
Keempat sahabat plus Amanda dan Dimas berkumpul di satu cafe. Semuanya sedang libur semesteran sekaligus akhir tahun dan Dimas sedikit senggang dari pekerjaannya membantu Arjuna mengurus pembangunan pabrik di Batang.
“Jadi gimana rasanya hamil di usia muda ?” Lili, si teman heboh itu mengepalkan tangan, menggunakannya sebagai mic dan bergaya layaknya wartawan yang sedang melakukan wawancara.
“Luar biasa,” Cilla pun menjawabnya dengan gaya bintang ternama. “Anda pasti iri melihat saya tambah cantik dan bahagia.”
Jovan dan Dimas saling memandang dan membulatkan bola mata mereka melihat kelakuan absurd kedua perempuan itu.
Amanda terkekeh sedangkan Febi menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.
“Dan bagaimana dengan anda sendiri Nona Lili ? Bagaimana kehidupan asmara anda dengan Mr. D ? Apa masih belum ada kejelasan ?”
Wajah Lili langsung merona membuat Febi, Amanda dan Jovan langsung tergelak, sementara Dimas yang sadar kalau ucapan Cilla ditujukan pada dirinya pura-pura tuli, sibuk mengutak-atik handphonenya.
“Sepertinya anda diperlukan sebagai mak comblang, Nyonya Arjuna,” ledek Jovan di sela tawanya.
“Masa kerjaan gue dari dulu sampai sekarang cuma jadi mak comblang,” protes Cilla. “Dulu comblangin elo sama Amanda, terus sekarang Lili sama Mr. D.”
“Memang spesialisasi elo, Cil,” ledek Febi sambil terkekeh.
“Jadi elo mau daftar juga ? Mau gue comblangin sama Kak Theo, Om Erwin atau Om Tino ?”
“Dih….. nggak minat sama om-om. Lagian di kampus banyak cowok cakep. Biar di dunia jumlah cewek lebih banyak dari cowok, gue masih punya banyak pilihan,” ujar Febi.
“Dih songong,” Lili mencebik.
“Jadi gimana Mr, D, elo ada saran apa, Bro ? Jangan sok sibuk deh sama kerjaan. Gue udah minta ijin sama Mas Juna supaya nggak ganggu elo hari ini.”
“Perlu saran apa dari gue ?” Dimas masih berlagak tidak tahu maksud Cilla.
“Perlu jawaban dari elo, Dimas,” ujar Febi gemas.
“Eh siapa yang perlu jawaban,” protes Lili cepat. “Gue sama kayak elo, Feb. Nggak butuh Cilla buat cari cinta. Udah ada target di kampus.”
“Siapa ? Harry ?” ledek Febi yang diangguki oleh Lili.
“Siapa lagi Harry ?” Amanda buka suara.
“Senior, anak tingkat 3,” sahut Lili.”Gantengnya bikin cewek melehoy.”
Dimas langsung melirik ke arah Lili yang bercerita dengan berapi-api.
“Jadi ceritanya udah move on ?” ledek Jovan.
“Bukan masalah move on atau nggak, tapi merubah nasib. Selama ini gue cuma jadi cewek yang kerjaannya ditolak melulu. Udah berasa pahitnya waktu sama elo terus cowok lainnya,” ujar Lili sambil tertawa sumbang.
“Jadi udah waktunya berubah, udah mau 19 tahun dan tahun depannya lagi umur udah kepala 2. Malu sama dunia kalau jadi cewek agresif terus,” lanjut Lili.
Keenam orang itu menikmati pesanan makanan dan minuman mereka.
“Cil, elo nggak ada rasa ngeri-ngeri gimana gitu sebentar lagi mau melahirkan ?” tanya Febi dengan dahi berkerut.
”Ya ada pasti,” sahut Cilla sambil meneguk minumannya. “Tapi Mas Juna selalu kasih semangat. Mas Juna bilang begitu banyak perempuan yang bisa melewatinya bahkan lebih dari satu kali. Kebahagiaan saat mendengar tangis pertama itu akan membuat segala rasa sakitnya hilang.”
“Memang beda punya suami yang usianya sudah dewasa,” ujar Lili menanggapi.
“Jadi mau juga yang seumuran Mas Juna ?” ledek Cilla.
“Udah kepincut sama Harry nih anak,” timpal Febi.
“Kalau mengejar Harry berarti niat berubah sekedar di mulut doang,” sindir Dimas yang akhirnya buka suara. “Katanya nggak mau agresif sama cowok, tapi kalau niatnya mengejar Harry apa namanya kalau tetap jadi cewek agresif ?”
“Kayaknya ada bau-bau cemburu, nih,” Jovan terkekeh membuat yang lain ikut senyum-senyum, mengiyakan ucapan Jovan.
Terlihat raut wajah Dimas yang sedikit berubah saat Lili dan Febi membahas soal Harry.
“Nggak penting mau cemburu apa nggak,” ujar Lili dengan nada ketus.
Tidak ingin membuat suasana kumpul-kumpul ini jadi tidak nyaman, akhirnya Amanda dan Cilla mengalihkan topik pembicaraan di luar masalah percintaan.
