MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2 Berdua Lebih Baik


__ADS_3

“Masih ada kuliah habis ini ?” tanya Arjuna saat Cilla sudah duduk di kursi penumpang depan.


“Nggak ada,” Cilla menggeleng.


“Mau temani Mas Juna ke kantor ?” Cilla kembali menggeleng.


Arjuna tersenyum tipis dan mendekati wajahnya ke pipi Cilla namun tangannya langsung memegang tengkuk Cilla dan sedetik kemudian bibirnya sudah menempel di bibir Cilla.


“Mas Juna kangen banget,” Arjuna menempelkan keningnya pada kening Cilla. “Maafin Mas Juna dan jangan diam kelamaan, Mas Juna kangen sama anak bebek kesayangan Mas Juna.”


Cilla masih diam dan tidak mau membalas tatapan Arjuna membuat Arjuna kembali tersenyum tipis.


“Udah 4 kali Mas Juna dapat kiriman foto kayak gini.”


Arjuna memperlihatkan foto-foto yang dikirim oleh nomor yang tidak dikenal.


“Dan Mas Juna sadar kalau memang tujuan si pengirim mau buat Mas Juna emosi karena cemburu dan akhirnya kita bertengkar.”


“Ini nomor siapa ? Dan foto-foto ini…”


“Dari siapanya Mas Juna nggak tahu dan foto-foto itu diambil kemarin dan hari ini.”


“Tapi Cilla nggak janjian sama Pak Glen,” bantah Cilla dengan nada kesal.


“Mas Juna percaya sama Cilla. Maaf ya, kemarin-kemarin Mas Juna suka cemburu berlebihan. Soalnya baru aja selesai urusan Hans, tahu-tahu nongol si dosen gila ini.”


“‘Maksud Mas Juna waktu kejadian Hans, ada orang yang kirim foto dari nomor yang nggak dikenal juga ?”


“Iya,” Arjuna mengangguk. “Mas Juna udah minta tolong sama stafnya Bastian, tapi nggak bisa dilacak karena nomornya langsung mati.”


Cilla memeriksa pesan yang masuk ke nomor Arjuna dari nomor- nomor yang tidak dikenal dan semuanya berupa kiriman foto.


“Cilla…”


“Mas Juna percaya,” Arjuna mengusap kepala Cilla. “Mas Juna percaya sama Cilla dan nggak pernah berniat mengirim orang untuk mengawasi Cilla, tapi Mas Juna nggak percaya sama cowok-cowok yang mendekati Cilla. Mereka sudah sampai tahap obsesi dan setengah gila, jadi akan lebih baik kalau ada pengawal yang menemani Cilla.”


“Nggak nyaman.”


“Mas Iuna akan atur sama Sebastian supaya pengawal itu bisa jadi teman satu fakultas sama Cilla, kalau perlu sekelas juga.”


“Penting banget ? Kan Cilla bisa aikido.”


“Yang buat Mas Juna khawatir siapapun dia, orang ini nggak kerja sendirian. Mas Juna nggak mau Cilla kenapa-napa.”


Arjuna menggenggam jemari Cilla.


“Kan kalau Cilla kenapa-napa Mas Juna bisa cari yang baru.”


“Cilla !”


“Orang bilang duda lebih menawan karena sudah pengalaman,” sindir Cilla dengan lirikan mautnya.


Arjuna makin melotot menatap istrinya yang malah menoleh ke arah lain.


“Kamu kira segampang beli ikan di pasar ? Tergantung mau makan jenis apa hari ini ?”


Cilla menoleh ke samping sambil tersenyum tipis. Sebetulnya hatinya sudah membaik sejak kemarin malam, sudah lebih tenang, tapi Cilla sengaja menunggu Arjuna yang mengajak baikan duluan.


Cilla sendiri terkejut saat melihat fotonya dengan Glen dikirim ke nomor suaminya.


Dua hari kemarin, demi menghindari Arjuna, Cilla memang sengaja berangkat lebih awal dan menunggu di cafe. Bisa-bisanya, Glen juga datang ke tempat yang sama 15 menit setelah Cilla selesai memesan.


“Terus kalau bukan beli ikan memangnya nggak bisa ganti beli daging sapi atau ayam ?” tanya Cilla dengan wajah datar.


