MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2 Emosi yang Meluap


__ADS_3

Arjuna sengaja tidak memberi kabar Cilla kalau hari ini ada jadwal dinner meeting dengan calon pembeli dari Vietnam.


Arjuna memang tidak sendirian karena Papa Arman mewajibkan Tino ikut menemani. Sudah hafal dengan sifat putranya, Papa Arman tidak rela emosi Arjuna yang butuh pelampiasan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menunggu kesempatan.


“Bro, udah jam 11 malam, sebaiknya kita pulang aja. Elo belum kasih kabar Cilla, kan ? Ingat Bro, dia bukan sekedar pacar, tapi istri dan ada anak elo juga di rumah,” bisik Tino.


Sudah 2 jam yang lalu meeting resmi dengan kedua tamu dari Vietnam ini berakhir. Keduanya mengajak Arjuna untuk mengobrol santai sambil minum dan menikmati live misic di bar hotel.


Hingga jam 11 malam, belum ada tanda-tanda Arjuna ingin menyudahi obrolannya yang secara garis besar sudah menyimpang dari urusan bisnis.


Tino sendiri sudah tidak tenang, pasalnya Arjuna menyuruh Tino mematikan handphonenya sejak jam 8 malam supaya Cilla tidak bisa mengganggu mereka dan bertanya-tanya pada Tino.


Akhirnya Arjuna menuruti nasehat asisten sekaligus sahabatnya. Jalanan di Jakarta yang sudah bebas dari macet membuat Tino hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk mengantar Arjuna pulang ke rumahnya.


Rumah sudah gelap dan sepi. Tidak ada sambutan hangat dari istri dan anaknya seperti biasa. Hati Arjuna tiba-tiba mencelos, menyadari kalau dirinya masih saja kekanak-kanakan.


Bergegas Arjuna naik ke kamarnya yang ada di lantai 2 dan perlahan membuka pintu karena yakin kalau istri dan anaknya pasti sudah tertidur.


Cahaya kamar sudah temaram. Arjuna tersenyum saat melihat Sean tidur di ranjang mereka, bukan di boks bayi yang biasa digunakan sehari-hari.


Kerinduan Arjuna terasa membuncah membuat pria itu langsung menaruh tas kerja dan melepas dasinya. Matanya berkeliling mencari pakaian ganti yang biasanya sudah disiapkan Cilla. Tidak ada dimana pun, berarti istrinya tidak menyiapkannya untuk Arjuna malam ini.


15 menit Arjuna kemudian keluar dari kamar mandi. Langkahnya membawa Arjuna mendekati Cilla dan matanya langsung menagkap ada bagian yang basah di bantal Cilla.


Tangan Arjuna langsung mengusap pipi istri kecilnya, ternyata dugaannya tidak salah. Bahkan bagian pipi Cilla masih terasa lembap berarti istrinya belum lama tertidur setelah lelah menangis.


Perlahan Arjuna berpindah tempat, mencoba memindahkan Sean ke boks bayinya, tapi seperti mengerti dengan suasana hati maminya, Sean langsung menangis saat merasa tubuhnya terangkat.


“Mau ngapain ?” Cilla membuka mata karena mendengar tangisan Sean dan langsung melotot kesal saat melihat Sean tengah diangkat oleh Arjuna.


“Mau pindahin ke tempat tidurnya,” sahut Arjuna tanpa rasa bersalah.


Cilla menghela nafas dengan wajah kesal dan beranjak dari posisi berbaring lalu mengambil alih Sean dari Arjuna.


“Bobo lagi, sayang,” bujuk Cilla sambil menggoyang-goyang Sean dalam gendongannya.


Bayi berusia 7 bulan lebih itu mendusel-dusel sumber kehidupannya dengan tangisan yang mulai tenang.


“Iya, habis itu bobo lagi, ya.”


Cilla memutar badan dan membuka kancing piyamanya untuk memberikan Sean asi langsung dari sumbernya.


“Kenapa harus berbalik ?” tanya Arjuna sambil mengerutkan dahi.


Cilla tidak menyahut malah bersenandung sambil mengusap-usap wajah Sean hingga tidak lama kemudian, bayi itu tertidur kembali.


“Biarkan Sean tidur di tempatnya,” pinta Arjuna saat melihat Cilla malah berbalik setelah merapikan kembali piyamanya.


Cilla sudah bersiap-siap menidurkan Sean di atas ranjang mereka tepat di antara Arjuna dan Cilla.


“Cilla,” Arjuna menekankan suaranya dan tatapan matanya meminta Cilla menuruti permintaannya.


