MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2 Suami Siaga


__ADS_3

Saat Cilla menghubungi tadi, Arjuna sedang meeting di kantor bersama papa Arman. Melihat panggilan dari nomor tidak dikenal, Arjuna tidak berniat menanggapi sampai akhirnya pesan masuk dari Cilla.


Arjuna langsung ijin pada papa Arman dan keluar ruangan, menghubungi Cilla di nomor yang mengirimkan pesan.


Matanya mengernyit saat ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal lainnya. Sepertinya kiriman foto-foto.


Hati Arjuna langsung terbakar cemburu. Nomor tidak dikenal itu mengirimkan foto-foto Cilla dengan Hans di kampus, Keduanya tampak akrab bahkan saat makan di tangga, Arjuna bisa melihat tatapan Hans yang mendambakan istrinya. Belum lagi Hans juga menggandeng tangan Cilla di beberapa foto.


Tanpa menunggu lebih lama, Arjuna langsung menghubungi balik nomor yang digunakan Cilla.


“Mas Juna maaf Cilla ganggu. Cilla mau minta tolong Mas Juna. Penyerap asi Cilla bocor, cadangannya ada tapi nggak bawa kaos dan bra ganti. Sepertinya asinya perlu dipompa juga, Cilla lupa tadi pagi karena bangun kesiangan. Apa ada orang kantor yang bisa mengantar peralatannya ke kampus ?”


“Kamu dimana sekarang ? Ini handphone siapa ?”


“Cilla udah ijin mau ke toilet dan ini handphonenya Hans, senior yang pernah ketemu sama Mas Juna tahun lalu.”


“Mas Juna yang akan antar langsung ke sana,” sahut Arjuna dengan suara tegas, langsung menutup panggilan teleponnya.


Sampai di dalam, Arjuna langsung mendekati papa Arman dan minta ijin untuk meninggalkan ruang meeting untuk menemui Cilla.


Rapat dihentikan sejenak. Tidak perlu memberi alasan detil, papa Arman malah menyuruh Arjuna bergegas menemui Cilla ditemani Tino.


Papa Arman yakin kalau Cilla terpaksa menghubungi Arjuna karena penting sebab biasanya menantunya tidak pernah merepotkan.


“Cilla kenapa, Bro ?” tanya Tino saat melihat Arjuna terburu-buru berjalan menuju lift.


“Biasa masalah emak-emak.”


Jawaban Arjuna membuat Tino mengerutkan dahi, tidak paham maksud ucapan bossnya.


”Elo langsung ke bawah aja, minta sopir siap di lobby. Gue balik ke ruangan dulu, ada yang harus gue ambil.”


“Nggak suruh Dita aja bawain turun ?”


“Nggak bisa, barangnya ada di kamar pribadi gue.”


Tino hanya mengangguk dan membiarkan Arjuna masuk ke dalam lift duluan untuk kembali ke ruangannya.


Tidak lama Arjuna sudah sampai di lobby sambil membawa satu tas kecil.


“Apaan lagi itu, Jun ?”


“Pesanan Cilla,” sahut Arjuna singkat sementara tangannya kembali membuka handphonenya.


“Bisa minta tolong Evan atau siapapun di MegaCyber untuk mengecek nomor handphone ?” ujar Arjuna dengan tatapan fokus melihat foto-foto Cilla.


“Nomornya berapa ?”


Arjuna menyebutkan sejumlah angka yang muncul di handphonenya. Saat Arjuna mengirimkan pesan, nomor itu sudah tidak aktif lagi.


Arjuna tidak yakin kalau nomor itu hanya sementara, hanya saja sedang di non-aktifkan karena tahu kalau Arjuna akan menghubunginya untuk konfirmasi.


“Evan akan kasih kabar begitu sudah ada informasi,” ujar Tino setelah selesai berbincang dengan Evan.


“Memangnya nomor itu ngapain lagi ? Soal Cilla ?”


Arjuna langsung menyodorkan handphone miliknya pada Tino yang duduk di sebelahnya.


“Jangan emosi dulu, Bro. Terkadang foto tidak sesuai dengan kenyataan, bisa dimodif. Lagian ada Amanda juga di sana.”