__ADS_1
“Jadi kalian akan masuk kampus yang sama tahun depan ?” tanya Jovan yang paham dengan pikiran Amanda dan Cilla.
“Iya, jadinya sahabatku kakak iparku,” sahut Amanda sambil tertawa.
“Gue jadi satu angkatan deh sama Amanda, padahal waktu kecil udah berjuang biar bisa jadi lulusan termuda di angkatan,” gerutu Cilla.
“Iya tapi elo bakalan jadi mama paling muda di angkatan sekolah, angkatan kuliah bahkan di antara para istri temannya Kak Juna,” ujar Amanda.
“Keren juga punya gelar mama muda,” sahut Cilla sambil membusungkan dada dan wajahnya sumringah dengan rasa bangga.
“Siap-siap dipanggil om dan tante semuanya, ya,” ledek Cilla menatap satu persatu para sahabatnya.
“Berasa tua mendadak nih gue,” sahut Jovan sambil mencebik pada Cilla. “Suruh anak lo panggil gue kakak atau oppa gitu.”
“Nggak pantas anaknya Kak Juna panggil kamu oppa, tapi opa dalam bahasa Indonesia,” ledek Amanda sambil terkikik.
“Ya ampun cintaku, masa kamu tega suruh keponakan kita panggil aku opa. Berarti pacar kamu seumur dong sama papamu.”
“Beuuhh kalau Jovan udah merayu, lalat hijau juga ogah dekat-dekat. Terlalu lebay,” Lili mencebik.
“Dih apa hubungannya sama lalat ?” Wajah Jovan berubah sebal menatap Lili.
“Sebagai calon dokter elo pasti tahu kalau lalat itu bisa menyebabkan sakit perut dan rayuan gombal elo bukan sekedar bikin mules orang yang mendengarnya, tapi langsung diare. Makanya lalat langsung minder begitu dengar gombalan elo.”
“Memangnya elo pernah sampai diare dengar gombalan Jovan ?” ledek Febi.
“Nggak pernah soalnya dia nggak pernah ngegombalin gue. Sebatas mules doang pas dengar Jovan ngegombalin Cilla sama Amanda.”
Amanda, Cilla dan Febi langsung tertawa mendengar ucapan Lili dan melihat wajah Jovan yang makin sebal melihat Lili.
Dimas kembali diam tidak ikutan menimpali apalagi tertawa. Sesekali ia melirik ke arah Lili yang mengacuhkannya meski tahu kalau ia sedang diperhatikan oleh Dimas.
Jam 5 sore Arjuna tiba di cafe menjemput Cilla. Mantan guru mereka itu sempat mengobrol sebentar dan pamit pulang karena tidak ingin Cilla terlalu lelah.
“Gue antar lo pulang,” ujar Dimas saat Lili merayu Febi untuk pulang bersamanya naik taksi online.
“Nggak bisa Lili, gue harus ke tempat tante gue dan letak rumahnya berlawanan arah sama rumah elo. Gue nebeng Jovan sama Amanda nih,” ujar Febi.
Dimas langsung jengah saat semua mata memandangnya. Tangannya menarik Lili dan membawanya keluar.
“Kami duluan,” ujar Dimas dengan wajah kikuk sementara Lili masih diam membisu mendapati Dimas memperlakukannya seperti ini.
Jovan dan Arjuna langsung tertawa dan mengangguk-angguk saat tatapan mereka bertemu dan mengajak ketiga wanita itu keluar bersama mereka.
Febi akhirnya diantar Jovan dan Amanda karena letak rumah tantenya searah dengan rumah Amanda.
**
“Kita mau kemana ?” tanya Lili saat Dimas sudah melajukan motornya.
“Pacaran,” sahut Dimas sambil menambah kecepatan motor balapnya, membuat Lili langsung memeluk pinggang Dimas karena takut terjatuh.
Sekitar duapuluh menit kemudian, Dimas menghentikan motornya di depan sebuah rumah sederhana dengan jalan yang tidak terlalu lebar.
“Ini rumah gue dan Tami,” ujar Dimas setelah melepas helmnya dan membantu Lili turun dari motor.
“Hanya ini yang gue punya sebagai tempat tinggal bersama Tami. Ini pun gue dapatkan atas bantuan Om Darmawan.”
Lili mengikuti Dimas masuk ke dalam rumah tanpa halaman. Hanya ada teras dengan lebar satu meter sebelum tembok rumah, tempat Dimas menaruh motornya.
“Duduk dulu, gue ambilkan minum,” ujar Dimas mempersilakan Lili masuk.
“Nggak usah repot, Dim. Tadi kan kita baru dari cafe juga.”
Dimas menurut dan membiarkan Lili melihat ruangan sederhana yang menjadi ruang tamu sekaligus ruang nonton TV.
Lili melihat-lihat foto yang ada digantung maupun diletakkan di atas bufet sederhana.
“Kalian benar-benar dekat sama Cilla dan om Rudi, ya ?”
__ADS_1
“Iya, om Darmawan selalu menekankan kalau kami berdua ini anak angkatnya, saudara Cilla.
