
Cilla bergegas turun begitu lift sampai di lantai dasar sampai beberapa karyawan yang ada di dalam bersamanya mengomel karena gerakan Cilla membuat mereka harus menepi dengan paksa.
“Balik sekarang Jo,” Cilla memberi isyarat pada Jovan untuk segera bangun.
Melihat wajah sahabatnya sedikit pucat dan keringat membasahi kening Cilla, Jovan tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres terjadi di atas. Apalagi belum ada 20 menit Jovan menunggu di lobby.
Jovan mengikuti langkah Cilla yang melakukan gerakan zigzag demi melewati orang-orang yang cukup ramai di lobby. Dan keduanya berhenti saat persis di depan pintu karena papa Arman terlihat baru datang dan posisi mereka persis berhadapan.
Tidak sempat lagi menghindar, calon mertuanya mengernyit saat menatap Cilla.
“Tumben kamu di sini ?” Tanya Papa Arman dengan senyuman. Matanya melirik ke arah Jovan yang ada di belakang Cilla.
“Siang, Om,” sapa Jovan sambil menganggukan kepala dan dibalas dengan anggukan kepala papa Arman.
“Sudah ketemu dengan Arjuna ?”
“Sudah, Pa. Mas Juna mau lanjut rapat, jadi Cilla balik dulu. Tadi ada sedikit perlu soal sekolah.”
Papa Arman mengacak poni Cilla yang terlihat menggemaskan dengan celana olahraga dan rok SMA-nya.
“Nggak nunggu aja ? Meetingnya sama papa dan nggak akan lama.”
“Nggak usah, Pa. Kita berdua harus ke tempar lain lagi. Lain kali Cilla datang kemari lagi.”
“Papa tunggu, ya !” Cilla mengangguk dan mencium pipi papa mertuanya.
Kedua satpam yang tadi sempat mencegah Cilla masuk membelalakan matanya melihat kejadian itu, membuat mereka semakin yakin kalau Cilla bukanlah sekedar anak SMA biasa.
“Titip salam untuk mama dan Manda, Pa.”
Cilla melambaikan tangannya sementara Jovan kembali menganggukan kepalanya. Cilla mempercepat langkahnya menuju parkiran dan menarik lengan kemeja Jovan supaya lebih cepat.
**
**
Sementara di atas, Tino langsung memaki Yolanda, sekretaris Divisi Marketing yang baru saja diperbantukan sementara selama Arjuna membantu papa Arman. Rencana awal memang hanya 2 minggu, selama Arjuna libur mengajar, tapi dengan adanya rencana baru dari papi Rudi maka tugas Arjuna diperpanjang juga namun tidak bisa full time karena masih ada tanggungjawab pekerjaan sebagai guru.
Puas memaki Yolanda, Tino bergegas hendak ke bawah, ingin menyusul Arjuna yang mungkin sedang mencegah kepergian Cilla.
Sampai di depan pintu lift, samar-samar Tino mendengar ada gedoran di balik pintu darurat. Tino langsung berusaha membuka namun ternyata terkunci dari dalam.
Terlihat Arjuna sudah dibanjiri peluh. Kemejanya basah di bagian atas dan keringat bercucuran di sekitar kening dan pipinya. Bahkan dasi Arjuna sudah terlepas.
“Jadi bukannya nyusul calon istri, malah elo dikurung sama Cilla di situ,” Tino mengejek sambil menunjuk pintu darurat dengan dagunya
“Tadi gue dengar pintu ini baru ketutup, jadi gue pikir Cilla turun lewat sini, ternyata gue kena tipu,” keluh Arjuna sambil mengelap peluhnya dengan saputangan.
“Jangan bilang elo senang dicium sama tuh cewek ?” Mata Tino memicing dengan kedua tangan melipat di depan dada.
“Demi Tuhan Tino,” Arjuna mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V. “Gue sendiri kaget pas Yola narik dasi gue dan langsung nyosor.”
“Terus kenapa diam aja dan nggak langsung didorong menjauh. Kalau gue nggak teriak, mungkin elo tetap diam aja sampai tuh cewek ******* bibir elo.”
Arjuna menghela nafas dan menjambak rambutnya sendiri. Bergegas dia memencet tombol lift.
__ADS_1
“Elo mau kemana ?” Tino bertanya masih dengan nada ketus.
“Mau cari Cilla,” sahut Arjuna dengan wajah linglung.
“Cilla udah pergi sama teman cowoknya yang tadi nganter dia kemari,” sahut Tino.
“Jadi Cilla kemari dianterin sama cowok ?” wajah Arjuna berubah kesal membuat Tino geleng-geleng kepala.
“Bukan saat yang tepat untuk bersikap posesif. Apa yang Cilla lihat tadi lebih menyakitkan daripada masalah dia diantar kemari sama teman cowoknya.”
“Jovan ?” tanya Arjuna dengan wajah cemburu yang masih terlihat jelas.
