
Cilla tidak berani mengangkat wajahnya saat keluarga Arjuna dan keluarganya berkumpul di ruang tengah. Om Rio dan tante Siska sudah datang, sementara Theo akan menyusul.
Arjuna sendiri terlihat biasa-biasa saja membuat Cilla ingin mengomel pada calon suami dan gurunya itu yang sengaja membuat heboh sore ini menjelang malam pergantian tahun.
Amanda yang ikut duduk di sebelah mama Diva semakin heran dengan kelakuan kakaknya yang biasanya dewasa sekarang terlihat seperti abege yang sedang jatuh cinta, melebihi kelakuan Jovan padanya.
“Apa Arjuna sudah sering melakukannya padamu ?” tanya papi Rudi dengan suara tegas.
Cilla mendongak sekilas dan menggeleng cepat. Ia tidak berani membalas tatapan papi Rudi. Para bapak dan Arjuna sendiri sebetulnya merasa kasihan dengan Cilla yang merasa bersalah, padahal semua ini adalah sandiwara para pria yang ingin memastikan kesiapan Cilla dinikahkan dengan Arjuna bertepatan dengan perayaan ulangtahunnya yang ketujuhbelas.
“Sudah berapa kali Arjuna mencium kamu seperti tadi ? Apa di sekolah kelakuan calon suami kamu juga begitu ?” suara papi Rudi masih dibuat setegas mungkin meski hatinya tidak tega.
“Cilla, papi kamu lagi bertanya,” papa Arman buka suara saat melihat Cilla terdiam saja meski belum lima menit.
“Dua kali,” Cilla mendongak, memberanikan diri menatap papi Rudi dan mengangkat dua jarinya.
“Apa kamu rela diperlakukan seperti itu padahal status kalian baru bertunangan ?” tanya papi Rudi kembali yang menatap tajam ke arah Cilla.
“Hah ?” Cilla terperanjat. “Memangnya Mas Juna ada omongan berniat untuk membatalkan pertunangan kami ?”
Dengan wajah bingung Cilla menoleh ke arah Arjuna yang duduk di sampingnya. Arjuna hanya tersenyum membuat Cilla langsung menautkan alisnya dan bingung mengartikan ekspresi Arjuna.
“Kamu sudah pernah berduaan di kamar dengan Arjuna saat di Singapura, lalu sudah dua kali dicium ininya sama Arjuna juga,” papi Rudi menujuk ke arah bibirnya sendiri.
“Kami tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar waktu itu. Dan sekarang malah terang-terangan Arjuna mencium kamu di sini, di rumah orangtuanya. Apa kamu segampang itu jadi perempuan ?” lanjut papi Rudi dengan tegas.
Cilla makin mengerutkan dahinya dan terlihat mulai emosi. Bagaimana bisa hanya karena ciuman di bibir yang bahkan hanya menempel , papi Rudi menganggap Cilla sebagai perempuan gampangan.
“Mas Juna menganggap Cilla begitu ?” Bukannya menjawab pertanyaan papi Rudi, Cilla malah menoleh lagi ke arah Arjuna dan bertanya dengan sedikit emosi.
“Nggak, nggak pernah terlintas di pikiran Mas Juna,” jawab Arjuna santai.
“Terus ?” Cilla masih mencecar dengan wajah makin kesal karena melihat Arjuna biasa-biasa saja. “Terus tadi kenapa main sembarangan cium-cium begitu ?”
Cilla menghela nafas dengan wajah ditekuk saat Arjuna hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
“Jadi sekarang maunya papi sama papa gimana ?” kali ini Cilla yang sudah emosi memandang papi Rudi dan papa Arman bergantian.
“Papi minta kepastian dari Arjuna untuk menikahi kamu secepatnya. Mana bisa anak papi diperlakukan sembarangan begitu tanpa ikatan. Papi nggak mau Arjuna yang sudah puas ngapa-ngapain kamu mendadak batalin pertunangan ini.”
