MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kebahagiaan Papi


__ADS_3

Hari yang dinantikan papi Rudi akhirnya tiba juga. Setelah keluar dari rumah sakit, papi Rudi mulai menjalankan pengobatan secara rutin supaya kondisi tubuhnya lebih baik saat menggelar pesta pernikahan Arjuna dan Cilla.


“Senang rasanya melihat Tuan sebahagia ini,” ujar om Budi asisten papi Rudi. “Sepertinya terakhir saya melihat senyuman itu ada di wajah Tuan sebelum Ibu Sylvia meninggal.”


“Aku bahagia banget, Bud. Sangat bahagia melihat Cilla sebahagia itu mejadi istri Arjuna. Bahagia melihat Arjuna begitu mencintai Cilla juga,” sahut papi Rudi dengan tatapan tertuju pada pasangan berbahagia yang sedang menikmati makan sore mereka sebelum acara pesta dimulai.


Cilla dan Arjuna duduk bersama para sahabat Arjuna dan Cilla yang sudah datang sejak jam 2 siang, padahal acara baru dimulai jam 7 malam. Seperti biasa grup Pandawa ditambah Lili, Febi, Jovan dan Amanda saling meledek dan tertawa.


Sementara papi Rudi dan om Budi baru saja bertemu dengan beberapa orang kepercayaan mereka untuk mengawasi para tamu yang datang.


“Kalau memang Tuan sebahagia itu, akan lebih baik lagi kalau Tuan rutin menjalankan pengobatan yang sudah diatur oleh dokter. Hidup manusia memang ada di tangan Tuhan, tapi saat masih diberi kesempatan bukankah tugas kita untuk menjaganya ?”


“Ternyata makin tua, kamu makin bijaksana juga, Bud,” ujar papi Rudi terkekeh. “Maaf karena sibuk bekerja denganku, waktumu dengan keluarga jadi berkurang. Untunglah Mirna begitu pengertian dengan dedikasimu itu.”


“Setidaknya Mirna tahu kemana harus mencari saya kalau pulang terlambat, daripada menebak-nebak dengan pikiran tidak tenang setiap saya memberikan bonus uang belanja dari Tuan,” sahut om Budi sambil tertawa pelan.


“Kapan-kapan aku ingin mengajak Mirna dan kedua anakmu ke rumah, kita makan malam dengan Cilla dan Arjuna.”


“Mirna pasti akan senang kalau boleh masak untuk makan malam Tuan dan Cilla. Sudah lama Mirna ingin menyampaikan terima kasih atas kebaikan Tuan dan Cilla selama ini.”


Papi Rudi hanya manggut-manggut sambil tertawa pelan.


“Kalau sampai usiaku tidak panjang, aku titip Cilla padamu. Bukan bermaksud menambah bebanmu, tapi tolong dampingi Cilla pada masa-masa awal dia terjun ke perusahaan, carikan asisten yang handal tapi profesional, bukan bibit pelakor atau pebinor.”


“Jangan pesimis seperti itu, Tuan.”


“Bukan pesimis tapi realistis, Bud,” sahut papi Rudi sambil tertawa. “Kalau dipikir-pikir tugas Arjuna mengurus perusahaanku dan Arman memang cukup berat. Semoga ke depannya Cilla bisa membantu Arjuna juga.”


“Cilla itu anak yang kuat dan selalu optimis, Tuan. Hanya saat berdekatan dengan Pak Arjuna jiwa kenak-kanakannya baru kelihatan. Saya yakin kalau keduanya akan menjadi pasangan yang saling mendukung bukan hanya dalam masalah rumah tangga tapi juga dalam mengelola bisnis Tuan dan Tuan Arman.”


“Hatinya benar-benar seperti Sylvia, mudah memaafkan dan lebih banyak melihat sisi positif daripada negatif dalam hidupnya.”


“Bukankah itu semua adalah warisan yang sangat baik, Tuan ?” Om Budi tersenyum sambil ikut memandang Cilla. “Bahkan putri Tuan tidak mengijinkan saya memanggilnya Nona Cilla.”


Papi Rudi menghela nafas panjang dan menghampiri meja papa Arman dan mama Diva lalu mengajak om Budi ikut duduk bergabung di situ, bersama keluarga om Rio dan papa Arman.


“Ada masalah Rud ?” tanya papa Arman sambil mengerutkan dahi.


”Tidak ada, hanya memastikan saja pada pihak WO untuk mengawasi para tamu yang datang,” sahut papi Rudi santai sambil mengambil makanan.


“Apa radarmu menangkap sesuatu yang tidak beres ?” ledek papa Arman sambil tertawa pelan.


“Jangan terlalu membebani pikiranmu, Rud. Nikmati kebahagiaan hari ini. Mimpimu untuk membuat pesta besar bagi Cilla bisa terwujud hari ini,” ujar tante Siska.


“Sepertinya Sofi dan Mia akan datang dalam pesta nanti,” ujar papi Rudi.


“Kenapa kamu harus mengundangnya, Rud ?” tanya mama Diva dengan wajah kesal.


