MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Antara Takut dan Bahagia


__ADS_3

Arjuna bergegas begitu mobil berhenti di lobby rumah sakit hingga Tino harus berlari kecil mengikuti langkah Arjuna menuju lift.


Sampai di depan kamar Cilla, dengan perlahan Arjuna membuka pintu dan melongok ke dalam, takut istri kecilnya itu sudah tidur.


Ternyata Cilla masih duduk di atas ranjangnya dan terlihat mama Diva sedang membujuknya.


Begitu terdengar suara pintu kamar terbuka, Cilla yang langsung menoleh melihat Arjuna malah menangis.


Tanpa menyapa yang ada di dalam ruangan itu, Arjuna menghampiri Cilla dan memeluknya sambil mengusap-usap punggung Cilla.


“Mas Juna nggak kangen sama Cilla ? Dari kemarin nggak kasih kabar apa-apa sama Cilla.”


Meski omelan yang keluar dari mulut Cilla dan tangannya memukul pelan dada Arjuna, Cilla tidak menolak saar Arjuna memeluknya.


Mama Diva yang masih berdiri dekat situ langsung memberi kode pada Arjuna supaya tidak mengatakan yang sebenarnya pada Cilla.


“Ada masalah roaming di sana. Mas Juna juga sempat kehabisan baterai pas sampai di Narita. Nggak bawa powerbank dan langsung dijemput sama klien terus diajak makan sampai malam. Mas Juna takut ganggu Cilla.”


“Ngeselin tahu nggak !” Cilla merenggangkan pelukan Arjuna dengan wajah berlinang air mata.


“Nggak punya firasat apa-apa gitu pas Cilla jatuh ?”


Arjuna tersenyum dan mengambil saputangan dari saku celanannya dan membersihkan wajah Cilla.


”Ada dong, makanya nih Tino kepusingan cari tiket pulang hari ini juga, sampai akhirnya Ami dan papa harus turun tangan.”


Arjuna melirik ke arah papa Arman yang duduk di sofa dan pura-pura tidak tahu dengan sindiran Arjuna. Papa Arman tahu kalau putranya itu sedang menyindirnya yang menyembunyikan fakta tentang kondisi Cilla.


“Cilla mau pulang aja malam ini, biar bisa bobo sama Mas Juna.”


Febi, Lili, Jovan dan Amanda saling tatap dengan wajah tidak percaya melihat tingkah Cilla yang sangat manja pada Arjuna. Selama ini mereka melihat Cilla sebagai perempuan yang mandiri, kuat dan todak cengeng.


“Pengaruh hormon kayaknya,” bisik Lili yang akhirnya cekikikan meski pelan.


Jovan memutar bola matanya. Wanita selalu ada alasan soal hormon kalau sikap mereka sedikit aneh dan ngeselin.


“Kalau begitu mama sama papa pulang dulu, ya. Malam ini Cilla ditemani sama Arjuna,” ujar mama Diva sambil mengusap bahu menantunya.


Febi yang sedari tadi mencubit-cubit Lili supaya menahan diri tidak tertawa akhirnya menarik lengan sahabatnya untuk pamit pulang juga.


Sudah diputuskan kalau malam ini cukup Arjuna saja yang menemani Cilla setelah malam sebelumnya ada Febi dan Lili yang menemani Cilla. Amanda tidak bisa ikut karena sudah sekolah biasa.


Mama Diva memberi isyarat pada Arjuna untuk keluar saat para sahabat Cilla pamit. Kebetulan Bang Dirman datang membawakan koper Arjuna dan pakaian ganti Cilla yang sudah disiapkan Bik Mina.


Bola mata Arjuna membesar saat mendengar penjelasan mama Diva yang didampingi papa Arman. Dahinya berkerut memikirkan cara terbaik untuk memberikan penjelasan pada Cilla tentang kondisinya.


“Besok pagi dokter akan datang sekitar jam 9. Ada baiknya kamu ngomong dulu sama Cilla sebelum itu.”


Arjuna langsung membersihkan diri setelah semua tamunya pulang sementara Cilla masih setengah berbaring sambil menonton televisi.


