MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Siap-siap Mencari Restu


__ADS_3

Cilla menarik nafas lega melihat kondisi papi Rudi semakin membaik, apalagi tidak perlu dipasang alat bantu khusus selama di ruang rawat inap, hanya selang infus dan oximeter yang terpasang di tangan papi Rudi.


 


Bahkan saat sore hari,  papi Rudi sudah bisa duduk di atas tempat tidur dan memanggil Cilla untuk duduk di dekatnya.


 


“Maafkan papi,” papi Rudi memegang kedua bahu Cilla yang duduk di tepi ranjang. “Maaf karena kamu harus mengetahui penyakit papi dengan cara seperti ini.”


 


“Cilla tidak marah karena Papi menunda untuk memberitahu Cilla, Cilla hanya sedih karena tidak pernah mencari tahu bagaimana keadaan Papi selama jauh dari Cilla. Sepertinya Cilla memang hanya seorang anak kecil yang masih perlu banyak belajar,” ujar Cilla sambil tersenyum.


 


“Maafkan Papi yang tidak berterus terang sama Cilla. Itu semua bukan karena Cilla tidak peduli atau Papi menganggap Cilla hanya seorang anak kecil yang tidak akan mengerti keadaan orangtuanya. Justru karena Cilla selalu peduli pada orang lain, papi nggak mau Cilla sedih. Papi ingin Cilla hidup tanpa beban ketakutan karena sakit papi yang sulit disembuhkan. Papi yang egois, ingin hidup seolah semuanya baik-baik saja dengan Cilla, papi ingin menikmati hidup penuh kebahagiaan dengan Cilla.”


 


“Jangan terlalu dijadikan beban, Pi, Cilla nggak apa-apa. Yang penting sekarang Papi harus punya semangat untuk sembuh dan ikuti semua petunjuk dokter. Jangan melewatkan apalagi mengabaikan semua pengobatan yang bisa membantu kesembuhan Papi. Cilla akan membuat Papi bahagia, jadi Papi harus sehat selalu.”


 


“Apa Cilla bahagia juga lepas dari Arjuna ?”


 


Pertanyaan papi Rudi membuat Cilla terdiam dan sempat bingung memberikan jawaban seperti apa pada papi Rudi.


Saat ini Arjuna memang tidak ikut masuk ke dalam ruangan. Bukan karena takut, tapi Arjuna tidak ingin membuat emosi papi Rudi kembali meningkat dan mempengaruhi kondisinya saat ini.


 


“Cilla,” papi Rudi menyentuh tangan Cilla membuat putrinya mendongak dan berusaha tersenyum dengan sedikit terpaksa. “Papi tahu kalau seharian kemarin Cilla ditemani sama Arjuna.”


 


“Om Arman dan tante Diva yang meminta Mas Juna untuk menemani Cilla,” ujar Cilla. “Karena… karena… “


 


Cilla bisa mendengar helaan nafas panjang papi Rudi, membuatnya ragu untuk bicara terus terang tentang perasaannya.


 


“Karena apa ?”


 


Cilla mendongak dan menatap papi Rudi dengan wajah sendu.


 


“Karena di saat seperti ini, hanya Mas Juna yang bisa membuat hati Cilla tenang dan nyaman. Maaf kalau Cilla malah membuat Papi kecewa karena perkataan Cilla berbeda dengan kenyataan.”


 


“Cilla masih cinta sama Arjuna ?” Papi Rudi mengeratkan genggamannya.


 


Cilla terdiam dan kembali menunduk. Tanpa mengucapkan apapun, Cilla yakin kalau papi Rudi sudah tahu jawabannya. Namun Cilla teringat akan cerita Arjuna tentang permintaan papi Rudi supaya Arjuna melepaskan Cilla, melupakan kalau mereka pernah dijodohkan dan menganggap tidak pernah ada rencana pernikahan yang sudah di ambang mata.


 


“Cilla masih sayang sama Mas Juna, Pi,” akhirnya Cilla berkata jujur namun dengan wajah masih tertunduk.


