MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Papa Arman batal mendekati Arjuna yang masih memeluk Cilla. Gadis itu masih menangis dengan tubuh bergetar karena rasa takutnya. Arjuna tidak mengucapkan apa-apa hanya memberikan usapan dan tepukan halus untuk menenangkan Cilla.


 


Setelah dirasakan tangisan Cilla mereda, Arjuna perlahan melerai pelukannya.


 


“Kita duduk dulu, ya, sambil dengar penjelasan dari dokter,” ucap Arjuna.


 


Cilla mengangguk dan menuruti saat Arjuna membawanya menuju deretan bangku di dekat meja perawat. Tidak lama terlihat dokter Raymond dan papa Arman mendekati mereka.


 


“Kita bicara di sana saja,” dokter Raymond menunjuk salah satu ruangan yang ada di dekat tempat mereka berada.


 


Arjuna mengangguk dan memberi isyarat kalau ia dan Cilla akan menyusul. Arjuna mengeluarkan saputangan yang selalu dibawanya dan berlutut di hadapan Cilla. Perlahan dibersihkan wajah Cilla yang basah karena air mata dan dirapikan rambut Cilla yang melekat di pipinya.


 


“Dokter Raymond mau bicara sama Cilla. Ada papa dan Mas Juna yang akan menemani. Cilla dengar langsung penjelasan dari dokter, ya ?”


 


Dengan lembut Arjuna membelai pipi Cilla yang mengangguk sebagai jawaban atas permintaan Arjuna. Keduanya pun beranjak bangun menuju ruangan dimana sudah menunggu papa Arman dan dokter Raymond.


 


Bersamaan dengan mereka, ada 2 orang dokter lainnya yang ikut masuk dan akhirnya berlima mereka duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu,


 


“Kenalkan ini dokter Handoyo dan dokter Krisna, dokter spesialis penyakit dalam dan bedah yang selama ini bertanggungjawab atas pengobatan Rudi di rumah sakit ini. Ada dokter lainnya yang masuk dalam tim juga.”


 


Papa Arman dan Arjuna menganggukan kepala sementara Cilla hanya bersandar di bahu Arjuna sambil merangkul lengan pria itu.


 


Dokter Raymond berpindah tempat duduk di sebelah Cilla sambil membawa satu berkas rekam medis di tangannya.


 


“Masih ingat dengan Om, Cilla ?” tanya dokter Raymond perlahan sambil menyentuh bahu Cilla.


 


Cilla mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah dokter Raymond yang ada di sisi kanannya. Perlahan ia menganggukan kepala. Matanya masih sembab meskipun sudah tidak lagi menangis.


 


“Apa Cilla sudah tahu kalau papi menderita sakit yang cukup berat ?”


 


“Cilla hanya tahu kalau papi pernah menerima donor ginjal dari mami, Om. Dan hanya ginjal yang diberikan sama mami yang berfungsi saat ini.”


 


Arjuna masih tetap menggenggam satu jemari Cilla dan sesekali meremasnya untuk memberikan kekuatan .


 


“Selain itu papi Cilla juga menderita sakit kanker getah bening stadium 4,” lanjut dokter Raymond sambil membuka berkas yang tadi dibawanya,


 


 Cilla terkejut mendengar ucapan dokter Raymond. Meski belum ada gambaran seperti apa penyakit kanker getah bening itu, namun dalam benaknya hanya terpikir kata kanker dan stadium 4. Berarti papi menderita penyakit yang sulit disembuhkan dan dalam taraf yang cukup parah karena sudah mencapai level tertinggi.


 


“Apa bisa disembuhkan, Om ?” Cilla tidak mengharapkan penjelasan detail dari para dokter ahli yang ada di depannya. Bagi Cilla yang tepenting adalah kesembuhan papi.


 


“Maaf kalau Om bicara jujur,” ujar dokter Raymond dengan hati-hati. “Secara medis perlu melalui beberapa tahap mengingat papi kamu memiliki masalah di bagian organ lainnya. Selain ginjal yang hanya tinggal satu, papi Rudi juga sakit  darah tinggi dan fungsi levernya sudah menurun. Selama ini papi kamu kurang rutin menjalankan kemoterapi dan terlalu lelah bekerja. Tapi tidak ada yang tidak mungkin. Sementara kami akan meneruskan kemoterapinya dulu dan dilihat apakah memungkinkan untuk melakukan operasi dan mengangkat sel kankernya.”

__ADS_1


 


“Tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan papi, Om. Cilla percaya Om pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan dan Cilla percayakan sepenuhnya sama Om Raymond dan semua dokter di sini,” ujar Cilla sambil mengedarkan pandangannya pada dokter Handoyo dan dokter Krisna yang duduk di seberangnya.


 


Dokter Raymond mengusap kepala Cilla sambil tersenyum dengan penuh rasa sayang. Dokter Raymond sendiri baru mengenal papi Rudi setelah menjadi penderita kanker yang memutuskan untuk melakukan pengobatan di Rumah Sakit Pratama.



