MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Sengatan Lebah Jantan


__ADS_3

Cilla cemberut saat melihat Luki, Erwin, Boni dan Mimi senyum-senyum menatap ke arah dirinya dan Arjuna saat masuk ke ruangan rawat inap Wiwik yang baru saja melahirkan.


“Ada yang baru jebol gawang nih,” ledek Erwin sambil tertawa.


Cilla langsung bersembunyi di belakang tubuh Arjuna sambil menggerutu.


“Tuh kan apa Cilla bilang,” gumamnya dengan wajah ditekuk.


“Nggak apa-apa, Sayang,” ujar Arjuna berusaha membujuk Cilla. Dirangkul istri kecilnya dan Arjuna sempat memberikan kecupan di pucuk kepala Cilla.


“Om-om kamu ini pada iri soalnya mereka masih aja jones dan Boni masih juga belum halalin Mimi.”


“Dih sombongnya,” cibir Mimi. “Baru juga semingguan resmi nikahnya.”


“Minimal udah sah ya,” Arjuna menjulurkan lidahnya. “Dan tanda ini sama ini tuh selain kepemilikan juga tanda cinta,” lanjut Arjuna sambil menunjuk kedua tanda merah di leher Cilla.


“Jadi ceritanya mau ikutan nyusul Dono sama Wiwik, nih ? Nggak jadi nunggu sampai tingkat dua, jadi mama mudanya sekarang aja ?” ledek Erwin disambut gelak tawa yang lainnya.


Bibir Cilla kembali mengerucut dan badannya berkelit melepaskan diri dari rangkulan Arjuna lalu bergegas menghampiri Wiwik yang sedang menggendong bayinya sambil setengah tiduran di atas ranjang.


“Duuhh lucunya,” Cilla menyentuh pipi bayi itu dengan telunjuknya. “Selamat ya Mbak Wiwik, Pak Dono.”


“Kamu mau juga punya bayi begini ?” Arjuna yang sudah berdiri di belakang Cilla kembali merangkul bahu istrinya.


“Selamat ya Wik, Don,” Arjuna tersenyum pada pasangan yang tengah berbahagia itu.


“Jadi kamu udah siap punya bayi juga setelah lulus SMA, Cil ?” goda Dono.


”Terlalu cepat kalau lulus SMA langsung punya anak, Pak,” sahut Cilla sambil tersenyum.


“Kalau sudah dikasih sama Tuhan nggak boleh ditolak loh, Cil. Banyak pasangan yang mau tapi susah dapat momongan,” timpal Wiwik. Cilla hanya tertawa pelan.


“Boleh gendong nggak Mbak Wik ? Cilla bisa kok,” pinta Cilla dengan wajah memohon.


“Cilla beneran bisa ?” Arjuna mengernyit, sepertinya ragu mendengar ucapan Cilla.


“Bisa,” sahut Cilla yakin. “Udah pernah gendong bayi kok beberapa kali.”


Wiwik tersenyum dan menyerahkan bayinya pada Cilla yang ternyata memang sudah sigap dan tidak kaku sama sekali.


“Cilla suka gendong bayi dimana ?” tanya Arjuna dengan wajah penasaran.


“Mau tahu aja,” cibir Cilla.


“Udah cocok kok jadi mama muda, Cil,” ledek Boni.


”Iya Cilla mau, tapi nggak sekarang juga, Om Boni. Bisa-bisa sebagai walkes, Pak Dono tambah pusing ngurusin Cilla kalau sampai hamil tapi masih sekolah. Urusan emak-emak rempong yang kepo soal Cilla sama Mas Juna aja belum beres banget.”


“Soal kehebohan di sekolah beberapa hari yang lalu ?” tanya Luki.


“Wuuiihh ternyata udah nyebar aja nih beritanya. Cilla jadi berasa kayak selebritis,” cibir Cilla. “Sumbernya dari mana nih ?” Cilla melirik ke Arjuna dan Dono bergantian.


“Theo,” sahut Boni sambil tergelak. “Sepupu kamu itu bercerita dengan penuh emosi. Gregetan dia mau nampol teman kamu sama emaknya juga.”


“Dih ternyata Kak Theo ember juga.”


