MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Pertemuan Tanpa Rencana


__ADS_3

‘Apa kabar Arjuna ?” sapa wanita paruh baya itu sambil tersenyum menatap Arjuna.


 


“Kabar baik Tante Siska, sudah lama tidak bertemu,” Arjuna mendekati mami Siska dan memberikan salam cipika cipiki pada wanita paruh baya itu.


 


Pertemanannya dengan Theo, Boni dan Lukii  bukan hanya setahun dua tahun dan terbilang dekat. Mereka berempat bukan hanya bersahabat tapi juga mengneal dan dikenal baik oleh masing masing keluarga.


 


“Masih balik Jakarta-London, Tante ? Terakhir saya ke rumah, Theo bilang kalau Tante sedang berada di London,” Arjuna kembali bertanya setelah selesai menyapa.


 


Kedatangannya terakhir ke rumah Theo adalah saat dimana Arjuna kabur karena akan dipertemukan dengan putri teman papa Arman.


 


“Dan kamu ?” mami Siska menunjuk pada Cilla yang berdiri di dekat Arjuna.


 


Theo mendekati Cilla dan memegang kedua bahu gadis itu yang sedikit terkejut karena mata Cilla sedang fokus pada mami Siska yang mengingatkannya pada seseorang.


 


“Ini dia yang namanya Cilla, mam. Gimana ? Beneran cantik dan manis, kan ?” Theo membawa Cilla mendekati mami Siska dengan memegang kedua bahu gadis itu.


 


“Selamat sore,Tante,” Cilla mengangguk sambil tersenyum manis. Ia pun mengulurkan tangannya untuk menyalami mami Siska. “Perkenalkan nama saya Pricilla, Tante. Biasa dipanggil Cilla.”


 


“Saya Siska, Cilla. Tante Siska,” balas mami Siska sambil tersenyum ramah. Ia memberi isyarat supaya Cilla duduk di sebelahnya.


 


Rencana makan berdua dengan Cilla sebagai penutup kencan sehari  Sabtu sore ini ternyata gagal. Arjuna sempat menghela nafas dan agak berat untuk duduk di sebelah Theo sementara Cilla duduk persis di seberangnya bersama dengan mami Siska.


 


Theo yang sudah mengenal Arjuna cukup baik, melihat gelagat Arjuna namun mengabaikannya. Niatnya ingin memperkenalkan Cilla pada mami Siska akhirnya kesampaian meskipun karena tidak sengaja. Dan bagi Theo ini lebih penting daripada memikirkan perasaan Arjuna. Toh, sahabatnya itu sudah memastikan kalau Theo boleh mendekati Cilla bahkan Arjuna akan membantunya.


 


Theo memanggil pelayan dan meminta keduanya memesan makanan dan minuman. Cilla terlihat ragu, ia sendiri ingin merasakan kencan seharinya ini benar-benar lengkap dengan menikmati makan berdua bersama Arjuna. Tetapi berada dalam kondisi ini, rasanya sulit untuk menolak.


 


“Kamu mau pesan apa, Cil ?” Arjuna sengaja bertanya untuk memastikan keraguan Cilla kalau mereka memang harus bergabung makan dengan Theo dan mami Siska.


Cilla mendongak dan menatap Arjuna dengan tatapan penuh tanya. Arjuna hanya tersenyum dan mengangguk. Lagi-lagi senyuman itu malah membuat Cilla gagal fokus karena hatinya tidak mampu menahan rasa yang langsung bergejolak. Ia langsung menunduk dan membolak balik buku menu namun tidak ada satupun makanan yang dipesannya.


 


Theo tersenyum tipis melihat interaksi keduanya. Dilihatnya kalau Arjuna masih berusaha bertahan untuk bersikap biasa-biasa saja meski Cilla terlihat salah tingkah hanya dengan senyuman Arjuna.


 


“Cilla,” panggil Arjuna. Entah sudah berapa kali buku menu itu dibolak-balik oleh Cilla membuat Arjuna mengerutkan dahinya.


 


“Saya ikut saja, Pak. Semua makanan saya suka selama bukan jeroan,” sahut Cilla tanpa mengangkat wajahnya yang masih menatap buku menu.


 


Arjuna menggeleng dan menghela nafasnya. Akhirnya ia memesankan makanan yang seingatnya adalah kesukaan Cilla, manis, pedas dan asam.