 


“Apa Arjuna sudah bicara langsung sama Cilla kalau dia masih menyayangi Cilla juga ?”


 


“Mas Juna sudah minta maaf sama Cilla dan tidak mau kalau pernikahan kami sampai dibatalkan atau hubungan kami berakhir.”


 


“Apa Cilla sudah menerima keadaan Arjuna dan siap menerima segala konsekuensinya kalau tetap meneruskan hubungan kalian ?”


 


Cilla kembali terdiam. Di satu sisi, Cilla tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan Arjuna karena sama seperti yang Arjuna rasakan, tidak mudah menghapus rasa cinta yang sudah terlanjur ada di hatinya.


 


Di sisi lain, kalau Cilla melanjutkan kembali hubungannya, apa papi benar-benar rela memberikan restu untuk mereka berdua ? Dan seperti ucapan papi barusan, apa Cilla siap menghadapi kondisi hubungan mereka yang pasti akan berbeda juga karena ke depannya Arjuna bukan lagi seorang guru, tapi CEO muda yang bertanggungjawab atas beberapa perusahaan.


 


“Jangan terburu-buru,” papi Rudi menepuk-nepuk punggung tangan Cilla. “Pikirkan baik-baik dan lakukan dengan kepala dingin. Saat ini tugas kamu adalah fokus menyelesaikan pendidikan di SMA. Dan kalau papi boleh berkata jujur, akan lebih baik kalau hubunganmu dengan Arjuna tetap seperti sekarang ini. Kalau memang jodoh, kalian tetap bisa bersama.”


 

__ADS_1


Cilla sedikit terkejut mendengar ucapan papi Rudi. Sepertinya akan sulit bagi Arjuna untuk mendapatkan restu. Entah apa yang membuat papi Rudi bertindak sejauh ini, seolah menentang harapan Cilla yang ingin kembali bersama Arjuna.


 


“Cilla akan menuruti permintaan Papi dan Cilla berharap kalau Papi akan berjuang juga untuk mendapatkan kesembuhan. Om Raymond sudah menceritakan kalau Papi sering mengabaikan untuk menjalankan kemoterapi. Mulai sekarang, Cilla akan menemani Papi dan nggak boleh nakal untuk menghindari pesan dokter lagi.”


 


Cilla berusaha untuk merubah raut wajahnya dan tertawa pelan, bahkan ekspresinya sempat seperti seorang ibu yang memarahi anaknya karena tidak mau minum obat sedang sakit.


 


“Sepertinya kamu akan lebih bawel dari mami,” ledek papi Rudi sambil tertawa.


 


Meski Cilla berusah baik-baik saja, sebagai seorang ayah, papi Rudi bisa melihat kalau putrinya merasa sedih dan kecewa dengan keputusan yang diambil olehnya.


Bagi papi Rudi bukan masalah penolakan Arjuna yang tidak bisa dimaafkan, tapi saat ini papi Rudi ingin membuktikan sejauh mana pria itu benar-benar berjuang untuk membuktikan cintanya pada Cilla.


 


“Namanya juga anaknya mami, kalau Cilla pendiam, Papi pasti akan bingung malah mungkin meragukan apa Cilla ini benar-benar anak papi dan mami,” cibir Cilla meledek papi Rudi. Pria itu tertawa dan menghargai niat tulus putrinya yang berusaha membahagiakannya.


 


Tidak lama pintu kamar papi Rudi diketuk, ternyata om Rio dan tante Siska yang datang membawakan makanan dan pakaian ganti untuk Cilla.


 


Begitu om Rio dan tante Siska datang, Cilla pamit keluar sebentar dengan alasan ingin mencari minuman segar. Hatinya benar-benar tidak karuan saat ini, antara bahagia melihat papi Rudi bisa sadar dan terlihat baik-baik saja sekaligus sedih karena hubungannya dengan Arjuna tidak akan mudah mendapat restu dari papi.


 


 


Cilla duduk di taman setelah membeli segelas jus buah di café yang ada di dalam rumah sakit. Ingin menghirup udara luar setelah lebih dari 24 jam berada di dalam ruangan AC dan berharap hatinya lebih tenang serta pikirannya terbuka kembali untuk menghadapi kenyataan hidupnya saat ini.


