
Sabtu jam 7 pagi Arjuna sudah sampai di rumah Cilla. Hatinya masih agak kesal karena sejak semalam pesannya tidak terkirim dan handphone Cilla juga tidak bisa dihubungi.
Saat Bik Mina membukakan pintu teras untuknya, mata Arjuna langsung menyapu ruangan yang bisa tertangkap pandangannya. Tidak ada tanda-tanda kalau Cilla menunggu kedatangannya, padahal sudah pasti pacarnya itu mendengar suara motor milik papinya yang dibawa oleh Arjuna.
“Non Cilla sudah pergi sejak jam 6.30 Den Juna,” ujar Bik Mina sambil tersenyum seolah menjawab tatapan Arjuna yang sejak tadi celingukan.
“Memang biasa sudah keluar pagi-pagi begini di hari Sabtu, Bik ?” tanya Juna sambil mengernyit.
“Tidak tentu juga, Den. Tadi pagi-pagi sudah dijemput sama Den Jovan, nggak bilang sih mau kemana.”
Mata Arjuna langsung membola. Pergi dengan Jovan ? Jadi beneran kalau Cilla menghubungi Jovan dan pergi dengan ketos tampan itu tanpa ijin padanya.
Arjuna langsung mengambil hanpdphone dari saku celananya. Ia menghela nafas saat melihat semua pesan yang dikirim untuk Cilla sudah terbaca, tapi tidak ada satupun yang dibalas oleh anak bebek itu.
“Kamu dimana ?” Arjuna tidak cukup sabar hanya mengirimkan pesan pada pacar kecilnya itu, dia langsung menghubungi nomor Cilla dan ternyata gadis itu tidak menolak panggilannya.
“Lagi menghangatkan badan,” sahut Cilla ketus. “Air panas di keran nggak cukup bikin badan Cilla jadi hangat.”
Arjuna menggerakan bola matanya sambil menghela nafas. Kenapa sejak jadi pacar, anak bebek ini gampang ngambek.
“Jadi beneran nelpon Jovan ?” tanya Arjuna dengan suara yang dibuat kalem sambil berusaha menenangkan hatinya yang sudah tersulut emosi.
“Nggak nelepon. Tapi seperti jodoh, Jovan yang hubungi Cilla. Sepertinya batin Jovan langsung terhubung dengan kekesalan hati Cilla.”
Arjuna kembali menarik nafas untuk menahan emosinya. Sudah dijamin Cilla akan langsung menutup panggilannya kalau suara Arjuna berubah galak di level 10.
“Terus kalian kemana ?” Tanya Arjuna dengan nada yang terpaksa dibuat kalem.
“Kalau pacaran boleh ?” Tanya Cilla sambil tersenyum meskipun Arjuna tidak bisa melihatnya.
“Nggak boleh !” Jawab Arjuna cepat. Ekspresi wajahnya jangan ditanya, sudah ditekuk seperti kertas lipat dibuat kapal-kapalan.
“Nggak bisa jawab yang benar ? Kamu kemana ?” nada suara Arjuna sudah terdengar ketus.
Di dalam mobil Jovan, Cilla berusaha mati-matian untuk tidak tergelak. Padahal ia pergi bukan hanya berdua dengan Jovan, ada Lili dan Febi juga.
Mereka bertiga pergi bareng untuk mengerjakan tugas kelompok Senbud. Sementara Jovan adalah korban pemaksaan Lili. Dengan iming-iming bisa menghabiskan waktu dengan Cilla, Lili mendaulat Jovan untuk menjadi sopir merangkap juru foto.
Tidak ada cerita Jovan menghubunginya semalam. Dasar Arjuna saja yang mudah emosi sampai tidak bisa berpikir jernih. Arjuna tidak ingat kalau matanya melotot sampai jam 12 malam memandangi handphone bolak balik karena berharap pesannya terkirim untuk Cilla, tapi hasilnya tetap centang 1.
