MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Bukan Akhir Segalanya


__ADS_3

Papi masih belum menunjukkan tanda-tanda membaik, bahkan beberapa kali panggilan darurat karena kondisi papi mendadak drop.


Bukan hanya keluarga Arjuna dan Cilla yang datang memberikan dukungan terutama untuk Cilla, para sahabat Cilla dan Arjuna pun datang meski tidak bisa membesuk papi secara langsung. Ada Tino, Luki, Erwin, Boni dan Mimi yang datang selain ketiga sahabat Cilla. Dono tidak bisa ikut datang karena anaknya sedang demam sehabis vaksin.


Sekitar jam 5 sore perawat yang berjaga di dalam ruang ICU meminta Cilla dan Arjuna untuk masuk dan menemui papi.


“Papi, ini Cilla sama Mas Juna,” Cilla berbisik sambil duduk di sisi ranjang papi berdua dengan Arjuna.


“Cilla sayang banget sama papi, pengennya papi sembuh supaya bisa mendampingi Cilla saat diwisuda nanti, bisa ikut gendong dan bermain dengan anak-anak Cilla dan Mas Juna,” suara Cilla makin tercekat karena air matanya mulai mengalir dan mulai terisak.


Arjuna merangkul bahu Cilla, memberikan kekuatan untuk istrinya.


“Tapi Cilla juga tahu kalau papi sangat mencintai mami dan selalu kangen pengen sama-sama mami lagi selama hampir tigabelas tahun ini. Cilla akan bahagia kalau papi juga bahagia. Nggak usah khawatir sama Cilla karena sekarang sudah ada Mas Juna, ada papa dan mama, bahkan Cilla dikasih juga adik seperti Amanda. Belum lagi ada tante Siska, om Rio dan kak Theo. Cilla udah nggak takut sendirian lagi, Papi.”


Cilla makin terisak membuat Arjuna yang ikut merasakan kesedihan istrinya merasa matanya juga berkaca-kaca.


“Papi nggak usah khawatir soal Cilla. Juna pasti akan mencintai dan menjaga Cilla karena Cilla bukan hanya sekedar istri Juna, tapi separuh hidup Juna. Selama Tuhan masih memberikan kehidupan, selama itu juga Juna akan mencintai dan menjaga Cilla dengan semua yang Juna miliki,” Arjuna ikut berbicara sementara Cilla makin terisak. Buliran air mata pun mulai menetes di kedua pipi Arjuna.


“Cilla dan Mas Juna minta maaf kalau ada kesalahan yang pernah menyakitkan papi. Kami ikhlas kalau papi mau bertemu dan bersatu lagi dengan mami.”


Cilla menggenggam jemari papi yang tidak lagi dingin seperti kemarin sore. Perlahan isak tangisnya mulai mereda dan segala doa diucapkan hanya dalam hati Cilla.


Arjuna mengambil tisu yang ada di dekat situ dan mengusap buliran air mata yang keluar dari dua sudut mata papi.


Cilla mengerjap, berusaha menahan rasa sedih yang terus menjalar di hatinya.


Suara detak jantung papi mulai tidak beraturan lagi hingga perawat meminta Arjuna dan Cilla untuk keluar sementara mereka akan memeriksa kondisi papi.


Cilla masih berdiri di depan pintu ruang ICU. Papa dan mama baru saja keluar dari ruangan yang digunakan oleh Cilla dan Arjuna untuk tidur semalam.


“Yang kuat sayang,” mama Diva langsung memeluk Cilla sambil mengusap punggung menantunya itu.


Cilla masih meneteskan air mata meski tanpa isakan. Tidak lama tante Siska dan om Rio ikut mendekat berusaha menguatkan Cilla dan Arjuna.


Tidak lama dokter Handoyo keluar dari lift langsung menuju ruang ICU tanpa menyapa siapapun, disusul dokter Raymond yang datang lima menit kemudian, menyusul dokter Handoyo masuk ke ruang ICU.


“Sayang,” Arjuna mendekati Cilla dan langsung memeluk istrinya yang masih menangis.


