MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kalau Cinta Jangan Maksa


__ADS_3

Ketiga sahabat Cilla langsung menuju ke ruang tengah untuk menyapa para orangtua yang sedang duduk dan berbincang di sana.


Ketiganya sedikit canggung meski sudah beberapa kali bertemu dengan orangtua Arjuna dan Cilla. Terlihat Arjuna sudah duduk dan mengobrol dengan para pria.


 


Cilla pun lanjut mengajak ketiganya ke ruang makan dan menikmati hidangan yang tersaji di sana.


 


“Boleh bawa pulang kalau menunya enak ?” seloroh Jovan sambil menyendok nasi putih.


 


“Tunggu sampai jadi menantunya mama,” ledek Cilla sedikit berbisik. Hatinya merasa tidak enak karena tahu kalau Lili masih menyimpan rasa pada mantan ketos itu.


 


“Kayak orang susah aja, sih,” ledek Febi sambil mencibir.


 


“Bukan orang susah, Feb, tapi rakus,” Lili ikut menimpali sambil mencebik.


 


Cilla hanya menemani para sahabatnya mengambil makanan karena ia sendiri sudah makan duluan bersama Arjuna.


 


“Manda ada di belakang, sana samperin kalau mau naik level usaha elo,” Cilla mendekati Jovan yang kembali ke meja makan untuk menambah lauknya dan berbisik di telinga Jovan.


 


Dari kejauhan Arjuna yang posisi duduknya menghadap ke ruang makan langsung mengerutkan dahinya. Apalagi melihat Cilla tertawa saat Jovan mengangguk-anggukan kepalanya. Ingin mendekat rasanya tidak enak memutus obrolan dengan papa Arman, papi Rudi dan om Rio.


 


Menuruti ucapan sahabat kecilnya, Jovan berjalan menuju teras belakang. Terlihat gadis yang sejak tadi dicari keberadaannya sedang duduk di pinggir teras merapikan kembang api yang akan dipasang saat menyambut pergantian tahun.


 


“Dicariin dari tadi, ternyata ada di sini,” Jovan tanpa permisi ikutan duduk di lantai, di samping Amanda.


 


“Ngapain elo di sini ?” tanya  Amanda dengan nada ketus. “Gue nggak berasa ngundang elo datang malam ini. Lagian bukannya elo masih di Jepang ?”


 


“Cie.. cie.. yang ternyata diam-diam perhatian. Biar pesan gue nggak pernah dibalas, ternyata dibaca dan disimpan dalam hati dan pikiran,” ledek Jovan sambil tertawa pelan.


 


“Dih over pede banget, Bang,” cebik Amanda. “Memangnya gue penderita amnesia, baca pesan sekarang, menit berikutnya udah lupa.”


 


“Duh bahagianya dipanggil abang,” Jovan masih terus membalas dengan ledekan.


 


“Abang tukang bakso,” gerutu Amanda.


“Baru nggak ketemu beberapa hari sama abang, kok neng cantik makin tambah judes,” ledek Jovan kembali.


 


Amanda menggerutu tidak jelas sementara tangannya masih memainkan kembang api. Jovan tersenyum dan meletakan piringnya di samping. Ia menyodorkan satu kantong kertas pada Amanda. Gadis itu mendongak dan menatap Jovan dengan alis menaut.


 


“Oleh-oleh dari Jepang. Dapat bocoran dari Cilla kalau elo suka koleksi miniatur orang-orangan dari berbagai daerah dan negara dengan pakaian khas mereka.”


 


Amanda bergeming dan wajanya bertambah masam. Sejujurnya hatinya kesal saat mendengar kalau oleh-oleh itu dibeli untuknya karena Cilla.


 


“Jangan cemburu,” ledek Jovan sambil terkekeh. “Gue sama Cilla benar-benar murni sahabat doang. Memang waktu bayi nyokap kita berdua niat banget mau jodohin gue sama Cilla. Mungkin biar kalau ngadain pesta kawin biayanya jadi lebih hemat soalnya yang diundang teman-temannya sama, paling nambah relasi bisnis doang,” ujar Jovan sambil terkikik.


 


“Cowok kepedean ! Siapa juga yang cemburu ?” gerutu Amanda sambil menoleh ke arah lain.

__ADS_1


 


“Muka elo tuh nggak bisa bohong, kelihatan banget kalo lagi mode cemburu. Tapi percaya sama gue kalau hati ini udah nggak punya perasaan lebih buat Cilla selain sebagai sahabat. Dan elo tahu nggak…”


 


“Nggak !” ketus Amanda dengan cepat sebelum Jovan meneruskan kalimatnya. Malu juga karena Jovan bisa menangkap rasa tidak sukanya Amanda saat cowok di sebelahnya ini menyebutkan nama Cilla.


 


“Ya udah, sekarang gue kasih tahu nih.” Jovan menarik nafas panjang dulu sebelum melanjutkan ucapannya. “Cilla itu kepo banget ngurusin kita berdua, dia berharap gue beneran jadian sama elo. Gue, Febi sama Lili diundang kemari sama nyokap lo, dan gue punya feeling kalau itu karena diminta sama Cilla.”