Bagaimana mungkin Cilla teleponan dengan Jovan sementara handphonenya dalam keadaan mati. Dasar cowok bensin, dengar sesuatu yang keluar jalur sedikit langsung emosi seperti tersulut api.
”Mas Juna, Cilla lagi belajar menjadi murid teladan, jadi nggak usah khawatir. Memangnya Mas Juna rela kalau Cilla sering-sering dihukum berduaan sama Jovan ? Lebih baik Mas Juna fokus sama papi. Jangan pasang muka jutek begitu,” ujar Cilla masih menahan rasa gelinya, apalagi membayangkan wajah Arjuna yang cemberut.
Arjuna membelalakan matanya seolah Cilla memantaunya lewat CCTV. Ia langsung mengedarkan pandangan mencari-cari apa mungkin banyak kamera CCTV di rumah Pak Darmawan.
“Jangan sampai gara-gara muka Mas Juna jutek gitu, papi berubah pikiran dan melarang Mas Juna dekat-dekat sama Cillla.”
Arjuna menghela nafas dan membenarkan ucapan Cilla meski ia tidak bersuara apa-apa.
“Yang penting jangan selingkuh !” gerutu Arjuna.
“Haiiss dari kemarin Mas Juna mikirnya nggak jauh-jauh dari selingkuh. Memangnya ada tanda-tanda kalau Cilla ini cewek tukang selingkuh ?”
“Selesai jam berapa ? Nanti biar aku yang jemput, nggak perlu Jovan antar kamu pulang,” tanya Arjuna tanpa menanggapi omongan Cilla sebelumnya.
“Udah Mas Juna beneran fokus aja sama papi. Belum tentu kita selesainya bareng. Tenang aja, Jovan sekarang udah kalem, nggak agresif dan nggak suka nguber-nguber lagi.”
__ADS_1
“Eh, elo kira gue scooby-do ? Sejak kapan gue nurut sama elo ?” protes Jovan yang sedang nyetir.
Terdengar tawa Febi dan Lili mengikuti protes Jovan. Sudah sejak tadi mereka menahan diri untuk tidak tertawa, dan akhirnya kelepasan juga saat melihat wajah Jovan cemberut menanggapi ucapan Cilla.
Suara kedua sahabat Cilla itu membuat Arjuna akhirnya bisa bernafas lega karena ternyata anak bebeknya nggak pergi berduaan saja dengan Jovan.
“Ya udah, jangan nakal, ya !” ujar Arjuna kembali dalam mode kalem. “I love you.”
What ? Mata Cilla langsung membelalak. Wajahnya merona dan hatinya langsung melehoy diberikan ucapan cinta dari gurunya yang tampan menggemaskan itu.
“Kok kamu diam aja ?” tanya Arjuna kembali gantian sambil senyum-senyum. Sudah bisa dipastikan kalau anak bebeknya sedang malu-malu meong dibisikkan kata cinta.
“Woooii Cilla elo kenapa ? Kok tersipu-sipu begitu ?” Jovan yang melihat ekspresi Cilla dari spion tengah sengaja berteriak, biar Arjuna mendengar dan tahu kondisi pacarnya.
“Eh bawel ya !” Omel Cilla sambil melotot.
“Waahh beneran nih Pak Arjuna… Cilla kok mendadak melehoy gitu, kayak lilin kelamaan nyala,” timpal Lili dengan suara tidak kalah kencangnya.
“Kita juga mau dong dibikin melehoy, Pak Juna,” Febi tidak mau kalah ikut bersuara juga.
Cilla langsung menepuk bahu Jovan dari belakang membuat pria itu langsung mengaduh. Tatapan galaknya langsung diberikan pada kedua sahabatnya yang masih tergelak menertawakannya.
“Pak Juna, Cilla pegang-pegang saya nih, bikin saya jadi kesetrum,” teriak Jovan sengaja membuat Cilla bertambah malu.
Akhirnya tanpa mengucapkan apa-apa, Cilla langsung menutup sambungan teleponnya dengan Arjuna, padahal Arjuna masih ingin berceramah menasehati Cilla supaya menjaga jarak dengan Jovan. Biar bagaimana ketos tampan itu sudah begitu lama menyukai Cilla dan perasaannya bisa melebihi kadar cinta Arjuna.
