap elo, mumpung kakak elo lagi tobat mau datang. Gue lagi nongki-nongki cantik nih.


 


Amanda : Sendirian ? Di café yang waktu itu kita pernah ketemuan ?


 


Cilla : Kepo !  Lagi cari-cari cowok lain yang bisa menggantikan posisi kakak lo di hati gue


 


 


Cilla sudah meletakkan handphonenya di meja. Sekarang posisinya sedang bertatapan dengan salah satu perempuan yang sudah melihatnya saat mereka sedang mengedarkan pandangannya mencari meja.


 


Hati Cilla sedikit cemas saat melihat keduanya mendekati meja tempatnya duduk.


 


“Priscilla ?”  tanya perempuan yang sejak tadi menarik perhatian Cilla.


 


“Kak Mia,” sapa Cilla dengan sedikit ragu.


 


Sosok perempuan yang pernah menjadi kakak tirinya ini berubah banyak. Mungkin karena sudah hampir 9 tahun juga mereka tidak bertemu.


Mia terlihat seksi dengan dress ketat yang melekat pas di tubuhnya meski dilapisi cardigan panjang hingga ke pinngul. Rambutnya yang hitam legam dengan panjang sepinggang, sekarang berubah menjadi blonde dengan panjang sebahu dan dibuat sedikit bergelombang .


 


Hidungnya pun terlihat seperti hasil operasi, karena sebelumnya tidak semancung itu. Sekarang terlihat tegak dalam bentuk yang sempurna. Belum lagi dengan alisnya yang sudah bisa dipastikan hasil sulaman, plus lipatan mata yang Cilla yakin juga hasil karya dokter kecantikan.


 


Entah berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk merubah penampilan mantan kakak tirinya ini. Yang pasti papi Rudi tidak pernah absen memberikan uang untuk keperluan hidup dan biaya sekolahnya hingga lulus kuliah.


 


“Ngapain kamu sendirian di sini ?” tanyanya dengan senyuman sinis. “Masih belum berubah ? Sukanya  menyendiri dan nggak mau bergaul,”  ejek Mia dengan wajah sinis.


 


Cilla menghela nafas. Ternyata Kak Mia  ini hanya melakukan perubahan ekstrim pada penampilan fisiknya, tapi tidak dengan hatinya.


 


“Apakah ada larangan kalau aku lebih suka sendiri daripada mencari perhatian di tengah keramaian ?” balas Cilla dengan nada santai.


 


Cilla berusaha meredam emosinya. Sembilan tahun berlalu dan mereka sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi, apalagi mereka memang tidak pernah terikat dalam hubungan darah.


 


“Ternyata sudah besar pun kamu nggak pernah sadar diri ya,” Mia berdecih dengan wajah merendahkan Cilla.


 


“Saya selalu sadar, Kak. Memangnya dulu saya sering-sering pingsan ?” Cilla membalasnya dengan senyuman.


 

__ADS_1


“Bahkan sahabatmu itu dengan bodohnya mau mengatakan kebohongan untukmu,” ejeknya dengan nada sinis.


 


“Oooo jadi Kak Mia dan Tante Sofi sengaja menyuruh Jovan berbohong di depan papi ?”


 


“Memangnya ada yang mau percaya dan memihak padamu ? Bahkan aku dengar papi Rudi mengabaikanmu saat ini. Memang anak pembawa sial,” ujar Mia sambil tertawa penuh dengan ejekan. Perempuan lain yang berdiri di sebelahnya ikut tertawa juga.


 


Cilla masih berusaha terlihat tenang dengan tangan terkepal di bawah meja.


 


“Jangan panggil papi dengan sebutan papi lagi. Kamu bukan siapa-siapanya papi, bahkan aku geli mengakui kamu sebagai mantan kakak tiriku,” ujar Cilla dengan nada yang tidak kalah sinisnya.


 


“Tidak masalah !” Mia duduk di seberang Cilla dan mendekati wajah gadis itu dengan mata melotot dan seringai licik. “Aku juga sudah tidak menerima apapun dari BAPAK RUDI lagi.”


 


Mia sengaja menekan kata-kata nama papi Cilla lalu tergelak dan sempat menoyor kening Cilla dengan agak kasar.