“Nggak terjadi apa-apa antara Cilla dan Mas Juna waktu di Singapura, Pi. Ciuman kayak tadi aja nggak. Cilla hanya terjatuh di atas badannya Mas Juna karena ditarik terlalu kencang. Tadi juga hanya nempel bibir sama bibir, nggak sampai….”
“Nggak sampai apa ?” tanya papa Arman. “Soalnya tadi kami hanya melihatnya dari belakang, nggak kelihatan kejadian yang sebenarnya karena wajah kalian sudah terpisah begitu kami mendekat.”
“Amanda pasti melihat yang sebenarnya terjadi,” Cilla menoleh ke arah calon adik iparnya, minta dukungan. “Posisinya tadi masih di ujung tangga dan lebih tinggi dari kami, jadi Amanda pasti melihat kalau bibir Cilla dan Mas Juna hanya menempel.”
“Nggak.. Gue nggak lihat kejadiannya Cilla. Posisi gue sama kayak papa, lihatnya dari belakang elo, bukan dari samping.”
“Mas Juna ngomong dong !” Cilla menepuk bahu Arjuna dan menyuruh calon suaminya itu membantunya menjelaskan.
“Mau nempel apa nggak nempel, Mas Juna ikut aja keputusan papa dan papi. Bukannya pas di Singapura kamu sendiri yang nanya sama papa dan papi kapan kita akan dinikahkan ? Dan sekarang sepertinya papa dan papi ingin mewujudkan permintaan kamu,” jawab Arjuna dengan santai.
“Iya tapi bukan karena ketangkap basah juga nikahnya,” omel Cilla dengan bibir mengerucut.
“Kalau begitu, papi akan minta papa Arman supaya segera meresmikan hubungan kalian. Papi nggak mau anak papi disosor terus kayak tadi,” tegas papi Rudi.
“Sebutannya aja udah anak bebek, Om,” ledek Amanda sambil terkikik. Arjuna tersenyum sementara Cilla langsung melotot menatap Amanda.
“Wuuiihh kayaknya sebentar lagi bakal ada yang dipanggil oma, nih,” Amanda kembali meledek dan kali ini ditujukan kepada mama Diva.
__ADS_1
“Nggak apa-apa jadi oma muda,” sahut mama Diva dengan wajah bahagia.
“Eh nggak ada buru-buru program cucu,” protes Cilla masih dengan wajah cemberut.
“Cilla masih mau kuliah dan perjanjiannya baru tingkat dua mikir punya anak. Mas Juna udah setuju loh masalah itu,” Cilla menoleh ke arah Arjuna untuk menegaskan pembicaraannya dengan Arjuna saat mereka di Singapura.
“Iya, Mas Juna nggak lupa,” Arjuna mengelus rambut Cilla. “Lagipula kalau sekarang-sekarang punya anaknya, resiko juga untuk kamunya, sayang.”
Bukannya senang dengan panggilan sayang, Cilla malah mencebik dan wajahnya masih cemberut. Bukannya tidak senang karena hubungannya dengan Arjuna akan diresmikan, tapi rasanya memalukan kalau semuanya terjadi karena tertangkap basah sedang berciuman. Ralat, bukan berciuman, tapi Arjuna yang nyosor duluan dan memaksa menempelkan bibirnya di bibir Cilla.
Akhirnya setelah disepakati akan membicarakan proses pernikahan Cilla dan Arjuna setelah perayaan tahun baru, semua keluarga kembali dalam suasana antusias dan bahagia menyambut malam pergantian tahun.
Kejadian Arjuna dan Cilla seperti hanya intermezzo saja, membuat Cilla curiga kalau ini semua sudah diatur oleh Arjuna dan para bapak.
Semua menikmati hidangan makan malam yang disiapkan oleh mama Diva dan menu pastel tutup yang dibawa oleh tante Siska.
