MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Pengganggu yang Meresahkan


__ADS_3

Hampir jam 12 malam Arjuna dan Cilla baru sampai di rumah. Keduanya terkejut saat melihat Pak Trimo yang membukakan pintu utama untuk mereka.


“Pak Trimo ?” Cilla nampak tidak percaya dengan penglihatannya.


“Apa kabar Non Cilla, Den Arjuna ?” sapa Pak Trimo dengan senyuman khasnya.


“Baik, Pak,” sahut Arjuna sambil mengulurkan tangan menyalami Pak Trimo.


“Lagi kangen sama Bik Mina ?” goda Cilla sambil senyum-senyum.


“Sepertinya begitu, Non. Pasti Noni mengerti karena sudah menikah,” sahut Pak Trimo sambil tertawa pelan.


Arjuna dan Cilla ikut tertawa pelan dan tidak lama mereka masuk ke kamar karena sudah larut malam.


Arjuna lebih dulu bebersih sementara Cilla membersihkan wajahnya yang di make-up.


“Jangan mandi malam-malam, basuhan aja, nanti masuk angin,” pesan Arjuna saat melihat Cilla sudah bersiap membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi.


“Tapi nggak betah kalau nggak keramas. Tadi rambut Cilla dipakein hairspray,” sahut Cilla dengan nada manja.


“Besok pagi aja keramasnya. Mas Juna nggak keberatan dengan wangi-wangi hairspray. Nanti kemalaman nggak sempat dobel kombo,” goda Arjuna dengan suara merayu.


Blush !


Wajah Cilla langsung merona, ternyata Arjuna masih berniat mengeksekusi rencananya malam ini.


Cilla bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan langsung menguncinya membuat Arjuna langsung tergelak.


Cilla menuruti nasehat Arjuna untuk tidak keramas malam ini dan dengan perasaan gugup keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuh dan wajahnya.


Arjuna benar-benar menunggunya di atas ranjang dengan posisi bersandar pada headboard dan memainkan handphonenya. Senyuman tipis langsung terukir di wajahnya saat melihat Cilla tampak canggung keluar kamar mandi menggunakan jubah mandi.


“Mau tidur pakai jubah mandi ?” ledek Arjuna sambil beranjak dari tempat tidur lalu berjalan mendekati Cilla yang juga berjalan ke arah ranjang.


“Eh nggak juga sih,” sahut Cilla gugup.


“Beneran udah siap malam ini ? Cilla capek nggak ?” Arjuna memegang wajah Cilla dengan kedua tangannya.


Hangatnya wajah Cilla dengan warna kemerahan membuat Arjuna senyum-senyum tak henti.


“Cilla siap, kok. Tapi jangan kasar dan buru-buru, ya ?” Cilla mendongak dan menatap Arjuna.


Tatapan Cilla yang mengerjap dengan ekspresi menggemaskan membuat Arjuna mengangguk sambil tertawa pelan.


“Sebentar Mas Juna matikan sebagian lampu biar suasananya lebih romantis.”

__ADS_1


Cilla memegang dadanya yang semakin berdegup kencang dan tidak beraturan, apalagi saat Arjuna langsung memegang tali pengingkat jubah mandi Cilla.


“Jangan tegang begitu,” ledek Arjuna. “Mas Juna juga belum berpengalaman, tapi pasti nggak akan nyakitin Cilla.”


Cilla tersipu dan tidak berani menatap Arjuna yang sudah melepaskan jubah mandi Cilla.


Arjuna masih senyum-senyum dengan rasa yang sama tegangnya seperti Cilla. Meski belum pernah melakukannya, Arjuna yakin kalau semua akan berjalan dengan sendirinya.


Arjuna menyentuh dagu Cilla dan mengangkat esjah istrinya yang masih tersipu malu dan perlahan mengecup kening Cilla lalu turun ke mata , hidung dan mencium kedua pipi Cilla dengan hembusan nafas yang sengaja membuat Cilla bergidik. Sampai akhirnya Arjuna menggendong Cilla dan membawanya ke atas ranjang.


“Kita sama-sama belajar malam ini ya,” ujar Arjuna dengan suara berbisik dan sedikit serak di telinga Cilla


“Sama-sama belajar melakukan yang pertama,”lanjut Arjuna dan Cilla hanya mengangguk.


Dengan mengumpulkan keberanian, Cilla mengalungkan kedua tangannya di leher Arjuna mmebuat suaminya itu makin melebarkan senyumnya dan langsung mencium bibir Cilla begitu dalam dan penuh cinta.


Pagutan keduanya semakin memanas dan Arjuna mulai bergerilya meneruskan aksinya membuat ketegangan yang sempat dirasakan oleh keduanya perlahan menghilang berganti dengan hasrat cinta yang semakin menggebu.


Hingga akhirnya ketukan pintu kamar yang berkali-kali membuat Arjuna dan Cilla gagal mencapai inti kegiatan mereka malam ini.


“Non Cilla ! Den Juna !” panggilan Bik Mina disertai gedoran pintu yang cukup keras membuat Arjuna akhirnya menghentikan aktivitasnya.


“Bik Mina, Mas. Tumben malam-malam begini,” ujar Cilla dengan dahi berkerut.


“Kamu di sini dulu, jangan kemana-mana. Biar Mas Juna yang bukain pintu.”


“Ada apa, Bik ?” tanya Arjuna saat pintu kamar sudah terbuka.


“Maaf kalau bibi ganggu, Den. Tapi Tuan… Tuan…” Bik Mina menghela nafas sejenak. “Tuan jatuh pingsan di depan kamar mandi dan tadi sempat mimisan juga.”