 


“ Ternyata Kak Mia mengeluarkan banyak uang untuk memperbaiki wajah kakak supaya terlihat cantik. Tapi  sayang yang dipermak hanya bagian luarnya saja. Isi dalamnya masih tidak berubah seperti air selokan, hitam dan berbau,” ujar Cilla dengan santai namun tatapannya penuh sindirian dan senyuman sinis.


 


“Dasar anak pembawa sial !” Mia mengambil gelas minuman Cilla yang berisi chocolate blended dan menyiramkannya ke wajah Cilla sebelum gadis itu sempat menghindar.


 


“Luna !” teriak seseorang dari arah pintu masuk.


 


Cilla mengambil tissue yang ada di meja dan membersihkan bagian matanya yang terasa lengket.


 


Mia Luna, mantan kakak tiri Cilla itu terkejut saat namanya dipanggil oleh seseorang yang cukup familiar di telinganya.


 


 


Arjuna berjongkok untuk memudahkannya melihat Cilla. Amanda mendekat dengan membawa kotak tissue yang dimintanya dari salah seorang pelayan. Disodorkan kotak itu pada kakaknya.


 


“Kamu nggak apa-apa ?” Arjuna mengambil beberapa lembar tissue dan membantu Cilla membersihkan wajahnya. Cilla hanya menggeleng.


 


“Kamu… kamu kenal sama dia, Juna ?” tanya Luna dengan wajah tercengang.


 


Arjuna sudah berdiri kembali lalu memposisikan badannya menghadap Luna yang masih duduk di kursi. Wajah perempuan itu benar-benar penuh drama, dibuat sedih dan wajah penuh penyesalan.


 


“Aku bersyukur karena diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melihat bagaimana dirimu yang sebenarnya, Luna. Wanita berhati licik yang sanggup mendua dan sekarang melakukan hal seperti ini pada adiknya,” ujar Arjuna dengan nada sinis.


 


“Dia… dia bukan adikku, Juna. Dia duluan yang menghina aku,” tukas Luna masih dengan wajah dibuat sedih dan sendu, seolah-olah dialah korbannya di sini.


 


“Jangan kamu pikir aku nggak tahu, Mia Luna,” ujar Arjuna sambil tersenyum sinis. “Cilla pernah menjadi adik tirimu. Dan bagaimana kamu perlakukan dia selama menjadi kakak tirinya pun aku juga tahu. Hanya aku tidak menyangka kalau wanita jahat yang aku dengar itu adalah orang yang sama dengan wanita yang mengkhianati dan menduakan cintaku. Dan orang itu adalah kamu ! MIA LUNA.”


 


“Jadi kamu lebih percaya pada cerita Priscilla daripada ucapanku ? Kita sudah kenal lama Juna, bahkan sudah menjadi kekasih lebih dari dua tahun. Sedangkan dia,” Luna yang mulai mengeluarkan senjata air matanya menunjuk ke arah Cilla. “Dia ini anak yang pura-pura polos namun penuh rasa iri dan dengki kepadaku. Sudah dari dulu, saat kami masih bersama sebagai saudara tiri, Pris selalu cemburu padaku karena sering dipuji oleh papi.”


 


Luna sengaja menjeda kalimatnya sambil terisak. Ia mengambil tissue dari kotak yang dibawa Amanda dan mengusap wajahnya. Amanda yang berdiri di belakang Arjuna mencebik sambil tertawa mengejek. Mantan pacar kakaknya ini ternyata sama sekali belum berubah sebagai drama queen.


 


Cilla sendiri hanya menghela nafas beberapa kali. Ia tidak peduli dengan ucapan Mia. Cilla juga tidak terlalu pusing seandainya Arjuna lebih mempercayai cerita Mia Luna.


 

__ADS_1


“Oh ya ?” tanya Arjuna sengaja memancing kalimat apa lagi yang akan diucapkan Luna. Pria itu masih berdiri menghadap Luna sambil melipat kedua tangannya di dada.


 


“Iya aku tidak bohong Juna. Bahkan Pris berhasil mempengaruhi papinya untuk menceraikan mamaku,” ujar Luna di tengah-tengah isaknya.


 


Teman perempuan yang datang bersamanya mendekat dan mengusap-usap punggung Luna untuk memberikan ketenangan.