“Berasa di sebut-sebut nih nama gue,” Theo sang pemilik nama ternyata muncul di balik pintu ruang rawat.


”Panjang umur lo, Bro,” ujar Erwin.


”Lagi gosipin gue ?” Theo menyipitkan matanya menelisik satu-satu sahabatnya yang duduk di sofa.


“Noh sepupu elo,” Boni menunjuk Cilla dengan dagunya.


Theo langsung menghampiri Wiwik dan Dono yang masih ditemani Cilla dan Arjuna.


“Selamat Bro,” Theo langsung memeluk Dono ala pria dan menyalami Wiwik.


“Belajar punya anak sendiri ?” ledek Theo sambil terkekeh saat melihat Cilla sudah tidak kaku lagi menggendong bayi.


“Bentaran lagi elo bakal punya ponakan juga, Bro,” ledek Erwin. “Gawang udah dijebol sama pawang bebek.”

__ADS_1


Theo memicingkan mata memperhatikan Cilla danlangsung membelalak begitu melihat dua tanda merah di leher Cilla.


“Kamu digigit sama bebek apa singa ?” tanya Theo sambil memegang kedua bahu Cilla yang masih menggendong bayi Wiwik dan Dono.


“Anak bebek diterkam sama singa, Bro,” sahut Luki yang langsung disambut gelak tawa yang lainnya.


“Kamu siap-siap aja dipanggil ke ruang BK hari Senin besok, Cil,” Dono ikutan meledek.


“Biar Mas Juna aja yang ngadep sama Pak Slamet,” omel Cilla sambil melirik suaminya yang malah senyum-senyum.


“Lagian elo gimana sih, Bro,” Theo menatap Arjuna. “Udah tahu bininya masih anak sekolah, pakai di cup cup di situ lagi.”


“Habis anak bebek kesayangan gue ngegemesin kalau udah di atas ranjang,” Arjuna menurunkan tangan Theo di bahu Cilla dan gantian merangkul bahu istrinya.


“Gemes sih gemes, Jun, tapi inget-inget juga kali kalau Cilla masih harus ujian. Bisa-bisa ikut susulan gara-gara kegemesan elo,” ledek Mimi.


”Kepo deh semuanya,” cibir Arjuna. “Cilla nya aja malah ketagihan gue cup cup. Iya kan sayang ?” Arjuna mengerling pada istrinya yang malah mencibir ke arahnya.


“Bentaran lagi bakal keluar nih stand up komedinya,” celetuk Boni. “Mendingan anak lo diselamatin dulu, Don.”


“Eh memangnya anak Pak Dono mau Cilla apain ? Nethink deh om Boni,” Cilla langsung melotot menatap Boni.


”Mateng loh Bon, efek gigitan drakula, anak bebek berubah jadi anak singa,” ledek Erwin.


“Mas Juna juga samanya,” omel Cilla dengan wajah kesalnya.


Melihat Cilla menunjukkan tanda-tanda siap menaburkan genderang debat mendebat andalannya, Dono mengambil bayinya dari gendongan Cilla.


“Bikin tanda nggak ijin-ijin dulu, main sosor aja. Bukan cuma papa, mama sama Amanda doang kan yang ketawain. Tuh grup jones ikutan ngeledek juga,” gerutu Cilla dengan bibir yang semakin manyun.


“Namanya juga bebek, Cil. Kan memang hobinya Arjuna nyosor melulu,” ledek Luki.


“Tapi Cilla kan senang juga pas Mas Juna sosor semalam,” mata Arjuna mengerjap dengan senyuman manis penuh rayuan.


“Mas Juna nya udah ngurung Cilla sampai susah bergerak, gimana caranya Cilla mau nolak. Apalagi…” Cilla enggan melanjutkan ucapannya, malah ia tersipu dengan wajah mulai merona.


“Apalagi Arjuna udah berpakaian ala tarzan dari hutan amazon,” Boni langsung menyambung ucapan Cilla sambil ngakak.


“Ma**pus lo,” Erwin langsung ngakak mendengar ucapan Cilla yang membuat Boni jadi salah tingkah.


“Nggak sampai kayak Arjuna,” sahut Boni cepat membuat Cilla langsung terbahak.