Bukan hanya Arjuna yang terkejut mendengar ucapan Bik Mina, Cilla yang ikut mendengarnya bergegas turun, lupa kalau pakaian yang dikenakannya hanya selembar kain satin tipis.


“Minta tolong Bang Dirman menyiapkan mobil, Bik. Saya dan Cilla siap-siap dulu,” ujar Arjuna.


Bik Mina hanya mengangguk dengan wajah gelisah dan meninggalkan kamar Arjuna dan Cilla setelah pintu tertutup.


“Cilla mau kemana ?” tangan Arjuna menahan lengan istrinya yang sudah bergegas melewatinya hendak keluar kamar.


“Lihat Papi,” ujar Cilla dengan wajah panik.


“Ganti baju dulu, kita langsung bawa Papi ke rumah sakit. Mas Juna nggak kasih Cilla keluar dengan pakaian begitu.”


Cilla menatap dirinya sendiri, lupa kalau malam ini dia mengenakan pakaian tidur baru khusus untuk Arjuna.


“Jangan lupa bawa jaket,” pesan Arjuna saat Cilla sudah siap dengan celana panjang dan kaos lengan panjang juga.

__ADS_1


Tidak lama Arjuna dan Cilla sudah berada di lamar papi. Di sana sudah ada Bik Mina, Pak Trimo, Bang Dirman dan Bang Toga.


Ternyata papi sudah diangkat ke atas ranjang, entah siapa yang mengangkatnya tidak penting untuk Cilla dan Arjuna.


“Kita bawa Papi ke rumah sakit sekarang,” ujar Arjuna sambil memberi isyarat Bang Dirman dan Bang Toga supaya membantunya membawa papi ke mobil sementara Pak Trimo berjalan duluan bersiap-siap dekat mobil yang sudah terparkir di depan teras.


Bik Mina menyusul sambil membawakan satu koper kecil. Arjuna mengernyit sebelum naik ke mobil. Cilla sudah di duduk sambil memangku kepala papi.


”Tuan sendiri yang sudah menyiapkan pakaiannya, Den,” ujar Bik Mina menjawab tatapan Arjuna yang terlihat bingung.


Pak Trimo duduk di depan, menemani Bang Dirman yang memegang kemudi sedangkan Arjuna duduk di belakang menemani Cilla di bagian kaki papi.


Cilla langsung menghubungi dokter Handoyo saat perjalanan ke rumah sakit. Setelah panggilan kedua kalinya, telepon Cilla baru diangkat.


Sekitar setengah jam akhirnya mobil sampai di depan lobby UGD Rumah Sakit Pratama. Sesuai pesan dokter Handoyo supaya langsung membawa papi ke sana dulu dan ternyata dokter jaga dan beberapa perawat sudah menunggu kedatangan papi Rudi.


“Dokter Handoyo sedang dalam perjalanan,” ujar salah satu perawat yang menunggu di lobby UGD.


“Terima kasih Sus,” sahut Arjuna.


“Silakan tunggu di ruang tunggu, Pak,” ujar perawat yang lain.


Arjuna mengangguk dan merangkul bahu Cilla, mengajaknya masuk ke dalam rumah sakit melewati ruang UGD.


Pak Trimo ikut duduk di belakang Cilla dan Arjuna sedangkan Bang Dirman mencari parkiran dulu.


“Sepertinya Papi baik-baik saja tadi siang. Cilla sempat ketemu pas mau jalan ke salon,” ujar Cilla dengan mata berkaca-kaca.


“Sebetulnya kondisi Papi memang sedikit menurun,” ujar Arjuna setelah menghela nafas panjang. “Tapi bukan karena Papi tidak rutin berobat. Beberapa pengobatan yang dilakukan dokter Handoyo dan timnya sempat membawa hasil yang lebih baik, tapi tidak lama karena ternyata menimbulkan komplikasi dan masalah baru dari organ papi yang lain.”


“Kenapa Mas Juna nggak cerita sama Cilla ?”


“Mas Juna juga baru tahu beberapa hari yang lalu dari om Budi. Tadi pagi selesai meeeting sama papi, Mas Juna baru tahu juga kalau hari Senin pagi, Papi mau berangkat ke Singapura bertemu dengan dokter Lee.”


“Apa pengobatan di sini masih belum memadai ?”


“Bukan begitu, sayang,” Arjuna merengkuh Cilla hingga kepala istrinya itu bersandar di dadanya.


“Sejak awal, dokter Lee selalu mendampingi papi hingga hubungannya bukan lagi sekedar dokter dan pasien tapi juga sahabat. Sepertinya papi ingin bertemu sebagai seorang teman yang membutuhkan saran dan penyemangat.”


Tangan Arjuna mengusap-usap bahu Cilla yang masih bersender padanya.


“Bagaimana kalau sampai dokter menyerah dengan penyakit papi ?” lirih Cilla yang mulai tidak dapat menahan air matanya.


“Apapun yang terjadi, kita pasrahkan saja pada Tuhan. Tidak ada yang mustahil di mata Tuhan. Tapi apa yang baik menurut pikiran kita, belum tentu menjadi yang terbaik untuk papi sendiri.”

__ADS_1


Cilla terdiam dan membiarkan air mata terus mengalir di pipinya. Arjuna semakin mengeratkan pelukannya dan sesekali mencium puncak kepala Cilla dan membiarkan istrinya menangis untuk mengungkapkan perasaan hatinya yang sedang galau.


__ADS_2