MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Bukan Konferensi Pers


__ADS_3

“Ngapain elo duduk di sini lagi ?” omel Lili pada Jovan yang menyusup duduk di sebelah Cilla.


Sabtu pagi ini semua siswa diundang ke pertemuan bersama dengan orangtua. Sedikit dadakan karena sebelumnya tidak ada dalam daftar kegiatan kelas 12. Banyak murid yang bertanya-tanya termasuk Cilla dan ketiga sahabatnya.


“Gue mau dekat-dekat sama para selir,” jawab Jovan santai.


“Iihh n*jong, siapa juga yang mau jadi selir elo,” cebik Lili dengan wajah kesal. “Tuh Sherly aja yang jadi selir elo.”


“Nggak masuk kriteria. Lagian kan sebagai calon adik ipar yang baik wajib menjaga calon kakak iparnya.”


Cilla hanya tertawa pelan sambil mencibir. Fokusnya kembali ke handphone.


“Bokap elo mana ?” tanya Jovan.


“Biasa sama Pak Slamet. Paling urusan pertemuan hari ini.”


“Eh Cil,” Febi yang duduk di sebelah kanan Cilla menyenggol sahabatnya. “Kok Pak Arjuna ada di sini juga ?”


“Hah ?” Cilla langsung mendongak dan menatap suaminya yang sedang berbincang dengan Dono dekat pintu masuk aula. Matanya memicing, tapi Arjuna tidak menoleh sedikit pun ke arahnya.


“Kok bisa ada di sini ? Tadi pas sarapan, Mas Juna nggak ngomong apa-apa,” ujar Cilla dengan nada mulai emosi.


Suara kasak kusuk mulai terdengar seperti sekerumunan lebah saat melihat sosok Arjuna ada di dalam aula.


“Apa jangan-jangan pertemuan hari ini mau membahas soal elo sama Pak Arjuna ?” tanya Febi dengan nada sedikit berbisik.


Cilla menoleh dan menatap tajam Jovan yang langsung menggeleng dan menggerakan tangannya sebagai tanda ia tidak tahu apa-apa.


“Jangan pura-pura ogeb lagi deh,” omel Cilla dengan muka galaknya. “Minggu lalu ternyata elo udah tahu rencana Sherly sama emaknya dan diam-diam kerjasama sama mama dan Manda.”


“Kali ini beneran gue kagak tahu,” Jovan membentuk huruf V pada jarinya. “Gue juga bingung jawab apa pas mami tanya pertemuan hari ini mau membahas apalagi.”


Cilla sudah siap-siap beranjak bangun ingin menghampiri Arjuna dan menanyakan masalah apa lagi yang akan dibuka hari ini, tapi tangan Jovan menahannya.


“Tunggu aja dan ikutin skenarionya. Pasti bokap elo sama Pak Juna sudah mempersiapkan semuanya dan ada alasan kenapa elo nggak dilibatkan langsung.”


“Tapi mereka udah janji nggak ada rahasia-rahasiaan begini,” Cilla masih berdiri di depan kursinya dan wajahnya terlihat kesal menatap Jovan.


“Jangan bilang elo sengaja duduk di sebelah gue karena disuruh sama Pak Arjuna ?” mata Cilla menyipit memastikan kejujuran Jovan, telunjuknya juga ikut mengarah ke Jovan.


“Ya ampun Priscilla Darmawan, gue beneran kagak diajak dalam skenario kali ini, bahkan jadi pemeran pembantu pun nggak.”


“Minggir,” Cilla mendorong lutut Jovan dengan lututnya juga. “Gue mau ke toilet.”


“Gue temenin,” Jovan ikut berdiri.


“Mau bantuin gue pipis ?” Cilla melotot.


“Boleh aja kalau dikasih ijin sama laki elo,” sahut Jovan sambil terkekeh.


Jovan melewati Lili dan menunggu Cilla keluar barisan. Langkah Cilla terhenti saat melihat papi masuk bersama Pak Slamet diikuti Pak Ikbal, Pak Rahman, dan Bu Retno. Tidak lama berselang terlihat tante Dinda dan 3 orang komite plus satu pria yang belum dikenal oleh Cilla.


“Siapa ?” Cilla mengernyit sambil menatap Jovan. Cowok itu hanya mengangkat kedua bahunya.


“Bokapnya Sherly,” Nino yang duduk di pinggir depan Lili yang menjawab sambil menoleh pada Cilla.

__ADS_1


”Ngapain lagi ?” Cilla menatap ke arah para komite yang duduk di deretan meja berbeda dengan papi dan para guru.


“Bokapnya itu pengacara terkenal,” sahut Nino lagi.


“Huufftt… bisa-bisanya tuh anak pake bawa-bawa bokapnya sebagai pengacara buat urusan kayak begini,” gerutu Jovan.


“Biarin aja, biar tuntas sampai ke akar-akarnya,” ujar Cilla dengan wajah kesal dan gemas.


