MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kekhawatiran Arjuna


__ADS_3

Siang ini ruang rawat inap papi ramai dengan kunjungan para guru ditambah ketiga sahabat Cilla dan mama Diva serta tante Siska yang datang membawa makan siang untuk Cilla dan penganan untuk tamu-tamu yang datang.


Pagi tadi saat perjalanan ke kantor, Arjuna sempat menghubungi mama Diva dan meminta untuk menemani Cilla yang akan kedatangan para guru SMA Guna Bangsa.


Papi tampak bahagia dan wajahnya terlihat segar. Selesai menghabiskan waktu di taman, papi memaksa untuk mandi sendiri di kamar mandi. Dokter Handoyo mengijinkan dan meminta perawat untuk melepaskan selang infus papi.


“Elo kenapa ?” Jovan yang sejak tadi memperhatikan ekspresi wajah Cilla mendekati sahabat kecilnya yang ijin keluar kamar sebentar.


“Nggak apa-apa. Lagi mau telepon Mas Juna,” Cilla memperlihatkan handphonenya.


“Jangan bohong !” tegas Jovan. “Gue jadi teman elo bukan baru pas SMP dan SMA doang. Elo bisa ketawa hahahahihihi, tapi mata elo nggak bisa bohong.”


Cilla duduk di bangku yang ada di depan lift. Terlihat beberapa kali menghela nafas panjang dengan wajah tertunduk. Kakinya terus bergoyang seakan ingin menyalurkan kegundahan hatinya.


“Perasaan gue nggak enak banget soal papi,” lirih Cilla.


“Bukannya hari ini bokap kelihatan lebih segar dan semangat ?” Jovan menautkan alisnya.


“Iya sih, tapi nggak tahu kenapa perasaan gue malah nggak enak,” Cilla kembali menghela nafas. “Semalam sempat drop lagi, kayak pingsan begitu. Gue lihat, ruam di bagian perutnya juga sedikit melebar. Elo tahu kan kalau gue ini langganan bentol-bentol karena alergi, jadi gue tahu gimana rasa nggak nyamannya ruam di badan papi.”


“Memangnya dokter bilang apa ?”


“Secara medis dokter udah lepas tangan, hanya menunggu mukjizat dari Tuhan. Semakin banyak obat yang diberikan pada papi, semakin meluas juga komplikasinya.”


Cilla mendongak menatap Jovan dengan mata yang mulai basah.


“Kenapa hidup orangtua gue begini banget ya, Jo ?” Cilla mulai terisak.


Awalnya Jovan ingin merengkuh Cilla dalam pelukannya, tapi mengingat status Cilla sekarang adalah istri Arjuna, Jovan hanya memegang jemari Cilla, menggenggamnya untuk berbagi kesedihannya sekaligus memberikan kekuatan untuk Cilla.


“Semua itu udah kehendak Tuhan, Cil. Jangan pernah menganggapnya sebagai musibah karena pasti ada rencana lain yang lebih indah yang Tuhan udah siapkan buat elo dan om Rudi.”


“Rasanya ingin berandai-andai tentang banyak hal, Jo, tapi gue tahu kalau begitu yang ada hanya penyesalan dan penyesalan. Hidup nggak bisa diputar ulang kayak sinetron.”


“Iya bener banget, Cil. Sembilan tahun gue hidup berandai-andai tentang sikap gue sama elo soal kejadian Kak Mia dan tante Sofi. Apa gue dapat jawaban dan solusinya ? Sepanjang sembilan tahun itu gue hanya hidup dalam penyesalan tanpa bisa berpikir jernih untuk menemukan jalan keluar lainnya. Jadi jangan menjalani hidup kayak gue begitu, nggak enak.”


“Tapi punya sikap pasrah itu nggak segampang ucapan di mulut ya, Jo.”


“Bukan demi menyenangkan elo, tapi itu bener banget. Pasrah seratus persen itu sulit pada awal mulanya, tapi elo banyak doa aja Cil, lama-lama hati elo pasti lebih bisa menerima.”


Suara pintu lift berhenti di dekat mereka membuat Cilla dan Jovan menoleh ke sana. Terlihat Arjuna dengan wajah sedikit cemas keluar dari lift. Matanya menyipit saat melihat tangan Jovan masih menggenggam jemari Cilla.


“Mas Juna !” Cilla bergegas bangun dan menghampiri suaminya lalu memeluknya. Tangisnya kembali terdengar saat kepala Cilla bersandar di dada Arjuna.


“Cilla kenapa ?” Arjuna yang balas memeluk Cilla mengerutkan dahi, tangannya seperti biasa mengusap-usap punggung Cilla. Tatapan Arjuna terarah pada Jovan dan menatap mantan muridnya itu dengan penuh tanya.


Jovan hanya mengangkat kedua bahunya dan dengan isyarat pamit meninggalkan Arjuna dan Cilla yang masih berpelukan.