“Gue hanya sedikit emosi sama Cilla, tapi triple emosi sama cowok ini. Sembarangan ! Memanfaatkan posisinya untuk mengambil kesempatan mengganggu istri orang,” gerutu Arjuna.


“Ini yang namanya Hans ? Yang elo cerita nggak percaya kalau elo itu suaminya Cilla ?”

__ADS_1


Arjuna hanya menggangguk sambil melengos.


“Terus kita ke kampus bukan karena mau melabrak cowok ini, kan ?”


”Nggak. Cilla lagi ada sedikit masalah, minta dibawain barang pribadinya.”


Mendengar kata pribadi, Tino hanya mengangguk-angguk dan tidak bertanya lebih jauh.


Mobil berhenti persis di depan pintu kampus. Untung saja Arjuna sudah menghubungi Sebastian, terpaksa menggunakan koneksi dengan pemilik perusahaan supaya bisa lebih cepat menemui Cilla.


Aturan kampus cukup ketat, selama masa ospek, tidak sembarangan orang boleh masuk area kampus tanpa ijin atau sepengetahuan pihak keamanan.


Semuanya demi keamanan bersama, terutama para mabar yang masih awam dengan daerah sekitar kampus.


“Pak Arjuna, ya ?” tanya petugas keamanan saat Arjuna dan Tino berjalan melewati gerbang.


“Iya, Pak. Saya Arjuna.”


“Pak Didik akan mengantar Bapak ke ruangan BAAK.”


“Terima kasih,” sahut Arjuna sambil menganggukan kepala.


Beberapa senior langsung teralihkan begitu melihat 2 pria tampan memakai jas melintas. Untuk sampai ke tempat Cilla, mereka memang harus melewati area para mabar menjalani ospek.


Amanda menarik nafas lega saat melihat kakaknya datang bersama Tino, itu berarti Cilla sudah berhasil menghubungi suaminya.


Arjuna memicing saat melihat seorang pria berdiri di dekat toilet yang menjadi tujuannya. Pria itu terlihat gelisah, mondar mandir di depan pintu toilet. Meskipun terlihat dari jauh, Arjuna yakin kalau cowok itu adalah Hans.


Arjuna mempercepat langkahnya, melewati Pak Didik, petugas keamanan yang mengantar mereka.


“Bapak itu mau menemui istrinya,” ujar Tino menjawab wajah bingung Pak Didik.


Tepat begitu sampai di dekat pintu toilet, Hans sudah bergerak ingin masuk ke dalam menyusul Cilla yang masih belum keluar setelah 20 menit berlalu.


“Mau nyamperin Cilla, udah terlalu lama dia di dalam.”


“Terima kasih sudah membantu istri saya, tapi tidak perlu kamu bertindak sampai masuk ke dalam toilet wanita. Saya akan mengurus istri saya, silakan kamu kembali menjalankan tugasmu.”


“Tapi Cilla…”


“Saya suaminya, sudah jadi tanggungjawab saya mengurus istri,” potong Arjuna, enggan mendengar ucapan Hans.


“Tolong tinggalkan kami,” Arjuna menatap Hans lalu memberi isyarat pada Tino supaya membawa cowok ini pergi menjauh.


Beres dengan urusan Hans, Arjuna langsung mendekati pintu bilik yang tertutup.


“Cilla, ini Mas Juna.”


Kunci pintu perlahan terbuka dan terlihat wajah Cilla langsung cerah begitu melihat wajah Arjuna.


“Maaf Cilla jadi merepotkan gara-gara bangun kesiangan,” lirih Cilla dengan wajah tertunduk.


Arjuna ingin marah saat melihat istrinya memakai jaket almamater yang ia yakin milik cowok kepo itu.


“Lepas jaketnya, pakai punya Mas Juna aja.”


Cilla mengangguk dan langsung melepaskan jaket milik Hans. Di saat itulah Arjuna melihat kalau kaos Cilla sudah sedikit kering namun ada noda yang tersisa di bagian dadanya, hingga akhirnya Arjuna urung memarahi Cilla yang mau saja dipinjamkan jaket cowok lain.


“Pompanya dibawa ?” Cilla melirik tas yang ada di meja wastafel.


“Bawa, tapi kita akan pinjam ruangan Bastian, tadi Mas Juna sudah menghubunginya. Nanti Mas Juna mintain kunci ruangannya.”