“Dasar teman-teman laknat… Bukannya menenangkan malah bikin suasana memanas,” omel Cilla sambil memukul kembali bahu Jovan.
“Lagian kaget banget kalau ternyata elo pacaran sama Pak Arjuna,” Lili yang duduk di kursi penumpang depan langsung merubah posisinya dengan bersandar pada pintu lalu mengerutkan dahinya.
“Eh gampang darimananya ?” sahut Cilla dengan emosi.
“Kok bisa sih elo jadian sama Pak Arjuna ?” tanya Febi sambil menautkan alisnya.
“Bukan gara-gara elo jatuh berdua timpa-timpaan di lantai 3 kan ?” tanya Lili dengan muka polosnya.
“Eh timpa-timpaan apaan, Cil ?” Jovan mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Lili.
“Kayak baru kenal Lili aja. Kan udah tahu gimana penggemar elo ini suka asal kalau bikin istilah,” cebik Cilla.
“Cilla jatuh di depan kelas, Van,” ujar Febi. “Dan karena terlalu bersemangat jatuhnya, jadilah ia menbrak Pak Juna sambil mereka jatuh berpelukan berdua di lantai.”
Febi dan Lili langsung tertawa dan bertos ria.
“Bukannya jatuh sembarang jatuh,” gerutu Cilla. “Kalau elo berdua nggak sengaja dorong gue, mana ada kejadian gue jatuh di atas badannya Pak Arjuna.”
“Sampai ciuman ?” Jovan melirik Cilla kembali dari spion tengah.
“Mana ada tambahan ciuman,” sahut Cilla dengan galak. “Tuh ada Febi dan Lili sebagai saksi.”
“Yaah kalau elo nggak sengaja ciuman sama Pak Arjuna mana kita tahu, Cil,” sahut Lili sambil terkekeh.
“Iya kan posisi elo berdua begitu dekat, cenderung menempel,” timpal Febi. “Mana bisa kita lihat bibir elo berdua ikut tabrakan apa nggak.”
“Jangan ngadi-ngadi ya kalian berdua !” Omel Cilla sambil melotot menatap kedua sahabatnya bergantian.
“Jadi sudah fixed cinta gue ditolak, nih ?” ledek Jovan sambil tertawa sedih.
“Iiih sejak kapan elo nembak gue jadi pacar ? Tiap kali ketem, kerjaan elo cuma bilang mau minta maaf doang, nggak nyinggung soal cinta,” sahut Cilla tidak mau kalah.
“Jadi elo menunggu gue mengungkapkan cinta ?” ledek Jovan sambil tertawa.
“Ya elah si oon,” Febi menoyor kening Cilla. “Mana ada cowok yang setia membujuk elo selama bertahun-tahun kalau bukan karena punya perasaan cinta. Elo aja yang terlalu emosi sama Jovan. Sekarang mendadak elo kasih kabar kalau udah jadian sama cowok lain, guru kita pula. Elo nggak khawatir kalau sampai nih cowok patah hati dan gantung diri di pohon toge ?”
“Tuh ada Lili yang udah siap menjadi pengganti,” sahut Cilla dan menunjuk Lili dengan dagunya.
“Eh elo kira perasaan gue ini adegan berbahaya yang butuh peran pengganti ?” omel Jovan sambil melotot pada Cilla.
__ADS_1
Lili terkikik mendengarnya. Tidak disangka kalau ketos tampan yang terlihat cool itu ternyata sebelas duabelas kalau sudah bersama Cilla.
“Kalau tarifnya sesuai dengan standar elo, nggak ada salahnya disamain, kan ?” sahut Cilla santai sementara Jovan mendengus kesal.
Febi dan Lili tergelak. Sepertinya pria-pria yang punya hati pada Cilla memang model cowok bensin yang langsung tersulut emosinya kalau berdekatan dengan gadis itu.