“Mas Juna kok bisa balik kemari ? Bukannya hari ini jadwalnya padat ?” Cilla merenggangkan pelukannya dan mendongak menatap Arjuna dengan sisa isak tangisnya.


Arjuna merogoh celana kerjanya dan mengeluarkan saputangan untuk membersihkan air mata Cilla.

__ADS_1


“Perasaan Mas Juna nggak tenang. Kerjaan yang penting udah Mas Juna beresin, sisanya minta tolong Tino yang urus. Papa juga ikut bantu dan suruh Mas Juna menemani Cilla aja.”


“Cilla cengeng banget, ya ?” Cilla tertawa getir di tengah air matanya yang kembali menetes.


“Nggak apa-apa. Akan lebih baik kalau Cilla bisa mengungkapkan kesedihan dengan air mata daripada menyimpannya dalam hati. Mas Juna nggak rela melihat luka terpendam dalam tatapan Cilla.”


Cilla mengangguk dan membiarkan Arjuna kembali membersihkan air matanya. Keduanya berencana balik ke kamar papi saat Pak Slamet dan para guru terlihat berjalan ke arah mereka.


“Sudah mau balik, Pak ?” tanya Arjuna sambil menyapa para guru yang pernah menjadi rekan kerjanya saat mengajar di SMA Guna Bangsa.


“Biasa Jun, masih ada kerjaan yang harus diselesaikan di sekolah. Sebentar lagi kenaikan kelas,” sahut Pak Slamet.


Setelah berbasa-basi sebentar, Pak Slamet dan lima orang perwakilan guru masuk ke dalam lift diantar oleh Arjuna dan Cilla.


“Mas Juna beneran nggak apa-apa tinggalin kantor ?” tanya Cilla saat Arjuna menggandengnya kembali ke kamar papi.


“Nggak apa-apa. Udah beres beneran, kok. Masalah di Batang sementara ini diwakilkan sama Dimas. Ternyata anak itu cukup menguasai soal persiapan pabrik. Papi memang sudah mempersiapkannya untuk membantu Mas Juna saat pabrik berjalan.”


“Syukur kalau memang Dimas ikut membantu. Dia itu anak angjkat kesayangan papi,” ujar Cilla.


“Apa jangan-jangan awalnya papi berniat menjodohkan Cilla sama Dimas ?” tanya Arjuna dengan mata menyipit.


“Nggak lah,” Cilla tertawa pelan. “Dimas itu lebih kayak kakak buat Cilla dan Tami udah kayak adiknya Cilla. Kalau masalah calon menantu, penolakan papi atas tawaran papa ingin menjodohkan kita mungkin karena papi tidak mau memaksa Mas Juna yang bilangnya sudah punya calon istri.”


Arjuna tertawa dan membukakan pintu untuk Cilla. Semua yang ada di dalam ruangan menoleh. Ketiga sahabat Cilla, mama Diva dan tante Siska.


“Duh kirain kabur kemana ?” ledek Tante Siska saat melihat Cilla sedang bergelayut manja di lengan Arjuna.


“Ya udah nih, ajak suami makan dulu,” ujar tante Siska menunjukan makan siang yang dibawa oleh mama Diva.


“Sebentar ke papi dulu,” ujar Cilla melepaskan tangannya dari lengan Arjuna mendekati papi.


Arjuna sendiri sempat tersenyum dan menatap mama Diva dengan tatapan yang penuh nahasa isyarat.


Kembalinya Arjuna ke rumah sakit adalah perintah papa Arman. Selesai meeting pagi, papa langsung menyuruh Arjuna mengalihkan tugas-tugasnya pada Tino dan beberapa meeting penting yang bisa ditunda diundur ke lain hari, sedangkan meeting penting yang tidak bisa dibatalkan, digantikan oleh papa Arman.


Bukan hanya Jovan yang membaca kegelisahan Cilla, mama Diva juga melihat sikap menantunya yang tidak tenang sejak mama datang. Merasa kalau hanya Arjuna yang bisa menenangkan, mama Diva langsung menghubungi papa Arman dan meminta supaya Arjuna balik ke rumah sakit menemani istrinya.


Papi yang ternyata sudah selesai makan siang dan minum obatnya memilih tidur karena merasa sedikit lelah. Setelah mendengar dengkuran halus papi, Cilla pun bergabung dengan yang lainnya. Arjuna yang sejak tadi menemani hanya mengekorinya dari belakang.


Febi dan Lili yang melihat mata Cilla sedikit bengkak tampak mengernyit. Jovan pun memberikan isyarat pada Febi dan Lili supaya tidak banyak bertanya.


Arjuna sengaja menyuruh Cilla duduk tenang dan membiarkan Arjuna menyuapinya.


“Duh Pak Juna, jangan bikin kita jadi iri, dong,” protes Lili dengan wajah cemberut.


“Makanya kamu cepetan cari pacar,” ledek Arjuna tanpa mempedulikan tatapan semua yang ada di situ memperhatikan sikapnya yang dengan telaten menyuapi Cilla.