Dalam proses awal pengibatannya, papi Rudi yang dikenal sebagai salah satu pengusaha ternama dan pasien VIP , berkenalan dengan pemilik rumah sakit Pratama.


Akhirnya dari perkenalan itu mereka menjadi teman baik dan sering berbagi cerita tentang hidup mereka termasuk anak-anak mereka. Sempat bercanda ingin menjodohkan Steven dan Cilla yang berstatus sebagai anak tunggal, namun batal setelah dokter Steven memutuskan untuk meraih cinta lamanya yang ternyata sekarang menjadi calon istri sepupunya.


 


“Cilla harus berpikir jernih menghadapi masalah ini. Jangan ragu-ragu untuk mendatangi Om kalau ada yang ingin ditanyakan” ujar dokter Raymond sambil menepuk bahu Cilla.


 


“Apa papi pasti bisa bertemu Cilla lagi, Om ?”


 


“Maksud kamu ?” dokter Raymond mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Cilla.


 


Cilla menghela nafas dengan tatapan cemas dan sempat menoleh ke arah Arjuna yang langsung memberikan senyumannya.


 


“Cilla takut papi akan seperti mami yang tidak akan pernah keluar lagi dari ruang ICU. Dulu mami sudah janji akan kembali setelah masuk ruang ICU, ternyata Ciila tidak bisa lagi berbicara sama mami, nggak bisa lagi lihat senyuman mami. Cilla takut kalau papi juga akan seperti itu,” ujar Cilla dengan sedikit tersendat karena air matanya mulai keluar lagi.


 


Ingatannya kembali pada kenangan buruk saat usianya masih lima tahun. Tidak boleh membesuk maminya karena masih terlalu kecil dan akhirnya harus mendapati mami Sylvia terbujur kaku saat keluar dari ruang ICU.


 


Begitu banyak yang ingin Cilla sampaikan, tapi tidak ada lagi kesempatan. Sejak saat itulah dalam pikirannya setiap orang yang dirawat di ruang ICU tidak akan pernah lagi keluar dalam keadaan sehat.


 


“Jangan takut,” dokter Raymond kembali menyentuh bahu Cilla. “Sepertinya papi kamu tadi pingsan di kantor karena terlalu stress dan lelah. Saat ini semuanya masih dalam pemeriksaan dan kondisinya perlu pengawasan intensif dan alat-alat penunjang medis. Jadi setelah berdiskusi, para dokter memutuskan untuk menempatkan papi Rudi di ICU sekalian observasi. Kalau tidak ada masalah dan papapimu sudah sadar kembali, Om akan minta supapimu dipindahkan ke ruang rawat biasa. Untuk sementara kita lihat perkembangannya sampai besok, ya ?”


 


 


“Apa Mas Juna mau temani Cilla ?” Cilla malah balik bertanya.


 


Arjuna menatap ke arah dokter Raymond untuk meminta ijin masuk membesuk sekaligus berdua.


 


“Akan Om sampaikan kepada perawat di sana kalau memang Cilla mau masuk dengan Arjuna,” ucap dokter Raymond.


 


Akhirnya kelimanya bangun dan keluar menuju ke arah ruang ICU. Papa Arman masih terdiam, mengikuti langkah mereka dari belakang membiarkan putranya yang menenangkan Cilla.



Cilla sempat terhenti saat langkahnya semakin mendekat di depan pintu ruang ICU. Tubuhnya kembali membeku seolah tidak ada tenaga untuk membuatnya melangkah maju.


 


“Cilla pasti bisa,” Arjuna memeluknya sambil mengusa-usap punggung Cilla, membuat tubuh gadis itu berangsur normal, tidak kaku karena tegang lagi.


 


Arjuna membantu Cilla memakaikan pakaian khusus sebelum masuk ruang rawat dan tetap menggandengnya mendekati ranjang papi Rudi. Suara sahutan mesin penunjang medis membuat hati Cilla berdebar tidak karuan.


 


Cilla bergidik saat melihat begitu banyak alat penunjang yang terpasang di tubuh papi Rudi termasuk ventilator. Jantungnya berdegup kencang saat tangannya perlahan menyentuh tangan papi Rudi.


 


“Cepat sembuh, Pi. Cilla akan selalu menunggu papi dan membuat papi bangga sama Cilla. Jangan cepat-cepat menyusul mami, karena Cilla masih sangat membutuhkan papi di sini.”


 

__ADS_1


Perlahan air mata mulai menetes dari kedua sudut matanya membuat Arjuna merengkuh bahu Cilla. Arjuna sendiri hanya diam saja dan membiarkan Cilla mengeluarkan semua isi hatinya termasuk kesedihannya.


 


Hanya sepuluh menit keduanya berada di dalam karena keadaan papi Rudi tidak sadarkan diri. Begitu sampai di luar, sudah ada mama Diva, tante Siska, om Rio dan Theo di sana. Pak Slamet dan Dono juga masih menunggu di depan ruangan.


