
Jam setengah empat, Cilla dan Amanda sudah sampai di mobil yang dibawa Dirman. Tino yang tadi menemani Arjuna datang ke kampus sudah kembali ke kantor dengan sopir sejak satu setengah jam yang lalu.
Arjuna sudah duduk di kursi penumpanh depan sambil memeriksa email dengan laptopnya saat Cilla dan Amanda datang.
Keduanya langsung membuka pintu belakang dan duduk di kursi penumpang dengan wajah yang terlihat lelah padahal aktivitas hari ini tidak terlalu padat.
“Mendadak jadi mabar paling populer nih,” ledek Amanda saat mobil sudah mulai jalan membelah keramaian ibukota.
Arjuna sudah merapikan laptopnya dan menghentikan pekerjaannya.
“Apaan sih, Manda. Memangnya gue ngapain sampai jadi populer,” Cilla mencibir.
“Gimana nggak populer, digandeng-gandeng sama senior paling tampan yang jadi incaran di kampus.”
Amanda malah tertawa saat mata Cilla melotot dan mulutnya komat kamit memberi kode supaya adik iparnya itu menghentikan ocehannya.
“Jadi banyak yang ngeliat Cilla digandeng-gandeng terus mojok makan berduaan ?” sindir Arjuna dengan nada mulai naik 2 level.
“Kok Mas Juna tahu masalah diajak makan segala ?” Cilla yang reflek bertanya langsung sadar kalau pertanyaan Arjuna membuat posisinya pasti salah.
“Ooo jadi nggak perlu ke café buat ajak makan berduaan di pojokan lagi ?” Arjuna makin ketus dan sempat melirik ke belakang dari sisi kiri.
“Yah sekali-sekali kasih kesempatan Cilla buat ngerasain dikejar-kejar cowok cakep selain Kak Juna,” ledek Amanda.
“Seharusnya Kak Juna malah bangga sebagai suami karena istrinya masih menarik di mata pria idola banyak wanita.”
“Manda !” Cilla mengomel dengan suara tegas namun agak berbisik.
“Memangnya nggak cukup dikejar-kejar sama Jovan hampir sepuluh tahun ?” ketus Arjuna.
“Lupa rasanya dan pingin ngerasain lagi ?”
“Iihh Mas Juna gampang banget sih dibakar sama Manda. Siapa juga yang senang dan bahagia digangguin sama Kak Hans. Mas Juna kan tahu gimana ngeselinnya dia karena nggak mau percaya kalau Cilla itu udah punya suami, udah nikah resmi.”
“Tapi masalah jadi mabar paling populer beneran loh,” Amanda bukannya menenangkan malah sengaja memancing emosi kakaknya.
“Siapa tahu aja pura-pura kesalnya hanya di depan Mas Juna, di belakang malah sengaja mancing-mancing biar di kejar. Buktinya digandeng-gandeng diam aja.”
“Memangnya Mas Juna ngerasain kalau Cilla bahagaia digandeng sama Kak Hans ? Cilla udah berusaha ngelepasin, tapi genggamannya malah makin kuat, kalau Cilla teriak nanti disangkanya caper sama teman-teman dan senior.”
“Ya biar jadi perhatian yang lain, kalau perlu kamu laporan sebagai pelecehan seksual. Berani pegang-pegang tangan cewek yang bukan pacarnya, apalagi ceweknya berstatus istri orang !” nada Arjuna semakin ketus.
“Iya, iya… Besok-besok sebelum Kak Hans berhasil menyentuh tangan Cilla, jurus tendangan maut langsung Cilla keluarin biar Kak Hans melayang dan syukur-syukur jatuhnya di atas pohon mangga.”
“Oohh jadi ngarepin besok-besok si kepo pegang-pegang tangan Cilla lagi terus digandeng kemana-mana ?”
Cilla mengomeli Amanda yang cekikikan tanpa suara. Adik ipar kurang asem ini sepertinya sengaja memancing emosi kakaknya yang posesifnya tingkat dewa.
“Yah nggak lah, Mas Juna. Itu kan seandainya Kak Hans berniat mau pegang tangan Cilla lagi,” suara Cilla ikut meninggi. Badannya yang letih membuat emosinya mulai terpancing.