 


Mami Siska pun sempat memperhatikan Cilla dan Arjuna yang sedang memilih menu., bahkan beliau bertukar pandangan dengan Theo yang mengangguk sambil tersenyum. Namun keduanya bersikap biasa dan pura-pura tidak tahu.


 


“Makan ini dulu sambil menunggu pesanan kalian datang,” mami Siska meletakkan daging panggang di atas piring Cilla.


 


“Terima kasih, Tante,” Cilla mengangguk dengan sopan. Ia terlihat agak canggung dan setiap kali melihat wajah mami Siska, otaknaya langsung bekerja keras memikirkan seseorang yang ia sendiri lupa siapa.

__ADS_1


 


“Kamu sangat mirip dengan Sylvia,” ujar mami Siska sambil meletakkan kembali daging yang baru saja diambilnya dari panggangan.


 


Cilla terdiam sejenak mendengar nama maminya disebut. Ia meletakkan sumpitnya dan menoleh menatap mami Siska.


 


“Tante kenal sama mami ?” tanya Cilla sambil mengangkat kedua alisnya.


 


“Iya,” mami Siska mengangguk, “Sangat mengenalnya dengan baik.”


 


“Senang rasanya bisa bertemu dengan seseorang yang mengenal mami,” sahut Cilla dengan wajah berbinar. “Apakah Tante sahabat mami ?”


 


“Lebih dari sekedar sahabat Cilla. Kami berdua sama-sama anak yatim piatu yang hidup hanya berdua. Dan kamu,” mami Siska merubah posisi duduknya menghadap ke Cilla. “Wajahmu benar-benar mirip dengan Sylvia.”


 


Mami Siska mengusap lembut pipi Cilla sambil tersenyum dan mata berkaca-kaca. Sekuat tenaga ia berusaha menahan kesedihannya, namun perlahan kedua sudut matanya basah.


 


Cilla tersenyum menenangkan dan langsung memeluk mami Siska.


 


“Senang rasanya bisa bertemu dengan seseorang yang begitu dekat dengan mami dan menyayanginya. Cilla yakin kalau dari atas sana, mami sangat bahagia karena Cilla bisa dipertemukan dengan Tante.”  Cilla melerai pelukannya dan mengambil selembar tissue untuk membersihkan air mata di wajah mami Siska.


 


“Cilla akan mengajak Tante ke makam mami. Meski Tante tidak bisa ngobrol lagi sama mami, tapi Cilla yakin kalau mami akan senang dikunjungi oleh Tante.”


 


Tidak lama pelayan mengantarkan pesanan makanan dan minuman tambahan untuk Cilla dan Arjuna.


 


Terlihat Theo begitu memperhatikan Cilla dan membantu gadis itu memanggang daging. Beberapa kali Arjuna batal memberikan daging panggangannya untuk Cila karena sudah didahului oleh Theo. Meskipun sedikit kecewa, namun Arjuna tetap berusaha bersikap biasa saja.


 


Cilla yang mudah akrab banyak berbincang dengan mami Siska. Bahkan wajahnya semakin terlihat berbinar saat mendengar kalau mami Siska mempunya koleksi foto-fotonya dengan mami Sylvia. Ternyata mereka bukan sekedar akrab  sebagai sahabat dan teman senasib, namun juga seperti saudara.


 


Sesekali Arjuna mencuri pandang pada Cilla yang semakin asyik berbincang dengan mami Siska dan kadang-kadang Theo pun ikut menimpalinya. Hanya ia sendiri yang lebih banyak diam karena tidak tahu harus berbicara apa.


 


“Kapan-kapan biar Theo mengajakmu main ke rumah. Akan Tante perlihatkan semuanya itu padamu,” ujar mami Siska.


 


“Wah dengan senang hati, Tante,” sahut Cilla dengan wajah berbinar.


 


“Tapi nggak gratis, “ sahut Theo.  “Bayarannya mahal dan harus spesial.”


 


Cilla tertawa dan mengangguk. “Untuk anggota Lima Pandawa pasti selalu ada yang spesial apalagi sama Om Theo,” sahut Cilla sambil terkekeh.


 


“Lima Pandawa ? Om Theo ? ” tanya mami Siska dengan dahi berkerut,


 


Cilla tertawa dan mengangguk. Ia pun menceritakan secara garis besar pertemuan pertama mereka saat pernikahan Dono, alasan mengapa ia memanggil para sahabat Arjuna dengan om dan sebutan Lima Pandawa untuk kelima pria yang berlibur bersamanya.


