MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Papi Rudi sudah keluar dari rumah sakit sejak tiga hari yang lalu. Hasil cek kesehatannya masih sama dengan pemeriksaan terakhir. Meskipun belum mengalami perubahan ke arah kesembuhan, tapi kondisi kanker di tubuh papi Rudi tidak bertambah buruk.


Sudah dua hari kemarin Cilla uring-uringan dan hatinya bertambah galau. Penyebabnya sudah pasti ARJUNA. Masalahnya selama dua hari kemarin semua pesan Cilla tidak ada yang terbaca satu pun. Jangankan mengharapkan balasan, dibaca aja nggak !


Sejak pagi Cilla sudah memandangi handphonenya dan duduk di sofa, berharap pesannya terbaca dan mendapat balasan dari Arjuna. Tapi nihil. Bahkan pesan yang baru saja dikirimnya hanya centang satu.


Entah karena handphone Arjuna mati atau tidak mendapat sinyal di lokasi proyek.


Om Rio, tante Siska dan Theo entah pergi kemana. Tadi pamit akan sarapan di luar lanjut pergi entah kemana, Cilla tidak terlalu memperhatikan.


“Papi mau kemana ? Kita pulang hari ini ? Kok papi nggak bilang-bilang ?” serentetan pertanyaan diajukan Cilla dengan dahi berkerut saat melihat papi Rudi mengeluarkan kopernya.


“Nggak pulang ke Jakarta, tapi papi sama om Rio dan tante Siska akan pindah ke unit sebelah.”


“Terus Cilla berduaan doang sama Kak Theo di sini ?” wajah Cilla langsung cemberut.


“Nggak berdua. Nanti ada teman papi sama anaknya akan bergabung menginap di sini. Jadi para orangtua biar di sebelah dan anak-anak tetap di sini.”


“Teman papi yang mana ? Dokter Pratama lagi ?”


“Memangnya kenapa kalau om Raymond dan Steven bergabung nginap di sini ? Kamu takut tergoda sama Steven, ya ?” ledek papi Rudi sambil tertawa.


“Ganteng, tapi bukan selera Cilla,” sahutnya asal dengan mata masih menatap ke layar handphone.


Sudah setengah sebelas dan posisi pesan yang dikirim untuk Arjuna masih centang satu.


“Jangan kelamaan lihat handphone terus. Bantuin bawa koper papi ke sebelah. Tadi infonya unit sudah dibuka dan nggak dikunci. Kamar papi paling kanan dekat kamar mandi.”


“Memangnya aman taruh barang di sana dalam keadaan pintu nggak dikunci ?”


“Aman,” papi Rudi mendekati kopernya di samping Cilla yang masih duduk di sofa.


Dengan malas Cilla beranjak bangun dan pergi ke unit sebelah tanpa bertanya kiri atau kanan karena letak unit yang ditempatinya saat ini berada di paling ujung.


Cilla membuka pintu yang ternyata memang tidak dikunci. Apartemennya terlihat lebih luas dibandingkan dengan tempat sebelah. Tirai-tirai jendela sudah dibuka hingga ruangan terlihat jelas karena cahaya matahari yang masuk.


Cilla langsung menuju kamar yang sudah diinfokan oleh papi Rudi. Satu-satunya kamar yang pintunya dalam keadaan tertutup sementara dua yang lainnya setengah terbuka hingga Cilla bisa melihat sebgaian kondisi kamar tanpa melongoknya.


Cilla menyipitkan matanya karena situasi kamar yang sedikit gelap. Tirai belum dibuka, cahaya hanya masuk dari kisi-kisi di atas jendela. Meski begitu Cilla masih bisa melihat di dalam ruangan meski hanya samar.


Cilla tidak menyalakan lampu melainkan menuju jendela yang salah satunya adalah pintu kaca menuju ke balkon. Cilla ingin membiarkan sinar matahari masuk menghangatkan kamar yang akan ditempati papi Rudi.


“Jangan lebar-lebar buka tirainya !”


Cilla tersentak di tempatnya, mendengar suara yang sangat dikenalinya. Tapi apa iya Arjuna ada di sini, di kamar ini. Cilla menggelengkan kepalanya, ia yakin kalau itu semua hanya halusinasi karena rasa rindunya yang teramat sangat.


“Mas Juna masih ngantuk, Cilla,” suara pria itu kembali terdengar dengan nada sedikit ketus.