 


Arjuna menoleh ke arah Cilla sambil mengulurkan tangannya. Cilla menatapnya bingung dengan alis menaut, namun dengan kedipan mata dan anggukan kepala, Arjuna memberi isyarat supaya Cilla menurut dan menerima uluran tangannya. Akhirnya dengan sedikit ragu, Cilla meraih jemari Arjuna yang langsung menggenggamnya.


 


“Sayangnya, semua ceritamu itu tidak ada artinya bagiku,” ujar Arjuna sambil tertawa sinis. “Aku lebih percaya pada Cilla, calon istriku.” Arjuna menatap Cilla dan tersenyum.


 


Ucapannya itu bukan hanya membuat Luna terkejut hingga menghentikan isakannya, tapi Amanda dan Cilla sampai terpaku mendengarnya. Keduanya sempat bertukar pandangan, bertanya-tanya apakah Arjuna sudah mengetahui siapa Cilla sebenarnya ?


 


“Bohong !” tukas Luna sambil berdiri dan menatap tajam ke arah Arjuna lalu menatap Cilla yang masih terlihat bingung.


 


“Aku tahu kalau kamu bohong Arjuna ! Bukankah kamu memilih pergi meninggalkan perusahaan karena menolak perempuan ini !” Luna menunjuk tepat di depan wajah Cilla.


 


Arjuna hanya tertawa pelan dengan sikap santai.


 


“Aku bukanlah dirimu yang pandai bermuka dua, Luna. Aku tidak suka juga berpura-pura menggunakan kata cinta untuk sebuah kebohongan.”


 


Deg !



Jantung Cilla serasa mau copot saat mendengar ucapan Arjuna. Ia tahu kalau perkataannya itu ditujukan untuk Luna guna menyindir masalah perselingkuhannya. Tapi Cilla merasa kalau ia juga sudah membohongi Arjuna dengan bersikap pura-pura tidak tahu kalau Arjuna adalah pria yang kabur saat ingin dipertemukan dengannya.


 


“Aku hafal dengan sifatmu, Juna. Memang bukan keahlianmu untuk berpura-pura bahkan dalam hal pekerjaan,” ejek Luna dengan nada sinis .


 


Raut kesedihan sudah hilang dari wajahnya membuat Amanda kembali mencibir dan tersenyum sinis melihat aksi Luna.


 


Tanpa bicara apa-apa, Arjuna menarik Cilla hingga menempel di dekatnya dan langsung dirangkulnya pinggang gadis itu. Sebelah tangannya yang lain langsung memegang wajah Cilla, dan tanpa permisi mencium bibir Cilla di depan Luna, Amanda dan teman Luna.


 


Cilla terbelalak mendapat perlakuan mendadak Arjuna. Hatinya langsung memaki karena Arjuna telah mengambil ciuman pertamanya dengan cara seperti ini. Namun tubuh dan pikirannya seperti tidak sinkron menerima perlakuan Arjuna.


Meski sangat-sangat terkejut karena Arjuna langsung mencium bibirnya bahkan sampai kedua bibir mereka saling menaut, Cilla hanya terdiam dan membiarkan Arjuna melakukan semua sandiwaranya.


 


Amanda ikut berdebar karena terlalu kaget melihat tindakan kakaknya yang tanpa malu-malu di depan adiknya dan mantan pacarnya , mencium gadis sebayanya yang selama ini ditolak mentah-mentah sebagai jodoh yang sudah dipilihkan oleh papanya.


 


Luna yang tercengang melihat perbuatan Arjuna langsung menghentakkan kakinya ke lantai dan dengan wajah kesal meninggalkan meja yang ditempati Cilla.


 


“Kak ! Kak Juna,” panggil Amanda sambil menepuk- nepuk bahu kakaknya. 


 


 Arjuna membuka matanya yang tadi terpejam dan pandangannya langsung bertatapan dengan manik mata Cilla yang masih tercengang. Arjuna buru-buru menjauhkan wajahnya dan melepas pelukannya di pinggang Cilla. Amanda senyum-senyum sendiri saat melihat wajah keduanya memerah.


 


“Kak Luna sudah pergi dari tadi, Kak,” ujar  Amanda sambil terkekeh.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2