
Siang itu rumah Bik Mina dan Pak Trimo menjadi lebih ramai. Mbak Rukmini yang biasa tinggal di situ, menemani Pak Trimo saat Bik Mina bekerja di Jakarta, sedang mengunjungi mertuanya di Lampung sekalian mengajak liburan kedua anak mereka yang masih SD.
Mbak Ratih dan Mas Tomo, anak kedua dan ketiga, sudah berumah tangga dan tinggal terpisah.
Sementara anak bungsu yang bernama Mas Trisno, belum berkeluarga. Mas Trisno tinggal di Jakarta sejak masuk SMA atas permintaan Pak Darmawan. Dibiayai sekolah sampai lulus D3 dan sekarang Mas Trisno bekerja sebagai kepala gudang sekaligus orang kepercayaan di salah satu perusahaan Pak Darmawan.
“Maaf kalau makanannya rasa ndeso ya, den bagus,” ujar Pak Trimo saat mereka mulai makan ala lesehan di teras belakang.
“Nggak apa-apa, Pak. Penampilan boleh anak kota, mulut masih cinta rasa Indonesia,” sahut Erwin.
“Duuh si Om satu ini memang terbukti kaya kosa kata,” ledek Cilla sambil tertawa.
“Maklum Cil, kebanyakan baca primbon,” timpal Luki.
“Ngomong-ngomong Pak Trimo, jangan panggil mereka den bagus, terlalu keren. Mereka itu penampilannya aja pemuda kota, Pak, tapi kelakuannya lebih dari wong deso,” ledek Cilla.
“Jadi bapak panggilnya apa ?” Pak Trimo mengernyit.
“Panggil mas aja, Pak. Mas Theo, Mas Boni, Mas Erwin, Mas Luki dan yang itu…” Cilla tidak melanjutkan kalimatnya.
“Kok nggak diterusin Cil,” ledek Luki.
“Nggak mau Om, nanti ini lidah keterusan sampai di sekolah. Kan nggak sopan dan dikira ada apa-apa lagi sama Pak Arjuna.”
“Tapi Juna dengan senang hati loh dipanggil Mas Juna,” Erwin yang duduk di sebelah kanan Arjuna menyenggol bahu sahabatnya.
“Jangan mulai deh,” sungut Arjuna.
“Loh tadi Noni bilang kalau Mas Juna ini mau dijadikan calon suami kalau nggak penyok. Bapak udah ngalah biar Mas Juna tetap mulus, sekarang kok malah mundur ?”
Entah Pak Trimo serius dengan ucapannya atau menggoda Cilla dan Arjuna, yang pasti semua yang ada di situ jadi tertawa.
“Lagi makan jangan diganggu toh, Pak. Kasihan nanti keselek calon mantennya.” Bik Mina yang awalnya dianggap mau membela Arjuna, ternyata ikutan menggodanya.
Wajah Arjuna sudah memerah, bukan karena malu-malu meong dan bahagia, tapi karena hatinya dongkol bukan main. Kenapa nasibnya jadi terus dijodohkan sama Cilla ? Hatinya udah kepentok sama Luna, meski cewek itu menghilang gara-gara gagal menjebol kartu kredit Arjuna.
Cilla sendiri sedari tadi memilih diam dan melirik-lirik Arjuna. Mulutnya hampir memuntahkan kalimat nyeleneh menanggapi ucapan Pak Trimo dan Bik Mina. Cuma takut Arjuna membalasnya dengan kata-kata yang menyakitkan lagi.
“Pak Trimo, guru noni jangan digodain terus dong,”
Cilla tersenyum manis. “Sekarang Pak Arjuna terima-terima aja, kalau nanti di sekolah nilai noni dibuat merah, papi bisa marah-marah.” Suara Cilla yang sengaja dibuat kalem dan sopan malah memancing mereka tambah tertawa.
Namun yang tidak terduga, Arjuna malah terbahak sendirian dan otomatis membuat semua melongo menatap ke arahnya.
“Noni ? Duh geli banget dengernya.” Arjuna masih terbahak. “Noni itu kan panggilan buat anak perempuan yang manis dan sopan, bukan model anak cewek yang ini, Pak.”
Pak Trimo mengernyit sedangkan Cilla langsung melotot sambil bertolak pinggang.
“Memangnya saya nggak pantas dipanggil noni ? Suka-suka orang mau panggil saya apa. Daripada Bapak, nama keren Arjuna, kelakuan kayak Korawa, mulut pedes melebihi cabe rawit sekilo.”