Cilla balas memeluk Arjuna dan menyandarkan kepalanya di dada Arjuna. Papa memberi isyarat pada Arjuna supaya membawa Cilla duduk dekat situ tapi gadis itu menolaknya.


Setelah menunggu 30 menit akhirnya dokter Raymond keluar bersama dokter Handoyo.


“Maaf, kami sudah berusaha sebisa mungkin,”ujar dokter Raymond dengan wajah sedih.


Arjuna mengeratkan kembali pelukannya dan ikut meneteskan air mata dari kedua sudut matanya.


“Yang ikhlas, sayang,” bisik Arjuna lembut di telinga Cilla. Gadis itu mengangguk dengan wajah yang masih menempel di dada Arjuna.


Mama Diva dan tante Siska saling berpelukan dan menangis pilu.


“Papi udah nggak kesakitan lagi Mas Juna,” ujar Cilla dengan kepala mendongak menatap Arjuna dan berusaha tersenyum.


“Iya, Tuhan sayang sama papi makanya dipanggil pulang supaya nggak merasakan sakit lagi,” ujar Arjuna sambil mengusap wajah Cilla yang basah.


Tanpa diminta, para sahabat Arjuna dan Cilla langsung berbagi tugas dan menyampaikan berita duka itu kepada kenalan dan teman-teman mereka.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Cilla masih berdiri di depan makam papi yang akhirnya bersama mami dalam satu liang lahat. Itu semua juga atas permintaan papi saat berbincang terakhir dengan Cilla di taman rumah sakit.


“Kita pulang yuk, sepertinya sebentar lagi akan hujan,” ajak Arjuna merangkul bahu Cilla.


“Iya, ayo,” Cilla mengangguk dan tersenyum sekilas menatap Arjuna.


“Cilla sama Mas Juna pulang dulu, Pi, Mi. Cilla yakin kalau papi dan mami pasti akan bahagia karena bisa bersama lagi. Cinta papi dan mami akan selalu tinggal di dalam hati Cilla,” ujar Cilla pelan sambil memegang kayu nisan papi.


Cilla menggenggam erat jemari Arjuna yang menuntuntunnya kembali ke mobil.


Papa, mama, Amanda, om Rio, tante Siska dan Theo sudah menunggu di mobil masing-masing sementara Cilla dan Arjuna naik ke mobil yang dibawa oleh Bang Dirman.


Semua sahabat Cilla dan Arjuna juga ikut dalam iringan kembali ke rumah papi Rudi.


Rupanya mama Diva sudah memesan makanan di katering langganannya karena begitu sampai di rumah papi, sudah tersaji menu makanan lengkap dengan pencuci mulutnya.


”Lebih baik Cilla sama Arjuna tinggal di rumah papa mama dulu,” ujar tante Siska saat berkumpul di ruang tengah sambil menikmati makan siang.


Arjuna dan para sahabatnya memilih berbincang di teras belakang.


“Iya, jadi kalau pas Juna ke kantor, Cilla nggak kesepian,” timpal mama Diva.


“Boleh Cilla tinggal seminggu ini dulu di sini, Ma ? Rencananya Cilla mau beres-beres kamar papi, mumpung ada Pak Trimo juga di sini yang bisa bantu Cilla. Kalau udah beres, Cilla janji akan ikut kemana aja Mas Juna mau ajak Cilla tinggal.”


“Ya sudah, kamu bicarakan dulu aja sama Arjuna gimana baiknya. Kapan pun mau pulang ke rumah, papa dan mama akan senang hati menerima kaliah,” ujar papa Arman menengahi.


Selesai makan siang, Cilla mengajak ketiga sahabatnya duduk di dekat kolam renang sementara Arjuna mengantar Dono dan Pius yang pamit duluan.


“Sekarang gue anak yatim piatu beneran deh,” ujar Cilla sambil tertawa getir.


“Jangan gitu dong, baby,” Lili langsung merangkul sahabatnya. “Kalau elo main ke rumah kan bo-nyok gue selalu menganggap elo kayak anaknya sendiri.”


