MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kesepakatan Bapak dan Anak Bebek


__ADS_3

Cilla mengangkat kedua alisnya. Darimana Arjuna bisa menebak kalau kalimat-kalimat Theo-lah yang belakangan ini berhasil memasuki hati dan pikirannya, membuatnya galau dan pikiran kemana-mana.


“Cilla kan udah janji mau belajar terbuka sama Mas Juna. Theo udah ngomong apa aja sama Cilla ?”


Arjuna mengelus kepala Cilla dengan lembut sambil memberikan senyum termanisnya.


“Cilla kekanak-kanakan ya ? Baru diomongin sedikit sama Kak Theo udah kayak kebakaran jenggot,” lirihnya sendu.


“Sejak kapan Cilla punya jenggot ?” ledek Arjuna sambil tertawa pelan.


“Sejak Mas Juna jarang hubungi Cilla pas lagi jauh. Apa karena Cilla masih anak-anak makanya gampang dibodohin ? Cilla baru pernah jatuh cinta, belum tahu caranya menghalau rasa rindu juga khawatir. Apalagi Mas Juna jarang banget hubungi Cilla atau bahkan balas pesan. Cilla mau sering-sering telepon takut mengganggu dan dibilang rewel, pacar yang suka menuntut dan calon istri yang nggak pengertian. Pasti beda sama cewek-cewek di kantor papa yang pasti sudah dewasa dan nggak pendek kayak Cilla.”


Arjuna tertawa dan kembali memeluk Cilla lalu mengusap-usap punggungnya.


“Cilla memang masih anak-anak tapi nggak pernah terlintas dalam pikiran Mas Juna ingin membodohi atau membohongi Cilla. Sikap Cilla yang apa adanya, buat Mas Juna jatuh cinta. Hidup terasa berbeda dan lebih berwarna. Maaf kalau Mas Juna suka nggak balas pesan Cilla pas lagi sibuk kerja. Udah hampir sembilan bulan nggak kerja kantoran, berasa lebih capek daripada jadi guru yang harus ngadepin anak-anak bandel.”


“Capek banget ?” tanya Cilla sambil mengerjap setelah merenggangkan pelukannya. Arjuna mengangguk sambil tersenyum.


“Memang banyak cewek tinggi dan dewasa di kantor papa, malah ada beberapa pegawai yang baru lulus kuliah. Tapi semuanya tidak membuat Mas Juna ingin berpaling dari Cilla. Mereka cukup jadi karyawan aja. Nggak ada yang bisa bikin hati Mas Juna jengkel tapi maunya ketemu teus. Mas Juna nggak asal meminta Cilla menjadi calon istri dan bukan karena paksaan papa yang menjodohkan kita. Cuma ada satu anak bebek kesayangan Arjuna yang sampai detik ini selalu membuat Mas Juna ingin cepat-cepat menikah.”


“Tunggu KTP keluar,” Cilla mencebik. “Itu pun harus ditambah surat permohonan khusus karena usia Cilla kurang dari sembilanbelas.”


“Beneran nih mau menikah dengan Mas Juna dalam waktu dekat ini ?” Arjuna mengedipkan sebelah matanya.


Dengan wajah tersipu dan senyum malu-malu Cilla mengangguk.


“Tapi tunggu lulus SMA dan apa Cilla boleh tetap kuliah?”


“Seriusan ?” Arjuna mengerjap seolah tidak percaya dengan ucapan calon istri kecilnya. “Serius Cilla nggak keberatan menikah sama Mas Juna setelah lulus SMA ? Kalau masalah kuliah dan cita-cita tentu saja Mas Juna nggak akan melarang, asal ada satu syarat.” Arjuna mengangkat jari telunjuknya.


“Syarat apa lagi ?”


“Kita akan punya anak setelah Cilla kuliah tahun kedua, nggak boleh nunda lama-lama,” bisik Arjuna di telinga Cilla membuat gadis itu langsung membelalak.


“Jadi cinta bersyarat ? Masih bisa nego nggak ?”


“Kamu kira kita pedagang dan pembeli di pasar yang lagi tawar-tawaran barang ?” sahut Arjuna sambil tertawa pelan.