“Eh mata kamu lamur ya ? Cuma kamu yang melihat saya nggak keren, malah dianggap Korawa. Dan mulut saya ini pedes cuma sama cewek sok imut yang aslinya…” ucapan Arjuna terpotong karena Boni yang duduk di sebelah kiri Arjuna, langsung memasukan sepotong tahu bacem ke dalam mulut Arjuna.
Hampir saja Arjuna tersedak. Tangannya langsung mengeluarkan tahu di mulutnya dan matanya jangan dilihat, langsung melotot selebar-lebarnya karena kesal.
Pak Trimo dan Bik Mina sengaja menjadi pengamat saja, dan keempat sahabat Arjuna hanya geleng-geleng kepala lalu lanjut menikmati makan siang yang disajikan. Mereka sudah biasa dengan perdebatan Tom dan Jerry ini.
__ADS_1
Cilla yang sudah tahu kemana arah ucapan Arjuna akhirnya memilih diam dan duduk manis di sebelah Bik Mina dan Theo.
Erwin sengaja mengalihkan pembicaraan menanyakan tentang keluarga Pak Trimo dan Bik Mina, ditimpali oleh yang lainnya termasuk Theo.
Cerita mengalir dari mulut kedua suami istri itu sampai akhirnya para tamu kekenyangan.
“Masih ada duren loh, Om. Tuh,” Cilla menunjuk ke arah halaman belakang. Terlihat ada lebih dari 10 buah duren di sana.
“Pantas aja dari tadi wanginya menggoda selera,” celetuk Luki.
“Masih kuat kan ?” Tanya Cilla.
Keempat pria itu saling menatap dan mengangguk.
Cilla bangun dan mulai membantu membereskan bekas makan siang dan membawanya ke dapur. Ternyata Theo juga ikut membantunya dan membawa sisa-sisa makanan ke meja makan yang letaknya dekat dapur.
“Om Theo langsung makan duren aja. Biar Cilla sama Bik Mina yang beres-beres.”
“Nggak apa-apa, Cil. Sekalian gerak sedikit biar makanannya turun dulu, baru masuk duren lagi.”
Cilla tertawa dan menganggukan kepalanya.
“Pintar banget deh, Om Theo.”
Bik Mina melarang Cilla yang ingin membantu cuci piring dan perabotan. Gadis itu disuruh menemani tamunya menikmati duren.
“Bik, kan durennya banyak, noni pasti kebagian.”
“Sudah sana, kamu itu kan seperti tuan rumah di sini. Tugasnya tuan rumah menemani tamu, bukannya sibuk di dapur.”
Tikar yang dipakai untuk makan siang tadi sudah tergulung rapi lagi. Pak Trimo membantu kelima pria itu membelah duren.
Cilla sengaja tidak langsung mendekat. Pandangannya tertuju pada Arjuna yang asyik sendirian menikmati duren yang ranum di depannya. Cilla senyum-senyum sendiri. Senang melihat wajah Arjuna yang begitu menikmati durennya. Ternyata apa yang dikatakan para sahabatnya memang benar kalau Arjuna itu penggemar duren sejati.
“Cilla !” Boni yang melihatnya berdiri jauh-jauh dari mereka memanggilnya.
Arjuna menoleh dan jadi sedikit salah tingkah. Ia punya firasat kalau Cilla sudah lama berdiri di tempatnya.
Cilla mendekat tapi bukan ke tempat duduk Arjuna yang sekarang sudah ditemani Luki dan Theo
“Kamu nggak makan duren, Cil ?” Tanya Theo.
“Iya ini mau, Om,” Cilla tersenyum dan mendekati Pak Trimo, Boni dan Erwin yang asyik membuka duren.
“Pak Trimo jago banget nih belah durennya, Cil,” ujar Boni bersemangat. “Aku aja coba dari tadi nggak bisa seperti Pak Trimo.”
“Kalah pengalaman, Om. Umur aja beda jauh. Om.”
“Memangnya Pak Trimo umur berapa ?” Tanya Erwin yang sedang bergaya membuka duren yang masih utuh.
“Bapak sudah 67, kalau Ibu masih 55.”
“Wah beda umurnya jauh banget, Pak ?”
“Bapak keeenakan kerja di Jakarta, sampai lupa kawin. Pulang ke kampung dijodohkan sama gadis berusia 16 tahun. Mulanya terasa aneh, soalnya Mina lebih muda dari adik bapak sendiri.”
__ADS_1
“Bukan daun muda lagi dong, Pak,” Erwin kembali berkomentar.