“Udah Mas Juna ancam kalau berani sentuh kamu lagi. Bukan dia doang yang Mas Juna bikin susah, kerjasama dengan keluarganya juga Mas Juna stop.”
“Ih kok urusan sama anaknya, bapaknya jadi dibawa-bawa, kasihan kan,” komentar Cilla.
__ADS_1
“Ya salah bapak ibunya juga ngedein anak jadi pebinor, bisa aja salah dikasih makan sampai bikin si kepo itu bawaannya sukanya sama punya orang.”
Cilla menghela nafas malas meneruskan perbincangan dengan Arjuna kalau lagi mode jutek begini. Cilla malah melotot menatap Amanda yang masih cekikikan. Dirman juga ikut senyum-senyum.
Bukan ingin memancing huru hara rumah tangga Arjuna dan Cilla, tapi kalau suami istri ini sedang berdebat bisa jadi tontonan yang menghibur karena lebih mirip dagelan daripada gunjang ganjing keluarga.
“Mas Juna jangan gampang terpancing sama hoax,” Cilla mulai mengeluarkan jurus gombalannya.
Tangannya terulur, memijat bahu Arjuna yang posisi duduknya persis di depan Cilla. Bukan pertama kalinya Cilla menggunakan cara ini untuk menenangkan hati Arjuna.
“Amanda bisa ngomong begitu soalnya dia nggak satu kampus sama Jovan. Manda belum tahu aja gimana dulu Sherly nguber-nguber Jovan sampai nggak bisa berkutik. Apalagi sekarang dengan statusnya mahasiswa kedokteran, udah pasti daftar fans nya tambah panjang.”
“Jangan mengalihkan isu, deh,” cibir Amanda. “Setidaknya Jovan nggak bakalan gandeng-gandeng cewek yang bukan miliknya.”
“Yakin ?” ejek Cilla sambil tertawa. Amanda mulai cemberut.
Dasar adiknya Arjuna, satu saluran selang bensin dengan kakakny dan papa Arman, gampang terpancing emosi. Cilla meleletkan lidahnya meledek Amanda yang langsung cemberut.
“Gue lebih lama kenal Jovan dan tahu gimana tuh lebah pada mau nempel sama bunga semanis Jovan,” Cilla sengaja memanasi Amanda.
“Termasuk elo ?”
“Kalau gue carinya semanis Jovan, nggak ada cerita Sean hari ini,” sahut Cilla sambil terkekeh.
Akhirnya Amanda diam lalu bersender ke pintu sementara Arjuna merem melek menikmati pijatan Cilla yang masih setia di bahu dan lehernya.
“Jangan kebanyakan pakai laptop di mobil, lehernya kan jadi pada tegang dan bahunya kaku nih. Nanti sering pegal-pegal,” Cilla melanjutkan jurus gombalannya.
“Iya sayang, tapi kan Mas Juna nggak perlu khawatir soalnya udah punya tukang pijat pribadi yang bisa plus-plus juga.”
“Aaww sakit Cilla, masa habis dipijit, dipukulin.”
“Siapa suruh Mas Juna ngomongnya kelebihan.”
“Nggak apa-apa, Sayang, Dirman juga ngerti kok. Ya kan Dir ?” Arjuna menatap sopirnya yang sudah senyum-senyum.
“Ngerti, Pak. Saya juga dicariin kalau Non Cilla punya kenalan,” sahut Dirman membuat Cilla tertawa.
“Memangnya Bang Dirman belum punya pacar ? Kata Bang Toga sempat pacaran sama Jumi yang kerja di rumah nomor 17.”
“Belum diterima, Non. Jumi carinya pria berseragam, katanya biar kelihatan keren.”
“Kalau cuma urusan seragam, mau saya belikan baju safari ? Biar kamu kelihatan keren kayak sopir pejabat,” tahya Arjuna.
“Tuh Bang Dirman, Mas Juna nggak bisa cariin tapi mau modalin. Langsung gas lah.”
“Bukan safari yang Jumi cari, polisi atau tentara, Non.”
Arjuna tertawa dan Cilla menepuk jidatnya.
“Kalau itu mah, suruh Jumi kerja di Akpol aja, jadi banyak pilihan dan tiap hari lihat pria berseragam.”
Dirman hanya tertawa pelan bersama Cilla dan Arjuna yang masih tertawa.