“Sekarang Mas Juna udah di sini. Cilla bobo ya, banyak istirshat biar cepat pulih.”


“Tapi Cilla maunya bobo peluk Mas Juna.”


“Iya, Mas Juna bobo sama Cilla.”


Arjuna menggendong Cilla ke atas sofa bed yang sudah disiapkan olehnya karena secara ukuran lebih luas daripada tempat tidur yang dipakai Cilla.”


Merasa tenang suami kesayangannya sudah datang, Cilla pun terlelap dalam pelukan Arjuna yang dengan penuh cinta mengusap-usap punggung Cilla.

__ADS_1


🍀🍀


Jam 8 pagi Arjuna menggendong Cilla keluar dari kamar mandi setelah selesai mandi pagi. Memar di kaki Cilla sudah tidak terlalu parah meski masih dibalut perban. Namun sikap manja Cilla pada Arjuna yang naik level membuat mantan guru matematika itu menuruti keinginan anak bebek kesayangannya, minta digendong selesai mandi bersama.


“Cilla,” Arjuna menggenggam jemari Cilla saat keduanya menikmati sarapan pagi yang dikirim oleh mama Diva.


“Mas Juna mau membahas sesuatu sama Cilla, bisa ?”


“Kok pakai nanya dulu ? Biasanya Mas Juna langsung ngomong ?” mata Cilla memicing dan raut wajahnya berubah cemas. “Jangan bilang kalau ini ada hubungannya dengan wanita lain ? Mas Juna mau punya istri lagi ?”


Wajah Cilla berubah keruh menatap Arjuna dengan kedua sudut mata yang mulai digenangi air mata.


“Cilla sayang, mana ada Mas Juna kepikiran mau cari istri lagi. Yang satu ini aja bikin Mas Iuna udah bahagia banget dan nggak bakal ada yang bisa menggantikan Cilla di mata Mas Juna.”


“Terus ?”


“Cilla masih ingat dengan keinginan Cilla pas kita ketemu di Singapura sama papi dan papa ? Cilla bilang nggak masalah jadi mama muda.”


“Iya kan kita sudah sepakat untuk punya anak di saat Cilla kuliah tingkat dua nanti.”


“Dan Cilla tahu kan kalau anak itu rejeki dari Tuhan ?”


“Iya terus maksud Mas Juna gimana ?”


“Kita berdua dikasih rejeki itu saat ini,” Arjuna menyentuh perut Cilla. “Di dalam sini sudah ada buah cinta kita.”


“Cilla hamil ?” mata Cilla membelalak dengan raut wajah cemas menunggu kepastian dari Arjuna.


“Iya sayang, di rahim Cilla sekarang sudah ada dedek bayi.”


“Kok bisa ? Kan Cilla sudah minum obat supaya nggak hamil dulu ? Apa karena Cilla lupa minum waktu itu ?”


“Kalau Cilla hamil berarti Cilla nggak bisa kuliah sekarang ? Terus Cilla hanya diam di rumah aja ? Cilla nggak mau ! Cilla mau kuliah ! Cilla nggak siap jadi mama kalau sekarang !” teriak Cilla dengan air mata yang mengalir.


Arjuna langsung memeluk Cilla dengan perasaan yang campur aduk.


“Maaf kalau Cilla menganggap Mas Juna yang membuat Cilla hamil sekarang. Maaf kalau kehamilan ini membuat Cilla harus menunda kuliah. Maaf juga kalau Mas Juna malah merasa senang saat mendengar berita bahagia ini dan tidak menyesal sama sekali telah membuat Cilla hamil.”


Tangan Arjuna membelai rambut Cilla dan menciuminya beberapa kali.


“Satu hal yang bisa Mas Juna lakukan untuk menyatakan ketulusan semua maaf itu adalah tetap berada di samping Cilla sekarang dan selamanya sampai maut menjemput Mas Juna. Mas Juna tidak akan membiarkan Cilla sendirian apalagi sampai merasa ketakutan.”