“Ya seumur noni ini sudah dinikahkan.” Pak Trimo tertawa. “Tapi saya sengaja belum langsung mau punya anak, kasihan lihat istri masih muda begitu. Dua tahun setelah menikah, kami baru punya anak.”
“Tuh Cil, Bik Mina aja sudah berstatus istri orang di umur 16 tahun,” ledek Boni.
“IIiih Cilla mah ogah, Om. Lagian itu kan jaman dulu, pemilkiran orang di desa masih seperti itu. Sekarang saya yakin kalau orangtua tidak akan menyuruh anaknya kawin cepat-cepat.”
“Iya benar, Non. Pikiran orang desa sekarang sudah berubah, lebih maju. Anak-anak disuruh sekolah tinggi bukannya menikah buru-buru” sahut Pak Trimo.
Sudah 4 duren yang dibelah lagi, 3 hasil kerja Pak Trimo, 1 hasil kerjasama Boni dan Erwin. Semuanya langsung dibawa ke meja.
Boni dan Erwin melongo saat melihat plastik berisi biji durian di depan Arjuna sudah penuh dan kulit dua duren sudah disingkirkan dekat meja Arjuna.
Theo dan Luki yang masih menikmati duren memberi isyarat kalau dua buah duren yang sudah bersih adalah milik Arjuna.
Cilla hanya tersenyum tipis dan sudah tahu kalau Arjuna cukup banyak menghabiskan duren.
Boni sudah mau protes saat tangan Arjuna kembali terjulur ke arah duren yang baru dibawa ke meja, namun Cilla memberi kode dengan gelengan kepala.
“Enak Jun ?” Akhirnya malah pertanyaan itu yang keluar dari mulut Boni.
“Yang dua tadi enak banget, pas matangnya. Yang ini kurang manis,” Arjuna mengangkat duren yang baru saja diambilnya.
Cilla sendiri makan dari duren yang lain, tidak sama dengan yang dinikmati Arjuna dan Boni. Rasanya sama seperti yang dikatakan Arjuna, hanya manis jambu.
Tangan Arjuna meraih dari duren yang berbeda lagi dengan Cilla. Wajahnya langsung berbinar.
“Yang ini enak, Cil. Nih kamu cobain deh,” Arjuna menyodorkan duren yang sempat dicobanya ke mulut Cilla tanpa diminta
Bagai simalakama, Cilla bingung harus bagaimana. Kalau ditolak, bisa-bisa emosi Arjuna langsung naik ke level 20, kalau diterima malu juga karena posisinya disuapi oleh pria yang menganggapnya musuh.
Akhirnya Cilla membuka mulutnya dan menggigit sedikit bagian ujungnya.
“Gimana, enak kan, Cil ?” Cilla mengangguk.
“Ini makan lagi, masuk langsung semuanya muat kan ?” Arjuna kembali menyodorkan duren yang ada di tangannya
Cilla membuka mulutnya kembali dan menerima satu biji duren yang memang tidak terlalu besar ukurannya.
Keempat sahabatnya melongo melihat kelakuan Arjuna yang tiba-tiba baik pada Cilla bahkan sampai menyuapinya. Pak Trimo yang berdiri di tiang kayu senyum-senyum melihatnya.
“Jun,” Luki tidak tahan lagi untuk bicara. “Kok elo kasih Cilla duren yang tadi sempat elo makan ?”
Arjuna terbelalak. Dia tidak sadar kalau sudah berbagi makanan dengan Cilla. Entah dorongan apa yang membuatnya ingin memberikan duren yang terenak untuk gadis itu.
Wajah Arjuna terasa panas bukan karena kebanyakan makan duren. Tapi malunya itu. Apalagi saat melirik, semua pandangan sahabatnya terfokus padanya. Belum lagi mulut mereka yang menganga karena tercengang.
“Enak kok, Pak,” ucapan Cilla terasa ambigu di telinga Arjuna yang menahan malu.
“Apanya ?” Pertanyaan bodoh justru yang keluar dari mulut Arjuna. Cilla jadi ikutan melongo karena bingung harus menjawab apa. Enak beneran durenny atau karena ada bekas gigtan Arjuna.
Arjuna merutuki dirinya dalam hati. Sepertinya dia mulai mabuk duren akibat lupa diri keasyikan makan duren yang manisnya pas sesuai selera.
Tidak ada yang terpikir untuk tertawa, karena mereka masih terpesona dengan perlakuan Arjuna pada Cilla.
__ADS_1
Duren oh duren… Bikin Arjuna jadi ngawur karena mabuk duren 😀😀