 


“Sepertinya matahari sore memang sangat tepat untuk mencari inspirasi.”


 


Cilla menoleh saat suara seorang pria terdengar di dekatnya. Dokter Steven sudah duduk di sampingnya saat Cilla sedang menengadah ke langit sambil memejamkan mata.


 


 


“Nggak ditemani calon suami kamu ?”  ujar dokter Steven sambil terkekeh. “Agak menyeramkan kalau Arjuna sedang ada di sini juga.”


 


“Mas Juna lagi pulang,” sahut Cilla sambil tertawa. “Jadi nggak bakal ada yang akan memarahi dokter kalau duduk di dekat saya.”


 


Dokter Steven ikut tertawa. Ia teringat kejadian tadi pagi dimana Arjuna bersikap sinis padanya gara-gara Cilla menggodanya. Entah masalah apa yang diperdebatkan pasangan itu, dokter Steven hanya bisa melihat tatapan tidak suka dari wajah Arjuna bahkan saat diajak bicara, pria itu menjawabnya dengan ketus.


 


“Tadi pagi menyeramkan, kayak macan yang lihat mangsa lezat di depannya dan siap diterkam,” ujar dokter Steven sambil tertawa.


 


“Sedikit posesif memang, dok,” sahut Cilla.


 


“Tapi itu yang membuat saya selalu merasa dicintai sama Mas Juna. Mungkin karena perbedaan umur kami juga yang hampir 10 tahun, jadi Mas Juna takut kalau saya gampang goyah apalagi berhdapan dokter muda yang tampan seperti dokter Steven,” ujar Cilla sambil terkekeh.


 


Cilla kembali teringat akan kejadian tadi pagi di depan ruang ICU saat ia sengaja menggoda akan menjadikan dokter Steven sebagai pria uji cobanya. Spontan Arjuna langsung uring-uringan dan melarang Cilla untuk dekat-dekat dengan dokter tampan, anak dokter Raymond itu.


 


Cilla hanya terkikik saat Arjuna dengan sikap posesifnya berdiri di antara dokter Steven dengan Cilla dan terus menggenggam tangan Cilla sampai panas dan berkeringat. Bahkan lebih dari tiga kali, Arjuna menegaskan kalau Cilla adalah calon istrinya.


 


Niat uji coba dan menyamakan skor ciuman dengan Arjuna hanya akal-akalan Cilla untuk meledek Arjuna. Entah kenapa, sekalipun terlihat menyebalkan, sikap jutek Arjuna itu justru membuat Cilla bahagia akhir-akhir ini.


 


“Kelihatan banget kalau Arjuna begitu mencintai kamu,” ujar dokter Steven. “Dan sepertinya kamu juga sangat mencintai dia.”


 


“Kelihatan banget, ya ?” Cilla tertawa sambil mengernyit.


 

__ADS_1


“Iya, sangat kelihatan banget,” sahut dokter Steven sambil tertawa. “Dan itu membuat saya sangat iri sama kalian berdua.”


 


Cilla bahagia mendengarnya karena ternyata cinta Arjuna bukan hanya sekedar dirasakan oleh dirinya tetapi juga tertangkap oleh orang lain yang melihatnya.


 


Cilla kembali terlibat dengan obrolan santai dengan dokter Steven. Keduanya yang sedang sama-sama galau karena masalah cinta tanpa sadar saling menghibur dan membantu melepaskan beban di hati mereka masing-masing.


 


Bahkan Cilla sempat memberikan nasehat supaya dokter Steven menerima kenyataan yang harus dijalaninya saat ini. Dokter muda itu sempat terkejut karena Cilla mengetahui perjalanan cinta hidupnya yang berantakan.


 


“Jangan salah paham, papi sempat menceritakan pada saya soal dokter Steven saat kita bertemu di Singapura,” ujar Cilla menjelaskan saat wajah dokter Steven terlihat bingung mendengar nasehat Cilla.