Tino mengangkat kedua bahunya, sengaja tidak mau menjawab pertanyaan Arjuna.
“Yang pasti nggak kalah ganteng sama elo dan kelihatan tajir juga.”
”S**it” Arjuna meninju kepalan tangannya ke udara.
”Arrggghhh !” Arjuna kembali menjambak ramburnya dan terus memaki.
Tidak lama pintu lift terbuka dan papa Arman bersama om Imam, asistennya, tampak bingung menatap Arjuna yang sempat terdengar sedang memaki.
”Ada masalah apa, Jun ?” Papa Arman masih mengerutkan dahinya saat berdiri dekat Arjuna.
”Biasa ada sedikit masalah di pabrik, Pa,” sahut Arjuna dengan sedikit terbata karena berbohong.
“Jangan terlalu jadi beban, semua masalah pasti ada jalan keluarnya,” papa Arman menepuk-nepuk bahu putranya dan percaya dengan ucapannya.
Dari lift yang lainnya, beberapa peserta rapat dri kepala divisi, manajer operasional dan perwakilan staf pabrik sampai juga di lantai 10.
Meeting pun berlangsung tanpa Yola yang dilarang Tino ikut hadir. Bukan itu saja, Tino langsung menghubungi HRD dan meminta sipaya Yola ditarik kembali ke posisinya semula.
Usut punya usut ternyata Yolanda adalah adik kelas Arjuna di SMA dan merupakan salah satu penggemar Arjuna yang ditolak karena kehidupannya bertolak belakang dengan prinsip Arjuna.
Diterima bekerja di Indopangan atas referensi mama Diva yang merupakan teman arisan mama Yolanda.
Sepanjang rapat Arjuna terlihat tidak tenang. Tangannya gatal ingin menghubungi Cilla. Papa Arman menghela nafas dan tersenyum tipis melihat tingkah putranya yang tidak fokus dengan pembahasan rapat siang ini.
Rapat pun ditutup tepat jam 12.30. Papa Arman sengaja masih duduk di meja rapat, menunggu Arjuna yang sudah pasti akan bicara dengannya.
“Pa,” Arjuna duduk di sebelah papanya. “Apa Juna bisa kembali mengajar dulu di minggu depan, soalnya ada persiapan pelaksanaan tryout dan bimbingan tes SNMPTN.”
“Kenapa harus tunggu minggu depan ? Besok kamu juga boleh balik ke sekolah. Untuk sementara papa bisa mengatasinya sama om Imam dan Tino. Kasihan tuh calon istri kamu sampai datang kemari,” ledek papa Arman sambil tertawa.
Arjuna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tertawa kikuk. Tino mencibir sambil menoleh ke arah lain.
Untung saja papa Arman belum tahu masalah baru yang muncul saat kedatangan Cilla barusan. Tino yakin kalau big boss nya itu akan langsung ngamuk saat mendengar kelakuan anaknya.
“Terima kasih, Pa. Juna balik ke ruangan dulu.”
Arjuna beranjak bangun dan membungkukan badannya lalu meninggalkan ruang rapat diikuti oleh Tino.
Sampai di luar tangannya langsung menekan nomor Cilla. Dahinya berkerut saat menunggu panggilannya tidak diangkat.
Arjuna menjauhkan handphone dari telinganya dan melihat status panggilannya calling bukan ringing.
__ADS_1
Arjuna langsung masuk ke aplikasi pesan dan matanya menyipit saat melihat tulisan kalau nomor Cilla diblokir olehnya.
“No,” panggil Arjuna pada asisten yang berjalan di belakangnya. Tino maju dan berjalan di sisi Arjuna.
“Kenapa lagi ? Dapat kiriman foto kalau Cilla lagi sama teman cowoknya ?” sinis Tino dengan wajah kesal.
“Perasaan gue nggak pencet apa-apa di story pesannya Cilla. Kenapa ini statusnya malah gue blokir nomor Cilla ?”
Tino menatap layar handphone yang diulurkan Arjuna ke depannya. Matanya mengernyit, memastikan tulisan yang terlihat di layar.
“Sempat ada kiriman pesan yang dihapus jam 8.30 di pagi kemarin.”
“Itu kan pas kita meeting di cafe,” dahi Arjuna berkerut.
“Jadi ketahuan kalau dari kemarin elo nggak kirim kabar apapun ke calon istri elo ? Bahkan kasih tahu kalau jadwal elo padat seharian ketemu sama papinya Cilla ? Dan yakin bukan elo yang memblokir nomor Cilla ?”
“Udah pasti nggak,” Arjuna menggeleng. “Gue belum segila itu.”
“Kalau begitu udah fixed cewek gatel yang blokir nomor Cilla dan dia juga yang menghapus pesan dari Cilla.”
“S**lan ! Bisa-bisanya tuh cewek ngelakuin begini sama gue,” omel Arjuna.
