
“Cilla nggak mau menikah pas ulangtahun ketujuhbelas kalau pilihannya Mas Juna harus berhenti jadi guru dan tidak mengajar lagi di sekolah,” tegas Cilla saat pertemuan kedua keluarga saat membicarakan soal rencana pernikahan Cilla dan Arjuna yang akan diadakan bersamaan dengan perayaan ulangtahun Cilla yang ketujuhbelas.
“Bukannya kamu sendiri yang menantang papi dan papa untuk menikahkan kalian secepatnya ?” tanya papi Rudi dengan suara kalem.
“Iya, tapi bukan dengan pilihan seperti ini. Cilla nggak mau ! Kalau sampai Mas Juna harus berhenti mengajar, rencana pernikahannya ditunda aja sampai Cilla lulus SMA,” dahi Cilla berkerut dan wajahnya menegaskan ucapannya kembali.
Ternyata kedua keluarga serius dengan rencana untuk menikahkan Cilla dan Arjuna secepatnya. Dua hari setelah tahun baru, keluarga Hartono datang berkunjung ke rumah keluarga Darmawan untuk membicarakan rencana ini lebih serius.
Ada tante Siska dan om Rio yang ikut menemani papi Rudi, tapi tanpa Theo dan Amanda.
Papi Rudi sendiri yang memintanya, karena tidak ingin mengambil resiko kalau sewaktu-waktu kesehatannya langsung drop karena para dokter baik di Indonesia maupun di Singapura tidak bisa memastikan kondisi kesehatannya. Mereka hanya bisa berpasrah pada rencana Tuhan.
Arjuna menggeser duduknya supaya semakin dekat dengan Cilla. Saat ini mereka sedang berada di ruang tamu rumah keluarga Darmawan.
“Cilla, kalaupun Cilla nggak bisa sering-sering ketemu Mas Juna di sekolah , dengan menikah berarti kita hidup bersama, satu atap, satu kamar. Setiap hari pas bangun tidur dan mau bobo, Mas Juna akan ada di samping Cilla tanpa takut digrebek sama papi, papa dan mama. Kalau hari libur, Mas Juna sepenuhnya milik Cilla dan kita bisa dating tanpa takut ketahuan teman-teman Cilla di sekolah karena hubungan guru dan murid.”
“Tapi di saat-saat genting di akhir sekolah ini Cilla membutuhkan Mas Juna. Hanya dengan melihat Mas Juna aja di sekolah, semangat Clilla langsung terisi penuh. Apalagi semester ini akan dipenuhi dengan try out, ujian dan segala macam tes untuk kelulusan, pasti Cilla butuh sering-sering melihat Mas Juna kalau sudah mulai low batt,” lirih Cilla.
Tante Siska dan om Rio yang ikut hadir atas permintaan papi Rudi hanya bisa menahan senyum. Keponakannya ini benar-benar menunjukkan sifat kekanakannya kalau sudah dekat-dekat dengan calon suaminya.
“Arjuna juga nggak mungkin langsung meninggalkan sekolah begitu saja, Cilla,” ucap papa Arman. “Pasti sekali-kali harus datang untuk menuntaskan tugasnya sebagai guru kelas 12.”
“Iya benar, Cilla. Arjuna adalah penanggungjawab utama dalam penyusunan soal ujian sekolah bidang studi matematika. Tidak mungkin mengalihkan tugasnya begitu saja pada calon guru penggantinya,” timpal papi Rudi.
“Lalu apa tidak masalah kalau perayaan ulangtahun Cilla dibarengi dengan pesta pernikahan Cilla dengan Mas Juna ?” Cilla menatap papi Rudi dan papa Arman bergantian.
“Papi akan membahasnya bersama Pak Slamet soal prosedur sekolah dan akan meminta saran beliau untuk mendapatkan solusi yang terbaik.”
Cilla menunduk dan memainkan kedua jemarinya dengan sedikit gelisah. Terlihat beberapa kali ia menghela nafas membuat kedua ayah saling bertatapan dan papi Rudi pun memberi isyarat pada Arjuna untuk menenangkan Cilla.
“Sayang,” Arjuna kembali merangkul Cilla. “Apa kamu masih ragu keseriusan Mas Juna untuk menikah denganmu ? Atau kamu malah nggak yakin kalau Mas Juna adalah cowok yang tepat untuk…”
“Bukan keduanya,” potong Cilla dengan cepat dan menggeleng. Kepalanya sudah kembali mendongak dan menatap Arjuna dengan mata beberap kali mengerjap.