Hatinya sedikit lega melihat pelan-pelan Cilla kembali nomal. Benar-benar bocah, gampang ngambek dan gampang baik kembali.


“Deal !” Cilla mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Arjuna.


Mata Arjuna membelalak tidak percaya dengan keputusan Cilla, namun pria itu langsung tertawa bahagia.


Bukannya membalas jabatan tangan Cilla, Arjuna menarik Cilla kembali ke dalam pelukannya.


“Kalau tahun kedua Cilla sudah punya baby, berarti Cilla jadi mama muda, ya,” ujarnya terkekeh sambil menyusup ke dalam pelukan Arjuna. Diciumnya harum tubuh Arjuna yang sangat dirindukannya.


“Kamu ngapain sih ?” Arjuna yang kegelian karena kepala Cilla mendusel-dusel di dadanya.


“Cilla suka wanginya Mas Juna,” tangan Cilla memeluk erat pinggang Arjuna.


“Baru dilepas beberapa hari, anak bebek udah mulai berani ya ?” Arjun tertawa sambil mengeratkan pelukannya.


“Kan Mas Juna sendiri yang ngajarin, nggak boleh memendam dalam hati, harus belajar terbuka sama calon suami. Termasuk kangen nggak boleh diumpetin lagi,” Cilla kembali menggerak-gerakan kepalanya membuat Arjuna yang kegelian tertawa.


“Geli Cilla. Jangan dusel-dusel begitu.” Arjuna berusaha menghentikan Cilla.


“Siapa suruh punya badan wangi begini ? Bikin Cilla suka nempel-nempel,” Cilla tertawa sambil mendongak.


Arjuna mencium keningnya, merasa bahagia karena tidak lagi melihat kesedihan terpendam di mata Cilla dan ternyata anak bebeknya yang kelihat tegar, mandiri dan penuh tawa ini punya sisi kanak-kanak yang begitu menggemaskan.


“Kita ke sebelah yuk ! Kata orangtua bahaya kalau kelamaan berdua. Nanti digrebek, kita disuruh nikah sekarang,” ujar Arjuna terkekeh.

__ADS_1


Arjuna melerai pelukannya dsn merangkul bahu Cilla menuju apartemen sebelah. Cilla balas memeluk pinggang Arjuna dari samping dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


Sampai di unit sebelah, pintu sudah terbuka saat tangan Cilla baru memegang handelnya.


“Amanda !” pekik Cilla langsung menghambur memeluk calon adik iparnya yang ternyata hendak keluar apartemen.


Arjuna mengusap-usap telinganya yang sedikit sakit mendengar pekikan Cilla.


“Baru mau gue samperin ke sebelah. Kalau masih belum balik sepuluh menit ke depan mau langsung disuruh kawin sekarang,” omel Amanda yang sempat kesal karena baru saja duduk santai di sofa, papa Arman menyuruhnya memanggil Cilla dan Arjuna.


“Diihh kakak sama adik pikirannya sebelas duabelas,” cebik Cilla setelah melepaskan pelukannya. “Tadi Mas Juna juga ngomong begitu. Bedanya kalau elo langsung kawin, kalau Mas Juna nikah dulu.”


“Sama aja dodol !” Amanda melotot dengan wajah kesal melihat calon kakak iparnya malah meledeknya.


“Duuhh yang udah ketemu pawangnya langsung deh kayak anak bebek dilepas di kolam. Bahagia banget ketemu air,” ledek Theo sambil mencibir.


“Biarin !” Cilla mencebik sambil merangkul lengan Arjuna yang sudah berdiri di sampingnya. “Bilang aja jones ngiri. Makanya mau dijodohin sama Febi atau Lili pakai sok jaim sih !”


“Eh memangnya aku Arjuna ? Kepincut sama anak kecil yang bawelnya bikin kuping pegel. Belum kalau jutek, judesnya bikin orang pingin nampol.”


“Eeehhh berani nampol calon istri gue !” Arjuna langsung melotot ke arah Theo.


“Dih pawangnya galak bener,” Theo mencibir. Cilla langsung menjulurkan lidahnya.


“Udah deh berantemnya nanti aja habis pada makan,” papa Arman yang duduk di sofa dan sejak tadi hanya memperhatikan dengan para orangtua lainnya beranjak bangun.