“Bukan cuma salah dia, Jun, tapi elo adalah calonsuami paling bo**oh yang gue kenal. Dapat calon istri masih muda yang cinta mati sama elo plus mertua yang sudah mempercayakan hartanya sama elo, tapi malah elo perlakukan mereka kayak penting nggak penting. Apa susahnya elo sisihin waktu dua tiga menit untuk kirim pesan sama calon istri elo itu ? Kebiasaan yang udah harus elo mulai dari sekarang. Apa elo mau mengulang kejadian Luna lagi ?”
“Gue lagi kurang fokus hampir sebulan ini, No.”
“Bukan alasan untuk melakukan kebiasaan baik, Jun. Dia itu calon istri elo biar kata masih anak-anak. Wajar kalau dia mau tahu kabar dari elo setiap hari bahkan sehari tiga kali pun penting buat dia. Semua orang yang punya pasangan normal pasti punya keinginan kayak begitu, Jun. Elo itu cowok nggak normal, pas jadian sama Luna aja nggak masalah kalau tuh cewek hanya hubungin elo pas butuh uang, selebihnya elo nggak terlalu pusing. Ingat Jun, yang namanya penyesalan selalu ada di akhir. Yang jadi masalah penyesalan itu harus elo bawa seumur hidup atau masih bisa diperbaiki.”
Arjuna menghela nafas, merutuki kebodohannya. Ia kembali mengulangi kesalahan yang sama. Kejadian Cilla yang sempat uring-uringan karena pesannya tidak dibalas oleh Arjuna sekarang terulang lagi. Padahal Arjuna sudah janji akan memperbaiki kebiasaan buruknya.
“Terus kira-kira tadi Cilla ngapain sampai nekat kemari ?”
Tino menepuk jidatnya sambil menarik nafas panjang.
“Ampun gue Jun ! Elo benar-benar be**o, to**ol dan ngeselin. Masih nanya juga ! Kalau dua hari Cilla nggak bisa dihubungi dan akhirnya elo nemuin kalau nomor elo diblokir sama dia, kira-kira apa yang akan elo lakuin ? Tetap nunggu sampai blokiranya dibuka dan coba-coba terus nelpon elo sampai akhirnya tersambung ? Udah pasti lah elo bakal samperin langsung dan nanya kenapa nomor elo diblokir. Bukan sama teman, sahabat apalagi debt collector, tapi diblokir sama calon suami yang sebulan lagi bakalan menikah sama dia.”
Arjuna menghela nafas dan melirik ke arah meja Yolanda yang kosong.
“Jangan coba-coba kepikiran untuk mempertahankan tuh cewek se**an jadi sekretaris di sini. Besok bakal gue laporin sama om Arman biar tuh cewek dipecat, soalnya cuma bokap elo yang bisa ngelakuin itu. Tuh se**an masuk atas referensi nyokap elo.”
“Nggak… mana mungkin juga gue ngarep Yola tetap di sini,” tegas Arjuna. “Cewek sewaan bukan selera gue juga.”
“Nah akhirnya sedikit normal lo. Tuhan udah baik kasih elo jodoh gadis belia yang imut meski kalah cantik sama Luna Maya, tapi bisa bikin elo ketawa dan bahagia. Gue aja yang baru lihat sekali pas di bioskop ikut senang melihat elo akhirnya jadi manusia yang lebih manusiawi dibandingkan pas jalan sama Luna. Ternyata elo nggak menghargai pemberian Tuhan. Awas Tuhan marah dan pemberiannya dibatalin, dioper ke orang lain. Gue aja nggak nolak kok kalau dikasih tuh bocil.”
“Eh coba aja kalau berani langkahi dulu gue. Belum selesai elo ngelangkah udah gue tendang ke negeri antah berantah !” omel Arjuna dengan mata melotot.
“Jangan takabur, Jun ! Elo kan belum tahu usaha elo akan berakhir dimana. Lanjut ke pernikahan atau malah dibatalin sama Cilla dan papinya.”
“Elo nyumpahin gue ?” Arjuna tambah melotot menatap Tino.
“Bukan nyumpahin tapi membuat elo selalu sadar dan mawas diri. Kadang sesuatu yang kita anggap sudah pasti bisa berubah jadi yang tidak kita harapkan. Bukan karena kesalahan orang lain, tapi karena kita sendirilah yang sudah menyia-nyiakan kesempatan.”
Arjuna menghela nafas panjang dan kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celana panjangnya. Ia berdiri menatap keluar jendela, seolah bisa menemukan keberadaan Cilla yang entah ada dimana.
Ketiga sahabatnya, Jovan, Febi dan Lili mengaku tidak tahu menahu keberadaan Cilla saat Arjuna mengirimkan pesan kepada mereka.
__ADS_1
Mau menanyakan pada Theo, sudah pasti bukan jawaban yang didapat tapi omelan panjang lebar dari Sabang sampai Merauke.
“Cilla, kamu dimana ?” keluh Arjuna dalam hatinya.