“Kalau gue jadi mereka kayaknya malah gue yang akan mengajukan pertanyaan itu, Van. Elo itu beneran anak kandung apa jangan-jangan ketuker pas di rumah sakit,” ledek Febi sambil tersenyum mengejek.


“Eh si**lan lo ! Nggak ngeliat gantengnya gue sebelas duabelas sama bokap ?”


“Gantengan bokap elo kemana-mana lah, Van,” ledek Lili sambil mencebik. “Udah gitu lebih mapan dan kalem.”


“Dih dasar bibit pelakor !” gerutu Jovan dengan muka sebal.


“Cilla, elo itu masih punya papa dan mama mertua yang baik banget,” ujar Febi. “Kelihatan kalau mereka tuh memperlakukan elo sama kayak Amanda.”


“Duh iya, elo sebut nama ayang gue, baru keingat, kemana tuh anak,” ujar Jovan mengedarkan pandangannya.


“Udah sana cari dulu. Ditikung sama temannya Pak Juna baru tahu rasa lo !” Lili mengibaskan tangannya menyuruh Jovan pergi mencari Amanda.


“Heran doain gue yang jelek-jelek melulu,” Jovan menggerutu sambil melotot menatap Lili yang malah mencibir membalas omelan Jovan.


Jovan pun berlalu ke dalam rumah melewati pintu dapur mencari Amanda sementara Cilla, Febi dan Lili masih berbincang di dekat kolam.


“Dunia elo hanya sedikit berubah dengan nggak adanya bokap. Bukannya selama sembilan tahun kemarin elo sempat merasa seperti anak tanpa orangtua ? Setidaknya di saat bokap ingin dekat dan melewati masa-masa sulit karena sakitnya, elo ada buat bokap, menemaninya, menjadi anak kesayangan yang selalu dirindukannya.”


“Iya gue juga merasa bahagia banget, Feb. Meskipun terlalu singkat tapi maknanya dalam banget,” ujar Cilla.


“Lagian nih ya, Cil, elo tuh udah ada suami sekarang, teman seumur hidup elo kalau sampai kalian nggak memutuskan untuk pisah.”


“Lili !” tegur Febi sambil melotot. “Mulai kontrol omongan elo, deh ! Udah tambah dewasa, jangan suka nyeplos asal. Apa elo nggak ingat kata orangtua kalau ucapan itu sama dengan doa ?”

__ADS_1


”Sorry, sorry,” Lili mengatupkan kedua tangannya. “Gue nggak maksud gitu.”


“Intinya, elo itu nggak sendirian,” tegas Febi.


“Saat kita makin dewasa, suami itu nggak kalah pentingnya kayak orangtua. Elo tahu kan, saat menikah tanggungjawab orangtua pada anak perempuannya akan diambil alih suami. Pernikahan itu menjadikan dua manusia jadi satu, aku plus kamu jadi kita. Malah menurut kepercayaan kalau wanita itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki bukan dari ujung kaki atau pucuk kepala, supaya selalu ada di sampingnya, menjadi teman hidup yang sepadan untuknya,” ujar Lili.


“Ternyata elo bisa mengeluarkan kata-kata bijak juga, ya,” ujar Cilla sambil terkekeh.


“Elo berdua aja yang suka nethink sama gue makanya nggak bisa melihat kata-kata indah dari setiap ucapan gue,” ujar Lili dengan wajah pongah.


“Dih, baru dipuji sedikit udah songong !” cebik Febi.


“Maklum tadi ngobrol lama sama Dimas, buat jiwanya tergoda untuk mengeluarkan kata-kata mutiara,” ledek Cilla.


“Udah tobat, Cil,” sahut Lili sambil memasang wajah sedih. “Nggak enak juga jadi cewek yang ngejar-ngejar cowok, pengen juga gue ngerasain dikejar-kejar cowok. Jadi gue udah mutusin nggak akan anggap cowok yang udah dikasih kode tapi masih jaim aja.”