Tangis Cilla mulai mereda dan tangannya memeluk pinggang Arjuna.


“Cilla tidak akan pernah lagi sendirian. Ada mama, papa, Amanda, tante Siska dan om Rio, Theo dan semua sahabat kita akan selalu menemani Cilla, membantu Cilla dan tidak akan membuat Cilla kesepian. Cilla sudah merasakan sendiri saat masuk rumah sakit ini, kan ? Mereka bergantian menemani Cilla karena Mas Juna nggak ada. Hari ini aja bukan hanya keluarga Mas Juna yang datang tapi juga sahabat Cilla.”


“Cilla takut,” lirih Cilla dengan kepala bersandar di dada Arjuna. “Cilla merasa masih kecil dan takut dengan kehamilan ini. Cilla takut tidak bisa menjadi ibu yang baik karena pikiran dan perasaan Cilla masih suka kekanak-kanakan. Cilla aja masih suka manja-manja dan ngambek sama Mas Juna.”


Arjuna tersenyum tipis tanpa terlihat oleh Cilla sambil mempererat pelukannya.


“Menjadi ibu yang baik bukan berarti menjadi wanita sempurna demi memenuhi harapan keluarganya. Cukup menjadi diri sendiri dan tahu akan tanggungjawabnya pasti akan membuat anak-anak bahagia. Cilla sering bertanya kenapa Mas Juna jatuh cinta pada Cilla yang biasa-biasa saja, bagi Mas Juna Cilla adalah istri yang luar biasa. Cilla adalah pribadi yang penuh kehangatan, peduli pada orang lain dan berusaha kuat dalam menghadapi kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan impian Cilla. Masih banyak hal yang membuat Mas Juna semakin hari semakin mencintai Cilla yang tidak bisa Mas Juna ungkapkan dengan kata-kata. Dan yang pasti saat mendengar kabar Cilla hamil dari mama, Mas Juna bahagia luar biasa dan bersyukur karena Tuhan mempercayakan anak pada kita secepat ini.”


“Tapi saat hamil dan setelah punya anak, Cilla akan bertambah gemuk dan jelek,” ucap Cilla dengan suara pelan yang membuat Arjuna tertawa dalam hatinya.


“Namanya juga hamil sayang, akan aneh kalau badan Cilla tidak bertambah berat badannya. Tapi banyak suami yang makin cinta saat istrinya hamil dan setelah melahirkan, karena bertambah seksi dan menggemaskan.”


“Gombal,” omel Cilla namun malah semakin erat memeluk Arjuna membuat pria itu kembali menahan tawanya.


“Jadi Cilla ikutan bahagia juga ya sama Mas Juna karena sebentar lagi kita akan punya anak. Cilla akan dipanggil mami dan Mas Juna dipanggil papi. Membayangkannya aja Mas Juna udah senang luar biasa.”

__ADS_1


Cilla merenggangkan pelukannya dan menatap Arjuna sambil mengerjap. Arjuna tertawa pelan dan mengambil tisu untuk menghapus air mata Cilla.


“Ibunya bebek nggak boleh nangis terus, kasihan anak bebek yang ada di perut,” Arjuna mengusap perut Cilla yang masih rata.


“Dedek bayi bukan anak bebek !” protes Cilla dengan mata melotot. “Lagipula kalau bebek kan berkembangbiak dengan bertelur, Cilla kan melahirkan, bukan bertelur.”


Arjuna mengangguk-angguk sambil tertawa lalu membelai rambut Cilla.


“Iya maminya dedek bayi dan Mas Juna papinya dedek bayi.”


“Tapi Cilla benar-benar takut, Mas Juna. Apalagi kalau baca-baca, melahirkan itu sakit banget. Apa Cilla sanggup ?”


“Masih ingat nggak kenapa Cilla selalu menghindari malam pertama dengan Mas Juna ?”


Cilla menautkan alis lalu mengangguk.


“Cilla takut banget karena baca di artikel si mbah kalau pertama kali melakukan hubungan suami istri itu sakit banget.”


“Terus pengalaman Cilla sendiri bagaimana ?”