“Sofi sudah menikah lagi dengan pria asal Malaysia. Dan sayangnya suaminya itu adalah salah satu investor hotel di Malaysia yang menunjuk Prisma Hotel sebagai operatornya. Jadi tidak mungkin meminta Syakir, nama pria itu, untuk tidak membawa Sofi dan Mia datang ke pesta malam nanti,” ujar papi Rudi menjelaskan.


“Tenang saja,” ujar papa Arman dengan wajah santai. “Ada dua singa betina yang siap membantumu melindungi Cilla.”


Mama Diva dan tante Siska langsung menatap papa Arman yang tertawa diikuti oleh papi Rudi.


“Anggap saja itu pujian. Memang terbukti kalau kalian berdua adalah wanita-wanita luar biasa sebagai istri dan ibu juga,” timpal papi Rudi.


“Kalau tugas sebagai istri memang tidak perlu diragukan lagi,” om Rio ikut menimpali sambil tertawa. “Kadang aku sendiri takut tidak bisa mengimbangi kekuatan singa betina.”


“Papi jangan buka kartu, dong,” ujar tante Siska memukul pelan bahu suaminya.

__ADS_1


“Dan sepertinya Cilla akan langsung kami ajak bergabung, Rud,” ujar mama Diva sambil tertawa.


“Kalau begitu langsung jalankan tugas berbagi ilmu saktimu dengan Arjuna, Man,” ledek papi Rudi. “Jangan sampai dia kewalahan menghadapi Cilla saat sudah lulus melewati ujian dari dua singa betina ini.”


“Kalau dari segi umur sepertinya Arjuna tidak perlu belajar lagi, yang penting prakteknya. Memangnya kamu sudah nggak sabar mau punya cucu ?” balas papa Arman sambil tertawa meledek.


“Kenapa ? Arjuna sudah mengantongi jam terbang sebelum dengan Cilla ?” ledek papi Rudi.


“Kalau soal itu aku yakin kalau Arjuna belum punya keberanian selama si wanita belum resmi jadi istrinya,” mama Diva yang menjawab pertanyaan papi Rudi.


“Kamu tahu sendiri bagaimana Arman mengajarkan anak-anaknya supaya jangan sampai terjebak dengan tawaran perempuan yang suka memanfaatkan situasi.”


“Dan kenyataannya memang begitu, kan ? Anak-anak kita menjadi incaran banyak orang karena status dan kedudukan mereka. Apalagi kalau tahu sekarang Arjuna balik jadi CEO atau Cilla adalah pewaris tunggal Darmawan Grup. Bukankah anak dokter Raymond adalah salah satu contohnya ?” ujar papa Arman.


“Anaknya yang dokter juga ?“ tanya mama Diva.


“Dokter Raymond hanya punya satu anak, sayang,” sahut papa Arman. “Dokter Steven namanya.”


Mama Diva hanya mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan suaminya.


“Rasanya aku masih melihat Cilla sebagai anak-anak,” ujar papi Rudi tersenyum dan memandangi wajah putrinya yang masih asyik tertawa.


“Apalagi saat ini Cilla masih belum melepaskan seragam sekolahnya. Kadang masih tidak percaya kalau statusnya sudah jadi istri anak kalian. Bisa-bisanya juga Arjuna jadi guru di sekolahnya.”


“Aku juga kaget pas menemukan foto Arjuna menggendong Cilla saat pemakaman Sylvia,” ujar mama Diva teringat foto yang ditampilkan saat berhadapan dengan tante Dinda dan Sherly.


“Itu artinya takdir jodoh mereka memang kuat, Rud,” timpal papa Arman.


“Cilla itu anak kecil yang sudah bisa menghasilkan anak kecil lagi,” ujar tante Siska sambil tertawa pelan. “Apa kamu lupa kalau Sylvia juga masih cukup muda saat menikah denganmu ?”


”Sylvia sudah duapuluh satu saat itu, sementara Cilla baru saja tujuhbelas tahun,” sahut papi Rudi.


“Dilarang menyinggung soal umur di sini,” protes mama Diva. “Tidak sopan membahas masalah umur dengan wanita sepertiku dan Siska.”


“Tadi bilang kami berdua masih seperti singa betina, sekarang menyinggung soal umur,” cebik tante Siska sambil melirik suaminya.


”Kalian berempat memang tidak peka,” gerutu papi Rudi. “Tidak sadar kalau aku ini jomblo tulen. Budi saja masih punya singa betina.”


Om Rio dan papa Arman tergelak mendengar omelan papi Rudi sementara om Budi hanya senyum-senyum mendengar keluhan bossnya.


“Mau aku comblangin, Rud ?” ledek tante Siska.


“Ogah !” sahut papi Rudi cepat. “Sudah cukup sekali dengan Sofi, rasanya masih trauma. Lebih baik kalian ajarkan Cilla cara menjadi istri yang baik. Siapa tahu dia tergerak memberikan aku cucu sebelum kuliah tingkat dua.”