“Maunya pacar yang kayak Pak Juna, nggak pakai lama-lama langsung diajak nikah,” sahut Lili.


“Dasar cewek latah !” omel Febi sambil melotot. “Mana ada yang mau langsung ajak elo nikah. Cowok-cowok itu perlu berpikir matang-matang, soalnya mulut elo lebih cepat bereaksi daripada otak elo !“

__ADS_1


“Duh Febi jangan menjatuhkan harga diri gue dong !” omel Lili dengan wajah kesal.


“Nggak bakalan jatuh,” ledek Jovan menimpali. “Harga diri elo kan memang udah lama ada di bawah, jadi mau jatuh kemana lagi ?”


“Dih tega banget sih !” gantian Lili menatap Jovan dengan wajah kesal.


“Udah sih jangan cemberut begitu. Udah muka elo pas-pasan tambah jelek aja,” Cilla terkekeh. Tangannya menjulur mengambil satu potong kue yang ada di meja.


“Sini gue suapin, biar nggak iri lagi,” Cilla langsung menyodorkan kue ke depan mulut Lili.


“Ini apaan lagi sih ?” Lili mengernyit dan melirik kue yang disodorkan Cilla.


“Elo kan iri lihat gue disuapin sama Mas Juna. ini gue suapin kue buat elo biar nggak iri lagi.”


Lili mengomel tapi karena Cilla terus mendekati kue yang dipegangnya, akhirnya mulut Lili terbuka juga , menggigit kue yang disodorkan Cilla dan akhirnya mengambil kue itu, memegang dengan tangannya sendiri.


Mama Diva dan tante Siska hanya ikut tertawa melihat semuanya. Arjuna pun kembali memanggil Cilla dan meneruskan menyuapi Cilla sambil gantian menikmati makan siang dengan sendok yang sama.


Tidak lama mama Diva dan tante Siska pamit pulang dan akan kembali ke rumah sakit sore nanti bersama para suami mereka.


Ketiga sahabat Cilla pun ikut pamit karena sudah ada Arjuna yang menemani Cilla. Selain itu ketiganya ingin memberikan privasi mengingat Arjuna kembali ke rumah sakit padahal belum lama pergi ke kantor, sudah pasti karena ada alasan khusus.


“Cilla tadi kenapa ?” tanya Arjuna sambil membelai rambut Cilla yang tidur di paha Arjuna. Keduanya duduk di sofa sambil menonton televisi.


“Cilla khawatir banget sama papi,” sahut Cilla dengan nada sendu.


Cilla pun menceritakan perbincangannya dengan papi di taman tadi.


“Jadi ucapan papi itu yang membuat hati Cilla nggak enak ?”


Cilla berbalik dalam posisi terlentang dan menatap Arjuna sambil mengerjap. Mata Cilla mulai berkaca-kaca lagi.


“Setiap kali bicara pasrah, rasanya Cilla susah menahan air mata,” lirihnya dengan wajah sendu.


“Mau doa bersama ?” tanya Juna sambil tersenyum dan membelai wajah Cilla.


“Boleh,” Cilla mengangguk dan kembali ke posisi duduk berdempetan dengan Arjuna.


Suasana hening, kedua tangan suami istri itu saling menggenggam hingga akhirnya lantunan doa keluar dari bibir Cilla. Air mata pun tidak mampu lagi ditahannya.


Arjuna merengkuh Cilla ke dalam pelukannya memberikan usapan penuh cinta dari kepala lalu pindah ke punggung Cilla dan membiarkan istrinya melepaskan semua rasa yang memenuhi rongga hatinya dalam dekapan Arjuna.


“Sebetulnya Cilla juga melihat mami ada di dekat papi beberapa hari yang lalu. Apa mami begitu merindukan papi untuk kembali bertemu mami ?”


Arjuna sempat bergidik mendengar ucapan Cilla yang terdengar sedikit mistis di telinga Arjuna. Matanya sempat melirik ke sekeliling ruangan, berharap dia tidak ikut melihat sosok mami Sylvia yang belum dikenalnya secara langsung.


“Sayang, kita doakan yang terbaik untuk papi, ya,” ujar Arjuna dengan maksud menenangkan hati Cilla.


Arjuna mengerutkan dahi saat merasakan Cilla diam saja, bahkan tidak ada pergerakan kepalanya.


Arjuna menunduk dan akhirnya tersenyum. Ternyata istrinya yang lelah menangis tertidur pulas dalam dekapannya. Perlahan Arjuna meraih bantal yang ada di dekatnya dan meletakkan kepala Cilla di atas bantal sementara Arjuna sendiri bangun dari sofa.

__ADS_1


“Apapun yang terjadi, Cilla nggak akan pernah sendirian lagi,” ujar Arjuna yang berlutut di samping kursi, mengecup kening Cilla penuh cinta.


__ADS_2