MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Awal Aksi Arjuna


__ADS_3

Dengan semangat ‘45 Arjuna naik ke lantai 3. Hari ini sesudah jam perwalian, jadwal Arjuna masuk ke kelas Cilla setiap Senin pagi di jam pertama. Sedari tadi Dono sempat bertanya melihat wajah Arjuna yang berbinar seperti bintang iklan sabun cuci muka di televisi. Apalagi guru kontrak itu terlihat senyum-senyum sendiri sambil memegang bibirnya.


 


Aksi ciuman bibir di café memang bukan yang pertama buat Arjuna. Tapi menjadi lelaki yang memberikan ciuman pertama pada perempuan adalah pengalaman pertama untuk Arjuna. Rasanya jauh lebih indah daripada saat pernyataan cintanya diterima oleh Luna. Sejak semalam tingkah laku Arjuna bagai kembali jadi anak SMA yang baru pertama merasakan jatuh cinta. Senyum malu-malu sambil merasakan kehangatan bibirnya yang menempel pada bibir Cilla.


 


Namun pria yang hampir berusia 26 tahun dalam beberapa bulan lagi, langsung mengerutkan dahi. Mulutnya tetap membalas salam dari murid-murid kelas XII IPS-1, tetapi wajahnya langsung berubah seperti pakaian kotor yang belum direndam deterjen berkualitas super. Kusam dan tidak cemerlang.


 


“Siapa saja yang tidak masuk hari ini ?” Tatapan galak langsung terpancar di wajah Arjuna yang menatap ke arah Nino, sang ketua kelas.


 


“Cilla sedang ijin ke toilet,  Pak,” sahut Nino tanpa terbata.


 


“Jadi dia masuk ? Terus sekarang kemana ? Sengaja kabur saat pelajaran saya ?” tanya Arjuna kembali namun pandangannya beralih pada Febi dan Lili, dua murid yang sudah dikenalnya sebagai sahabat Cilla.


 


“Tadi Cilla mendadak pusing, Pak. Ijin ke UKS,” sahut Lili cepat tanpa memikirkan dampak ucapannya.


 


Bukan hanya Arjuna yang semakin mengerutkan dahi, tapi Nino yang duduk di baris sebelah langsung menoleh ke arah Lili sambil menautkan kedua alisnya. Sepertinya tadi Cilla ijin pada Nino mau ke toilet bukannya UKS, tapi kenapa Lili malah memberikan jawaban kalau Cilla ijin ke UKS ?


 


“Jadi mana yang bisa dipercaya ? Cilla ke UKS atau ke toilet ?” tanya Arjuna dengan wajah sangar menatap Nino dan Lili bergantian.


 


Nino menggeleng dengan wajah bingung menatap Arjuna sementara Lili langsung beranjak dari kursinya.


 


“Biar saya cari, Pak,” ujar Lili sudah keluar dari bangkunya.


 


Arjuna melirik jam tangannya. Tidak mungkin mengulur waktu ulangan hanya untuk menunggu Cilla seorang. Bisa didemo satu kelas oleh 32 siswa lainnya.


 


“Biar saja nanti Cilla menyusul. Salah sendiri membuang-buang waktu saat tahu mau ulangan,” ujar Arjuna tegas dan mulai mengeluarkan lembaran soal merangkap jadi lembar jawaban untuk dibagikan pada murid XII IPS-1.


 


Lili yang langsung diberi ikode oleh Febi pun urung mencari Cilla dan kembali duduk di bangkunya,


 


Arjuna langsung membagikan kertas soal sekaligus lembar jawaban untuk semua murid.  Setelah memastikan semuanya telah mendapat, Arjuna kembali ke mejanya. Ia langsung mengeluarkan benda pipih dari kantong celananya. Ia pun mengecek jadwal harian para guru termasuk guru piket.


 


Begitu mendapati nama Dono sebagai guru piket pagi ini, Arjuna mengetikan pesan yang berisi laporan sekaligus menanyakan keberadaan Cilla. Guru matematika itu yakin kalau Cilla tidak berada di UKS atau WC,


 


Dono  : Tadi Cilla baik-baik saja pas gue masuk, Jun.


 


Arjuna : Tapi sekarang nggak ada. Pamit sama Nino mau ke WC, sama Lili bilang mau ke UKS

__ADS_1


 


Dono  : Bukannya semalam habis kencan sama elo ?


 


Arjuna : Gosip darimana lagi ?


 


Dono  :  Sumber terpercaya dan pasti akurat… tapi yang pasti bukan Cilla yang cerita 😘😘


 


Arjuna  : Udah pasti Amanda lah… Laporan apa tuh anak sama elo ?


 


Dono  :  Makanya rajin-rajin buka grup, jangan Cuma bisanya senyum-senyum sendiri kayak orang kerasukan😛😛


 


Arjuna  : Sialan lo ! Untung elo cuma walikelasnya bukan bapaknya Cilla. Tobat banget kalo


punya calon mertua tukang stalking kayak elo


 


Dono  : Udah cepetan buka tuh grup… Gue cariin calon istri, eh belum juga resmi jadi pacar…


gue ralat jadi calon pacarnya Pak Arjuna


 


Arjuna  : Teman somplak😡😡


 


 


Arjuna pun kembali pada handphonenya dan membuka pesan grupnya. Dia menghela nafas sambil geleng-geleng. Terpampang  foto Amanda dengan Cilla di halaman belakang dengan hastag “calon kakak ipar masa depan”. Untung saja bagian mata Cilla sengaja ditutup dengan emoticon, sehingga orang tidak bisa tahu persis wajah gadis itu.