“Dimas itu nggak jaim, Li, tapi dia memang kaku dan cenderung minder. Dia itu anak yatim piatu bahkan sempat jadi anak jalanan. Kalau menurut gue, Dimas itu takut ngedeketin cewek selevel elo, Li. Setidaknya elo dari keluarga mampu, sementara Dimas harus berjuang mati-matian buat hidup. Belum lagi adiknya Tami masih butuh perhatian dan support dari dia karena kondisi fisiknya. Kalau memang elo suka sama Dimas, jangan berhenti deketin dia tapi jangan agresif. Buat dia yakin kalau elo memang menerima dia apa adanya,” nasehat Cilla.


”Elo yakinin dulu diri sendiri, bisa nggak berhenti merengek harus pergi keluar negeri tiap liburan,” sindir Febi.


“Iihh kalian berdua kok jadi membahas soal gue dan Dimas ? Tujuan gue sama Febi di sini kan buat menghibur elo, Cil. Masalah gue sama Dimas masih bisa dibahas besok-besok.”


“Sepertinya kalau elo serius, membantu elo PDKT sama Dimas akan menjadi kegiatan baru yang menyenangkan dan menghibur,” sahut Cilla sambil tersenyum lebar.


“Cilla… Fokus.. fokus.. kembali ke laptop. Tema hari ini tuh elo, jangan menyimpang ke masalah percintaan gue !” Lili bertolak pinggang sambil menatap Cilla dengan galak. Cilla tertawa dan Febi geleng-geleng kepala.


“Iya, iya mami Lili. Yang namanya kehilangan udah pasti menciptakan kesedihan, tapi gue benar-benar udah ikhlas melepas papi supaya bisa ketemu mami lagi. Dan gue yakin kalau papi malah sedih kalau gue terus larut dalam suasana duka.


Seperti elo tadi bilang, Li. Gue udah punya Mas Juna sebagai suami. Hidup gue nggak boleh berhenti apalagi berakhir dengan kepergian papi. Gue harus semangat lagi karena ada Mas Juna, orang penting yang sekarang udah jadi separuh nafas gue.”


“Jadi ingat ya, nggak penting banget kalau status elo sekarang jadi anak yatim piatu,” tegas Lili.


“Iya mami Lili,” sahut Cilla sambil tersenyum lebar. Kedua tangan Cilla terentang membuat Lili dan Febi langsung mendekat dan ketiganya saling berpelukan.


“Terima kasih bestie. Terima kasih karena selalu ada buat gue dan menjadi teman terbaik.”


“Aahhh co cweett,” ujar Lili.


“Boleh ikutan dong para selir tersayang,” Jovan mendekati ketiga sahabat itu bersama Amanda.


“Nggak boleh !” suara tegas dari belakang Amanda membuat Jovan menghentikan langkahnya dan berbalik sambil nyengir kuda.


“Rasain lo pawangnya Cilla datang !” ledek Febi.


“Sejak kapan istri saya kamu jadikan selir ?” tatapan galak Arjuna membuat Jovan langsung mengusap tengkuknya sementara Amanda, Cilla, Lili dan Febi langsung tergelak.


“Biasa tuh Pak, di kampus juga begitu. Sampai dikira Cilla pacarnya Jovan sama senior,” celetuk Lili.


“Senior siapa ? Hans itu ?” tanya Arjuna dengan mata menyipit menatap Lili.


“Kok Pak Juna kenal sama Hans juga ?” Febi mengerutkan dahinya.


“Kamu ya !” Arjuna menunjuk Jovan. “Saya suruh kamu nyusul ke kampus buat ngawasin Cilla dari para buaya jahil itu. Bukannya jagain istri saya malah bikin orang salah kaprah, mengira kamu pacarnya istri saya !”


“Loh jadi Jovan ke kampus karena disuruh sama Mas Juna ?” Cilla mendekati Arjuna dan menatap suaminya dengan tatapan menelisik.


Arjuna langsung nyengir dan gugup ditanya begitu oleh Cilla yang masih sekarang mulai senyum-senyum menakutkan menatap Arjuna.

__ADS_1


“Bukan begitu maksud Mas Juna,” tukas Arjuna berusaha biasa saja. “Hanya upaya pencegahan.”


Cila hanya diam menatap tajam Arjuna dengan posisi kedua tangan terlipat di depan dada, membuat yang lainnya langsung terbahak.


__ADS_2