“Terus kenapa Cilla masih kelihatan ragu ?” Arjuna meraih jemari Cilla yang masih menaut.
“Nggak ada, Cilla terserah pada keputusan papi dan papa aja. Cilla akan ikut apapun yang sudah disepakati bersama.”
Semuanya terlihat menarik nafas lega, terutama papi Rudi. Setidaknya tanggunjawab atas diri Cilla perlahan dilaihkan pada Arjuna sebagai suaminya nanti. Papi Rudi akan lebih tenang jika sampau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
__ADS_1
Selesai perbincangan tentang pernikahan, tante Siska mengajak Cilla untuk membantunya di dapur menyiapkan makan siang. Sebagian sudah dibawa dari rumah oleh tante Siska dan sebagian lagi merupakan masakan Bik Mina. Tidak lama mama Diva ikut menyusul keduanya dan membantu di dapur.
“Kalau nanti Cilla senggang dan Arjuna sedang sibuk, jangan sungkan datang ke rumah dan belajar masak sama Mama. Akan Mama bagi resep masakan kesukaan Juna,” ujar mama Diva sambil menuang sayur dari dalam panci di atas kompor.
“Beneran, Ma ?” wajah Cilla terlihat berbinar. “Memangnya nanti Cilla nggak tinggal di rumah Mama sama Papa ?”
“Kalau masalah mau tinggal dimana setelah menikah, terserah kesepakatan kamu dan Juna saja,” sahut mama Diva sambil tersenyum.
“Biar umur kamu masih muda, kalau status sudah jadi istri, harus pintar menyenangkan suami lahir batin,” nasehat tante Siska. “Mulai dari memasak, merawat rumah, sampai merawat diri sendiri harus mulai dimulai dari sekarang. Bikin hati suami senang karena bisa menikmati hasil masakan istri di rumah.”
“Kalau masalah membahagiakan lahiriah Cilla bisa belajar sama Mama dan Tante Siska, tapi Cilla takut kalau berpikir soal memenuhi kebutuhan batiniah.”
“Kamu tuh banyak takutnya,” Tante Siska tertawa. “Kalau masalah yang satu itu secara alami semua bisa berjalan dengan sendirinya.”
“Lagipula Arjuna bukan tipe laki-laki yang menuntut hal-hal semacam itu, Cilla,” mama Diva mengusap punggu Cilla. “Papa tuh sudah mewanti-wanti Arjuna agar selalu menghargai wanita dan tidak boleh sembarangan membuang benih. Apalagi Juna kan punya adik perempuan. Papa selalu mengingatkan bagaimana kalau sampai Amanda yang ada di posisi wanita yang diperlakukan sembarangan oleh Arjuna. Mama yakin kalau sampai detik ini, Arjuna masih memegang teguh prinsip itu.”
“Kan sebentar lagi tujuhbelas tahun. Lagipula kalau lihat anak-anak jaman now, lihat adegan ciuman di film sepertinya sudah biasa,” Tante Siska menimpali. “Sisanya biarkan berjalan apa adanya.”
Cilla hanya senyum-senyum dengan wajah tersipu malu. Tidak pernah terbayangkan olehnya kalau akhirnya ia akan menikah muda dengan pria yang usianya lebih tua hampir sepuluh tahun darinya.
Cilla mengangguk-angguk sambil tersenyum. Meski kehilangan kasih sayang mama sejak usia 5 tahun, Cilla bersyukur karena di usianya yang beranjak dewasa dan harus belajar masuk dalam dunia orang dewasa, Cilla masih diberi kesempatan untuk memiliki Tante Siska dan Mama Diva yang begitu memperhatikannya dan membimbingnya untuk menjadi wanita yang sejati.
Sementara para wanita sibuk di dapur, para pria masih duduk di ruang tamu sambil menikmati kopi dan teh serta penganan yang disajikan.
“Kalau nanti sudah menikah, jangan buru-buru minta jatah, Jun,” nasehat papa Arman. “Harus diingat kalau istrimu itu masih sangat muda. Punya KTP aja mungkin baru beberapa hari setelah pernikahan kalian.”
“Iya Pa, Juna ngerti kok. Tapi kalau Cilla nggak nolak, ya langsung tancap gas lah,” sahut Arjuna sambil tertawa pelan.
