
Setelah kemarin seharian menemani Cilla di rumah, hari ini Arjuna harus kembali bekerja di kantor. Beberapa pekerjaan di perusahaan peninggalan papi harus diselesaikan.
Cilla sendiri memilih tinggal di rumah, ingin merapikan kamar papi.
“Barang-barang Tuan sudah tidak banyak, Non. Pas Tuan mulai sakit-sakitan, sebagian besar pakaiannya sudah disumbangkan,” ujar Bik Mina yang menemani Cilla masuk ke kamar papi.
“Sampai segitunya papi udah menyiapkan semuanya ya, Bik. Urusan kantor juga udah banyak dialihkan ke Mas Juna.”
Cilla menyeka air mata yang mulai keluar di pelupuk matanya. Meskipun tinggal satu rumah, Cilla jarang masuk ke kamar papi. Apalagi di rumah sebelumnya, sejak tante Sofi datang sebagai ibu sambung Cilla, ada larangan tidak tertulis yang dikeluarkan tante Sofi supaya Cilla tidak masuk ke kamar orangtuanya.
Cilla membuka lemari pakaian papi. Betul apa yang dikatakan Bik Mina, sudah tidak banyak pakaian tersimpan di sana, kurang dari separuh isi lemarinya.
“Noni, ini adalah kotak ajaib Tuan Rudi,” Pak Trimo yang ikut menemani membawa satu kotak plastik berwarna biru.
“Saya yakin kalau kotak ini akan diwariskan untuk Noni. Tidak ada nilai rupiahnya, tapi banyak cinta tuan Rudi tersimpan di sana.”
Cilla mengerutkan dahi sambil menatap Pak Trimo yang mengangguk sambil tersenyum.
Cilla membawa kotak seukuran dus sepatu itu sambil duduk di sofa single yang ada di kamar papi. Dibuka penutupnya dengan dengan perasaan berdebar.
“Tuan Rudi selalu mengikuti perkembangan Noni sekalipun nggak ada di samping Noni. Sejak kejadian nyonya Sofi, Tuan Rudi diam-diam mengikuti perkembangan Noni. Dirman dan Toga adalah orang-orang kepercayaan Tuan Rudi yang tugasnya menjaga Noni,” ujar Pak Trimo sambil berdiri dekat Cilla.
Air mata penuh rasa haru pun mulsi menetes dari kedua sudut mata Cilla.
Cilla mendapati banyak foto-foto dirinya sejak dari SD sampai SMA kelas 10. Bahkan papi punya foto-foto Cilla saat mengikuti MOS di kelas 10.
“Foto-foto menjadi pengobat rindu saat Tuan berada jauh dari Noni. Saya dan Pak Budi sering ikut merasa sedih saat Tuan hanya bisa menyampaikan rasa rindunya pada kami dan tidak berani bicara langsung sama Noni.”
“Kenapa papi nggak pernah mengatakan langsung sama Cilla, Pak ? Padahal papi bisa ngomong lewat telepon kalau memang sedang sibuk.”
“Banyak penyesalan yang tidak bisa tuan buang dalam hidupnya. Penyesalan atas kematian nyonya Sylvia adalah hal terbesar yang merubah hidup tuan, belum lagi tekanan dari tuan dan nyonya besar yang masih menuntut supaya tuan memiliki anak laki-laki sebagai penerus. Menjauhi noni adalah salah satu cara untuk melindungi noni dan mengalihkan rencana tuan dan nyonya besar. Sampai akhirnya tuan dan nyonya besar meninggal, tuan Rudi bermaksud menata kembali hidupnya bersama noni. Keputusan menikah dengan nyonya Sofi bermaksud ingin memberikan cinta yang lengkap untuk noni, tapi siapa sangka kalau kondisinya ternyata justru menyakiti noni”
Cilla hanya diam mendengarkan sambil melihat-lihat foto yang tersimpan baik oleh papi. Semuanya disimpan dalam satu album lipat dan Cilla baru menyadari kalau di belakang foto itu hampir semua memiliki catatan dengan tulisan tangan papi.