Namun Cilla mengabaikannya dan tetap menidurkan


Sean dekat dengannya lalu ia sendiri kembali merebahkan diri dan menarik selimut.


Arjuna hanya bisa menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan emosinya, berharap besok semuanya akan baik-baik saja.


***

__ADS_1


Arjuna menggeliat saat cahaya terang mulai mengganggu matanya. Dilihatnya Sean dan Cilla sudah tidak ada di ranjang.


Tangannya meraih handphone yang ada di nakas dan melihat penunjuk waktu di angka 08.35.


Sesudah kesadarannya terkumpul, Arjuna langsung ke kamar mandi sebelum turun ke bawah. Kepalanya sedikit pusing, mungkin efek dari minuman beralkohol yang sudah lama tidak disentuhnya.


Mata Arjuna menyipit saat membuka tirai kamar dan melihat sebuah mobil asing berhenti di depan pagar rumah. Terlihat seorang pria seumuran dengannya turun dari mobil dan membukakan pintu penumpang belakang lalu membawakan beberapa kantong plastik belanjaan untuk diberikan pada Toga dan Dirman.


Taksi online ? Dari interaksinya, Arjuna tdak yakin kalau pria itu adalah sopir taksi online.


Arjuna menghela nafas dan emosinya kembali terpancing saat melihat Cilla tersenyum ramah bahkan menggerakan tangan Sean untuk melambai pada pria itu.


Tidak sampai 5 menit, pintu kamar terbuka dan Cilla masuk dengan santai, mengabaikan Arjuna yang masih berdiri di dekat jendela.


Arjuna sengaja tidak menegurnya dan membiarkan Cilla membersihkan tubuh di kamar mandi.


Begitu keluar dari kamar mandi, Cilla hanya melirik sekilas ke arah Arjuna yang sedang duduk di pinggir ranjang dengan posisi menghadap ke arah meja rias.


“Darimana tadi ?” tanya Arjuna dengan nada dingin.


“Pasar,” sahut Cilla sambil memoles wajahnya dengan pelembap.


“Siapa yang mengantar Cilla tadi ?”


“Adiknya Ibu Mega, tetangga yang tinggal di ujung jalan. Tadi ketemu Ibu Mega dan adiknya di taman habis berolahraga, Cilla dan Sean lagi jalan-jalan diajak ke pasar dan pulangnya diantar juga.”


“Bu Meganya nggak ada.”


“Bu Mega sudah turun duluan karena banyak belanja ikan segar dan daging, jadi minta diantar duluan lalu menyuruh adiknya mengantar Cilla dan Sean.”


“Kenapa nggak minta Dirman atau bangunkan Mas Juna kalau memang Cilla mau ke pasar.”


“Mas Juna dengerin omongan Cilla atau hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan aja ? Tadi kan Cilla bilang ketemu Ibu Mega itu di taman dan setelah ngobrol-ngobrol, Bu Mega ngajak Cilla dan Sean untuk ikut ke pasar.


Mumpung ada teman yang mengajak, ya Cilla lamgsung terima tawaran Ibu Mega, sekalian Cilla ingin tahu situasi pasar di dekat sini.”


“Memangnya nggak bisa pulang ke rumah aja dan minta Mas Juna yang menemani Cilla ?”


Cilla membuang muka dan tidak menyahut lalu ia berjalan ke pintu ingin keluar kamar.


“Mau kemana ?” tanya Arjuna dengan suara tegas.


Cilla tidak menjawab dan meneruskan langkahnya. Ternyata pintu kamar dikunci oleh Arjuna.


“Mas Juna.….”


“Urusan kita belum selesai !”


“Urusan apa lagi ?” Cilla masih berdiri dekar pintu tanpa membalikan badan.


“Kenapa kemarin tidak langsung kasih tahu kalau Glen jadi dosen di kampus ? Dan hari ini apa pantas seorang wanita bersuami pulang diantar laki-laki lain ?”


Cilla mengepalkan tangannya menahan emosi dan masih enggan menjawab pertanyaan Arjuna.


“Cilla, apa pertanyaan Mas Juna kurang jelas ?”


Arjuna menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan mencoba mengurai emosinya. Perlahan ia berjalan mendekati Cilla yang masih berdiri meghadap ke pintu.


“Cilla,” suara Arjuna mulai menurun intonasinya, tidak setinggi tadi.

__ADS_1


“Malas bicara dengan orang setengah mabuk,” desis Cilla sambil menepis tangan Arjuna yang menyentuh bahunya.


Cilla berbalik dan hendak melewati Arjuna namun dengan sigap Arjuna menahan lengan istrinya.