Cilla pun juga sama baiknya dan tidak pernah merendahkan gue dan Tami. Cilla gadis yang baik dan saudara yang penuh perhatian.”
“Beneran saudara angkat doang ?” tanya Lili sambil tertawa pelan sambil melihat foto Cilla merangkul Dimas dan Tami.
“Iya saudara doang. Gue dan Cilla nggak pernah punya perasaan lebih,” tegas Dimas.
“Terus maksud elo bawa gue kemari ?” Lili menatap Dimas yang memberi isyarat padanya supaya duduk.
Keduanya duduk berhadapan di kursi kayu sederhana.
“Biar elo lihat keadaan gue yang sebenarnya dan berpikir ulang kalau mau menjadikan gue pacar. Kondisi gue begini, dan saat ini gue harus kuliah sambil kerja untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah gue dan Tami.
Hari-hari gue disibukkan sama kuliah dan bekerja, bahkan saat ini gue dipercaya Kak Juna buat ngurusin masalah teknis pabrik Indopangan di Batang, jadi gue bakalan sering bolak balik Jakarta-Batang.
Kalau bukan memikirkan Tami bakal sendirian, gue berniat pindah kuliah ke Semarang jadi urusan pabrik bisa lebih mudah karena jarak tempuh dari Semarang ke Batang lebih dekat.”
“Gue udah bilang kalau sekarang gue…”
“Gue suka sama elo,” potong Dimas cepat sambil memandangi Lili dengan wajah serius membuat Lili yang tercengang langsung merona.
“Tapi gue sadar kalau secara ekonomi keluarga kita bagaikan langit dan bumi. Cilla udah beberapa kali meyakinkan gue kalau elo bukanlah tipe cewek yang marerialistis, tapi gue sadar juga kalau materi itu diperlukan apalagi kalau mau bicara soal hubungan jangka panjang.
Materi bisa buat orang jatuh cinta dan materi bisa juga bikin orang bercerai. Gue nggak tahu kapan bisa mengimbangi keadaan elo yang selama ini boleh dibilang berkelimpahan. Itu sebabnya gue nggak pernah berani mengungkapkan perasaan gue sama elo.”
“Sejak kapan elo suka sama gue ?”
“Nggak tahu kapan persisnya. Tapi gue suka sama sikap elo yang apa adanya, nggak jaim dan selalu ceria. Sayangnya gue nggak punya rasa percaya diri untuk bilang sama elo.”
“Terus ?” Lili melirik Dimas yang masih menatapnya dengan senyuman tipis.
“Ya gue …”
“Gue mau jadi pacar elo,” sahut Lili cepat. “Gue nggak keberatan dengan segala kondisi elo, dengan kesibukan elo, asal….”
“Asal apa ?” Dimas mengangkat sebelah alisnya.
“Asal elo nggak gampang mendua. Kalau udah bosan atau elo suka dengan cewek lain, lebih baik bilang dan kita putus baik-baik. Apalagi elo kan saudara angkatnya Cilla dan gue sahabat baiknya dia. Kalau sampai kita putus dengan kondisi yang nggak enak tapi bakal sering ketemu akhirnya kita cuma bisa menghindar dan membuat Cilla jadi serba salah.”
“Tapi beneran elo nggak keberatan kalau gue…”
“Udah jangan ngomongin materi, deh. Bo-nyok gue nggak keberatan selama elo kerja beneran, bukan pemabuk, penjudi atau penggila wanita.”
“Memangnya elo udah ngomong sama bo-nyok soal gue ?” Dimas menunjuk pada dirinya sendiri dengan dahi berkerut.
“Ya belomlah !” sahut Cilla dengan bibir mengerucut. “Over pede banget kalau sampai belum ditembak tapi udah bilang kalau elo tuh pacar gue.”
“Iya juga sih,” Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal membuat Lili tertawa.
“Duh senangnya akhirnya ditembak juga sama cowok,” ujar Lili sambil memegang kedua pipinya sendiri.
Dimas tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Jadi mulai sekarang nggak gue elo lagi, dong ?” tanya Lili dengan wajah sumringah.
”Terserah gimana enaknya.”
“Boleh peluk nggak ?” Lili beranjak bangun dari tempat duduknya dan pindah ke sebelah Dimas yang membelalakan matanya melihat tingkah Lili.
“Ehh…”
Lili langsung memeluk Dimas dari samping tanpa menunggu persetujuan dari Dimas membuat hati pria itu langsung berdegup tidak karuan.
Dengan sedikit malu-malu akhirnya Dimas balas memeluk Lili dan menarik kedua sudut bibirnya.
Dimas berharap kalau hubungannya dengan Lili bisa langgeng seperti Cilla dan Arjuna.
“Kak Dimas ! Kak Lili !”
__ADS_1
Keduanya terkejut saat mendengar suara Tami yang sudah berdiri di pintu masuk yang tidak tertutup.
Wajah Dimas dan Lili memerah namun tidak ada satupun yang melepaskan tangan mereka meskipun posisi keduanya sedikit berjarak.