MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2 Jangan Berlarut-larut


__ADS_3

Sudah lebih 10 pesan yang Cilla kirim ke nomor Arjuna dan tidak ada satu pun yang dibaca oleh pria itu.


“Elo kenapa sih kayak belatung gerak-gerak terus ?” gerutu Dita yang merasa terganggu dengan kegelisahan Cilla.


“Nggak apa-apa, lagi kangen sama suami,” sahut Cilla sambil terkekeh.


“Ya ampun Cilla, elo nggak kasihan sama gue yang jomblo ini ? Btw, tadi ngapain aja sama si dosen tampan ?”


“Panjang ceritanya kayak sinetron. Besok-besok aja. Tuh idola elo lagi ngeliat kemari terus.”


Dita menoleh ke depan dan benar ucapan Cilla kalau dosen tampan itu sedang menatap tajam ke arah mereka.


Begitu jam kuliah Glen berakhir, Cilla bergegas keluar kelas langsung menuju parkiran. Hatinya tidak tenang karena tidak ingin ada salah paham lagi dengan Arjuna.


Glen sempat mengerutkan dahi, belum sempat bertanya pada Cilla, wanita itu sudah melesat keluar kelas bahkan tidak menunggu sampai Glen keluar.


Jalanan masih lumayan lengang karena belum waktunya jam pulang kantor. Hanya 25 menit mobil Cilla sudah ada di parkiran khusus kantor Indopangan.


Cilla menganggukan kepala pada satpam dan resepsionis yang sudah mengenalnya sebagai istri Arjuna dan langsung masuk ke dalam lift.


Hatinya berdebar antara cemas dan rindu dengan suaminya yang sejak semalam melancarkan aksi diam.


Hanya ada dua sekretaris perempuan di depan ruangan Arjuna. Cilla kenal dengan salah satunya, sementara yang lainnya sepertinya masih baru.


“Bapak masih rapat di lantai 5, Bu,” sapa Maira saat Cilla datang menghampirinya.


“Nggak apa-apa, nggak usah kasih kabar kalau saya ada di sini. Saya memang mau kasih kejutan.”


Maira mengangguk sambil tersenyum dan membiarkan Cilla masuk ke dalam ruangan Arjuna.


Maira menjelaskan pada temannya kalau yang baru masuk adalah istri bos mereka.


“Kelihatan masih muda banget, Mbak,” ujar Lulu, sekretaris junior yang baru dua bulan bekerja di situ membantu Maira.


“Iya beda usia hampir 10 tahun,” ujar Maira.


Lulu mengangguk dan mencoba menghafal wajah Cilla.


Cilla tersenyum saat duduk di sofa. Cilla suka dengan wangi ruang kerja Arjuna karena ada wangi parfum yang biasa dipakai suaminya.


Cilla menyempatkan melakukan video call dengan Sean menggunakan handphone Bik Mina. Bayi gemoi itu semakin lucu dan mulai menambah kosa kata bicaranya.


Tigapuluh menit kemudian rapat internal di lantai 5 selesai juga. Arjuna melirik jam tangannya, sudah jam 4 lewat.


“Jun, Theo dan Luki mau ketemu membahas soal pabrik di Batang. Mau ketemu di sini atau sekalian makan malam di luar ?”


“Makan malam aja di luar,” sahut Arjuna sambil membawa berkas dan laptopnya.


“Nggak kabarin Cilla dulu ?”


“Nggak usah !“ tegas Arjuna sambil keluar ruangan rapat. Mendengar nama Cilla, Arjuna menghela nafas berusaha meredakan emosinya.


“Jangan bilang kalian lagi ribut lagi gara-gara foto,” ujar Tino saat keduanya sudah berada dalam lift.


“Bukan masalah fotonya, tapi Cilla nggak mau cerita dan ngomong terus terang. Dari kemarin gue lihat dia gelisah dan hari ini udah bohong lagi.”