Wajah Cilla merona dan tersipu malu.


“Sakit memang tapi habis itu enak dan…”


“Dan nagihin,” sambung Arjuna sambil tertawa.”Nah kalau begitu jadikan pengalaman itu sebagai penyemangat untuk Cilla. Yang Mas Juna tahu melahirkan itu memang sakit, tapi sesudahnya setiap perempuan merasakan bahagia yang tidak terkira saat pertama menyentuh bayi mereka. Buktinya orangtua jaman dulu bisa punya anak banyak dan melahirkan secara normal. Itu artinya biar sakit tapi bikin ketagihan, bikin candu.”


Cilla terdiam dan menundukkan kepalanya. Masih terlihat keraguan di wajahnya. Arjuna kembali memeluk Cilla dan mengusap punggungnya.


“Nanti kita ketemu sama dokter Wanda biar Cilla bisa mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang membuat Cilla cemas dan takut. Tapi tolong terima kehadiran dedek bayi di dalam perut Cilla. Biar bagaimana ini adalah buah cinta kita berdua. Banyak loh di luar sana yang berusaha setengah mati untuk mendapatkan keturunan tapi selalu gagal. Kita yang diberi kepercayaan, tidak boleh menyesalinya apalagi berpikir untuk membuangnya.”


“Cilla nggak kepikiran untuk mengugurkan kandungan ini, kok,” protes Cilla sambil merenggangkan peukannya, menatap Arjuna sambil mengernyit.


“Cilla hanya takut karena umur Cilla masih muda, selain itu Cilla kesal karena berarti Cilla harus menunda kuliah sampai tahun depan, padahal Cilla ingin cepat-cepat lulus supaya bisa membantu Mas Juna.”


“Jadi pawang Mas Juna aja seperti waktu menghadapi Luna dan Riana di Semarang sudah luar biasa dan sangat membantu. Kemampuan sepertinitu tidak akan Cilla didapatkan bangku kuliah.”


“Terus masalah uang kuliah yang udah dibayarkan gimana ? Cilla nggak rela kalau sampai hilang.”


“Sayang, kenapa harus mikir soal uang, sih ? Kalaupun dianggap hangus, Mas Juna pasti akan bayar lagi untuk kuliah tahun depan.”


“Bukannya begitu, daripada diambil oleh universitas yang uangnya sudah banyak, uang segitu bisa dipakai untuk membantu anak-anak yang tidak punya kesempatan mengenyam pendidikan karena terbentur biaya.”


“Iya, iya sayang, nanti Mas Juna bicarakan dengan Sebastian. Lagipula Cilla kan bukan batal kuliah tapi hanya menundanya ke tahun depan.”


“Bener ya, janji ?” Cilla mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Arjuna yang langsung membalas menautkan kelingkingnya dengan Cilla.


“Iya janji.”


Cilla tersenyum dan menghambur ke dalam pelukan Arjuna dengan menyenderkan kepalanya di dada Arjuna.


“Mas Juna.


“Iya Cilla sayang.”


“Cilla kok masih berasa takut banget ya, tapi di sisi lain Cilla merasa bahagia kayak Mas Juna. Sepertinya memang benar kalau ucapan itu adalah doa. Cilla benar-benar dijadikan mama muda. Kalau dengar Mas Juna menyebut Cilla mami rasanya kok sedikit aneh tapi bahagia.”


“Iya Cilla punya hati yang baik dan tulus, makanya ucapan Cilla itu langsung dianggap doa sama Tuhan dan langsung dikabulkan tanpa perlu menunggu lama.”


Cilla mulai tertawa pelan dan mengeratkan pelukannya lalu mendusel-dusel kepalanya di dada Arjuna membuat pria itu bergerak ke sana sini karena kegelian dan tertawa bersama istri kecilnya.

__ADS_1


Arjuna bahagia saat Cilla mulai bisa menerima kenyataan kalau ia akan menjadi seorang ibu di usianya yang ke-18. Arjuna berjanji akan menjadi suami dan ayah siaga yang bisa diandalkan.


__ADS_2