“Cilla kok jadi bahas belanjaan pasar ?” gerutu Arjuna. “Mas Juna tuh mau kasih gambaran kalau cinta Mas Juna itu nggak gampang dipindahkan apalagi diperjualbelikan. Cinta Mas Juna udah harga mati buat Cilla !”

__ADS_1


”Terus maunya Mas Juna gimana ?”


“Bukan maunya Mas Juna,” Arjuna menggeleng. “Tapi kesepakatan kita berdua. Kita hadapi orang ini sama-sama, jangan jalan sendiri-sendiri supaya nggak ada celah untuk mengadu domba kita berdua.”


“Terus ?”


“Mas Juna minta maaf atas rasa cemburu Mas Juna yang suka nggak bisa ditahan, tapi beneran itu semua karena rasa cinta Mas Juna hanya untuk Cilla,”Arjuna menggombal sambil nyengir kuda.


“Terus ?”


“Cilla lagi belajar jadi tukang parkir ?” Arjuna langsung cemberut menatap Cilla dengan wajah kesal.


Cilla tertawa pelan, tidak sanggup lagi menahan diri melihat wajah Arjuna.


Arjuna langsung tersenyum lebar sampai kedua ujung bibirnya tidak bisa tertarik lagi.


“Mau ya maafin Mas Juna dan masalah ini kita hadapi berdua, soalnya orang-orang ini memang berniat merusak rumah tangga kita.”


“Memangnya Mas Juna sudah tahu siapa orangnya ?”


“Belum,” Arjuna menggeleng. “Baru punya daftar tersangka doang.”


“Gaya,” Cilla mencibir. “Mantan Pak Guru berlagak jadi detektif ?”


“Kan belum ada bukti, baru feeling aja.”


“Memangnya siapa ?” tanya Cilla sambil mengerutkan dahi.


“Tapi janji ya, nggak boleh menghadapi mereka sendirian. Kita susun rencana berdua dan kita bikin sandiwara sama-sama supaya nggak masuk dalam jebakan mereka.”


“Ribet banget sih,” omel Cilla.


“Kenyataannya memang begitu. Kalau nggak niat, mana mungkin mereka memakai nomor baru setiap kali mengirimkan foto.”


“Ya udah, tapi beneran Mas Juna nggak boleh gampang empsi dan lebih percaya sama omongan orang daripada Cilla,.”


“Nggak cukup janjinya dengan ini doang.”


Arjuna kembali menarik tengkuk Cilla dan mencium bibir istrinya. Kali ini anak bebek kesayangan Arjuna yang sudah pintar menjelma jadi baby koala tidak bisa menahan rasa rindu akan sentuhan suaminya.


Sama seperti Sean yang senang bermanja dengan Papi Maminya, sejak menikah Cilla merasa makin nyaman dan senang bermanja dengan Arjuna.


Ciuman yang bertambah panas itu membuat Cilla dan Arjuna semakin terlena setelah hampir 72 jam terpisah karena emosi.


”Kak Juna !”


“Cilla !”


Keduanya menghentikan ciuman mereka dan saling menatap dengan mata membelalak


“Adik kurang asem, nggak bisa lihat Kakaknya bahagia sebentar,” gerutu Arjuna yang tidak rela melepas ciumannya.


Cilla sendiri buru-buru merapikan rambut dan membenarkan posisi bajunya yang sempat disusupi tangan Arjuna.


Keduanya langsung membuka jendela samping. Di sisi Arjuna terlihat Amanda dan Jovan, sementara di sisi Cillla ada Febi dan Lili.


“Kalian ngapain di sini ?” tanya Arjuna dengan dahi berkerut.


Setelah menatap adik dan mantan muridnya, Arjuna berlalih menatap kedua sahabat Cilla.


“Seharusnya kita yang nanya ngapain Bapak di sini,” Lili dengan suara cemprengnya menelisik Cilla yang tampak canggung dan Arjuna yang terlihat galak.


“Masih siang, Pak, dan ini di area kampus. Bahaya kalau goyangan mobilnya terlalu dahsyat,” ledek Jovan sambil tertawa.


“Goyang darimana ? Memangnya ada gempa ?” bantah Arjuna karena merasa hanya melakukan ciuman bibir, belum menjalar kemana-mana.