Cilla langsung membalikan badannya dan matanya berbinar saat melihat calon suaminya sedang berbaring di ranjang dengan mata terpejam.

__ADS_1


Cilla langsung menghambur dalam pelukan Arjuna sampai pria itu membelalak dan merasa sedikit sesak karena tertimpa tubuh Cilla dengan cukup keras.


“Kok nggak bilang-bilang kalau nyusul kemari,” Cilla masih berada di atas tubuh Arjuna yang berbaring sambil memeluknya dan merebahkan kepalanya di atas dada Arjuna.


“Cilla, Mas Juna susah nafas nih,” Arjuna menepuk-nepuk punggung Cilla. “Sepertinya kamu tambah endut, berasa berat banget,” lanjut Arjuna dengan suara pelan.


Cilla langsung bangun dari pelukan Arjuna namun posisinya tetap mengukung tubuh Arjuna.


“Nggak mungkin tambah berat badan,” gerutunya dengan wajah cemberut. “Sudah dua hari kemarin malas makan gara-gara calon suami nggak baca-baca pesan.”


Arjuna tertawa dan dengan gerakan tiba-tiba, ia bangun sambil memegang pinggang Cilla yang memekik karena kaget dan reflek mengalungkan tangannya di leher Arjuna.


“Memang cocok jadi anak bebek, mulutnya suka manyun, bukan cuma bawel doang,” Arjuna menyentuh bibir Cilla dengan jemarinya.


Posisi keduanya tetap di atas ranjang dan Cilla duduk di atas paha Arjuna, kaki dan tangannya menaut di badan Arjuna persis seperti anak koala.


“Anak bebeknya lagi kesel banget !” Cilla menggerutu. “Calon suaminya susah banget baca pesan, malah hari ini cuma centang satu.”


“Sengaja,” Arjuna tertawa sambil menoel hidung Cilla. “Biar yang lagi kangen tambah banyak kangennya, jadi dapat kiss kiss kangennya lebih banyak.” Arjuna menunjuk ke arah pipinya.


“Guru mesum,” sungut Cilla dengan bibir cemberut.


“Kangennya nggak boleh berlebihan. Kalau kebanyakan malah tumpah, sayang terbuang. Jadi sebelum luber, bagusnya dibagikan ke orang lain aja gimana ?” Cilla melirik masih dengan wajah judes.


“Udah ada niat mau selingkuh ? Sama Steven yang ngikutin Cilla di taman itu ?” Arjuna malah tertawa menggoda Cilla.


“Kok bapaknya anak bebek nggak jutek lihat Cilla dekat-dekat sama cowok ganteng ? Dokter pula dan punya rumah sakit sendiri lagi,” tanya Cilla dengan tatapan curiga.


“Buat apa cemburu, dokternya aja nggak mau sama kamu. Bawel, pendek dan sekarang suka ngomel,” ujar Arjuna dengan wajah datar.


“Ooo jadi Mas Juna nyesel udah tunangan sama anak kecil yang pendek, bawel dan suka ngomel ?Beberapa hari jadi CEO udah ketemu yang baru ? Cewek kalem yang tinggi kayak foto model, pintar dan kalem ?”


Cilla melipat kedua tangannya di depan dada dengan tampang yang galak.


”Cewek model begitu banyak banget di kantor papa,” sahut Arjuna sambil tertawa.


Cilla mendorong tubuh Arjuna hingga terjembab ke ranjang. Bergegas ia bangun dan hendak keluar kamar tapi Arjuna dengan sigap mengejarnya dan menahan Cilla yang sudah membuka pintu kamar.


“Mau kemana ? Kok ngambek ?”


Cilla tetap dalam posisi membelakangi Arjuna sambil menundukan kepala. Cilla mulai meneteskan air mata. Entah kenapa hatinya benar-benar sensitif kalau bicara soal pekerjaan Arjuna dan membahas wanita-wanita dewasa.


Arjuna menautkan alis, bingung melihat Cilla terdiam dan malah menundukan kepalanya. Biasanya gadis ini akan melawan dengan sejumlah kalimat yang sering membuat Arjuna jutek karena tidak mampu membalasnya.


Arjuna merasakan ada getaran di tangannya yang masih menahan lengan Cilla. Ia menghela nafas, tidak menyangka kalau Cilla malah menangis.


Ditariknya lengan Cilla hingga tubuh gadis itu berbalik dan dibawanya ke dalam pelukan.