Amanda menoleh, terlihat tatapan galak di wajahnya. Rasa cemburunya membuat Amanda berpikir kalau Jovan sedang pamer soal Cilla di hadapannya.


 


“Jangan galak gitu dong, sayang,” Jovan terkekeh. Dia meraih tangan Amanda dan langsung menyerahkan kantong kertas yang sudah “Calon kakak ipar elo itu kepo karena ada maunya. Dasar tuh bocil kurang asem, niat banget mau memanfaatkan perasaan gue sama elo. Cilla bilang dia bakalan senang kalau kita berdua sampai jadian terus lanjut menikah dan akhirnya jadi saudaraan sama dia. Bukan karena nggak bisa move on dari gue, tapi dengan santainya dia bilang, biar dia punya sekutu kalau sampai Pak Juna macam-macam sama tuh bocah setelah mereka menikah. Soalnya selama ini hanya Pak Juna yang punya banyak sekutu, para pria jomblowers yang setia, sementara  Cilla hanya sendirian. Bahkan Kak Theo sekarang seperti lebih pro ke Pak Juna daripada Cilla.”


 


Amanda ingin tertawa mendengar penjelasan panjang lebar yang diutarakan Jovan dengan nada yang terdengar kesal, tapi gengsinya lebih besar untuk mulai memberi lampu kuning pada cowok yang sudah memintanya jadi pacarnya.


“Jangan curiga soal hubungan gue sama Cilla. Udah kenal dari bayi, ngompol bareng, pernah mandi bareng pas bayi, tapi duluan gue gedenya, jadi kadang hubungan kita tuh dekat kayak saudara. Gue baru sadar dengan perasaan gue pas Cilla memilih Pak Juna. Gue nggak merasa sakit hati malah bahagia melihat Cilla punya orang yang bisa dia deklarasikan sebagai pacar bahkan sekarang calon suami. Tapi kakak elo itu masih menaruh curiga besar sama gue, takut gue tikung,” Jovan memasang wajah serius sambil geleng-geleng kepala.


“Ternyata usia tidak menjamin kedewasaan seseorang. Udah jelas-jelas Cilla maunya nemplok sama Pak Juna, masih aja nethink kalau gue ini cadangannya Cilla. Dikiranya gue ban serep apa,” Jovan mendengus kesal.


 


Amanda mulai tersenyum sambil menoleh ke arah lain, dia tidak ingin Jovan melihatnya bereaksi terhadap ucapan-ucapan Jovan, padahal semua ini memang sengaja Jovan lakukan untuk memancing rekasi Amanda. Dia yakin, cewek bawel yang satu frekuensi dengan Cilla tidak akan mungkin tahan lama-lama berdiam diri kecuali sedang marah besar.


 


“Perasaan dari tadi gue ngomong sendiri, berekspresi sendiri, padahal di sebelah gue ada mahluk hidup yang berbentuk manusia. Perut gue mendadak lapar. Gue makan dulu, ya.”



Tidak peduli dengan Amanda yang masih mengabaikannya, Jovan mengambil piringnya dan mulai menyendok nasi berserta lauknya.


 


“Masakan nyokap lo enak. Atau jangan-jangan sebagian elo yang masak ? Sepertinya gue bakalan betah jadi menantu nyokap elo kalau bisa sering-sering makan masakan kayak gini.”


 


“Nyokap gue nggak buka lowongan buat posisi menantu,” sahut Amanda masih dengan nada ketus.


 


 


“Tadi gue udah minta Cilla supaya bungkusin gue sebagian makanan yang ada. Eh tuh anak bilang boleh kalau udah jadi menantunya mama,” Jovan menoleh ke arah Amanda yang ternyata sedang menatapnya. Gadis itu langsung gelapan karena tertangkap basah oleh Jovan. Mantan ketos itu sendiri masih menahan diri untuk bersikap biasa saja.


 


“Jadi sepertinya gue harus melamar jadi menantu bo-nyok elo dulu.”


 


“Siapa yang bersedia jadi suami elo ?” tanya Amanda dengan ketus, padahal hatinya sedikit malu-malu meong mendengar ucapan Jovan yang mulai nyerempet ke arah hubungan yang serius.


 


“Ya elo dong, masa kakak elo. Gue yakin kalau kakak lo dan gue itu masih sama-sama normal. Jadi nggak mungkin lah gue mau melamar jadi menantu dengan Pak Juna yang jadi pasangannya. Nggak kebayang gue diamuk Cilla pagi sore tujuh hari tujuh malam. Belum lagi kalau jurus aikido-nya dikeluarin, bisa-bisa gue langsung jadi oncom.”


 


“Memangnya Cilla bisa segalak itu ?”


 


Jovan tertawa dan mengangkat kedua bahunya. “Gue nggak tahu juga sih.”


 


“Dih nggak tahu tapi bisa ngegambarin gimana Cilla kalau lagi ngamuk,” cebik Amanda.