“Jun, coba elo berdua cari jalan keluarnya. Masalah pebinor langsung mengacaukan elo berdua sejak Cilla mulai kuliah. Coba bicarakan baik-baik karena masih ada 4 sampai 5 tahun sampai Cilla selesai kuliah.”

__ADS_1


“Kita udah sepakat untuk menghadapinya sama-sama, tapi kemarin dan hari ini Cilla udah berbohong soal Glen.”


“Coba gue lihat.”


Arjuna berniat memperlihatkan foto kemarin dan hari ini pada Tino, tapi handphonenya tidak ada di saku celana atau kemejanya.


“Handphone gue ketinggalan di ruangan.”


“Jun, lebih baik kita kirim orang untuk mencari tahu siapa yang mengambil foto-foto itu. Udah waktunya elo minta bantuan Sebastian.”


Arjuna menarik nafas dalam-dalam dan keluar dari lift mendahului Tino, bergegas kembali ke ruangannya. Hatinya masih emosi dan berharap tidak akan bertambah dengan kiriman foto-foto baru.


Langkah Arjuna terhenti saat melewati sofa. Ada Cilla berbaring di sana. Arjuna memutuskan mengambil handphone yang tertinggal di atas meja kerja baru mendekati Cilla.


Melihat wajah istrinya yang kelelahan rasanya Arjuna tidak bisa membiarkan rasa marahnya berlama-lama mengusai hatinya.


Apalagi saat membaca pesan-pesan yang dikirim Cilla. Arjuna tersenyum, duduk di pinggir sofa lalu merapikan rambut Cilla yang tergerai menutupi wajahnya.


Cilla menggeliat saat merasakan ada yang menyentuh wajahnya.


“Mas Juna,” lirihnya dengan wajah cemas.


“Udah lama ?” tanya Arjuna.


“Belum, belum lama kok,” Cilla tersenyum ragu-ragu sambil menggeleng dan perlahan beranjak duduk. Tangannya langsung memeluk tubuh Arjuna dan merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya.


“Cilla nggak ciuman sama Glen, foto itu sengaja diambil seolah Cilla lagi ciuman.”


Arjuna memgerutkan dahi dan menatap Cilla saat wanita itu merenggangkan pelukannya.


“Maaf kemarin Cilla lihat handphone Mas Juna. Foto yang dikirim itu..”


“Hari ini Cilla ada di ruangan dosen karena lagi menjalankan hukuman,” ujar Cilla setelah ciuman mereka terlepas


“Hukuman apa ?”


Cilla pun menceritakan soal nilainya yang sengaja dibuat gagal oleh Glen dan tugas yang diberikan dosennya itu untuk perbaikan nilai.


Arjuna mengepalkan tangannya karena kesal dengan sikap Glen yang tidak profesional.


“Mas Juna, sejujurnya Cilla takut apalagi sejak tahu kalau Susan juga mengajar di situ. Cilla mau deh dikasih pengawal, Cilla benar-benar takut.”


Arjuna memeluk Cilla lalu mengusap-usap punggung istrinya itu.


“Sore ini kita langsung ketemu Sebastian sekalian Mas Juna ada janji sama Theo dan Luki. Kita beresin masalah Glen dulu biar tenang.”


“Sean gimana ?”


“Nggak apa-apa kita beresin dulu masalah ini. Lusa kan weekend juga, kita habiskan akhir pekan ini untuk Sean.” Cilla mengangguk dan menyusupkan kembali wajahnya dalam pelukan Arjuna.


“Glen nggak macam-macam sama Cilla kan ?” Arjuna mengeratkan pelukannya. Cilla menggeleng tanpa mengangkat wajahnya.


Arjuna mengambil handphone dan menghubungi Sebastian untuk mengajaknya bertemu sore ini.


Sementara di luar ruangan, Tino urung masuk karena Maira memberitahu kalau Cilla menunggu Arjuna di dalam.


Tino tertawa pelan saat tahu Nyonya Arjuna ada di ruangan suaminya. Alamat meeting dengan Theo dan Luki batal karena urusan rumah tangga lebih penting saat ini.