 


“Sepertinya akan menyenangkan kalau punya teman bicara seperti kamu,” ujar dokter Steven sambil mengacak poni Cilla.  “Bagaimana kalau mulai sekarang kamu jadi adik angkat saya ?”


 


“Tidak boleh ! Tidak boleh ada pria dewasa lain yang menjadi orang spesial calon istri saya,” suara galak itu membuat tangan dokter Steven terlepas dan langsung menoleh ke belakang.



Cilla hanya menghela nafas tanpa menoleh, karena hanya mendengar suaranya saja, Cilla sudah tahu pria yang menegurnya. Alamat akan ada drama episode kedua setelah episode pagi tadi.


 


“Pawang kamu udah datang ,Cil, “ bisik dokte Steven sambil tertawa pelan. Ia sengaja menutup mulutnya dari samping dengan telapak tangannya.


 


“Bukan pawang,” ujar Cilla sambil membalikan badan dan menatap Arjuna dengan senyuman manisnya. “Tapi belahan jiwa,” lanjut Cilla sambil mengedipkan sebelah matanya pada Arjuna.


 


 Pria itu mendengus kesal dengan kelakuan anak bebeknya. Bisa-bisanya masih berusaha merayu padahal sedang tertangkap basah sedang berduaan dengan pria lain. Masalahnya pria yang di depannya saat ini tidak kalah tampan dan mapannya seperti Arjuna, membuat Arjuna sedikit ketar-ketir takut ditikung oleh putra pemilik rumah sakit ini.


 


Cilla beranjak bangun dan memutar mendekati Arjuna lalu menyodorkan gelas minumannya.


 


“Minum dulu biar mood bagus,” Cilla memaksa Arjuna menerima gelas minumannya, “Sepertinya perjuangan kali ini akan berat karena bukan anak bebek yang harus dibujuk rayu, tapi pawangnya anak bebek.”


 


Arjuna menerima gelas jus Cilla dan meminum sedikit isinya lalu sengaja membelai wajah Cilla sambil melirik ke arah dokter Steven. Dokter tampan itu hanya senyum-senyum sambil menggeleng. Sikap posesif Arjuna yang setahun lebih tua di atasnya mengingatkan dokter Steven pada Sebastian, sepupunya.


 


“Saya balik dulu ke dalam, Cilla.” Dokter Steven beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Cilla.


 


Rencananya dokter Steven ingin membuat Arjuna bertambah kesal dengan menyentuh kembali poni Cilla, tapi ternyata Arjuna lebih sigap menarik tangan Cilla dan menyembunyikan gadis itu di balik punggungnya.


 


“Kalau mau pamit tinggal ngomong aja, nggak usah pegang-pegang calon istri orang,” ketus Arjuna membuat dokter Steven tertawa.


 


Akhirnya dokter muda itu hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum lalu kembali ke dalam rumah sakit.


 


“Jangan bilang kalau tadi berusaha mencetak skor untuk menyamakan kedudukan dengan Mas Juna,” gerutu Arjuna dengan posisi berhadapan di depan Cilla.


 


“Maunya begitu, tapi memikirkan restu dari papi lebih berat daripada niat menyamakan skor dengan Mas Juna,” sahut Cilla dengan mulut mengerucut.


 


“Jangan terlalu jadi beban,” Arjuna mengelus kepala Cilla dengan sayang. “Mas Juna akan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan restu papi. Cilla harus sabar dan percaya sama Mas Juna. Nggak baik juga kalau terburu-buru dan memaksa di saat kondisi papi sedang tidak baik seperti sekarang ini.”


 


Cilla mengangguk dan merangkul lengan Arjuna lalu mengajaknya masuk, kembali ke ruang rawat papi. Selain ingin bertemu dengan Cilla, Arjuna memang berniat membesuk papi Rudi namun tidak sendirian. Papa Arman dan mama Diva juga Amanda akan menyusul ke rumah sakit.


Tadi Arjuna pergi ke tempat kost untuk mengambil barang-barang miliknya yang masih ada di sana sekaligus membereskan pembayaran biaya kostnya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2