__ADS_1
“Yang, ketawa nya boleh tapi tangannya jangan stop dong,” ujar Arjuna menarik tangan Cilla yang berpegangan pada kursi depan.
Cilla mencibir. Suami nggak pengertian, istri masih capek disuruh pijat sepanjang jalan. Cilla berharap tidak sampai terjebak macet biar tugas memijatnya tidak bikin tangan sampai kebas.
***
Butuh waktu 1 jam untuk sampai di rumah Cilla. Jalanan sore belum terlalu macet namun juga tidak selancar di pagi hari.
“Wuih yang udah ditungguin pacar,” ledek Cilla saat melihat Jovan sudah berdiri di teras sedang menggendong Sean yang melonjak kegirangan melihat mobil masuk.
“Kamu bilang Jovan kalau lagi nginap di sini ?” tanya Arjuna.
“Iya, sekalian tuh Jovan mau nengok mantan pujaan hati,” nada Amanda yang ketus membuat Cilla malah tertawa, rupanya Amanda masih kesal dengan ledekan Cilla.
Sean makin tidak bisa diam saat melihat Arjuna turun dari pintu depan.
“Tolong bawakan tas saya, Dir. Sean pasti nangis kalau nggak saya gendong.”
“Siap, Pak.”
Benar saja, begitu Arjuna semakin dekat, Sean langsung mencondongkan badannya minta digendong Arjuna. Begitu pindah ke pelukan papinya, Sean langsung mendusel-dusel di leher Arjuna hingga pria itu tertawa kegelian.
“Halo baby gemoi,” tangan Cilla menoel pipi Sean yang langsung menoleh menatap maminya dengan wajah bingung.
Sean pun menoleh pada Arjuna yang mengangguk-angguk, menjawab tatapan bayi itu kalau yang dilihatnya adalah sang mami kesayangannya.
“Mami kamu lagi dibikin jelek,” ujar Arjuna sambil tertawa membuat Sean ikut tertawa dan melonjak senang dalam gendong an Arjuna.
Di belakang mereka, Jovan menautkan alisnya melihat wajah Amanda yang ditekuk sejak turun dari mobil.
“Kamu kenapa, Yang ?” Jovan mendekati kekasihnya.
“Ayang lagi ngambek habis kena sembur pertamax turbo,” ledek Cilla sambil tergelak dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Amanda menghentakkan kakinya dengan bibir mengerucut .
“Diapain sama kakak ipar kamu ?”
“Nggak diapa-apain, Jovan. Cuma kasih tahu aja kalau pacarnya Amanda juga cowok idola sejak jaman SMA dan pasti tambah panjang daftar fansnya karena sekarang statusnya mahasiswa kedokteran.”
Cilla yang ternyata belum masuk ke dalam, mengintip di balik pintu dan mengeluarkan kepalanya untuk meledek Amanda. Cilla tambah tergelak saat melihat Amanda makin cemberut dan mata Jovan langsung melotot kepadanya.
“Selamat berjuang, Jo !” Cilla mengangkat tangannya memberi semangat pada Jovan.
“Bukannya mandi, malah ngeledek Amanda terus,” Arjuna yang melihat Cilla tidak ada di belakangnya langsung berbalik dan menjewer kuping Cilla, menariknya masuk ke dalam.
“Ampun Pak Guru, jangan bawa saya ke ruang BK lagi.”
Cilla masih sempat-sempatnya meledek Arjuna sambil meringis. Sean yang sempat melongo melihat maminya dijewer malah tertawa saat melihat Cilla mengedipkan sebelah matanya pada bayi gemoi itu.
“Cepetan mandi ! Nanti asi-nya keburu luber lagi. Masa Mas Juna perlu bantuin Sean biar maminya nggak kesakitan,” ledek Arjuna sambil tertawa.
Satu tangannya menggandeng Cilla naik ke lantai dua dan tangan yang lainnya tetap menggendong Sean.
__ADS_1
“Dih itu mah bisa-bisaan papi Sean aja,” Cilla mencebik.
Arjuna tergelak membuat Sean yang tadinya bingung ikut tertawa juga. Arjuna melirik Cilla yang sedang mengajak Sean bicara. Istri kecilnya ini masih saja menggemaskan dan membuat jantung Arjuna berdebar setiap kali berada di dekat Cilla.