 


Ternyata potongan gambar itu dikirim oleh Boni. Arjuna yakin Boni mendapatkannya dari Mimi yang selalu update di sosmed dan termasuk salah satu pengikut akun Amanda.


Meski  tidak tahu kapan foto itu diambil, namun Arjuna terlihat senang melihat postingan Amanda apalagi membaca tulisan di bawah foto itu.


 


Arjuna membaca sekilas respon para sahabatnya yang ada di grup. Matanya fokus mencari nama Theo yang sudah pasti akan ikut berkomentar juga,


 


THEO :


Kayaknya elo bilang sendiri mau bantu gue mendapatkan Cilla, Jun ! Dasar sahabat laknat ! Bukannya ngebantuin malah  gue ditikung di simpang empat 😡😡😡


Ternyata rasanya begini sakit ditikung sama sahabat sendiri, lebih sakit daripada suntikan vaksin kedua. 😥😥


 


LUKI  :


Untungnya elo nikung Theo di simpang empat bukan di Simpang Raya, Jun


Kalau sampai kejadian, elo pasti udah dijadiin rendang sama Theo. 😂😂


 

__ADS_1


ERWIN :


Kalau ujung-ujungnya jadi menu nasi rendang, gue mau ikutan juga


 


Terbersit perasaan tidak enak pada Theo karena apa yang diucapkan sahabatnya itu memang tidak salah. Arjuna yang terus membantah tidak menyukai dan tidak akan pernah menyukai Cilla ternyata sekarang termakan omongannya sendiri.


 


Bahkan  ia sampai nekat melakukan adegan ciuman di depan adik dan mantan pacarnya. Meski Arjuna tidak menyesal, tapi ia juga tidak menyangka akan secepat itu terkena tulah dari ucapannya.


 


Arjuna menghela nafas sambil mengedarkan pandangannya, mengawasi pergerakan murid-murid yang sekal-sekali mulai terlihat gelisah bergantian, belum lagi helaan nafas atau garukan pena di rambut yang tidak gatal.


 


Tidak lama pesan baru masuk ke handphonenya dan ada nama Dono di paling atas. Rekan gurunya itu mengirimkan foto Cilla yang ternyata sedang tertidur di perpustakaan. Arjuna kembali tersenyum. Cilla tampak menggemaskan di foto itu, dengan mata terpejam, wajahnya terlihat tenang, tidak akan terbayang betapa cerewetnya gadis itu dan tidak mau kalah dalam pembicaraan kalau sedang sadar.


 


“Lili !” tegur Arjuna dengan posisi kepalanya masih setengah tertunduk. Kali ini ia menyebut nama sahabat Cilla yang lagi-lagi mencoba meminta bantuan Febi.


 


“Kerjakan sendiri soal ulanganmu. Lain kali belajar, jangan mengandalkan teman,” Arjuna mendongak dan menatap tajam ke arah Lili yang kembali menunduk.


Wajah Lili langsung memerah saat Arjuna menyebut namanya karena tertangkap basah berusaha mencontek. Nilainya memang pas pas an di mata pelajaran yang satu ini. Meski terkadang Cilla membantunya saat ulangan, namun Lili tidak pernah mampu memandaparkan nilai tinggi. Masih berayukur kalau bisa pas KKM


 


Sepuluh menit sebelum jam pelajaran berakhir, Arjuna meminta semua murid menghentikan pekerjaan mereka dan meletakkan alat tulis. Semua lembar jawaban terkumpul disertai keluhan sana-sini yang keluar dari mulut sebagian murid.


 


Setelah semuanya terkumpul, Nino  sang ketua kelas, menyerahkan semua lembaran yang itu  di meja Arjuna.


 


“Mulai sekarang, kalian harus bisa membuat Cilla tidak membolos di pelajaran saya. Satu kali Cilla membolos berarti limapuluh soal untuk kalian semua. Dan hukuman itu harus dikumpul dalam waktu 1x24 jam. Tidak ada toleransi !” tegas Arjuna saat Nino sudah menghampirinya.


 


“Tapi kenapa Cilla yang bolos, kita yang kena hukumannya, Pak ?” Protes Aron.


 


“Kalian ini ibarat satu keluarga kelas XII IPS-1 dan  Cilla  adalah bagian dari kelas ini. Saya rasa  teman kalian itu sudah cukup sering mengabaikan pelajaran saya, maka tanggungjawab kalian untuk membuat Cilla tetap berada di kelas,  khususnya saat pelajaran saya berlangsung. Atau kalian semua harus menanggung hukumannya sebagai satu keluarga.”


 


“Kalau begitu nggak adil dong, Pak !” protes Agus, siswa lainnya.


 


“Masalah adil atau nggak adil kalian langsung diskusikan saja dengan Cilla,” jawab Arjuna santai sambil merapikan hasil ulangan murid-murid dan memasukkannya ke dalam map plastik.


 


“Masih ada waktu lima menit untuk kalian berdiskusi, saya tinggal dulu dan sampai bertemu hari Rabu.”


 


Meski sebagian menggerutu karena ucapan Arjuna, mereka tetap berdiri memberikan salam saat Arjuna hendak keluar kelas.


 


Sampai di luar, Arjuna hanya tersenyum licik. Harus pakai sedikit taktik untuk menghadapi anak bebek yang suka melarikan diri itu. Ia pun lanjut masuk ke kelas XII IPS-2 untuk mengadakan ulangan juga.

__ADS_1


 


 


__ADS_2