Cilla terlihat lebih pendiam, membuat Arjuna merasa bersalah karena mengerjai calon istrinya itu.
Saat tengah makan malam tanpa duduk bersama di meja makan, Cilla berjalan keluar membuat Arjuna yang sejak tadi memperhatikannya menautkan alis. Sempat terlihat Cilla fokus dengan handphonenya dan tidak lama meninggalkan keramaian di ruang keluarga.
“Chaebol !” pekik Lili yang sudah berdiri di pintu masuk saat Cilla membuka pintu utama.
“Cebal cebol, “ gerutu Cilla. “Elo kira gue ini kurcaci ?”
Lili tidak peduli dengan gerutuan Cilla dan langsung memeluk sahabatnya itu.
“Itu panggilan kesayangan gue sama Febi untuk cewek imut yang paling tajir di sekolah. Lagian bisa pas begitu istilah korea sama bahasa Indonesia. Chaebol – cebol.”
Cilla masih menggerutu mendengar ocehan Lili, sementara Arjuna yang mengintip dari balik tembok pembatas antara ruang tamu dengan bagian dalam rumah hanya senyum-senyum.
“Darling, darling,” omel Cilla. “Elo itu habis liburan dari Jepang apa Amerika ?”
“Sama aja, soalnya biar ke Jepang, ngomongnya juga pakai bahasa Inggris, nggak keburu mau belajar bahasa Jepang dulu.”
Tangan Jovan sudah terbuka ingin merangkul Cilla, tapi deheman dengan suara berat dan tegas membuat Jovan urung dan menoleh ke sosok gurunya yang sedang menatap ke arah mereka dengan wajah galak.
“How are you, Mr. Arjuna ?” Jovan tertawa sambil membungkukan badannya. “Nggak ada niat gimana gitu untuk tahun baru, Pak ?” ledek Jovan sambil terkekeh.
“Ada !” sahut Arjuna dengan wajah tegasnya. “Saya akan menikahi Cilla dua bulan lagi.”
Cilla langsung berbalik badan dan melotot ke arah Arjuna. Bisa-bisanya masalah pernikahan langsung dipublikasikan di depan teman-temannya, padahal prosesnya bagaimana dan kapan persis pelaksanaannya belum diputuskan oleh kedua keluarga.
“An**rit ! Seriusan, Cil ?” mata Jovan langsung terbelalak.
“Ya ampun Cilla, elo itu udah kegatelan atau takut diserobot ?” Lili ikut menimpali.
“Ada masalah apa ?” Febi yang baru saja bergabung setelah selesai menerima telepon langsung mengerutkan dahi saat melihat ekspresi Jovan dan Lili.
“Si Chaebol mau kawin, Sis,” jawab Lili masih dengan muka bengongnya.
“Eh gila !” spontan Febi memekik . “Langsung gercep aja nih Pak Juna.”
“Elo yakin mau kawin sekarang, Cil ?” bisik Lili namun masih bisa terdengar oleh Jovan dan Febi. “Nggak mau mikir-mikir dulu ? Siapa tahu nanti pas kuliah ada yang lebih cakep dan tajir dari Pak Arjuna atau Jovan, gitu ?”
Arjuna yang semakin mendekat menangkap sedikit-sedikit ucapan Lili langsung berdehem dan mata melotot.
__ADS_1
“Ampun, Pak, saya masih mau lulus tepat waktu,” Lili tertawa kikuk sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
“Jangan jadi provokator !” omel Arjuna dengan wajah galak.
“Bukan provokator, Pak, tapi membantu teman membuka hati dan pikirannya,” sahut Lili cepat. “Siapa tahu saat ini Cilla lagi dibutakan sama cinta, makanya mau aja disuruh nikah muda-muda.”
“Bapak bukan gumes yang sukanya daun muda, kan ?” Jovan ikutan bertanya.
“Memangnya saya kambing yang suka makan daun ?” Arjuna mendengus kesal. “Lagipula mana bisa disebut gumes, Cilla sudah dijodohkan dengan saya sejak sebelum saya berstatus gurunya Cilla.”