“Jadi ke toilet ?” Jovan memastikan. Cilla mengangguk.


Suara Pak Ikbal terdengar membuka acara langsung dilanjutkan dengan pengantar oleh Pak Slamet yang memberikan penjelasan singkat.


“Cilla mau kemana ?” Arjuna menahan lengan Cilla saat gadis itu lewat di depannya.


“Toilet,” sahut Cilla singkat.


“Terus ini mahluk ngapain ikutan ?” Arjuna menautkan alisnya menatap Jovan yang mengikuti Cilla.


“Jadi bodyguard, Pak. Cilla takut diculik sama alien,” sahut Jovan sambil nyengir kuda.


“Nggak boleh !” tegas Arjuna. “Kenapa bukan Febi atau Lili yang temenin ?”


“Mau selingkuh,” sahut Cilla asal dengan muka ditekuk. Dono yang berdiri di sebelah Arjuna tertawa pelan.


“Apa gue aja yang temenin Cilla ke toilet ?” bisik Dono sambil terkekeh. Arjuna menoleh dengan mata melotot.


“Balik sana !” Arjuna mengibaskan tangannya menyuruh Jovan balik ke kursinya.


Wajah Cilla yang masih ditekuk menoleh ke arah Jovan yang menatapnya lalu Cilla mengangguk meskipun Jovan tidak mengucapkan apapun.


Mata Cilla membelalak saat melihat papa, mama, Amanda bahkan tante Siska lengkap dengan om Rio dan Theo.


“Kok bisa di sini semua ?” gumam Cilla namun masih terdengar oleh Arjuna dan Dono yang ikut menoleh mengikuti tatapan mata Cilla.


Arjuna terlihat santai meski keluarganya datang dan kembali menatap ke arah meja pembicara, membuat Cilla bertambah geram dan mendengus kesal lalu berjalan melewati Arjuna menghampiri keluarga yang baru saja datang.


Tidak lama terdengar suara papi Rudi mulai terdengar berbicara menggunakan pengeras suara.


“Terima kasih atas kehadiran bapak ibu wali murid kelas 12 dan mohon maaf sekiranya saya sudah menyita waktu bapak ibu. Kalau saja berita tentang pernikahan anak saya tidak merebak dan selesai cukup sampai pertemuan Jumat lalu, maka saya tidak akan minta Pak Slamet secara khusus mengundang bapak ibu untukmengklarifikasi berita yang cukup menganggu kami sekeluarga.”


Cilla mengerutkan dahi bertanya-tanya maksud ucapan papi. Amanda merangkul lengan Cilla sebagai orang terakhir yang disapa, mengajak Cilla mengukuti para orangtua dan Theo yang sudah diajak duduk di barisan depan.


Theo sendiri memilih bergabung dengan Arjuna dan Dono, begitu juga dengan Cilla dan Amanda.


Amanda berdiri paling pinggir ke arah barisan bangku siswa membuat Jovan leluasa memandangnya. Bahkan pasangan yang lagi hangat-hangatnya itu sempat bertukar pandangan sambil senyum-senyum.


“Heran, bisa-bisanya ada manusia yang nggak pernah capek dan bosan ngegibah hidup orang lain,” gerutu Cilla dengan suara menggumam.


Arjuna melirik, mencoba meraih tangan Cilla namun dengan sigap Cilla bergerak hendak kembali ke bangkunya.


“Mau kemana ?” Arjuna menahan lengan Cilla.


“Selingkuh,” sahut Cilla dengan ketus.


“Sama Jovan lagi selingkuhnya ? Kamu nggak lihat pacarnya Jovan udah di sebelah kamu ?”

__ADS_1


Amanda mengerutkan dahi, tidak mengerti maksud ucapan kakaknya yang berbicara sangat pelan.


“Memangnya di sekolah ini cuma Jovan yang mau diajak selingkuh ? Ada Aron, Nino atau Nico.”


Arjuna sedikit menarik tangan Cilla hingga gadis itu kembali berdiri di sampingnya.


”Jangan buat Mas Juna nekat. Apalagi semua udah pada tahu kalau kita suami istri,” ancam Arjuna dengan berbisik di telinga Cilla.


Cilla mendengus kesal dan patuh pada perintah suaminya. Pandangannya kembali fokus pada papi yang masih berbicara di depan.


“Masalah pernikahan putri saya Priscilla Darmawan dengan Pak Arjuna, mantan guru matematika sekolah ini sudah dipaparkan secara detil di hadapan seluruh siswa kelas 12. Tapi sepertinya beberapa orangtua masih belum puas. Saya juga mengundang keluarga Pak Arjuna saat ini, jadi kalau mau bertanya silakan selagi pihak-pihak yang terkait ada di sini,” papi menunjuk ke arah papa Arman dan mama Diva.