Tante Siska memutar bola matanya sementara papa Arman, om Rio dan mama Diva tergelak dan om Budi hanya tertawa pelan.


“Jadi ceritanya nggak masalah biar Cilla itu masih kecil ?” ledek papa Arman.


“Selama anakmu bisa melakukannya dengan baik dan memuaskan putriku,” cibir papi Rudi. “Awas saja kalau berani memaksa sampai menyakitinya.”


Gelak tawa masih terdengar di meja para orangtua membuat hidung Cilla mendadak gatal dan telinganya terasa panas.


“Sepertinya mereka sedang membicarakan kita,” ujar Cilla pada Arjuna dengan suara pelan.


“Paling membahas berapa cucu yang mereka inginkan,” sahut Arjuna santai.


“Mas Juna nggak lupa kan kalau kita…”


Arjuna langsung mengecup bibir Cilla membuat gaids itu langsung merona.

__ADS_1


“Yang penting malam ini dulu,Baby,” bisik Arjuna dengan suara sengaja dibuat mendesah.


Cilla langsung tersipu dan kembali fokus pada piring makannya.


“Mau Mas Juna suapin ?” ledek Arjuna sambil tertawa pelan.


“Arjuna !” Theo memanggil sahabatnya sambil melotot. “Nggak bisa tahan diri beberapa jam lagi ? Nggak sadar kalau sebagian besar yang duduk di meja ini masih jomblo ?”


Arjuna hanya tergelak mendengar protes Theo dan tatapan para sahabatnya yang sebagian menggelengkan kepalanya.


“Harap maklum, Arjuna itu suami masih perjaka, jadi masih ada yang belum tersalurkan dengan benar,”celetuk Tino membuat Arjuna menghentikan tawanya dan melotot menatap asistennya.


”Mau surat SP atau langsung PHK ?” Arjuna melemparkan tulang ayam yang ada di piringnya.


“Jorok banget sih !” gerutu Luki yang jadi korbannya karena Tino dengan sigap menghindar.


“Gue udah biasa kena lemparan di kantor,” ujar Tino pada Luki yang masih menggerutu.


“Mas Juna !” Cilla yang duduk di samping Arjuna menatap suaminya dengan mata melotot membuat Arjuna hanya bisa nyengir kuda.


“Kalau begitu masa suami perjakanya diperpanjang sampai batas waktu yang tidak ditentukan !” ujar Cilla sambil bangun dari kursinya.


“Jangan gitu dong, Sayang, Baby,” Arjuna meraih tangan Cilla yang sudah berdiri namun sedikit kesulitan karena baju pengantinnya.


Yang lainnya malah terbahak termasuk Amanda saat melihat wajah memelas Arjuna sedang berusaha membujuk Cilla.


“Boleh, asal asisten Mas Juna yang kayak emak-emak arisan itu dikeluarin. Bisa ?” Cilla melirik Tino dengan tatapan galak.


“Bisa. Bisa banget !”sahut Arjuna dengan tegas.


“Ya ampun Cilla, jangan gitu dong,” pinta Tino dengan wajah memelas.


“Kenapa ?” Cilla masih melotot bahkan sekarang sambil bertolak pinggang. “Takut pacar-pacar om Tino pada kabur ?”


“Arjuna ?” Tino menatap Arjuna dengan mata membelalak. Hanya Arjuna yang tahu kalau Tino mendekati dua tiga wanita sekaligus.


“Peace,” Arjuna nyengir kuda sambil membentuk huruf V dengan jarinya. “Sudah perjanjian dengan Cilla tidak boleh ada rahasia di antara suami istri.”


“Berhubung hari ini suasana hati Cilla lagi senang, urusan PHK Om Tino mendapat grasi malam ini.”


“Udah kayak presiden aja kamu, Cil,” ledek Erwin.


“Perdana Menteri,” ujar Arjuna pelan sambil tertawa pelan.


“Jadi mau diperpanjang lagi ?” Cilla melirik Arjuna yang masih tertawa pelan.


“Eh nggak dong, Baby,” ujar Arjuna langsung memasang senyuman manisnya.


Cilla keluar dari kursinya saat dua orang staf WO menghampirinya dan meminta pasangan pengantin itu kembali ke ruang tunggu untuk merapikan wajah dan penampilan mereka.


“Asal jangan kebiasaan berdebat kebawa sampai malam pertama,” celetuk Erwin saat Arjuna dan Cilla sudah pergi.


“Maksud elo ?” Theo mengerutkan dahinya.


“Debat dulu siapa yang mulai, siapa yang di atas dan di bawah, siapa…”


“Kak Erwin !” potong Jovan sambil menutup telinga Amanda yang duduk di sebelahnya.


“Nggak usah dibahas detil juga kali. Ada empat anak yang masih kejauhan mikirin malam pertama. Lagian Kak Erwin nggak lupa kan kalau masih ada Amanda yang statusnya adik kandung Pak Juna ?”

__ADS_1


Yang lainnya kembali tertawa dan Erwin mengusap tengkuknya sendiri.


__ADS_2