“Sapa tuh mertua. Udah dapat anaknya, orangtuanya nggak disapa,” sindir Theo sambil melotot ke arah Cilla.


“Maaf terlalu bahagia,” Cilla nyengir kuda dan mendekati kedua mertuanya.


“Apa kabar, Ma, Pa ?” Cilla memeluk mama Diva terlebih dahulu lalu berpindah ke papa Arman.


“Kata tante Siska ada yang sudah dua hari susah makan dan uring-uringan,” ledek mama Diva sambil membelai kepala Cilla.


”Demennya buka aib orang,” gerutu Cilla sambil melotot ke arah Theo.


“Biarin aja, Theo begitu karena memang iri sama Mas Juna,” Arjuna mendekati Cilla dan gantian mengusap kepala calon istrinya.


“Tapi sepertinya dibandingkan dengan sebelum berangkat, berat badan kamu mungkin nambah,” lanjut Arjuna.


“Memangnya Cilla kelihatan tambah gendut ?” Cilla menatap ke arah dirinya sendiri.


“Tadi berasa lebih berat pas kamu timpa Mas Juna di atas ranjang,” ujar Arjuna dengan nada santai.


“Kalian ngapain di atas ranjang ?” Papa Arman yang berdiri dekat situ langsung bertanya dengan mata membelalak.


“Waahh ternyata Arjuna mahir jadi guru gulat juga ?” ledek Theo sambil tertawa.


“Kamu ngapain sama Cilla di atas ranjang ?” Papa Arman mendekat dengan kedua tangan melipat di dada dan gantian menatap Arjuna lalu Cilla dengan wajah galak.


Papi Rudi, om Rio, tante Siska dan mama Diva yang ada di ruangan itu hanya senyum-senyum. Apalagi melihat Arjuna mengusap-usap tengkuknya.


“Cilla sama Mas Juna nggak main gulat di atas ranjang,” sahut Cilla dengan dahi berkerut. “Mana bisa main gulat di atas ranjang, apalagi ranjangya kecil begitu. Yang ada malah jatuh dan ganggu penghuni di lantai bawah.”


“Maksudnya bukan gulat kayak sumo, Cilla,” sahut Theo dengan nada kesal.


“Terus gulat kayak gimana yang bisa dilakukan di atas ranjang ?”


Belum sempat Theo buka mulut lagi, mami Siska sudah melotot dan memberi isyarat supaya Theo tidak memperpanjangnya.


Amanda yang sudah memahami maksud kalimat Theo hanya cekikikan melihat wajah Cilla yang masih bingung. Entah calon kakak iparnya itu benar-benar tidak tahu atau pura-pura bodoh.


“Terus tadi kalian ngapain di atas ranjang ?”

__ADS_1


Cilla kembali menautkan alisnya karena merasa tidak melakukan hal yang melewati batas.


“Begitu lihat Mas Juna tidur di atas ranjang, Cilla langsung senang banget, Pa. Cilla peluk Mas Juna yang masih tiduran di kasur.”


“Pelukan di atas kasur, seperti ini ?” Papa Arman menyatukan kedua telapak tangannya. Matanya kembali membelalak saat Cilla mengangguk.


“Terus ?” papa Arman menatap Cilla.


“Cilla peluk Mas Juna dan nggak lama Mas Juna bangun mendadak, untung Cilla nggak jatuh. Terus Cilla duduk di atas kaki Mas Juna dengan posisi kayak anak koala.”


Papa Arman berdehem dan menoleh ke arah Arjuna dengan wajah galak membuat Arjuna hanya nyengir kuda.


“Nggak ada adegan 21 plus plus, Pa,” ujar Arjuna sambil tersenyum kikuk. “Cuma peluk-peluk doang.”


Cilla mengerutkan dahi, menyimak percakapan Arjuna dengan papa Arman. Butuh beberapa menit matanya langsung membelalak karena baru paham tujuan papa Arman bertanya berulang-ulang.


“Ya ampun Papa,” Cilla menepuk bahu papa Arman membuat beliau terkejut dan menoleh ke arah Cilla yang terkekeh.