“Kamu lagi kenapa ?”

__ADS_1


Arjuna baru teringat kalau Cilla mungkin sedang sensitif karena baru tahu masalah sakitnya papi Rudi. Arjuna belum tahu kalau dirinyalah yang membuat Cilla jadi tidak karuan.


“Kamu kangen banget sama Mas Juna sampai jadi sensi begini ?” Arjuna mengusap-usap punggung Cilla yang masih berada di pelukannya.


Tangan Cilla tidak membalas pelukan Arjuna, masih lurus di samping tubuhnya


“Maaf Mas Juna suka nggak balas pesan dari Cilla. Tapi dua hari kemarin memang disengaja, udah bilang sama papi juga. Mas Juna mau kasih kejutan buat Cilla.”


Arjuna melerai pelukannya saat Cilla masih diam saja. Air mata masih mengalir di wajah mungilnya namun tidak sampai terisak.


Arjuna tersenyum dan menghapus air mata dengan saputangan yang diambil dari saku celana jeans nya. Air mata kesedihan yang sama seperti yang Arjuna lihat pertama kalinya di halaman kuil Sam Poo Kong.


“Ada masalah apa ?” Arjuna membelai lembut pipi Clla kemudian menangkupnya hingga bibir Cilla mengerucut.


“Anak bebek kesayangan Mas Juna lagi ada masalah apa ?”


“Apa Mas Juna sudah yakin memilih Cilla jadi calon istri ?” Cilla mengerjap dengan mata yang masih basah.


Arjuna menautkan kedua alisnya. Dia pikir Cilla akan bercerita tentang kesedihannya mendengar kabar soal sakitnya papi Rudi.


“Mas Juna nggak takut Cilla malah bikin repot dan jadi beban buat Mas Juna ke depannya ?”


“Siapa yang bilang sama kamu seperti itu ?”


“Nggak ada,” Cilla menggelengkan kepalanya.


“Masih ada kesempatan kalau mau pisah sama Cilla. kan kita baru tunangan. Orang yang sudah menikah aja bisa cerai, apalagi kita hanya tunangan aja, sebulan juga belum, jadi…”


“Kamu mau putus dari Mas Juna ? Jangan bilang karena kamu suka sama Steven !” nada Arjuna mulai terdengar ketus


Sejujurnya saat ini tubuhnya lumayan penat, ingin rasanya minta cuti pas tanggalan merah. Arjuna berniat tidur seharian setelah lelah mengurus pekerjaan di kantor dan survey ke lokasi pabrik baru di Batang.


Tapi dua hari yang lalu ternyata papa Arman sudah menyetujui permintaan papi Rudi untuk menyusul ke Singapura sekeluarga, lengkap dengan Amanda dan mama Diva.


Arjuna sengaja disuruh berangkat lebih awal dengan penerbangan pertama atas permintaan papi Rudi Beliau belum menceritakan kondisi Cilla yang sedang kacau karena jauh dari Arjuna. Papi Rudi hanya meminta dengan alasan ingin memberikan kejutan manis untuk Cilla sebagai kado terindah.


“Bukan Cilla yang mau putus,” sahut Cilla dengan suara yang tidak kalah ketusnya. “Kan Mas Juna lebih suka dengan cewek tinggi, kalem, pintar. Jadi bisa mengimbangi Mas Juna. Bukan anak SMA yang bawel, pendek, bisanya cuma mendebat dan cerewet. Sudah pasti akan jadi beban doang kalau jadi istri. Lagipula biar dokter Steven ganteng, dia bukan selera Cilla.”


“Ooo jadi udah berani memuji cowok lain di depan calon suami ?”


Arjuna sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya yang tersenyum ke depan muka Cilla yang kembali cemberut.


Arjuna lalu menghela nafas dan menatap calon istrnya sambil memicing. Bukan model Cilla jadi gadis melow seperti ini kalau tidak ada pemicunya. Dan Arjuna yakin siapa yang jadi bensin, menyulut emosi Cilla sampai cengeng begini.


“Theo ngomong apa lagi sama kamu ?” Arjuna memegang kedua bahu Cilla.


Reflek Cilla menggeleng, namun Arjuna yang sudah kembali berdiri tegak melipat tangannya di depan dada dan menatap Cilla dengan mata memicing.


“Cilla sudah janji akan belajar terbuka sama Mas Juna,” tegas Arjuna dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


__ADS_2