
Laporan nilai mid-semester ternyata dibagikan secara online dan serentak pada jam 9 pagi tadi. Alhasil, Arjuna dan Cilla sama-sama tidak perlu datang ke sekolah. Dan sesuai kesepakatan semalam, Arjuna berjanji akan menceritakan perihal “kebohongan” yang Cilla temukan tentang dirinya , dan sebagai gantinya Cilla harus menemaninya mencari kado untuk mama Diva,
Jam 9.30 Cilla sudah menunggu di lapangan yang letaknya tidak jauh dari gang tempat kost Arjuna. Cilla pun sudah mengirimkan pesan pada gurunya itu kalau ia sudah menunggu di tempat yang sudah dijanjikan. Butuh waktu 15 menit, Arjuna baru sampai dan mengetuk kaca jendela mobil Cilla.
“Kamu beneran jadi bawa mobil ?”
Cilla hanya menggangguk sambil tertawa pelan melihat wajah Arjuna yang masih tidak percaya. Ia keluar dari kursi pengemudi dan memberi isyarat supaya Arjuna menggantikan posisinya, sementara ia sendiri sudah berpindah ke kursi penumpang di depan.
“Kok nggak jalan, Pak ?” Cilla mengernyit saat melihat Arjuna diam saja setelah menyalakan mobil, padahal keduanya sudah duduk manis dan sabuk pengaman juga sudah terpasang.
“Sudah lama nggak bawa mobil, agak grogi.” Perlahan Arjuna mulai menjalankan mobil sedan yang biasa digunakan oleh Bang Dirman untuk mengantar jemput Cilla ke sekolah.
“Lebay banget sih, Pak.” Cilla mencibir. “Baru juga tujuh bulan nggak bawa mobil. Saya yakin kalau Bapak sudah setir mobil bahkan sebelum punya SIM, jadi jam terbang Bapak jauh lebih lama daripada liburan setirnya.”
“Kamu tuh ya, dasar bocil. Ada aja istilahnya. Bisa-bisanya liburan setir segala,” Arjuna menggelengkan kepalanya dengan tatapan tetap fokus ke depan.
“Kita mau kemana, Pak ?”
Cilla yang memang menurut saja dengan rencana Arjuna sedang memperhatikan jalan yang mereka lewati. Kebiasaannya membawa motor kemana-mana, membuat ia cukup hafal rute-rute jalan di Jakarta.
“Hari ini saya traktir kamu makan enakan di mal. Masa bayar hutangnya di pujasera sama mang Idi dan mang Asep.”
“Beneran nih, Pak ?” Cilla menatap Arjuna dari samping dengan wajah berbinar. Arjuna mengangguk sambil melirik sekilas.
“Rela ya, traktir saya di mal ?” posisi duduknya yang menyamping tetap memandang Arjuna yang sedang menyetir. “Awas ya, besok-besok kalau sampai katain saya cewek matere gara-gara nggak nolak ditraktir makanan mahal.”
“Eh jangan yang mahal-mahal banget ya,” ujar Arjuna. “Dompet saya isinya tetap gaji guru bukan CEO.”
“Nggak apa-apa, diajak pergi ke mal berdua sama Bapak aja udah senang banget Berasa diajak kencan sama pacar. Makanya saya sengaja bawa mobil, biar tetap wangi dan nggak bau asap. Ingin juga ngerasain gimana rasanya kencan,” ujar Cilla sambil tergelak.
“Bukannya kamu sudah sering pergi dengan cowok apalagi si Dimas itu ?”
__ADS_1
“Jangan mulai nethink deh sama saya, baru juga mulai jalan belum masuk ke acara kencannya. Mau saya batalin acara cari kadonya ?” Cilla langsung menekuk wajahnya dengan bibir mengerucut.
“Dasar abege baperan, baru ditanyain gitu aja udah emosi jiwa,” Arjuna mencebik sambil tertawa.
Cilla hanya diam saja dan merubah posisinya menghadap ke depan, Arjuna pun ikut diam dan fokus ke jalanan yang cukup ramai dengan warga Jakarta yang melakukan aktivitas bersepeda bareng di akhir pekan.
Jam 10.15 mereka sudah sampai di mal dan mobil terparkir di basement. Keduanya turun bersamaan, tanpa ada acara si pria membukakan pintu untuk si wanita.
“Kamu mau makan dulu atau cari kado dulu ?”
“Boleh sarapan dulu ? Cari café buat ganjal perut. Saya belum sarapan tadi pagi. Bangun kesiangan jadi langsung mandi sebelum zoom meet.”
Arjuna mengangguk dan meminta Cilla yang memilih tempatnya. Sampai di salah satu café, Cilla memesan croissant dan segelas cokelat hangat sementara Arjuna memesan sandwich ayam dan segalas kopi panas. Untuk jadwal makan pagi ini, Cilla memaksa yang membayar. Ia bilang biar lengkap janjinya, makan 3 waktu dengan Arjuna setelah sebelumnya makan siang dan makan malam.