Yang lainnya juga ikut terkejut melihat Cilla langsung menepuk calon papa mertuanya. Mama Diva langsung senyum-senyum melihat ekspresi suaminya yang belum pernah diperlakukan seperti itu oleh kedua anak mereka.


“Maksud Papa, Cilla sama Mas Juna lebih dari peluk-peluk ?” Cilla terkikkik, tidak mempedulikan tatapan papa Arman yang sudah mengerutkan dahinya. “Ciuman di bibir aja nggak terjadi, gimana mau ada adegan 21 plus plus.”


Theo menepuk jidatnya, tidak habis pikir dengan kelakuan sepupunya yang mendadak jeblok IQ-nya karena beberapa hari jauh dari Arjuna.


“Memangnya kamu tahu apa itu adegan 21 plus plus ?” tanya papa Arman. Dahinya kembali berkerut saat melihat Cilla menggeleng.


“Belum pernah lihat, Pa, Cilla belum pernah nonton film biru-biru langit,” sahutnya sambil tertawa pelan. “Hanya dengar dari teman.”


Arjuna menggeleng melihat tingkah calon istrinya.


“Awas kalau kamu berani sebelum menikah, Jun !” Tegas papa Arman sambil menunjuk wajah putranya. “Bukan terancam jadi pengangguran tapi kena hukuman kerja paksa.”


Arjuna hanya nyengir kuda mendengar ancaman papa Arman.


“Yaahh jangan jadi romusa dong, Pa. Kalau kerja melulu kapan Mas Juna ngajar Cilla adegan 21 plus plus. Masa Mas Juna statusnya suami Cilla tapi ngajarnya masih rumus matematika aja ?”


Theo dan Amanda langsung tertawa mendengar ucapan Cilla, namun tidak berani terlalu keras karena mama Diva dan mami Siska langsung melotot ke arah masing-masing anaknya.


“Belajar sama Arjuna kalau kalian sudah menikah, sekarang cukup diajar matematika aja sama anak papa ini,” sahut papa Arman yang sudah gatal ingin menggaruk kepalanya karena pusing menghadapi calon menantunya.


“Kalau begitu, Cilla mau menikahnya dipercepat. Daripada belajar dari tontonan film, lebih baik belajar langsung dari Pak Guru.”


“Cilla !” tegur Arjuna yang tercengang mendengar ucapan calon istrinya.


“Memang kamu sudah siap nikah muda ?” tanya papi Rudi yang senyum-senyum.


“Tadi Cilla sudah bilang sama Mas Juna. Ternyata berat menahan rindu, jadi nggak masalah kalau harus menikah muda sama Mas Juna. Bahkan tadi Cilla sudah menyanggupi permintaan Mas Juna untuk punya anak di tahun kedua Cilla kuliah.”


“Cilla !” tegur Arjuna kembali dengan wajah ngeri-ngeri sedap menanti tanggapan papanya. Cilla cuma tersenyum dan mengabaikan tatapan khawatir Arjuna.


“Sepertinya keren juga jadi mama muda,” Cilla senyum-senyum dengan ekspresi wajah layaknya orang membayangkan sesuatu.


“Jadi kapan papa sama papi mau menikahkan Cilla dengan Mas Juna ?”


“Cilla !” pekik Arjuna sambil mendelik.


Semua yang ada di situ tercengang mendengar pertanyaan Cilla. Papa Arman tidak mampu lagi menahan diri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sekarang papa Arman yang merasa bingung, bagaimana putranya bisa gampang jatuh cinta pada gadis belia yang ternyata omongannya sering susah ditebak. Masih lugu tapi suka keluar jalur.


Bukan hanya menyanggupi menikah muda, tapi juga siap jadi mama muda.


Theo geleng-geleng kepala dan Amanda tertawa sambil menutup mulut saat melihat ekspresi papanya. Hanya papi Rudi dan mama Diva yang tersenyum bahagia. Om Rio dan tante Siska geleng-geleng kepala melihat kelakuan keponakannya.

__ADS_1


Untung kamu bukan masinis kereta api Cilla. Repot kalau sampai sering keluar jalur. Bisa-bisa televisi sering menyiarkan berita kereta anjlok. 😃😃


__ADS_2