MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Bab 38 Semua Karena Jovan


__ADS_3

Cilla sudah duduk di depan meja Bu Retno. Perutnya yang sejak tadi lapar mendadak jadi kenyang karena emosi.


“Kenapa kamu nggak sadar-sadar, Cil ? Kamu sekarang sudah kelas 12, tahun terakhir di SMA. Apa kamu nggak ingin membuat kenangan yang indah dan berkesan di kelas 12 ini ?”


Cilla hanya diam dan menunduk, bukan karena takut tapi lebih ke arah malas mendengar nasehat Bu Retno yang selalu diulang-ulang.


“Buat saya apa yang terjadi barusan sangat indah dan berkesan, Bu,” Cilla tersenyum tipis. “Kejadian tadi mengajarkan saya untuk mengingat sifat orang yang rela menjatuhkan orang lain dengan cara apapun bahkan fitnah.”


“Tapi kamu sudah melakukan kesalahan dengan menyiram balik Sherly pakai kuah panas,” tegas Bu Retno sambil menatap Cilla.


Cilla tertawa sambil berdecih.


“Saya mungkin emosian, Bu, tapi nalar saya masih jalan. Coba ibu periksa ke ruang UKS, yang saya siram itu roknya Sherly, bagian tengahnya pula. Saya yakin kalau kuah bakso panas yang saya siram, tidak akan melukai kulit mulus Sherly.”


“Tapi bukan begitu caranya menyelesaikan masalah, Pricilla.”


“Terus pakai cara apa, Bu ? Lapor polisi ? Ngadu sama papi saya supaya Sherly dan teman-temannya dikeluarkan dari sekolah ?”


“Bukan.. bukan begitu maksud Ibu. Kamu jangan emosian. kamu bisa kan ajak Sherly bicara baik-baik, minta pertanggungjawaban dia karena sudah mengotori baju kamu.”


“Ibu yakin kalau cewek cabe model Sherly bisa diajak omong baik-baik ? Sebagai seorang psikolog, saya yakin kalau Ibu lebih bisa membaca sifat orang daripada saya.”


“Apa kamu berharap semua orang baik padamu karena kamu anak pemilik sekolah ?”


Brak


Cilla memukul meja Bu Retno dengan wajah memerah. Posisinya sudah berdiri di depan meja Bu Retno yang masih terkejut dengan gebrakan Cilla. Mata Cilla membelalak menahan emosi.


“Kalau ujung-ujungnya hanya kalimat itu yang mau Ibu ucapkan pada saya, lebih baik langsung kasih saya surat skorsing saja !”


Cilla menggeser kursinya dengan kasar dan berjalan keluar ruangan Bu Retno. Sampai di pintu ia berhenri dan memutar badannya menghadap Bu Retno.


“Saya sangat kecewa dengan sikap Ibu hari ini. Terima kasih karena sudah membuat saya memiliki sesuatu yang berkesan di penghujung SMA saya !”


Cilla keluar sambil membanting pintu ruangan Bu Retno. Guru itu langsung mengelus dadanya. Selain kaget, Bu Retno juga bingung bagaimana harus menghadapi anak pemilik sekolah itu yang kurang mendapat perhatian dari papinya.


Termyata bukan hanya Febi dan Lili yang sudah menunggu Cilla di depan ruang BK. Ada Jovan yang memegang kemeja ganti dan handuk kecil untuk Cilla.


Gadis itu melirik Febi dan Lili yang berdiri tanpa membawa apa-apa, padahal Cilla sudah berpesan untuk membawakannya kemeja bersih yang bisa dibeli di koperasi sekolah.


Cilla menghela nafasnya. Ia yakin kalau ini semua bisa-bisanya Jovan yang melarang kedua sahabatnya membeli kemeja baru. Tidak ada pilihan lain selain mengambil kemeja dan handuk kecil yang ada di tangan Jovan.

__ADS_1


Cilla mengambilnya dengan kasar dan berjalan menuju toilet di lantai 3, diikuti oleh Jovan, Febi dan Lili.


“Gue bisa sendiri,” Cilla memberi isyarat pada Febi dan Lili supaya kembali ke kelas.


Jam istirahat sudah berakhir dan guru mapel selanjutnya pasti sudah masuk kelas. Tadinya Febi san Lili mau memaksa menemani Cilla, tapi pelototan gadis itu membuat kedua sahabatnya mengalah.


“Elo mau ngapain ?” Cilla mengernyit saat melihat Jovan masih berdiri tidak jauh darinya.


“Nungguin elo,” jawab Jovan santai.


“Mau ketawain gue ? Belum puas sama yang elo lakuin sembilan tahun lalu ?” Cilla tertawa sinis .


“Gue mau pastiin kalau elo aman balik ke kelas.”


Cilla tertawa tapi matanya masih memandang sinis ke arah Jovan.


“Gue nggak butuh ! Dan lebih baik elo pergi sekarang atau mau lihat gue berbuat nekat ?” Cilla melotot.


Jovan menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Ia akan menuruti keinginan Cilla, namun tidak dengan permintaan teman kecilnya itu untuk berhenti meminta maaf.


