MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Cinta di Antara Deburan Ombak


__ADS_3

 Arjuna masih bergeming di tempatnya sambil menatap Cilla yang menunduk dan sesekali mencuri pandang melirik calon suaminya.


“Kenapa ? Kok diam aja ? Kamu keberatan ?” tanya Arjuna dengan senyuman meledek.


 


“Iya !” jawab Cilla cepat sambil mendongak dan menatap mata Arjuna.


 


Pria itu langsung membelalak tidak percaya mendengar jawaban Cilla. Padahal Arjuna pikir ia sudah menang telak karena bisa membuat Cilla terdiam dengan wajah tersipu dan merona.


 


“Kenapa ?” kedua alis Arjuna menaut.


 


“Tentu saja keberatan kalau jadi ibu anak bebeknya sekarang. Apa kata dunia kalau Cilla hamil saat masih duduk di bangku SMA, belum punya KTP pula. Bisa-bisa dicap cewek nggak benar karena sudah hamil sama guru di sekolah pula,” gerutunya dengan wajah kesal.


 


Arjuna yang tadi mengernyit malah terbahak mendengar protes calon istri kecilnya itu.


 


“Siapa yang bilang mau punya anaknya sekarang ? Sah aja belum,” ledek Arjuna sambil mencibir. “Ternyata diam-diam kamu ganjen banget juga ya. Badan kecil, masih di bawah umur tapi imajinasinya kayak orang dewasa.”


 


“Kalau masalah badan, omelin papi kenapa pas buat nggak direncanakan supaya anaknya cantik dan tinggi semampai. Masalah umur tanya sama papi juga kenapa kecil-kecil Cilla udah sekolah di bangku SD,” sahutnya dengan bibir cemberut.


“Jadinya semua salah papi ?” Arjuna tertawa.


 


“Kan papi sama mami yang produksi, mereka juga yang aturin sekolah Cilla, mana bisa Cilla protes waktu masih kecil.”


“Jadi nanti kalau kita produksi perlu diatur dulu adonannya biar hasilnya maksimal ?” ledek Arjuna sambil mencubit kedua pipi Cilla dan menggoyangkannya.


“Memangnya Mas Juna mau bikin kue, adonannya bisa diatur pakai timbangan dan gelas ukur,” sahut Cilla sambil mencibir. “Lagipula mana ada orangtua bisa berkreasi menciptakan bentuk anaknya sendiri, itu namanya melawan kehendak Tuhan.”


”Tapi sudah fixed produksinya sama Mas Juna kan ?”


“Memang ada pilihan ? Masih boleh ganti nggak ?”mata Cilla mengerjap-ngerjap


“Nggak boleh !” Arjuna langsung melotot. “Nggak cukup distempel di sini ?” Arjuna menunjuk bibir Cilla.


“Boleh mengajukan permintaan khusus ?” Cilla mengerjap.


“Minta dicium lagi ?” Arjuna mendekatkan wajahnya.


“Guru ganjen,” cebik Cilla, Arjuna hanya tergelak.


“Minta apa, sayang ?” Arjuna masih belum menjauhkan wajahnya. Ia semakin mendekat karena senang melihar wajah Cilla yang semakin merona dan terlihat sedikit salah tingkah.


“Punya anaknya jangan kayak anak bebek semua. Rumah bisa berisik, nanti emosi mas Juna yang kayak selang bensin gampang nyamber,” ujar Cilla sambil senyum-senyum.


“Memangnya bisa bapak dan ibu bebek punya anak macan ?” ujar Arjuna sambil terbahak.


“Yang anak bebek itu Cilla, kalau Mas Juna lebih cocok jadi harimau,” ledek Cilla sambil terkikik. “Habis nggak boleh dicolek sedikit, langsung mengaum alias senggol bacok.”

__ADS_1


“Kalau Mas Juna harimau, anak bebek kesayangan ini sudah habis dimangsa,” balas Arjuna sambil tertawa.


“Harimaunya sudah dicabut taringnya sama Cilla, tinggal gigi susu aja.”


Arjuna makin tergelak. Ada-ada saja pemikiran calon istrinya ini. Sejak kapan harimau punya gigi susu.


“Harimaunya sudah Cilla kasih vitamin penenang juga, rutin kalau sudah sah menikah,” lanjut Cilla dengan senyum malu-malu.


“Vitamin penenang ?” Arjuna mengerutkan dahinya. “Sejak kapan kamu memberikan Mas Juna vitamin ?”


Cilla memberi isyarat supaya wajah Arjuna kembali mendekat. Masih dengan dahi berkerut, Arjuna menuruti permintaan Cilla dan… cup.


Mata Arjuna membelalak saat Cilla mencium sebelah pipinya. Belum sempat berkata-kata, Cilla sudah lari mendekati pantai dengan alas kaki yang sudah dijinjingnya.