__ADS_1


Cilla dengan wajah merona langsung keluar dari mobil diikuti oleh Arjuna. Ketiga sahabat dan adik iparnya langsung tergelak.


“Tuh, bekas lipstik Cilla dibersihin dulu,” Amanda menyerahkan selembar tisu pada kakaknya yang reflek menerima dan mengusap bibirnya.


“Tuh kan beneran habis cup cup an,” Amanda langsung terbahak melihat kakaknya berhasil dikerjai.


“Ya ampun Pak Juna, udah menikah lebih dari setahun nggak sadar kalau istrinya nggak pernah pakai lipstik kecuali ke pesta,” Febi ikut meledek.


“Kalian tuh ya !” Cilla berjalan mendekati Arjuna yang berdiri di sisi yang berbeda.


Cilla langsung merangkul lengan Arjuna yang melotot pada Amanda yang tertawa-tawa.


“Katanya lagi perang dingin ?” ledek Amanda.


“Iya, sampai saya dipaksa datang nih ke sini. Untung aja hari ini jadwal kuliahnya pagi doang,” timpal Jovan.


“Sotoy !” Arjuna menoyor kening adiknya.


“Dih sotoy darimana ? Kalau nggak disuruh Mama cek kondisi kakak ipar, mana mau Manda rempong bawa pasukan anti galau ini.”


“Memangnya Mama bilang apaan ?” tanya Cilla dengan dahi berkerut.


“Ada laporan maminya Sean pagi-pagi main kabur aja bikin papinya Sean bete ditinggal pas lagi mandi,” sahut Manda sambil melirik kakaknya.


“Bilang sama Mama, namanya juga orang berumah tangga. Habis berantem malah makin hot,” sahut Arjuna dengan wajah sombong.


“Paling-paling ada yang cemburunya overdosis, Man,” sindir Lili. “Kebiasaan lama Sis, susah dihilangkan.”


“Udah tahu istrinya masih bocil, masih sensi,” Febi ikut menimpali dan langsung melakukan tos dengan Lili sambil tertawa-tawa.


“Misi gagal !” Arjuna tersenyum sinis, mengangkat ibu jarinya lalu membalik posisinya.


“Eh nggak bisa… mau gagal atau berhasil, argo tetap jalan,” protes Amanda.


“Eh mana bisa,” Cilla maju berdiri di antara Arjuna dan Amanda sambil bertolak pinggang “Elo dapat misi dari Mama kenapa minta bayarannya sama laki gue !”


“Wuih Nyonya Arjuna galaknya udah makin mirip aja nih sama guru matematika kita,” ledek Jovan.


“Biarin aja, Sayang, anggap aja mereka double agent yang nggak punya pendirian. Kasihan.”


“Kasihan apanya ? Mereka gangguin kita…”


Arjuna langsung menutup mulut Cilla lalu mengecup pipi istrinya.


“Jangan galak-galak nanti anak kita mirip sama salah satu dari mereka gimana ?”


“What ?” pekik keempat orang di depan Cilla dan Arjuna sambil membelalakan mata.


“Beneran Cilla lagi hamil lagi, Pak ?” tanya Lili dengan bibir terbuka.


Gantian Cilla dan Arjuna yang terbahak.


“Kalau tadi kalian nggak ganggu, mungkin bulan depan Sean dapat adik,” ujar Arjuna di sela-sela tawanya.


“Dih Mas Juna apaan sih ?” ujar Cilla sambil merenggut.


Arjuna tertawa merangkul bahu istrinya.


“Udah pada masuk semua ke mobil. Saya traktir makan hari ini. Ada misi baru buat grup Kepo.”


Arjuna membukakan pintu untuk Cilla dan memberi isyarat pada yang lainnya untuk masuk ke dalam mobil sedannya.


“Gue di tengah dong, biar berasa jadi James Bond,” ujar Jovan yang bersiap masuk duluan sebelum Amanda.


“Awas pacar kamu galak !” ledek Arjuna saat melihat adiknya sudah melotot.

__ADS_1


“Sebelas duabelas sama kakaknya,” gumam Jovan yang akhirnya duduk di pinggir.


__ADS_2