 


Mami Siska menyimak semua cerita Cilla yang disampaikannya penuh antusias. Ada kebahagiaan di hatinya saat melihat anak Sylvia tumbuh dengan baik meski tanpa adanya seorang ibu yang mendampingi.

__ADS_1


 


“Sambil makan, Cil,” Theo memberi isyarat pada Cilla untuk tetap menyantap pesanan makanannya sambil bercerita.


 


Cilla yang memperhatikan kalau Arjuna lebih banyak diam saat ini, mengambil daging yang ada di piring gurunya itu.


 


“Hei!”


 


Arjuna yang terkejut saat melihat sumpit Cilla sudah ada di atas piringnya. Reflek tangannya yang juga sedang memegang sumpit menahan sumpit Cilla.


Gadis itu hanya tertawa saat Arjuna memandangnya sambil mengernyit.


 


“Jangan pelit dong, Pak. Daging masih banyak, saya sukanya yang sudah agak dingin biar lidah nggak kebas,” Cilla menarik sumpitnya yang sudah menjepit beberapa poton daing dari piring Arjuna.


 


“Aku ambilkan Cilla,” Theo mengambil potongan daging dari panggangan dan hendak meletakannya di piring Cilla namun gadis itu menarik piringnya menjauh dan menggeleng.


 


“Hari ini Pak Arjuna adalah  teman kencan saya, Om Theo. Jadi sebagai pacar, sudah seharusnya memberikan sebagian miliknya untuk kekasihnya. Iya kan Pak Arjuna ?”


 


Cilla tertawa sambil menatap Arjuna yang langsung salah tingkah dan senyuman kikuk.  Arjuna melirik Theo yang sedang memandangnya dengan kedua alis menaut dan ekspresi penuh tanda tanya.Arjuna yakin kalau Theo sedang kesal saat ini.


 


Bagaimana mungkin Arjuna yang berjanji akan membantu mendekati Cilla dengan Theo sampai mereka jadian, malah sekarang mengajak Cilla pergi berdua dengan status sebagai teman kencan.


 


“Theo.. maksud Cilla…. “ Arjuna bingung memberikan penjelasan pada Theo.


 


“Hari ini Pak Arjuna minta saya untuk menemani cari kado, Om, dan sebagai imbalannya Pak Arjuna bersedia menjadi teman kencan saya khusus hari ini. Om. Biar hanya beberapa jam,  minimal saya bisa merasakan yang namanya pacaran, Om. Lagipula berasa nggak cuma di PHP sama Pak Arjuna atau dibuat baper doang,”  ujar Cilla panjang lebar menjelaskan pada Theo sambil tertawa.


 


Theo tambah mengerutkan dahinya menatap Arjuna yang semakin salah tingkah. Ingin rasanya ia membekap mulut Cilla supaya gadis itu berhenti mengoceh. Bahkan Cilla tidak sensitif membaca raut wajah Theo sudah terlihat kesal.


 


“Dasar anak bebek !” omel Arjuna dalam hatinya.


Mami Siska yang sejak tadi mendengarkan sekaligus memperhatikan interaksi ketiga anak muda di depannya, hanya senyum-senyum sendiri dan melihat semuanya bagaikan adegan drama cinta segitiga.


 


“Elo hutang penjelasan sama gue, Jun,” bisik Theo di telinga Arjuna  dengan nada tegas.


 


Arjuna yang sedang mengunyah daging langsung menelannya dengan susah payah, bahkan terasa masih tersangkut di tenggorokannya. Arjuna langsung mengambil gelas dan meneguknya cukup banyak.


 


Cilla menatap Arjuna sambil mengernyit. Ia bertanya-tanya dalam hati melihat sikap Arjuna yang terlihat salah tingkah. Ia pun mengisi kembali gelas Arjuna dengan air putih yang memang disediakan di setiap meja  dalam teko kaca.


 


“Bapak baik-baik saja ?” Cilla menyodorkan gelas Arjuna yang sudah terisi kembali.


 


Arjuna hanya mengangguk dan kembali menenggak air putih dalam gelas . Ia tidak memperhatikan Theo yang sedang tersenyum sambil memandang ke arah lain, begitu juga dengan mami Siska yang ikut tersenyum melihat situasi Arjuna.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2