Arjuna memegang pipi yang tadi dicium Cilla. Masih terasa hangat. Meski bukan ciuman pipi pertama yang diterima Arjuna dari mahluk yang namanya wanita, tapi debar jantung Arjuna berdetak bagai mendapatkan ciuman yang pertama.


Ciuman pertama yang diberikan Cilla untuknya, bahkan saat ulangtahun dan pertunangan, tidak ada acara bibir Cilla menempel di seputaran wajahnya.


Arjuna memegang jantungnya yang berdetak semakin tidak karuan. Ia menghela nafas beberapa kali untuk menenangkan diri dan senyum langsung mengembang di wajahnya.


Arjuna berbalik badan dan mencari Cilla yang sedang menyusuri pinggir pantai dan sengaja membiarkan kakinya disapu ombak yang menepi.


Dengan berlari kecil Arjuna menghampiri Cilla dan langsung merangkul leher gadis itu.


“Mulai nakal ya !” bisik Arjuna saat wajah Cilla sudah mendekat ke arahnya.


Cilla hanya terdiam dan tersipu. Ternyata wajahnya juga merona karena malu ditambah terkena paparan sinar matahari pagi yang mulai terasa hangat.


“Tapi Mas Juna suka,” bisik Arjuna kembali. “Boleh sering-sering dapat vitamin seperti itu.”


“Tungguh sah dulu,” sahut Cilla dengan debaran jantung yang sama kacaunya dengan Arjuna.


“Iihhh kecepetan,” Cilla memukul pelan bahu Arjuna dengan tangan lainnya yang bebas.


“Habis sudah nggak sabar dapat vitamin,” goda Arjuna sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Kalau sudah sah, bukan sekedar vitamin aja. Tapi obat karena jadwalnya tiga kali dalam sehari,” sahut Cilla sambil terkikik.


“Kuy lah minta disahkan aja sama papa dan papi begitu Cilla dapat KTP. Mas Juna dengan senang hati dapat obat tiap hari.”


“Iiihhh Mas Juna ngomongnya nikah melulu sama anak kecil,” gerutu Cilla.


“Anak bebek kesayangan,” Arjuna kembali mencubit kedua pipi Cilla sambil menggoyangkannya.


“Anak bebek kesayangan Mas Juna,” ujar Arjuna kembali.


“Bapaknya anak bebek kesayangan Cilla,” dengan sedikit berjinjit, Cilla balas mencubit kedua pipi Arjuna.


Keduanya tertawa dan membiarkan kaki mereka disapu air laut.


Mereka kembali menyusuri bibir pantai sambil bergandengan tangan.


“Jangan lupa, sekarang kamu sudah punya Mas Juna. Kalau ada masalah apapun, jangan pernah ragu datang pada Mas Juna dan berbagi beban. Mas Juna bukan sekedar TTM-nya Cilla, tapi calon suami dan kalau perlu segera jadi suami yang sah.”


“Iya ihh.. Mas Juna kayak peramal aja. Memangnya Mas Juna bisa menerawang kalau Cilla bakal kena masalah dalam waktu dekat ini ?”


Cilla menghentikan langkahnya. Sambil memicing ia menelisik wajah Arjuna yang ikut berhenti dan menoleh menatapnya.


Arjuna terdiam sejenak. Ingin rasanya ia menceritakan semua tentang sakitnya papi Rudi, tapi calon mertuanya itu sudah berniat berbicara langsung dengan Cilla saat di Singapura nanti.


“Cenayang,” ledek Arjuna sambil tertawa. “Mas Juna hanya khawatir kalau nanti melihat Cilla tiba-tiba menangis sendirian lagi seperti waktu kita di Semarang.” Arjuna mencoba mengalihkan rasa ingin tahu Cilla.

__ADS_1


“Memangnya Mas Juna sempat lihat Cilla nangis ?”


Kedua alis Cilla menaut dan membiarkan Arjuna menuntunnya menjauh dari pinggir pantai karena ombak sedikit bertambah besar.


“Kamu lupa waktu Mas Juna membawakan minuman hangat pas kita lagi di Sam Poo Kong ?”


Cilla menggeleng sambil menghela nafas.


“Pertama kalinya Mas Juna bisa melihat kalau kamu memendam kesedihan yang begitu besar dan sengaja kamu tutupi dengan kebawelanmu,” Arjuna menoel hidung Cilla.


“Cilla memang sedih waktu itu,” Cilla berkata pelan sambil bergelayut di lengan Arjuna.


Arjuna tersenyum dan membelai jemari Cilla yang memegang lengannya. Arjuna amengajaknya duduk di tembok penahan ombak yang ada di jalan yang mereka lalui.


“Banyak teman-teman yang memasang foto liburan mereka di medsos, terutama Lili dan Febi. Mereka bahagia karena bisa berlibur dengan keluarga. Lili dan kedua kakak cowoknya diajak ke Jepang, Febi dan adiknya diajak berlibur ke Medan. Sementara Cilla sendiri ? Pergi dengan Pak Slamet dan Pak Wahyu untuk menghadiri pernikahan Pak Dono. Untung saja ketemu sama Lima Pandawa, jadi liburan Cilla lebih berkesan karena sangat menghibur dan membuat Cilla tidak kesepian.”


