MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Ban 46 Lanjutan Cerita


__ADS_3

Cilla menghela nafas menatap pria keras kepala di depannya. Usia sudah cukup matang dan kalau baca referensinya, Arjuna adalah seorang CEO yang disegani dan dihormati oleh para karyawan di PT Indopangan Makmur, tapi sikap keras kepala dan keras hatinya sudah menutup hati nurnaninya.


 


“Lalu kenapa Bapak memilih jadi guru ? Yakin bukan karena persaingan bisnis dengan papi, kan ?” Cilla menatap curiga.


 


Gantian Arjuna menghela nafas menghalau rasa kesalnya. Baru saja dibilang seperti anak ayam yang kehilangan induknya, sekarang dianggap mata-mata bisnis pesaing papinya.


 


“Saya dikasih pilihan sama papa, kalau menolak perjodohan, semua fasilitas saya dicabut termasuk yang saya terima di rumah sebagai anak. Bahkan handphone saya juga ditukar dengan yang minimalis. Dan saya mengambil pilihan kedua. Menolak perjodohan dan melepas semua kemewahan yang saya dapatkan sebagai anak papa termasuk pekerjaan dan jabatan sebagai CEO. Di saat itulah Dono menawarkan pekerjaan sebagai guru matematika menggantikan Pak Wahyu yang akan pensiun. Cerita selanjutnya, kamu kan udah tahu.”


 


“Ternyata Bapak seorang pria yang keras kepala dan keras hati,” Cilla tersenyum tipis. “Sampai rela kehilangan orangtua hanya karena mempertahankan prinsip yang ternyata terbukti memang salah. Pilihan Bapak untuk percaya pada Luna hanya berujung kepahitan. Apa Bapak pernah bertanya pada diri sendiri kenapa ?”


 


Arjuna menggeleng dan memasukkan sepotong sandwich ke dalam mulutnya.


 


“Apa Om Arman pernah menjelaskan kepada Bapak, kenapa beliau memilih untuk memaksa Bapak menerima perjodohan ketimbang merestui hubungan Bapak dengan Luna ?”


 


Arjuna ganti mengangguk dan kali ini meneguk kopi hangatnya yang mulai dingin.


 


“Terkadang orangtua bisa melihat jauh ke depan karena pengalaman mereka sudah lebih dulu dari kita anak-anaknya. Dan satu hal, Pak,” Cilla menjeda dan menatap Arjuna dengan wajah serius.


 


“Berbahagialah Bapak karena masih memiliki orangtua yang memperhatikan dan peduli dengan masa depan Bapak. Jangan disia-siakan hal berharga semacam itu karena di luar sana banyak anak yang memiliki nasib tidak sebaik Bapak. Dan saya adalah salah satunya.” Cilla menghela nafas dengan berat. Terlihat senyum getir di wajahnya.


 


“Sampai detik ini, papi lebih banyak menghindar dari saya. Bahkan beberapa kali saya mencoba mendekati papi kembali dengan datang ke kantornya, mengajak papi makan siang bareng atau makan malam, papi selalu menolak saya. Dan sebagai anak, rasanya sakit bukan main. Papi memang pernah salah paham pada saya saat kelas 3 SD, tapi secara naluri seorang anak, saya sudah memaafkan papi. Saya mengharap papi bisa membuktikan rasa penyesalannya dengan memberi saya sedikit perhatian. Tapi tidak pernah saya punya kesempatan untuk bicara dari hati ke hati dengan papi.”


 


“Apa ini semua ada hubungannya dengan Jovan ?”


 


“Maksud Bapak ?” Cilla mengerutkan dahinya.


 


“Saya dengar kalau kamu berteman baik dengan Jovan sejak kecil, tapi yang saya lihat justru sebaliknya. Kamu sangat membenci Jovan dan sulit memaafkannya meskipun saya melihat dia begitu gigih berusaha mendapatkan maaf dari kamu. Apa ini ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa kamu saat kelas 3 SD itu ?”


 


Cilla tertawa dengan getir. Tangannya meraih gelas cokelat hangat dan meminumnya sedikit.

__ADS_1


 


“Apa Jovan pernah curhat sama Bapak ?” tawanya perlahan.


 


“Nggak,” Arjuna menggeleng ambil bedoa dakam hati, meminta ampun pada Tuhan karena telah berdusta pada Cilla. “Saya hanya menganalisa apa yang saya lihat. Sepertinya Jovan begitu berharap kamu mau menjadi temannya lagi. Saat kalian berbincang di halaman belakang sekolah, saya sempat mendengar betapa bahagianya Jovan saat kamu memanggil namanya lagi.”


 


“Jadi Bapak sudah lama menguping ?” Cilla terkekeh.


 


“Tidak sengaja mendengar lebih tepatnya,” sahut Arjuna ikut terkekeh.


 


“Jadi sampai kapan Bapak akan bertahan dengan prinsip menolak permintaan orangtua Bapak ? Menunggu sampai mereka meninggal ?” tanya Cilla dengan nada agak sinis.


 


“Kamu tuh ya,” Arjuna menggerutu. “Bicara suka sembarangan.”