“Mas Juna nggak mabuk.”


“Iya cuma setengah mabuk,” ujar Cilla dengan senyuman sinis.


“Biasanya orang yang otaknya setengah sadar lebih mendengarkan laporan orang lain tapi tidak memahami sifat istri sendiri,” ujar Cilla penuh penegasan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Arjuna tidak menyahut, hanya menatap Cilla dengan dahi berkerut.


“Mas Juna lupa kalau kemarin jadwal di kantor penuh dangan meeting ? Wa Cilla pun dibalas singkat-singkat. Apa Mas Juna pikir Cilla ini model


istri yang akan memaksa suaminya yang lagi sibuk untuk mendengarkan keluh kesah dan kegundahan hatinya karena ternyata laki-laki gila yang dihindari sekarang malah jadi dosen di kampus ? Mas Juna pikir Cilla nggak pingin langsung cerita sama Mas Juna ? Mas Juna pikir Cilla malah bahagia ketemu Glen ? Apa Mas Juna tahu bagaimana cemasnya Cilla begitu melihat Glen !”


Cilla mengungkapkan isi hatinya dengan suara yang terus meninggi sambil menghentakkan tangan Arjuna dengan kasar hingga terlepas.


Arjuna terkejut melihat sikap Cilla. Selama pacaran dan menikah belum pernah Arjuna melihat Cilla sampai berteriak-teriak begini.


Dengan sigap Arjuna meraih Cilla kembali dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


“Lepas ! Cilla benci sama Mas Juna ! Lepasin !” Cilla terus meronta sambil berteriak.


“Mas Juna nggak akan pernah lepasin Cilla sampai kapanpun biar Cilla membenci Mas Juna !” tegas Arjuna.


“Cilla mau sendiri, tolong lepasin,” lirih Cilla.


Arjuna tidak melepaskan pelukannya hanya merenggangkannya sedikit.


“Cilla,” panggil Arjuna dengan pelan.


Tanpa terduga, Cilla mengambil kesempatan itu untuk mendorong Arjuna hingga terhuyung ke belakang.


“Selama ini hanya dengan mendengar cerita orang, melihat laporan yang dlkirim orang lain, Mas Juna langsung hilang kepercayaan sama Cilla. Mas Juna nggak pernah mau melihat bagaimana perasaan Cilla yang sebenarnya. Cilla ajs baru emosi saat meihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perempuan-perempuan itu mendekati Mas Juna dan sikap Mas Juna seolah-olah senang didekati oleh mereka bahkan membiarkan Yola mencium Mas Juna ! Apa Mas Juna pernah memikirkan bagaimana perasaan Cilla selama ini ?


Mas Juna nggak peduli dan hanya bisanya melarikan diri untuk menenangkan hati. Apa Mas Juna tidak berpikir bagaimana cemasnya Cilla semalam karena tidak ada kabar apapun ?


Kalau saja tidak ingat tanggungjawab Cilla pada Sean, Cilla pasti sudah pergi mencari Mas Juna karena jangankan menelepon untuk memberi kabar, mengirim pesan aja nggak !”


“Soal semalam…”


“Cilla benci Mas Juna ! Benci ! Mas Juna pengecut ! Hanya memikirkan perasaan sendiri dan tidak peduli pada anak dan istri !”


Cilla bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


Tubuhnya langsung melorot sambil bersandar di pintu lalu menangis tersedu-sedu.


Perasaannya sudah kacau balau sejak melihat Glen di kampus. Takut, cemas, kesal dan ingin lari.


Cilla ingin berbagi semuanya itu dengan Arjuna dan berharap suaminya memberikan kekuatan dengan pelukan hangat, bukan malah mendapati pakaian suaminya bau rokok dan alkohol.


“Cilla,” Arjuna mengetuk pintu kamar mandi namun tidak ada jawaban, hanya terdengar isak tangis.


“Cilla buka pintunya. Mas Juna minta maaf soal semalam. Tolong buka pintunya.”


Cilla tidak menjawab, hanya isakan tangis yang masih terdengar dari dalam. Hati Arjuna tercubit karena selama ini Cilla tidak sampai emosi begini sampai menangis sesunggukan.


Bahkan saat mengetahui soal penyakit Papi Rudi dan kabar meninggalnya Papi, Cilla masih bisa mengatur emosinya dan tidak sampai histeris seperti ini.

__ADS_1


Arjuna menarik nafas dan menghelanya beberapa kali sambil megutuki dirinya yang sudah berhasil terprovokasi oleh si pengirim gelap.


__ADS_2