 


“Yang kuat, sayang,” Mama Diva langung mendekati Cilla dan memeluknya dengan penuh cinta.  “Jangan pernah ragu untuk meminta pada mama kalau kamu membutuhkan bantuan.”


 


Hati Cilla tersentuh, meskipun ia sudah membatalkan pernikahan dan memutuskan hubungan dengan Arjuna, tetapi kasih sayang mama Diva tidak berubah dan tetap menyebut dirinya mama bagi Cilla.



Sesudah itu gantian tante Siska yang tidak mampu menahan air matanya memeluk Cilla.


 


“Doakan yang terbaik untuk papi kamu, Cilla. Pasrahkan pada Tuhan dan bersandarlah pada kekuatan-Nya. Papi pasti akan berjuang juga untuk tetap berada di sisi Cilla.”


 


Cilla tersenyum setelah melerai pelukannya dengan tante Siska. Sejak melepaskan pakaian khusus di ruang ICU tadi, Cilla sudah bertekad untuk lebih tegar dan menerima kenyataan yang ternyata sudah lama disembunyikan oleh papi Rudi.


 


Bukan saatnya menyesali karena tidak ada seorang pun yang memberitahukan kepadanya dan Cilla yakin termasuk Arjuna.


Sekarang satu persatu masalah mulai terurai dan jelas di mata Cilla. Dan Cilla yakin kalau Tuhan pasti masih memberikan kesempatan padanya untuk membahagiakan papi, meski Cilla sendiri tidak tahu berapa lama waktu yang dia punya.


 


Om Rio hanya menepuk-nepuk bahu Cilla dan memberinya semangat, lanjut dengan Theo yang berdiri di belakang om Rio.


 


“Semangat terus anak bebek,” ucap Theo yang langsung memeluk Cilla erat-erat sambil menepuk-nepuk punggung Cilla. “Biar sekarang bapaknya anak bebek udah susah dijangkau, masih ada unclenya anak bebek,” ujar Theo berusaha mengikis ketegangan.


 


Spontan Arjuna yang masih berdiri di dekat situ langsung melotot kepada Theo yang tertawa dengan pandangan mengejek Arjuna.


Bahkan Theo sengaja berlama-lama memeluk Cilla, menggugah sifat posesif Arjuna yang mulai membuncah ingin menjauhkan Theo dari Cilla.


Masih sempat-sempatnya sahabat baiknya itu mengatakan kalau bapaknya anak bebek sulit dijangkau, padahal sudah jelas kalau Arjuna tidak lari dari Cilla dan masih tetap mengawasinya meski dari jauh.


 


“Hati-hati bapaknya anak bebek masih suka galak,” bisik Theo sengaja begitu dekat dengan wajah Cilla membuat Arjuna mendengus kesal dan menahan emosinya.


 


“Kalau sampai dia macam-macam, jangan ragu minta tolong sama uncle bebek,” lanjut Theo sambil terkekeh.


 


Theo sengaja mengucapkan kalimat-kalimat yang bisa memancing senyuman di wajah Cilla supaya gadis kecil di depan tidak terus larut dalam kesedihan. Cilla langsung melotot begitu Theo kembali berdiri tegak dan memukul bahu pria itu.


 


“Namanya juga anak bebek udah pasti lah milik bapaknya bebek, mana ada punyanya uncle bebek. Kalau uncle ya pasangannya keponakan,” omel Cilla dengan bibir mengerucut.


 


Theo malah melongo mendengar jawaban Cilla yang sudah fixed mengklaim dirinya milik Arjuna.


Dono tertawa pelan sambil geleng-geleng melihat wajah Theo yang mulutnya sedikit terbuka. Sejak tadi ia tahu kalau Theo sedang memanas-manasi Arjuna yang raut mukanya sudah terlihat menahan rasa cemburunya. Namun ternyata murid spesialnya itu tidak membiarkan mantan calon suaminya ditindas begitu saja.


 


Arjuna senyum- senyum sambil menoleh ke samping. Tidak enak kalau sampai terlihat tante Siska dan om Rio yang berdiri di dekatnya. Kedua keluarga Cilla itu bisa salah paham karena berpikir di saat om Rudi sedang sakit di dalam, Arjuna malah tersenyum kegirangan.


Arjuna hanya berani bersorak dalam hati karena mendengar ucapan Cilla yang secara tidak langsung membelanya, meski Arjuna tidak tahu kalimat apa yang diucapkan oleh Theo.


Theo mengusap tengkuknya, sepertinya sulit membuat Arjuna dan Cilla benar-benar terpisah. MulutCilla memang menolak, tapi hatinya justru bicara cinta yang tak berujung.


Begitu juga dengan Arjuna. Theo bisa melihat betapa dalam pancaran cinta sahabatnya untuk sepupunya ini.


Huuffttt… Theo tertawa dalam hati sambil berdoa semoga keduanya benar-benar bisa bersatu.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2