“Cup cup doang, Cil,” Theo ikut menimpali sambil mencibir. “Merah-merah di leher Mimi lebih banyak dari kamu punya.”


“Theo asal, deh,” protes Mimi dengan wajah memerah dan tersipu.


“Gue nggak bakal lupa pas gue lagi liburan jaman kita masih kuliah. Pas waktu itu Luki komentar mendingan anak orang cepetan elo kawinin,” sahut Theo.


Luki mengernyit sejenak lalu wajahnya berbinar


“Elo masih inget aja tuh kejadian , Yo,” ujar Luki sambil tergelak. “Dan dengan santainya Boni menjawab ibarat mau beli mobil, perlu test drive dulu.”


“Jangan mencoba mengelak !” Arjuna langsung menyambung ucapan Luki saat melihat Boni sudah mulai mangap.


”Kak Mimi kok nggak langsung minta pertanggungjawaban ?” goda Cilla sambil cekikikan.


“Soalnya Boni nggak sampai ngukung aku dan jadi tarzan kayak Arjuna,” sahut Mimi dengan wajah yang masih merona.


“Tapi kalau aku nih Kak Mimi, nggak bakal terima di cup-cup tapi digantung kayak sekarang,” Cilla melanjutkan provokasinya sambil melirik Boni dengan tatapan meledek. “Rugi buat pihak cewek, untung buat para cowok.”


“Jangan jadi provokator deh !” Boni melotot menatap Cilla yang masih cekikikan. “‘Mau aku bagi aibnya Juna juga ?”


Arjuna langsung melotot menatap Boni yang sedang tersenyum smirk.


”Nggak perlu, itu udah masa lalu. Mau diceritain dan bikin kesal Cilla sekarang nggak ada gunanya juga. Mau dihapus nggak bisa, mau dibuang apalagi. Udah jadi suami, mau nggak mau harus ditelen biar kata sepahit brotowali.”


“Terima kasih sudah membela Mas Juna,” Arjuna mendekati Cilla lalu mengecup pipi istrinya sambil merangkulnya.


”Mulai lebay deh,” sindir Dono. “Ingat ya, status Cilla masih murid gue. Jangan sampai virus kemesuman elo ditularkan ke Cilla dan akhirnya dibawa ke sekolah.”


“Dih walkes sisa dua minggu doang,” cebik Arjuna.

__ADS_1


“Yakin nggak mau dengar aib-nya Juna, Cil ?” Boni kembali memprovokasi Cilla.


“Memang Om Boni bisa untung berapa kalau jual aib-nya Mas Juna ?” wajah Cilla mengernyit. “Lagi giat kumpulin uang buat modal kawinan sama Kak Mimi, ya ?”


Yang lainnya tergelak melihat wajah Boni malah memerah dan mulutnya menggerutu.


”Aku belum semiskin itu, Cil,” omel Boni. “Masih sanggup membuat pesta di hotel bintang lima, kalau perlu minggu depan juga bisa.”


“Dih sombongnya,” cibir Cilla sambil terkekeh. “Buktikan dong. Wanita butuh bukti bukan sekedar janji. Terlalu pintar membuat janji, bisa-bisa Om Boni diajak ikutan kampanye loh,” ledek Cilla memancing yang lainnya ikut tertawa.


”Kamu kira Boni calon ketua OSIS di sekolah yang lagi orasi biar kepilih ?” timpal Dono.


“Kok jadi membahas aku sama Mimi ?” Boni melirik kekasihnya minta dukungan. “Bukannya kamu mau sharing pengalaman diterjang sama singa jantan ?”


“Papa sama Amanda bilang, Mas Juna bukan singa jantan tapi lebah jantan yang suka menyengat,” lirik Cilla ke arah suaminya yang sedang sumringah dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya.


”Mas Juna nggak pegel senyum begitu terus ?” kedua alis Cilla menaut lalu melirik ke arah jam tangannya. “Udah hampir sepuluh menit loh ! Kalau kelamaan tuh mulut kaku nggak bisa balik normal malah nyeremin. Cilla ogah banget deh punya suami mulutnya tersenyum kaku begitu.”


”Tuh Jun, dengerin kata istri,” ledek Luki. “Kalau istri aja takut apalagi yang lainnya.”