Cilla menurut dan membiarkan Arjuna memakaikan jas nya pada Cilla.

__ADS_1


Sampai di luar toilet, Arjuna langsung melempar jaket milik Hans ke arah Tino.


“Urusin masalah laundrynya dan suruh orang mengembalikannya pada cowok tadi,” ujar Arjuna pada Tino yang langsung mengangguk.


Arjuna merangkul bahu Cilla sementara tangan lainnya membawa tas yang diminta Cilla.


Belum sampai ruang biro administrasi, seorang pria seumuran dengannya terlihat keluar dari ruangan itu dan langsung menghampiri mereka.


“Perkenalkan saya Juned, asisten Pak Bastian di sini,” pria itu mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Arjuna.


“Maaf merepotkan Mas Juned. Saya Arjuna dan ini istri saya Priscilla, calon mahasiswa di sini.”


Cilla pun ikut menyalami pria bernama Juned itu sambil tersenyum.


“Tidak merepotkan, Pak. Sudah tugas saya membantu Pak Sebastian. Silakan, ruangannya ada di lantai 2, sudah disiapkan.”


”Gue perlu ikut, Jun ?” tanya Tino sebelum Arjuna membawa Cilla naik.


“Nggak usah, cuci mata aja lihat mahasiswi baru, siapa tahu ada yang bisa bikin elo pengen cepat-cepat kawin.”


“Jadi saingan elo, dong,” sahut Tino sambil tertawa.


“Elo kan memang copycat gue,” cibir Arjuna. “Tolong bantu urusin tuh si cowok kepo sok kecakepan. Kalau perlu kasih lihat surat nikah gue sama Cilla.”


“Beres Boss,” Tino mengedipkan sebelah matanya.


Sampai di ruangan Sebastian, Juned langsung balik lagi sementara Arjuna membawa Cilla masuk ke dalam.


“Jangan dibuka dulu jasnya,” perintah Arjuna. Ia memberi isyarat supaya Cilla duduk di sofa dan Arjuna berkeliling memeriksa.


“Mas Juna ngapain sih ?”


“Memastikan kalau ruangan ini bebas CCTV. Mas Juna nggak rela berbagi pemandangan sama orang lain sekalipun Sebastian,” gerutu Arjuna.


“Cilla juga nggak mau,” sahut Cilla sambil terkekeh.


Arjuna mengambil handphonenya yang berbunyi. Nama Sebastian langsung muncul di layar.


“Nggak usah khawatir, Bro, ruangan itu bebas dari CCTV soalnya suka dipakai sama Kirana untuk istirahat dan menyusui si kembar,” ujar Sebastian begitu teleponnya diangkat Arjuna.


Sebelumnya Arjuna mengirimkan pesan pada Sebastian, memastikan situasi dan kondisi ruangan yang dipinjamnya. Ternyata pemilik kampus itu langsung menghubungi Arjuna.


“Memastikan aja, jangan sampai ada orang ketiga yang memanfaatkan situasi.”


“Ngerti, Beo. Gue juga udah bicara juga sama Pak Bernard, beliau itu dekan di fakuktas ekonomi, jaga-jaga kalau Cilla nggak bisa lanjut ikut ospek hari ini.”


“Thankyou Bro.”


Setelah berbasa-basi sebentar, sambungan telepon keduanya pun terputus.


“Aman ?” tanya Cilla sambil melepaskan jas milik Arjuna. “Pintu sudah dikunci ?”


“Aman semua. Mau Mas Juna bantu ?” pria itu mendekati istrinya dengan tatapan menggoda.


“Janjinya selesai ospek,” gerutu Cilla sambil mengerucutkan bibinya.


Arjuna tertawa dan mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas.


Cilla masih cemberut namun hatinya lega karena sudah ada Arjuna bersamanya.


Arjuna kembali mengambil handphonenya yang berbunyi. Satu notifikasi pesan masuk dari Tino. Arjuna langsung menghela nafas karena kesal.


Evan sudah berhasil melacak nomor handphone yang mengirimkan foto ke handphone Arjuna. Sepertinya masalah rumah tangganya selalu terganggu oleh pihak ketiga.

__ADS_1


__ADS_2