“Kenapa papi harus memendam semuanya sendirian ? Setiap kali papi tanya gimana kabar Cilla rasanya udah bahagia banget meskipun papi nggak ada di sisi Cilla. Mungkin Cilla masih terlalu kecil banget untuk menjadi teman diskusi papi.”
Cilla kembali meneteskan air mata saat membaca tulisan di balik foto dirinya yang memakai atribut MOS saat kelas 10.
__ADS_1
Putri cantik kita sudah memakai seragam putih abu-abu, Via. Rasanya tidak percaya melihat Cilla yang imut itu beranjak dewasa.
Cilla akan selalu menjadi putri kecil di hatiku. Melihatnya tumbuh dengan baik adalah kebahagiaan terbesarku, penyemangatku untuk sembuh meski di sisi lain aku sering tidak bisa menahan rasa rinduku padamu
”Papi cinta banget sama mami ya, Pak Trimo,” ujar Cilla di sela isak tangisnya. ”Cilla akan bersalah banget kalau masih menahan papi dan memaksa papi tetap di samping Cilla saat ini.”
“Cinta dan setia banget, Non,” ujar Bik Mina. “Bahkan sampai enggan menyentuh nyonya Sofi meski status mereka sudah suami istri.”
“Kok Bik Mina tahu ?”
“Nyonya Sofi suka ngomel-ngomel sendiri kalau lagi di dapur, Non. Berbagai cara nyonya lakukan supaya tuan bersedia punya anak dengan nyonya, tapi sayangnya nggak pernah berhasil. Pernah nyonya sampai nekad memberi obat perangsang gitu. Untung aja ketahuan sama Toga yang nggak sengaja lagi mau bikin kopi di dapur. Toga langsung bilang sama bibi dan kita berdua atur gimana caranya supaya minuman itu bisa dibuang.”
“Nggak terbayang kalau tuan terikat sama nyonya Sofi gara-gara anak,” ujar Pak Trimo sambil menggedikan bahunya.
“Sudah pasti Cilla akan diusir jauh-jauh dari papi, Pak,” sahut Cilla sambil tertawa pelan. “Hanya nikah siri dan belum punya anak aja, Cilla udah mau disingkirkan jauh-jauh dari papi.”
“Tuhan itu nggak pernah akan tidur, Non. Apalagi cinta tuan itu kan cinta yang tulus pada istri dan anaknya, jadi sudah pasti di ridhoi oleh Allah,” ujar Pak Trimo membuat Cilla tersenyum.
“Cilla bahagia biar hanya sebentar punya waktu dekat sama papi. Cilla bisa merasakan kalau cinta papi tuh memang luar biasa ke mami dan Cilla. Apa karena Cilla mirip sama mami ya, Pak ?”
“Iya mirip banget sama nyonya Sylvia,” Bik Mina yang menjawab. “Sampai cara non ketawa juga mirip.”
“Coba Noni lihat ini,” Pak Trimo yang berdiri di belakang meja kerja papi memanggil Cilla.
Cilla beranjak dari sofa mendekati Pak Trimo berdiri di depan lemari kecil.
“Coba lihat ini,” Pak Trimo memperlihatkan barisan foto yang berjajar di sana.
Cilla tersenyum, foto yang dipasang dalam bingkai kecil-kecil diatur dengan rapi. Selain foto masa kecil saat mami masih ada, kebanyakan sisanya adalah foto-foto Cilla dan papi belum lama ini. Di Singapura, di restoran, di halaman belakang bahkan di sekolah saat papi mengklarifikasi berita yang disebar oleh tante Dinda dan Sherly, semuanya dalam pose berdua.
“Tuan benar-benar bahagia di akhir hidupnya bisa menghabiskan waktu dengan Noni sebagai ayah dan anak. Pak Budi bilang bahkan tuan selalu membanggakan noni pada rekan-rekan bisnisnya.”
“Cilla juga bahagia banget, Pak Trimo,” Cilla mengusap foto dengan papi sesaat setelah berdansa di Singapura.