“Mas Juna itu bahagia,” Arjuna mencubit kedua pipi Cilla dengan gemas. “Mau jadi lebah atau singa jantan nggak masalah.”


“Mas Juna sakit iihh. KDRT,” Cilla berusaha melepaskan kedua tangan Arjuna yang masih mencubit pipinya.


“Gemes,” ujar Arjuna sampai menggigit bibirnya sendiri.


“Wah Cil, kayaknya Juna lebih gahar ya kalau lagi berdua,” ledek Erwin.


“Nggak tahu, belum pernah coba. Semalam Mas Juna cuma jadi lebah belum jadi singa,” jawaban Cilla yang santai membuat Arjuna membelalakan matanya.


”Cilla,” tegur Arjuna.


“Memang iya kan, semalam kita…”


Arjuna langsung membekap mulut Cilla dengan tangan lalu menggelengkan kepalanya.


“Oooo jadi ceritanya semalam gagal jebol gawang,” ledek Luki disambut tawa yang lainnya.


“Cilla, aku padamu,” Erwin berdiri sambil memegang dadanya dan mendramatisir wajahnya. “Biar kamu sudah tersengat lebah, dengan senang hati kutunggu balasan cintamu.”


“Tunggu matahari terbit dari barat !” omel Arjuna sambil melotot.


“Jangan biarkan tendangan bola musuh dengan gampangnya membobol gawangmu,” ujar Theo menepuk bahu sepupunya sambil tertawa melihat wajah Arjuna yang mulai kesal.


“Cilla perlu tambahan keeper, nggak ?” Luki menimpali di tengah tawanya.


”Atau perlu wasit ?” Dono ikut menggoda pasangan itu. “Dengan pengalaman dan jam terbang yang tidak perlu diragukan, saya pasti bisa jadi wasit yang adil buat kalian.”


”Eh gue sama Cilla mau malam pertama bukannya mau main sepakbola,” omel Arjuna dengan wajah cemberut. “Nggak perlu keeper apalagi wasit.”


Yang lain langsung terbahak melihat wajah Arjuna yang mulai ditekuk. Mulutnya semakin manyun melihat Cilla ikut cekikikan.


“Berani ikutan tertawa Mas Juna nggak bakal nunggu sampai ujian selesai, nih !” ancam Arjuna.


“Mas Juna iihh ! Nggak malu apa membahas masalah begini di depan teman-teman mas Juna ?” omel Cilla dengan suara tertahan berhadapan dengan Arjuna.


“Maklum Cil, pas sekolah Arjuna memang nakal di luar, tapi di dalamnya hati Arjuna tuh lembut kayak hello kitty. Udah hampir duapuluh tujuh tahun belum pernah uji coba langsung, Arjuna takut onderdilnya karatan,” ledek Theo.


“Apalagi udah sah tapi masih harus nunggu sampai kamu lulus SMA, Cil,” ledek Boni.


Arjuna menutup kedua telinga Cilla dengan telapak tangannya sambil berucap tanpa suara “jangan didengar”


Cilla melepaskan kedua tangan Arjuna yang menutupi telinganya.


“Yang penting sparepartnya masih orisinil nggak Om ?” tanya Cilla sambil senyum-senyum.


Sontak semua yang ada di ruangan itu, tidak terkecuali Wiwik ikut terbahak mendengar pertanyaan Cilla plus wajah Arjuna yang langsung memerah menahan kesal sekaligus malu. Bisa-bisanya Cilla menanyakan milik Arjuna masih orisinil atau nggak.


Arjuna langsung menarik tengkuk Cilla dan memberikan ciuman panas di depan para sahabatnya, membuat Dono dan Boni langsung menutup mata pasangan mereka dengan telapak tangan.


“Mas Juna Iih !” gerutu Cilla saat berhasil melepaskan ciuman Arjuna. Wajahnya terlihat kesal dan gantian memerah karena malu.

__ADS_1


“Mas Juna pastikan Cilla akan puas dan ketagihan dengan milik Mas Juna yang masih mulus dan original. Kalau perlu, malam ini juga Cilla boleh langsung test drive,” bisik Arjuna di telinga Cilla, membuat gadis itu bergidik dan kembali tersipu malu.


__ADS_2