“Udah jangan dibuat kesal dong ketos tampan kita,” Lili menepuk-nepuk bahu Jovan dari samping. Jovan menggerakan bahunya supaya tangan Lili mejauh.
“Nanti kita batal dibantuin dan diturunin pula di tengah jalan,” lanjut Lili sambil senyum-senyum menatap Jovan.
“Sejak kapan kalian pacaran ?” tanya Jovan dengan wajah ketus melirik Cilla dari spion.
Tidak dipedulikannya ucapan Lili yang khawatir kalau mode kesalnya Jovan akan merembet pada jasa bantuan yang sudah disepakati mereka berdua.
“Baru 3 minggu,” jawab Cilla santai.
“Nggak nyesel terima Pak Arjuna begitu tahu kalau gue juga suka sama elo ?” cebik Jovan dan langsung cemberut saat melihat Cilla menggeleng.
“Daripada ngomporin gue supaya putus sama Pak Arjuna, lebih baik elo putar balik samperin Lili. Sahabat gue ini udah nungguin elo sejak kelas 9,” Cilla melirik ke arah sahabatnya itu dan menjulurkan lidahnya saat melihat Lili malah melotot menatapnya.
“Putaran baliknya udah kelewatan jauh, jadi biar gue lurus terus aja. Siapa tahu om Rudi nggak merestui hubungan elo sama Pak Juna, karena guru kita itu udah ketuaan buat elo,” sahut Jovan sambil terkekeh.
“Bukan tua, Jovan, tapi matang ! Dan gue sukanya sama yang matang daripada yang mengkel kayak elo,” balas Cilla sambil terkekeh.
“Biar gue bisa nikah muda. Kalau nungguin elo mapan kelamaan. Belum lagi harus menunggu sampai hati gue jatuh cinta juga sama elo, bisa keburu kita ubanan. Lebih baik elo terima Lili aja tuh, yang udah ready.”
“Kalau elo kudu open PO dulu ya, Cil ?” komentar Febi sambil terkekeh.
“Bener bingit, Feb. Udah gitu jatuh tempo PO- nya sampai batas waktu yang tidak ditentukan pula,” sahut Cila sambil tergelak.
“Tapi asli geli banget dengar elo panggil Pak Arjuna dengan sebutan Mas Juna,” ujar Lili sambil mencibir.
“Terus gue musti panggil apa, dong ? Honey ? Bee ? Ayang ? Duh kayaknya mulut gue geli-geli gimana gitu…. Malah pengennya panggil Pak Arjuna dengan sebutan om,” sahut Cilla sambil terkikik.
“Nanti elo disangka sugar baby-nya Pak Arjuna lagi,” ledek Lili.
“Memang Cilla itu kan sugar baby-nya Pak Arjuna yang udah kayak om-om,” sahut Jovan dengan nada ketus.
“Udah dong ketos tampan. Lupakan cintamu pada Cilla yang bertepuk sebelah tangan. Masih banyak perempuan cantik menunggumu di luaran,” Lili mulai dengan tingkah absurdnya.
Jovan melirik dengan wajah malas dan geleng-geleng kepala.
“Asli geli banget gue sama elo, Li. Jangan ngarep cowok-cowok bisa jatuh cinta digombalin alay model begitu,” ujar Jovan sambil mencibir.
“Hati-hati jangan terlalu benci dan sebal sama gue. Berbalik jadi bucin baru tahu rasa lo,” sahut Lili sambil balas mencibir. “Kalau sampai beneran elo bucin, bakalan gue bikin nyesel karena pernah menyepelekan gue.”
Jovan menggeleng sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela tiga kali, begitu juga mengetuk setirnya tiga kali. Mata Lili langsung melotot dan wajahnya terlihat kesal.
“Jovan rese !” omel Lili dengan suara yang cukup keras membuat Jovan menutup sebelah telinganya yang dekat dengan posisi Lili.
Di kursi penumpang belakang, Febi dan Cilla terbahak menyaksikan kelakuan kedua teman mereka.
__ADS_1