“Jangan khawatir kalau pertanyaan Bapak Ibu akan membawa pengaruh nilai kepada anak-anak. Saya di sini murni sebagai orangtua dan mertua Cilla dan Arjuna, bukan sebagai pemilik sekolah. Jadi silakan mengajukan pertanyaan langsung pada saya daripada membahas di grup wa yang sudah pasti tidak tentu jawabannya,” ujar papi kembali sambil mengedarkan pandangannya.


“Mas Juna,” tanpa sadar Cilla menggenggam tangan Arjuna dengan wajah khawatir. “Sebetulnya masalah apa lagi sih ?”


Arjuna mengeluarkan handphone dan memperlihatkan satu foto pada Cilla. Terpampang Arjuna sedang menggandeng Cilla menuruni tangga lantai dua dekat ruang guru.


Cilla menghela nafas. Foto itu diambil saat Arjuna menjemputnya selesai PAS hari terakhir, saar dimana Cilla diajak ke rumah sakit untuk membahas masalah papi yang menjalani cuci darah.


“Jangan khawatir, papi dan papa sudah mengatur semuanya,” Arjuna tersenyum dan mempererat genggaman jemari Cilla


“Tidak ada di grup anak-anak,” ujar Cilla dengan suara berbisik.


”Justru beredarnya di grup orangtua,” sahut Arjuna.


“Sepertinya belum ada orangtua yang berani bertanya langsung Pak Darmawan,” Pak Agus, salah satu anggota komite buka suara sambil tertawa pelan.


“Dan saya akan mewakili mengulang pertanyaan yang dilontarkan banyak orangtua di grup


angkatan. Akan lebih baik kalau kita semu mendengarkan penjelasan langsung daripada menebak-nebak pertanyaan yang mengganjal banyak orang,” ujar Pak Agus kembali. Papi Rudi mengangguk sambil tertawa pelan.


“Sebagian besar orangtua mempertanyakan masalah waktu pernikahan Cilla dan Pak Arjuna. Kenapa tidak menunggu sampai Cilla lulus SMA yang tinggal sebentar lagi, sampai akhirnya sebagian orangtua berpikir kalau pernikahan ini sedikit terburu-buru dan kesannya agak memaksakan. Sayangnya untuk alasannya, kebanyakan orangtua malah berpikir ke arah yang negatif.”


“Terima kasih atas pertanyaannya, Pak. Tolong jawaban saya dilihat sebagai orangtua Cilla bukan sebagai pemilik sekolah,” sahut papi Rudi sambil tertawa pelan.


“Sebagai orangtua, bapak ibu tentu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, begitu juga dengan saya. Saat ini Cilla adalah anak piatu yang hanya memiliki satu tante sebagai keluarganya. Terus terang, kondisi kesehatan saya sedang tidak baik-baik saja. Kalau sudah bicara tentang kesehatan, maka lanjutannya tidak jauh dari hidup dan mati.


Tidak ingin membiarkan putri tunggal saya sendirian jika sampai pilihan kedua harus ssya jalankan, bersama dengan sahabat saya Pak Arman Hartono, kami sepakat menikahkan anak-anak kami. Ternyata keduanya sangat berjodoh karena belum sempat kami mempertemukan mereka, Cilla dan Arjuna sudah jatuh cinta karena pertemuan tidak terencana di sekolah.


Awalnya pernikahan mereka baru akan dilangsungkan saat Cilla sudah menyelesaikan SMA-nya, tapi masalah kesehatan saya lagi-lagi membuat Cilla dan Arjuna harus mempercepat semuanya, bukan karena Cilla sudah hamil dulu. Bahkan tidak ada ancaman apapun yang diberikan untuk menekan Pak Arjuna menerima Cilla sebagai istrinya. Saya yakin kalau anak-anak bapak dan ibu tahu siapa sebenarnya Arjuna Hartono, mantan guru matematika mereka.”


”Terima kasih penjelasannya, Pak Darmawan. Dengan setulus hati kami berdoa semoga kesehatan Bapak segera dipulihkan dan tetap bisa memimpin sekolah ini bersama-sama,” sahut Pak Agus dengan senyuman dan menganggukan kepalanya.


“Terima kasih atas doanya Pak Agus,” papi Rudi balas mengangguk sambil tersenyum


“Apa ada pertanyaan lain dari bapak ibu ?” Pak Ikbal bangkit berdiri dan mengedarkan pandangannya ke peserta yang hadir.


Suasana sempat hening dan beberapa orang menengok kanan kiri mencari orang yang hendak bertanya.


“Iya Bu, silakan kalau mau bertanya,” ujar Pak Ikbal saat melihat seorang ibu berdiri di depan bangkunya.


Cilla menoleh dengan tatapan tidak percaya melihat ke arah ibu yang berdiri di barisan tengah.


“Siapa ?” bisik Arjuna.

__ADS_1


Cilla terdiam, tidak menjawab pertanyaan Arjuna yang sudah pasti terdengar karena dibisikkan persis di telinga Cilla.


__ADS_2