MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2 Jangan Menggangguku


__ADS_3

Ucapan Amanda soal kepopuleran Cilla yang meningkat pesat dan mungkin menempati tangga teratas dari seluruh mabar adalah kenyataan.


Saat melewati gerbang kampus bersama Amanda, Cilla bisa menangkap banyak mata menatapnya dengan makna yang berbeda-beda.


Cilla menghela nafas dengan perasaan kesal.


“Belum juga kuliah dimulai, udah ada aja masalah,” keluhnya saat melewati meja panitia, mengurus absensi.


“Kalau yang deketin elo bukan senior populer mungkin nggak akan ribet begini.”


“Udan nggak penting lagi mau populer atau nggak, gue ini perempuan menikah. Udah nggak butuh perhatian dari cowok lain.”


“Duh yang udah cinta mati sama Kak Juna,” ledek Amanda sambil tertawa pelan melihat wajah kesal kakak iparnya.


“Bukan begitu, gue paham kekesalan Mas Juna. Gue pernah ngerasainnya dan nggak niat membalas pada Mas Juna.”


“Ya udah, santuy aja… Lama-lama api bakalan padam juga kan ?”


Amanda melambaikan tangannya, memisahkan diri dengan Cilla. Baru kemarin Cilla ingat kenapa ia bisa berbeda kelompok selama ospek.


Mereka berdua memang mabar Fakultas Ekonomi, tapi Amanda mengambil jurusan akuntansi sementara Cilla mengambil jurusan manajemen.


“Kenapa ?” Cilla menatap teman-teman satu kelompoknya yang menatapnya sedikit aneh saat Cilla baru bergabung.


“Penasaran soal kemarin ?” Tidak ada yang menjawab pertanyaan Cilla.


“Elo pacaran sama kakak senior ?” Dita akhirnya yang bertanya.


“Nggak, gue nggak butuh pacar. Gue udah nilkah, punya suami,” Cilla tersenyum. “Malah udah punya anak juga.”


“Eh beneran ?” mata Fino dan yang lainnya membola.


“Iya gue udah menikah bukan karena hamil duluan atau kawin paksa. Kita memang dijodohin, tapi lepas dari semuanya, kita menikah karena saling cinta dan awalnya nggak tahu kalau kita dijodohin.”


“Tapi umur elo…” Dita kembali buka suara tapi tidak berani menyelesaikan kalimatnya.


“Gue menikah pas lulus SMA karena saat itu bokap sakit keras dan gue udah nggak punya nyokap lagi. Suami gue minta restu supaya diijinkan menikah biar bisa jagain gue secara utuh.”


“Anak elo ?”


“Tuhan kasih rejeki anak nggak lama setelah gue menikah, tapi gue bahagia. Suami gue memang lebih tua 9 tahun, udah cukup dewasa untuk menemani gue dan membantu gue selama hamil dan mengasuh anak, makanya gue aman-aman aja. Mustinya gue kuliah tahun lalu, tapi karena hamil, ditunda jadi tahun ini.”


Fino, Dita dan yang lainnya mengangguk-angguk.


“Kemarin yang ngomong sama dosen itu suami elo ?” tanya Hilda


“Iya suamo gue,” Cilla mengangguk mantap.

__ADS_1


Perbincangan mereka harus berakhir karena acara ospek akan dimulai.


Tidak cukup teman-temannya yang ingin tahu soal hubungan Cilla dengan Hans, para senior cewek yang seperti tergabung dalam Hans Fans Club memanggilnya ke area khusus senior.


“Kamu lulusan SMA mana ?”


Cilla menghela nafas saat suara ketus itu membuka acara interrogasinya.


“SMA Guna Bangsa, Kak.”


“Dimana kenal sama Hans ?”


“Di kampus ini, Kak.”


Seorang senior cantik dengan bodi bak gitar spanyol mendekatinya dengan wajah sombong.


“Kamu sugar baby, ya ?”


Pertanyaan itu membuat senior yang lainnya tertawa mengejek.


“Maksa nikah dengan hamil duluan ?” ejek yang lainnya.


“Saya bukan sugar baby dan saat ini saya memang sudah punya putra berusia 6 bulan. Pernikahan saya sah, bukan karena terpaksa.”


“Kamu pikir kami bisa dibodohi ? Umur kamu baru 18 tahun kan ? Kalau baru lulus SMA, berarti kamu hamil saat masih sekolah.”


“Sebelum menjajakan diri di kampus ini, kenali dulu targetmu dengan baik. Hans bukan cowok sembarangan yang bisa kamu jadikan target berikutnya.”


Cilla memejamkan mata, mencoba menahan emosinya. Bisa-bisanya para senior cewek ini menganggapnya penggoda pria.