“Memang Bapak tahu artinya gumes ?”
Arjuna mengernyit, sebetulnya tadi dia langsung menjawab cepat aja. Di otaknya belum pernah mendengar istilah itu dalam pergaulan anak muda.
Melihat wajah bingung Arjuna, spontan Cilla tertawa. Meski dia sendiri baru pernah mendengar istilah itu, tapi melihat wajah Arjuna yang kesal dan bingung harus menjawab apa, ada perasaan senang di hati Cilla soalnya sejak tadi calon suaminya itu terlihat biasa-biasa saja padahal Cilla merasa seperti terdakwa yang lagi menghadapi persidangan.
Jovan, Lili dan Febi yang melihat Cilla terbahak dengan berani ikutan tertawa membuat wajah Arjuna langsung kesal dan melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu para murid jahilnya itu berhenti menertawakannya.
“Udah puas ?” ujar Arjuna dengan suara galak saat tawa keempat muridnya mereda. “Mau pilih nilai di bawah kkm atau angka mati sekalian ?”
“Dasar gumes nggak kreatif,” gerutu Cilla sambil mencibir. “Kalau udah terpojok, beraninya ngancam nilai.”
“Terus kamu maunya diancam apa ? Diajak bikin anak ?” gerutu Arjuna dengan wajah ditekuk.
“Ya ampun Cilla, ini mah fixed gumes tingkat dewa,” komentar Lili. “Elo yakin mau menikah sama Pak Juna ? Bisa-bisa tiap hari bukannya diajar rumus matematika tapi rumus aku dan kamu hasilnya ya bocil.”
Febi dan Jovan kembali tergelak mendengar celoteh Lili. Meski belum pengalaman soal pacaran apalagi kepikiran menikah, keduanya bahkan Cilla sudah tahu maksud omongan Lili.
“Namanya juga gumes, Li. Guru mesum yang pikirannya nggak jauh-jauh dari omes,” seloroh Febi di tengah-tengah tawanya,
“Kalau begitu fixed nilai semester depan bukan sekedar di bawah kkm tapi angka mati sekalian. Biar kalian susah lulus,” omel Arjuna. “Otak kalian harus diperdalam lagi dengan ilmu pendewasaan diri dan pikiran. Status saya masih resmi guru matematika kalian. Berani-beraninya bilang saya gumes.”
Dengan wajah kesal Arjuna berbalik dan meninggalkan keempat muridnya yang malah saling berpandangan dan terbahak melihat kelakuan guru mereka yang terlihat kekanakan.
“Bisa-bisanya berani bilang mau kawin sama elo tapi masih suka ngambek begitu,” celetuk Jovan.
“Siap-siap tisu banyakan Cil,” ledek Febi.
“Eh elo nyumpahin gue hidup dalam penderitaan sama Pak Arjuna ?” protes Cilla sambil melotot menatap Febi.
“Bukan penderitaan, chaebol, tapi elo menangis karena kebanyakan ketawa punya suami yang suka merajuk kayak Pak Arjuna,” Lili menoyor kening Cilla yang sempat emosi.
“Nggak apa-apa suka ngambek, karena justru itu yang buat gue tambah jatuh cinta sama Pak Arjuna setiap hari,” sahut Cilla dengan wajah sumringah.
Febi, Lili dan Jovan langsung saling berpandangan dengan mata membelalak dan mencebik bersamaan. Ketiganya geleng-geleng melihat wajah Cilla yang ternyata sudah masuk level bucin dengan guru matematika mereka.
Arjuna yang ternyata tidak langsung masuk ke dalam dan kembaii bersembunyi di balik tembok langsung senyum-senyum sendiri mendengar pembelaan Cilla. Apalagi calon istrinya itu bilang kalau setiap hari cintanya bertambah untuk Arjuna.
__ADS_1