 


“Namanya juga khayalan. Kata pepatah, orang sabar itu kalau udah marah lebih dari petir yang menggelegar. Bukan cuma bisa bikin kaget orang, tapi kalau kena sambar bisa langsung gosong dan say good bye pada oksigen di dalam tubuhnya alias dead.”


 


“Asal !” gerutu Amanda.


 


Jovan yang sudah menghabiskan makanan di piringnya beranjak bangun membuat Amanda yang mulai menikmati suasana dengan cowok itu ingin menahannya. Tapi lagi-lagi rasa gengsi membuatnya mengabaikan Jovan, hanya meliriknya.

__ADS_1


 


“Gue masuk dulu, ya. Jangan dikangenin ! Gue belum pulang, cuma mau ambil minum dulu. Seret soalny habis makan dan kebanyakan ngomong udah kayak lagi kasih seminar. Elo mau ikut masuk nggak ? Gue mau cobain makanan lain, tapi kan nggak enak kalau sendirian. Nanti bo-nyok elo yang diam-diam mengawasi gue dari kejauhan bisa-bisa mikir ulang untuk menerima gue jadi pacar elo.”


 


“Biar mereka setuju kalau gue nggak mau, mana bisa status elo jadi calon menantu di rumah ini.”


 


“Dih kejam amat sih,” gerutu Jovan sambil berbalik badan dan kembali masuk ke dalam rumah untuk meletakan piringnya.


 


Setelah menimbang-nimbang  akhirnya Amanda ikut bangun dan masuk ke dalam rumah, pura-pura mau ambil buah dan puding yang di sediakan di meja.


 


“Boleh ambilin gue sekalian ?” Jovan sudah berdiri lagi di samping Amanda.


 


“Memang tangan elo mendadak kena stroke ?” cebik Amanda.


 


“Bukan stroke, tapi mendadak kaku karena serangan cinta. Debaran di jantung gue bikin tangan gue gemetar. Nih lihat,” Jovan mengulurkan tangannya ke arah Amanda dan sengaja digerak-gerakannya seperti orang gemetar namun sedikit lebay.


 


“Lebay,” cebik Amanda, namun tangannya mengambil piring lainnya dan mengisinya dengan puding untuk Jovan.


 


Jovan yang berdiri di sampingnya langsung senyum-senyum dengan wajah bahagia. Memang benar kata banyak orang, perempuan itu harus dimengerti, lain di mulut lain juga di hati. Jangan pernah berasumsi kata tidak yang keluar dari mulut wanita yang sedang marah berarti tidak beneran.


 


Dari kejauhan, Lili yang baru saja menghabiskan makanannya sambil ngobrol dengan Cilla dan Febi menatap pemandangan Jovan dan Amanda dengan wajah sendu. Kedua sahabatnya langsung mengikuti arah tatapan Lili yang mendadak terdiam.


 


“Jangan terlalu kecewa dan sakit hati, mungkin dia memang bukan jodoh elo. Habis gagal sama Cilla, ternyata dia tetap nggak melirik elo sebagai calon pacarnya. Jangan dipaksain karena sesuatu yang didapat dengan cara terpaksa akan berujung dengan sakit hati,” nasehat Febi sambil menepuk bahu Lili.


 


“Lagian kan elo tadi yang bilang sama gue, Li. Akan banyak cowok yang bakal kita temuin pas kuliah nanti. Siapa tahu ada yang lebih ganteng dan tajir dari Jovan plus cinta mati sama elo, Li. Semangat dong, Sis,”  timpal Cilla sambil senyum-senyum.


 


“Sepertinya gue akan merubah target cari pria dewasa aja yang udah mapan kayak calon suami elo,” Lili menoleh ke arah para sahabatnya. “Duda nggak masalah, asal duren sawit.”


 


“Terus kalau duren sawitnya punya anak lima dan beda umur duapuluh tahun sama elo tetap mau ? “ ejek Febi sambil tertawa.


 


“Nggak masalah,” jawab Lili mantap. “Biasanya selain jam terbang udah tinggi dan pengalamannya nggak perlu diragukan, cowok yang pernah gagal pasti lebih setia dan sayang sama istrinya yang masih muda.”


 


“Dasar kang halu,” Febi menoyor kening sahabatnya.


 


“Dih sahabatnya udah move on bukannya didukung malah dibilang kang halu,” wajah Lili langsung cemberut.


 


“Soalnya impian elo ketinggian, Li,” sahut Cilla. “Yang ada bukannya jadi istri pengganti tapi wanita pelampiasan hasrat pria dewasa,” lanjut Cilla sambil tertawa. Febi pun mengangguk-angguk tanda setuju.


 


“Ya ampun Cilla, elo nyumpahin gue ? Itu pengalaman hidup apa judul novel ?” mata Lili langsung membelalak menatap Cilla yang masih tergelak.


“Sombong bener cewek yang bentar lagi bakal menikah sama bapak guru,” cebik Lili dengan wajah masam.


 


Cilla dan Febi hanya tertawa dan membiarkan Lili menggerutu meninggalkan mereka menuju ke meja makan. Jovan dan Amanda sudah kembali ke teras belakang.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2