Perlahan langkah kakinya membawa Jovan menuju kelas XII IPA-1. Wajahnya tertunduk lesu, hatinya terus berharap kalau Cilla akan memaafkannya.


Baru saja ia membuka pintu wc, dilihatnya sudah ada Sherly berdiri menunggunya dengan Ita dan Susan berjaga di pintu.


“Jaga kelakuan elo,” Sherly mendorong bahu Cilla dengan kasar, namun kali ini tidak membuat Cilla terhuyung ke belakang karena ia sudah membaca arah tangan Sherly.


“Kelakuan apa lagi ? Salah ya gue siram rok elo, bukan kemeja elo aja sekalian, biar banyak tato alami di kulit elo,” Cilla tersenyum sinis.


“Jauhin Jovan. Mulut elo aja bilang nggak suka sama dia, tapi kelakuan elo malah sengaja cari perhatian dia,” ujar Sherly sambil mendekatkan wajahnya.


Cilla mengernyit dan menutup hidungnya.


“Mulut elo bau,” Cilla mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung.


Sherly jadi tidak percaya diri, dia meniup teapak tangannya di dekat mulut. Cilla langsung terbahak.


“Mulut elo bau karena suka menyebar fitnah dan bersikap lebay.”


“Elo…”


Cilla menangis tangan Sherly yang sudah melayang di udara dan gantian, ia mendorong bahu Sherly.

__ADS_1


“Kali ini gue masih waras untuk nyiram kuah bakso ke rok elo, nggak tahu besok-besok kalau gue sampai kalap,” Cilla tertawa dengan wajah mengejek.


“Masalah Jovan mengabaikan elo yang udah over acting di depan dia, bukan karena gue, tapi karena elo memang nggak menarik untuk cowok sepopuler Jovan.” Cilla kembali tertawa mengejek.


“Pede banget elo lebih menarik cowok-cowok daripada gue,” Sherly mendekatkan bahunya hingga menempel pada satu bahu Cilla.


“Hanya karena elo anak pemilik sekolah makanya mereka pura-purs tertarik sama elo.”


Sherly berpindah posisi di belakang Cilla menghadap ke kaca depan wastafel.


“Tuh kaca di depan elo cukup besar. Ngaca yang benar, apa kelebihan fisik elo sampai elo berpikir kalau cowok-cowok itu tertarik sama elo.”


Cilla memasang tampang sedih saat melihat pantulan dirinya di kaca. Apalagi di belakangnya ada Sherly yang posturnya lebih tinggi semampai.


“Terkadang cewek yang biasa-biasa aja dan nggak lebay cari perhatian malah lebih menarik. Lebih misterius.” Cilla menyeringai.


“Sementara kalau terlalu cantik kayak elo, cowok takut menanggung biaya perawatan yang kelewat mahal. Lagian..” Cilla berbalik badan hingga berhadapan dengan Sherly yang mundur dua langkah.


Cilla menyentuh pipi Sherly dengan telunjuknya.


“Para cowok itu nggak yakin ini asli apa polesan. Jangan-jangan pas lihat cewek-cewek model elo tanpa make up, wajahnya pada bopengan.”


Cilla tergelak sambil berjalan ke pintu keluar. Ditatapnya Ita dan Susan yang masih berdiri menghalangi pintu.


“Mau minggir dengan sukarela atau dengan cara kasar ?” Tanya Cilla santai.


Ita dan Susan menatap ke arah Sherly sebelum memutuskan. Ternyata Sherly langsung memberi kode untuk membiarkan Cilla lewat.


Cilla melirik jam tangannya. Mau masuk kelas tanggung juga dsn mendadak semangat belajarnya hilang. Akhirnya Cilla memilih pergi ke kantin. Perutnya yang belum terisi sejak pagi sudah bersimfoni.


Sedang asyik menikmati semangok bakso dan es teh manis, bayangan seseorang mengganggu cahaya di handphonenya.


Cilla mendongak setelah memasukan suapan terakhir ke dalam mulutnya. Ia langsung menghela nafas panjang. Kenapa ini mahluk malah mengganggunya di saat hatinya baru saja sedikit tenang setelah lepas dari urusan Sherly dan teman-temannya.


Cilla meneguk habis es teh manisnya, bahkan pecahan kecil es batu ikut masuk ke dalam mulutnya. Ia pun bangun ingin menjauh dari cowok di depannya.


Tanpa tersenyum apalagi menyapa, Cilla melewatinya dengan sengaja menabrakan bahunya pada lengan cowok yang merusak pemandsngannya.


“Pricilla !” Panggilan itu sempat menghentikan langkah Cilla di depan pintu kantin. Tapi hanya sebentar, setelah itu Cilla kembali melangkah dan mengabaikannya.


Tanpa terduga, cowok itu menarik tangan Cilla dan menggenggamnya dengan sangat erat, tanpa memberikan kesempatan untuk kabur. Langkahnya membawa Cilla ke halaman belakang sekolah.

__ADS_1


__ADS_2