__ADS_1


Saat sibuk berbalas pesan dengan Theo dan Luki, handphone Tino berbunyi dan ada nama Arjuna di layarnya.


“Kenapa Jun ?” tanya Tino saat masuk ke dalam ruangan bossnya.


“Hai Om Tino,” sapa Cilla sambil tersenyum.


“Ya ampun bocil, tumben banget sih datang kemari ?


Takut suami nggak pulang ? Pantas aja dari pagi muka suami kamu kurang licin, kayak baju nggak disetrika,” ledek Tino sambil terkekeh, pura-pura tidak tahu kalau Cilla datang ke kantor.


”Nggak cocok main dramanya, pasti Mbak Maira udah kasih tahu kalau Cilla datang. Dan soal Mas Juna, dijamin besok udah nggak lecek lagi,” sahut Cilla sambil tertawa pelan. Tino hanya memberikan jempolnya.


“Gue mau ketemu Bastian dulu sore ini. Masalah ketemuan Theo dan Luki tolong dijadwalin besok pagi aja.”


“Jam berapa ? Soalnya jam 9 elo udah keburu ada janji sama distributor kita yang datang dari Makassar.”


“Lunch meeting aja, lokasinya di kampus Cilla.”


Mata Cilla dan Tino langsung membola. Bisa heboh kampus kalau sampai kedatangan empat pria yang penampilannya susah ditolak mata.


“Jangan di kampus, Cilla nggak rela Mas Juna jadi perhatian mahasiswi lain,” protes Cilla dengan wajah ditekuk.


“Wuiihh bocil mulai ketularan posesif nih,” ledek Tino sambil tergelak.


“Waktu Mas Juna sama Om Tino datang ke kampus, banyak mahasiswi langsung kasak kusuk, matanya udah pada nggak berkedip.”


“Kalau begitu gue setuju lah, Jun. Siapa tahu ada cupid yang berbaik hati menembakkan panah asmara buat salah satu mahasiswi di sana.”


“Awas aja kalau yang ditembak hatinya Mas Juna !” Cilla mengepalkan tangannya ke udara.


“Ya ampun Juna, elo menularkan hal yang nggak bagus ke istri elo. Biasanya imut sekarang horor kayak singa betina.”


“Udah Sayang, jones satu ini kan memang paling hobi bikin kamu kesal. Biarin aja kalau Tino mau cari jodoh di kampus kamu, biar bisa sekalian disuruh jagain kamu.”


“Dih nggak mau rugi banget, sih,” cebik Tino.


“Jadi beneran Mas Juna mau ajak Kak Theo dan Om Luki makan siang di kampus ?” Arjuna mengangguk.


“Sekalian ajak Glen, Sayang. Makan siangnya di ruangdosen, nanti kita pinjam sama. Bastian. Biar dosen ganjen itu tahu kalau Cilla banyak yang jagain, bukan Mas Juna doang.”


“Duh makin sayang nih sama Pak Guru,” Cilla langsung memeluk Arjuna dari samping.


“Wooii ada manusia di sini, masih jomblo pula,” protes Tino.


“Siapa suruh nggak mau cari pacar beneran, sukanya ttm doang,” cibir Cilla.


“Jangan coba mencegah kalau besok beneran dapat jodoh di kampus kamu ya, Cil !”


“Berdoa aja semoga ada yang langsung mau,” ledek Arjuna.


Tino menggerutu dan keluar dari ruangan Arjuna untuk memberi kabar pada Theo dan Luki.


“Kita siap-siap juga, yuk !” Arjuna beranjak bangun dan mengulurkan tangannya.


Cilla mengangguk dan meraih jemari Arjuna. Ternyata pria itu langsung menariknya dan merangkul pinggang Cilla, berlanjut dengan ciuman lembut di bibir istri kesayangannya.


“I love you anak bebek kesayangan Mas Juna,” bisik Arjuna sambil menyatukan keningnya dengan kening Cilla.

__ADS_1


“Love you too Pak Guru kesayangan.” sahut Cilla sambil tersenyum.


__ADS_2