“Yang penting sekarang noni ikhlas melepas kepergian tuan, jangan diberatin. Non Cilla udah punya Den Juna yang harus diperhatikan,” nasehat Bik Mina sambil mengusap bahu Cilla.
“Cilla ikhlas kok Bi,” Cilla mengangguk pasti.
__ADS_1
Mendengar Bik Mina menyebut nama Arjuna, tiba-tiba rasa rindu membuncah di hatinya. Cilla melirik jam dinding, hampir jam 10. Cilla mengeluarkan handphone dari saku celana pendeknya. Matanya mengernyit saat tidak melihat ada pesan dari Arjuna. Biasanya suaminya itu selalu mengirimkan pesan sekedar memberi tahu sudah sampai di kantor atau mau meeting.
Cilla mengirimkan satu pesan yang hanya terkirim dan tidak terbaca. Cilla menghela nafas, Arjuna pasti akan mulai sibuk banget menjalankan beberapa usaha sekaligus.
“Bik, Cilla mau bawain makan siang buat Mas Juna. Beresin kamar papi lanjut besok ya ?”
“Terserah noni aja,” sahut Bik Mina.
Cilla pun menghentikan aktivitasnya di kamar papi dan beralih ke dapur. Pak Trimo dan Bik Mina hanya mengikuti keinginan Cilla.
Jam 11.15 Cilla sudah siap lengkap dengan hasil masakannya untuk Arjuna. Cilla sudah mengirim pesan pada Tino supaya jangan membiarkan Arjuna membeli atau keluar makan siang karena pesan yang dikirim ke nomor Arjuna masih juga belum terbaca. Tapi nasib pesan ke Tino juga sama.
Pak Trimo yang mengantar Cilla karena Bang Dirman untuk sementara ditugaskan menjadi sopir Arjuna.
Jam 12 pas Cilla sampai di kantor PT Indopangan dan tanpa banyak ditanya, Cilla langsung naik ke ruangan Arjuna. Hampir semua sudah mengenalnya sebagai istri Arjuna.
Cilla mengerutkan dahi saat melihat tidak ada Tino atau sekretaris perempuan yang biasa duduk di depan ruangan Arjuna. Tidak ingin berpikir negatif, Cilla pun mendekati pintu ruang Arjuna.
Belum sempat mengetuk, pintu ruangan sudah terbuka dan terlihat Tino yang muncul di baliknya.
“Cilla ? Kok tumben ?” Tino tampak terkejut melihat kehadiran istri bossnya di kantor.
Cilla tidak menjawab karena matanya langsung menatap sosok wanita yang berdiri di sebelah Arjuna. Mengabaikan sapaan Tino, Cilla melewati asisten Arjuna itu dan berjalan mendekati suaminya.
“Mau ngapain kamu di sini ?“ tanya Cilla dengan tatapan tajam dan wajah tidak bersahabat.
Wanita di hadapannya hanya tersenyum sinis dan membalas tatapan Cilla dengan wajah pongah.
“Kamu nggak sadar ada dimana ? Apalagi yang dilakukan di kantor kalau bukan urusan pekerjaan,” sahutnya dengan senyuman mengejek. “Oh iya aku lupa kalau kamu tuh masih abege, jadi susah untuk memahami tugas dan tanggungjawab suami.”
Cilla menyunggingkan senyum dengan wajah santai.
”Normalnya orang bertemu di kantor untuk membahas soal pekerjaan, tapi saya yakin bukan dengan penampilan seperti ini,” Cilla menatap wanita di depannya dari atas sampai ke bawah.
“Penampilan anda bukan seperti eksekutif muda tapi lebih cocok jadi model pelakor, jadi akan wajar kalau karyawan di sini melihat anda sebagai penggoda bukan rekan kerja.”
Tino hampir kelepasan tertawa mendengar ucapan Cilla yang santai tanpa emosi, membuat tamu Arjuna itu langsung melotot dan mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Arjuna menghela nafas panjang dan tersenyum tipis melihat tingkah istrinya. Senangnya melihat Cilla dalam mode cemburu.