Wajah Cilla terihat sendu saat mendongak memandang Arjuna yang berdiri di depannya, meskipun gadis itu berusaha tertawa pelan. Arjuna tersenyum dan membelai lembut kepala Cilla.


“Cilla bersyukur karena masih diberi kesempatan lebih dekat dengan guru matematika baru yang diusung jadi guru paling ganteng se-Guna Bangsa,” lanjut Cilla sambil terkekeh.


“Tapi kok Mas Juna nggak berasa ?” Arjuna hanya senyum-senyum.


“Bohong banget,” Cilla mencebik. “Guru matematika kelas 12 suka tepe-tepe sama siswi Guna Bangsa. Ngeselin ! Sok kecakepan !” omel Cilla dengan bibir maju mundur membuat Arjuna tergelak.


“Tapi bikin anak pemilik sekolah langsung kecantol dan nggak bisa pindah ke lain hati,” ujar Arjuna di sela-sela tawanya.


“Kena sembur terus. Pengalaman yang nggak akan Cilla lupakan. Bisa-bisanya disembur sama Mas Juna dua kali,” gerutunya.


“Mas Juna juga kena jampi-jampi kebawelan anak bebek kesayangan ini yang nggak pernah mau ngalah kalau bicara.”


Tangan Arjuna masih membelai kepala Cilla dengan penuh kasih sayang.


“Boleh mengajukan permintaan kedua ?” Cilla mengerjap-ngerjapkan matanya saat mendongak.


“Mau setiap hari mengajukan permintaan juga boleh,” Arjuna tersenyum. “Selama Mas Juna bisa mengabulkannya, Mas Juna pasti akan memenuhi permintaanmu.”


“Co cweet banget sih calon suamiku,” Cilla bangkit berdiri dan menyentuh ujung lengan kaos Arjuna sambil tersenyum malu-malu.


“Duuhh kalau begini bukan anak bebek Mas Juna, deh. Jelek,” Arjuna mencebik. Cilla tergelak.


“Memangnya permintaan kedua kamu apaan ?” Arjuna mendunduk dan mendekati wajahnya membuat Cilla mundur namun kakinya tidak bergerak.


Arjuna tertawa dan menahan pinggang Cilla yang hampir jatuh. Cilla menghela nafasnya karena sempat khawatir tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.


“Mas Juna tanya sekali lagi nih,” Arjuna senyum-senyum menggoda Cilla. “Apa permintaan kedua kamu ?”


“Mau peluk,” ujar Cilla berusaha menahan rasa malunya.


“Kalau itu nggak perlu minta. Selama bukan di depan kelas, kapanpun kamu memerlukan pelukan Mas Juna, pasti akan Mas Juna berikan secara cuma-cuma.”


Arjuna langsung membawa Cilla ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang.


“Jangan pernah lupa kalau sejak kita bertunangan, kamu tidak akan pernah sendirian lagi. Mungkin saat Mas Juna harus kembali bekerja di perusahaan papa, waktu yang ada tidak akan selonggar seperti sekarang. Tapi Mas Juna pasti akan selalu punya waktu untukmu. Jangan menanggung beban hidup sendiri lagi. Karena tujuan pernikahan bukan hanya untuk mendapatkan keturunan, tapi juga membuat dua kehidupan menjadi satu. Suami istri bukan sekedar status supaya orang tidak dibilang tidak laku atau jones, tapi mempersatukan dua hati untuk menjadi kekasih, teman, sahabat dan partner. Berbagi kebahagiaan, kesulitan bahkan air mata agar bisa saling menguatkan meski di tengah perjalanan akan ada badai atau rintangan yang harus dihadapi. Jangan pernah lupa kata-kata Mas Juna ini anak bebek kesayangan.”


Cilla merenggangkan pelukannya dan menatap Arjuna. Meski matanya terlihat berkabut namun senyuman manis mengembang di bibirnya.


“Mas Juna romantis banget sih, Cilla benar-benar melehoy nih,” Cilla tertawa dengan air mata yang mulai keluar. Ia kembali menyusup ke dalam pelukan Arjuna.


“Terima kasih karena sudah memilih Cilla untuk menjadi masa depannya Mas Juna,” ujar Cilla dengan suara pelan namun masih bisa didengar oleh Arjuna.


Di antara suara deburan ombak, Arjuna mengeratkan pelukannya pada Cilla dan berdoa dalam hati agar dirinya mampu memenuhi janji yang diucapkannya pada papi Rudi, membuat Cilla tidak akan bersedih dan merasa sendirian lagi. Memberikan Cilla lebih banyak kebahagiaan dan tawa daripada air mata dan rasa kesepian yang seolah tak berujung.

__ADS_1


__ADS_2