“Jadi gimana ceritanya Bapak bisa alih profesi jadi guru ? Perusahaan keluarga Bapak bukan saingannya papi kan ? Jangan-jangan Bapak sengaja menjadi guru di sekolah milik papi dan mendekati saya, dan… “
“Cukup anak bebek !” Arjuna melotot dan menyuruh Cilla diam dengan meletakkan telunjuknya di depan bibir Cilla.
Cilla hanya nyengir. “Monggo Pak Arjuna, saya siap menjadi pendengar yang baik.”
Cilla mulai memotong croissantnya sambil menyantapnya, menunggu Arjuna mulai bercerita.
“Saya pergi dari rumah atas sepengetahuan dan seijin orangtua, semua karena saya menolak perjodohan yang sudah disiapkan oleh papa. Saya menolak keras niat papa yang mau menjodohkan dengan putri temannya. Saat papa mennyampajkanrwncananya, Luna juga sudah bersedia menikah dengan saya di tahun depan.”
“Memangnya kenapa Bapak menolak gadis itu ? Apa dia jelek ? Apa dia bodoh ? Atau hanya karena tidak sesuai selera Bapak ?”
“Bukan,” Arjuna menggeleng, “Saya nggak tahu seperti apa wajah dan kepribadian gadis yang mau dijodohkan oleh papa. Selain karena saya sudah terlanjur cinta pada Luna, putri teman papa itu masih terlalu kecil, kira-kira seumur kamu.”
“Kenapa Bapak nggak mencari tahu ? Mungkin bisa ketemu dulu dan saling mengenal, kalau memang benar-benar tidak cocok kan bisa menolaknya baik-baik.”
“Saya kabur pas mau diperkenalkan dengan gadis itu. Saya berpikir kalau saat itu saya menuruti keinginan papa untuk menemuinya, sudah pasti papa akan melanjutkan memaksa saya untuk menerima perjodohan dan menikahi gadis itu.”
__ADS_1
Cilla menggeleng sambil berdecak. Ia pun tersenyum tipis.
“Bapak nggak kasihan sama gadis itu. Bagaimana rasanya ditinggalkan oleh cowok yang rencanaya akan dijodohkan dengannya. Saya yakin kalau gadis itu juga belum tentu mau sama Bapak. Dia datang waktu itu, hanya karena ingin menyenangkan hati orangtuanya.”
“Kamu nggak tahu bagaimana kerasnya papa waktu itu. Baru kali ini saya dipaksa untuk memenuhi permintaan papa. Biasanya nggak begitu.”
“Bapak sudah tanya alasannya pada Om Arman ?”
“Kamu kok tahu nama papa saya ?” Arjuna mengernyit sambil menatap Cilla dengan tatapan menyelidik.
“Saya sudah tahu siapa pemilik PT Indopangan Makmur, Bapak CEO yang terhormat. Sekarang jaman sudah canggih, Pak. Hanya butuh dua jari, Bapak bisa mendapatkan banyak informasi yang Bapak butuhkan,” ujar Cilla sambil tertawa pelan.
Arjuna mengangguk-anggukan kepalanya. Apa yang dikatakan Cilla memang betul. Arjuna yakin kalau muridnya ini mencari lewat internet dan masuk ke website PT Indopangan Makmur, makanya ia tahu banyak tentang pemilik dan pengurus di perusahaan milik papanya.
“Apa Bapak sudah bertanya alasannya ?” Cilla kembali mengulangi pertanyaannya.
“Belum,” Arjuna menggeleng. “Bahkan sejak saya memutuskan mengambil pilihan untuk meninggalkan rumah, saya sudah tidak pernah lagi bicara dengan papa. Jangankan bertemu muka, bicara lewat telepon atau bertukar pesan saja belum pernah saya lakukan.” Arjuna menghela nafas sambil menoleh ke samping, ke arah luar kaca.
Cilla tersenyum tipis sambil menghela nafas panjang. Ternyata pria di depannya yang diam-diam sudah mencuri hatinya, bukan hanya pria yang keras kepala tetapi juga keras hati.
“Pak,” panggil Cilla hingga Arjuna kembali menoleh dan bertatapan dengannya.
“Bapak tahu kan pribahasa malu bertanya sesat di jalan ?”
“Kamu meledek saya ? Tentu saja saya tahu biar sudah 7 tahun lulus dari bangku SMA,” sahut Arjuna dengan wajah sewot.
“Kalau Bapak nggak lupa, kenapa tidak melakukan hal itu sama Om Arman. Sekarang Bapak ini ibarat anak ayam yang kehilangan induk, tapi malu bertanya sama sesama ayam yang ditemuinya di jalan. Kalau Bapak tetap bertahan dengan prinsip yang sudah terbukti salah karena memilih Luna, ada baiknya Bapak bertanya supaya bisa kembali ke keluarga.”
“Kamu menyamakan saya seperti anak ayam yang sedang terpisah dari induknya ? Balas dendam karena saya menyebut kamu anak bebek ? Apa kamu nggak sadar kalau kamu tuh bawel kayak anak bebek, kalau udah bicara susah berhenti, nggak ada remnya.” Wajah Arjuna masih saja terlihat sewot dan nada suaranya sudah meninggi.
“Dasar pria keras kepala !” gerutu Cilla sambil menoleh ke samping.
__ADS_1