“Papi nggak maksa harus punya cucu buru-buru. Kalau dipikir apa yang kamu pernah sampaikan ke Cilla itu benar banget. Resiko perempuan melahirkan di usia dini terlalu besar dibandingkan saat mereka berada di usia matang.”
“Tergantung bagaimana pemberian Tuhan aja, Pi,” Arjuna tersenyum. “Yang pasti setelah Cilla melewati tingkat dua nanti, Arjuna tidak akan memperbolehkannya menggunakan kontrasepsi atau apapun. Biar alami aja. Kalau memang sudah waktunya kami diberi kepercayaan, Arjuna pasti akan ikut membantu Cilla dan nggak akan menyerahkan sepernuhnya pada Cilla.”
“Papi titip Cilla pada Arjuna, ya. Papi percaya kalau hanya kamu yang bisa menjadi pengganti Papi dan mendampingi Cilla.”
“Papi jangan ngomong begitu, dong. Juna selalu mendoakan papi agar tetap sehat dan suatu saat nanti bisa bermain dengan cucu-cucu papi, anak Cilla dan Juna.”
“Iya Rud, kamu harus tetap semangat hidup dan optimis. Jangan terlalu khawatir masalah Cilla. Aku ikut bertanggungjawab kalau sampai Arjuna macam-macam dan menyakiti putri kesayanganmu itu,” papa Arman menatap galak ke arah putranya. “Kalau perlu aku cabut statusnya jadi anak sahku.”
__ADS_1
“Kumat deh raja teganya,” Arjuna mencibir. “Kan Juna udah jadi anak yang berbakti dengan cara menerima perjodohan yang Papa siapkan.”
“Iya itu karena jodoh pilihan Papa sama dengan pilihan kamu,” Papa Arman meninju bahu Arjuna sampai pria itu meringis dan mengusapnya.
“Lebay,” cebik papa Arman. “Keras aja nggak. Gimana mau jadi pria sejati yang bisa melindungi istrinya.”
“Kalau masalah itu jangan meragukan kemampuan Juna dong, Pa. Kan Juna asalnya dari bibit Papa juga, sudah pasti adalah sedikit-sedikit kesaktian Papa menurun pada Arjuna.”
“Kamu kira Papa ini petapa dari gua hantu ?” papa Arman melotot membuat papi Rudi dan Arjuna tertawa.
“Itu bukan petapa dari gua hantu, Papa sayang. Tapi Si Buta dari Gua Hantu.”
“Sepertinya makin lama kamu makin mirip dengan Cilla, satu frekuensi dengannya,” gerutu papa Arman.
“Namanya juga bakal istrinya Juna, Pa. Kalau nggak satu frekuensi mau dibawa kemana rumahtangganya,” sahut Arjuna sambil terkekeh.
“Itu yang akan membuat dunia kita lebih hidup, Man. Tidak bosan meski kadang-kadang ngeselin dan menyebalkan.”
“Papa takut rambutnya makin rontok dan akhirnya menipis karena sering-sering garuk kepala menghadapi Cilla, Pi,” ledek Arjuna sambil senyum-senyum.
“Soalnya calon istrimu itu suka bertingkah tsk terduga dan di luar jangkauan otak Papa,” sahut papa Arman dengan dahi berkerut.
“Makanya cari BTS yang bisa dibawa-bawa, Pa, jadi kapanpun harus ngadepin Cilla plus Juna, Papa nggak kehilangan sinyal, dan sambungan tetap berjalan lancar.”
Papa Arman mendengus kesal dan menatap ke arah calon besannya,
“Sepertinya lebih baik mereka tinggal denganmu setelah menikah, Rud. Bisa-bisa bukan saja makin cepat rontok rambutku, tapi tensi darahku bisa naik turun setiap harinya.”
“Sekarang Juna tahu deh darimana punya sifat kaya selang besin, kena percikan api dikit aja langsung meleduk. Ternyata bibit Papa kuat banget menurun ke Juna,” ledek Arjuna sambil tertawa melihat wajah papa Arman langsung ditekuk.
“Dari dulu papamu memang model senggol bacok, Jun,” timpal papa Rudi sambil tertawa.
Papa Arman hanya mendengus kesal dan mengambil cangkir kopinya lalu meneguknya perlahan, membiarkan anak dan calon besannya menertawakan wajahnya yang makin ditekuk.
__ADS_1