 


“Saya nggak bicara sembarangan, Pak. Umur manusia hanya Tuhan yang tahu. Seperti saya yang harus kehilangan mami pada waktu saya masih berusia 5 tahun. Jangan sampai hidup Bapak dipenuhi dengan penyesalan.”


 


“Jadi menurut kamu saya harus bagaimana ?” Arjuna mengangkat kedua alisnya.


 


 


Arjuna tertawa pelan mendengarkan kalimat Cilla yang panjang lebar. Tidak disangka, murid yang menjadi pelanggan terlambat datang ternyata memiliki pemikiran yang sangat dewasa untuk anak seusianya.


 


“Ternyata anak bebek ini punya pikiran yang dewasa, ya,” Arjuna tertawa dan spontan mengacak-acak poni Cilla.


 


“Mulai deh tangannya jahil,” Cilla menggerutu. “Nanti kalau hati saya mendadak melehoy dan baper lagi, pasti Bapak langsung protes.”


 


“Khusus hari ini saya kasih dispensasi,” Arjuna tertawa. “Karena kamu sudah membantu membuka pikiran saya dan bersedia menemani saya mencari kado, saya akan menjadi teman kencanmu seharian.”


 


“Nggak mau hanya hari ini,” Cilla menggeleng.


 


“Kebiasaan nawar kayak belanja di pasar. Ini di mal, nggak ada tawar-tawaran. Penawaran terbatas hanya belaku hari ini saja,” ujar Arjuna sambil tertawa.

__ADS_1


 


“Perempuan kalau belanja tanpa nawar itu mulutnya gatal. Belanja di mal aja selalu nanya ada promo apa, ada bonus nggak, dan segala macam yang berkaitan dengan discount. Jadi nggak pengaruh mau di pasar atau di mal, bawaan perempuan memang senangnya suka dengan tawar menawar,”  sahut Cilla sambil tertawa.


 


“Dan promo khusus dari saya hanya berlaku hari ini aja. Kalau nggak mau, nggak masalah,” Arjuna menaik turunkan alisnya sambil tersenyum menyebalkan.


 


Cilla menggerutu dengan wajah cemberut. Ia meraih gelas cokelatnya dan meneguknya sampai habis, begitu juga dengan Arjuna yang menghabiskan kopi dinginnya.


 


Arjuna beranjak bangun terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya ke arah Cilla, membuat gadis itu tercengang dan tidak percaya dengan sikap Arjuna,


 


“Ayo teman kencan sehari. Jangan sampai buang waktu. Selesai cari kado buat mama, saya akan mengikuti semua yang kamu mau asal jangan sampai menguras gaji saya sebulan,” Arjuna terkekeh.


 


“Memangnya saya cewek matere ?” Cilla mencibir sambil beranjak bangun. Arjuna tertawa dan kembali mengacak poni Cilla.


 


“Jadi tawaran saya diterima nggak ?” Arjuna kembali mengulurkan tangannya.


 


“Bapak yakin ? Kalau nanti ada murid atau guru Guna Bangsa yang melihat nggak masalah ? Bapak bisa dipecat loh,” Cilla masih berusaha meyakinkan dirinya dengan perubahan sikap Arjuna.


 


“Dasar anak bebek cerewet dan sukanya mendebat orang. Kalau sampai tertangkap basah ya terima nasib aja. Ada yang berani pecat teman kencan anak pemilik sekolah ?”


 


Belum sempat Cilla menjawab, Arjuna sudah menarik tangannya dan tetap menggandengnya sampai di luar café. Cilla terus melihat ke arah tangannya yang berada dalam genggaman tangan kokoh Arjuna dengan tatapan tidak percaya.


 


Baru saja menyusun rencana untuk membalas perbuatan Arjuna yang sudah berani kabur saat mereka seharusnya dipertemukan, tapi hari ini Arjuna malah memporak porandakan hatinya. Debar jantung Cilla makin tidak beraturan dan bertambah kencang sampai telapak tangannya langsung terasa dingin. Semoga Arjuna tidak perlu sampai melakukan CPR kalau Cilla mendadak pingsan karena tidak bisa menahan debaran jantungnya yang terus berdegup kencang.


 


Dan Arjuna, sedikit bingung dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa mulutnya spontan menawarkan diri sebagai teman kencan Cilla meski hanya sehari ? Degup jantungnya pun kembali sama seperti waktu mereka terjatuh bersama di sekolah. Arjuna tersenyum tanpa dilihat Cilla yang masih sibuk melihat tangannya yang masih berada dalam genggaman guru matematikanya.


 


Kenapa Arjuna jadi merasa seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta ? Rasanya sangat berbeda dengan waktu  Luna resmi menerima Arjuna untuk menjadi kekasihnya dua tahun yang lalu.


 


Arjuna sendiri tidak tahu kenapa ia mendadak berani bertindak sampai sejauh ini, Tapi yang pasti, hatinya merasa sejuk saat mendengar nasehat Cilla. Keraguannya untuk minta ijin pada papa Arman supaya diberi kesempatan  menemui mama Diva saat ulangtahun  beliau, perlahan terangkat dari hati Arjuna.


Keputusannya, ia akan datang menemui kembali keluarganya tanpa menyinggung masalah perjodohan. Semoga papa Arman akan memberikan ijin pada niat baiknya ini.

__ADS_1


 


 


__ADS_2