Para senior itu melihat Cilla dengan tatapan sombong dan merendahkan, seolah Cilla perempuan yang sangat menjijikan.


“Lagi ngapain kalian di sini ?” suara Hans yang terdengar galak membuat para senior langsung ciut.


Mata Hans menyipit dan mendekati mahasiswa dengan atribut mabar. Begitu melihat Cilla, Hans langsung menatap para senior perempuan itu satu persatu.


”Apa yang kalian lakukan sama Cilla ?”


“Nggak ada Hans,” seorang perempuan yang terlkihat paling senior menjawab pertanyaan Hans.


“Kami cuma tanya-tanya aja karena sepertinya dia punya koneksi yang bagus di kampus ini.”


“Iya, kemarin kami lihat Pak Bernard sampai turun menemui kakaknya Priscilla.”


Cilla mengehela nafas. Kalau ini bukan masa ospek, sudah pasti Cilla akan melawan.


“Jangan coba-coba melakukan sesuatu yang aneh pada Cilla !” tegas Hans sambul kembali menatap satu persatu wajah juniornya.

__ADS_1


Hans langsung menarik tangan Cilla menjauh dari situ dan kembali ke area lapangan.


“Lepasin !” Cilla melawan dan menghentakkan tangan Hans dengan kasar hingga pegangannya terlepas.


“Bukannya kamu harus berterima kasih padaku ?” Hans tersenyum dan mendekatkan diri pada Cilla.


Postur tubuh Hans kurang lebih sama dengan Arjuna, membuat Cilla terlihat kecil karena tingginya hanya sebatas ketiak Hans.


“Terima kasih untuk apa ?” Cilla sempat melirik ke bagian belakang tubuh Hans. Mereka kembali jadi pusat perhatian.


“Kakak sudah membuat awal saya di kampus ini sangat-sangat menyebalkan.”


“Mau pindah kampus ?” goda Hans sambil mengedipkan matanya. “Aku bersedia menemani.”


“Berhenti menganggu saya !” tegas Cilla dengan wajah emosi.


“Kamu semakin menggemaskan kalau lagi ngambek begini,” Hans semakin meledek Cilla.


“Kalau memang kakak benar peduli dengan saya, tolong jangan mengganggu hidup saya lagi. Kakak mengaku mahasiswa S2, tapi susah diajak bicara lebih dari anak saya yang baru berumur 6 bulan.”


“Aku bisa diajak bicara, kok. Buktinya aku mengerti kalimat yang kamu ucapkan. Sebetulnya inti ucapanmu ingin memberitahu aku kalau anakmu baru berumur 6 bulan kan ?” Hans senyum-senyum


Cilla mengepalkan kedua tangannya dan meninggalkan Hans untuk kembali ke area duduknya tadi.


“Cilla,” Hans menahan lengan Cilla.


Terdorong karena rasa kesal dan ingat akan pesan Arjuna, reflek Cilla langsung mengeluarkan kemampuan aikido-nya hingga Hans terjembab ke lantai.


Beberapa orang yang melihatnya memekik, apalagi melihat Hans meringis sambil memegang pinggangnya.


“Berhenti mengganggu saya !” suara Cilla terdengar lantang berdiri di dekat Hans sambil bertolak pinggang.


“Saya tidak berminat pada kakak bukan karena sok jaim, tapi supaya kakak tahu kalau saya ini perempuan bersuami. Saya tidak perlu mencari perhatian laki-laki lain karena saya dan suami saling mencintai. Ngerti !”


Cilla sengaja berbicara dengan suara lantang supaya banyak orang yang mendengarnya. Cilla tidak takut mengungkap statusnya karena tidak ada larangan bagi perempuan yang sudah menikah untuk melanjutkan kuliah.


Setidaknya ucapannya bisa menjawab pertanyaan banyak orang entah mabar atau senior.


Cilla menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar sambil menatap Hans dengan wajah kesal. Tidak ada yang berniat membantu Hans untuk berdiri, takut jadi target Cilla berikutnya.


Cilla berbalik hendak meninggalkan Hans, namun tangan pria itu menahan pergelangan kakinya membuat Cilla hampir terjatuh, tapi dengan sigap Cilla berbalik dan kembali memberikan Hans pukulan telak bahkan kaki Cilla menendang pinggang Hans.


Pria itu kembali tergeletak sambil meringis. Pinggangnya yang tadi sempat sakit bertambah sakit karena tendangan Cilla.


Dimulai dari teman-teman kelompoknya yang memberikan tepuk tangan akhirnya menjalar ke mabar lainnya.


Cilla melongo dan menatap ke sekelilingnya. Sungguh di luar keinginannya mendapat sambutan seperti ini.

__ADS_1


Cilla menatap Amanda yang mengedipkan mata sambil mengacungkan jempolnya.


__ADS_2