MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kenyataan yang Harus Diungkap


__ADS_3

“Sepertinya om Rudi akan mengajak liburan Cilla ke Singapura,” ujar Theo saat keduanya sudah duduk di cafe kenamaan dengan dua minuman di depan mereka.


“Papi belum ngomong apa-apa sama gue,” sahut Arjuna santai.


“Kadang masih aneh dengar elo panggil papi ke oranguanya Cilla,” Theo tertawa sambil bergidik.


“Kenapa ? Nggak rela gue jadi iparnya elo ?” cebik Arjuna.


“Nggak kebayang bakal iparan sama elo,” Theo terkekeh. “Dan rasanya nggak rela membiarkan Cilla jadi istri elo sementara gue paham benar segala jejak elo di masa lalu.”


“Gue memang nakal pas status anak sekolah, tapi elo kan tahu kalau gue tipe cowok setia. Bukan nakal suka mempermainkan cewek apalagi sekedar icip-icip.”


Theo tertawa sambil menganggukan kepalanya.


“Kalau elo tipe begitu, dengan cara apapun gue akan memprovokasi Cilla buat menolak elo mentah-mentah,” tegas Theo dengan wajah serius. Arjuna malah terbahak meliharnya.


“Btw, tumben banget papi mau ajak Cilla liburan ke Singapura. Berdua aja ?” tanya Arjuna sambil mengernyit.


“Om Rudi sekalian mau kontrol kesehatan di sana,” sahut Theo.


“Apa sakit papi tambah parah ?” wajah Arjuna berubah serius dengan kedua alis menaut. Badannya agak dimajukan sampai menempel meja.


“Jadi elo udah tahu soal penyakit kanker yang diderita om gue ?”


Arjuna mengangguk dan meraih gelas coffee lattenya lalu meneguknya sedikit.


Sebetulnya cerita tentang rencana papi Rudi ingin mengajak Cilla ke Singapura adalah cara Theo untuk memancing Arjuna, sejauh mana calon suami Cilla ini tahu tentang masalah penyakit calon mertuanya.


“Sudah. Bokap sudah cerita alasannya kenapa sampai maksa gue dijodohkan sama Cilla.”


“Jadi elo terpaksa menerima Cilla ?” Theo mengangkat kedua alisnya.


Arjuna tertawa pelan sambil menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.


“Kita berdua baru tahu kalau ternyata dijodohkan setelah sama-sama suka. Jadi nggak ada kata terpaksa menerima perjodohan ini. Kalau sudah tahu dari awal, mana mungkin gue bete pas tahu kalau ternyata cuma gue yang nggak tahu kalau Cilla adaah anak SMA yang gue tinggal kabur.”


“Dua hari lalu gue baru tahu. Gue diajak papi sama mami ketemu om Rudi,” Theo menghela nafas.


“Cilla nggak ikutan ?” tanya Arjuna.


“Itu yang bikin gue nggak mengerti, Jun. Kenapa om Rudi nggak kasih tahu Cilla aja tentang kondisinya.”


“Apa perlu gue yang ngomong sama Cilla ?”


“Om Rudi janji akan bicara langsung ke Cilla saat pergi nanti. Sekaligus mau kasih tahu proses pengobatan yang sedang om Rudi jalani.”


“Apa papi kasih tahu alasannya selama ini memilih merahasiakannya dari Cilla, malah sengaja menjauhsampai Cilla salah paham ?”


“Om Rudi merasa sangat bersalah dengan kejadian Luna karena sampai membuat Cilla terluka secara fisik dan batinnya. Luka di fisiknya masih masih berbekas di bahunya.”


“Gue tahu,” jawab Arjuna santai.


“Jadi elo sudah sejauh itu sama Cilla ?” tanya Theo dengan mata melotot. “Jangan lupa dia masih sepupu gue, Jun ! Udah gitu Cilla masih termasuk anak-anak, KTP aja belum punya.’


“Sejauh Jakarta, Ambarawa dan Semarang,” sahut Arjuna sambil tergelak.


“Jangan elo samain Cilla sama Luna,” dengus Theo dengan wajah kesal.

__ADS_1


“Ya ampun Kak Theo, elo kira gue cowok apaan ?” Cebik Arjuna. “Baru sebatas peluk sama cium pipi doang,” lanjut Arjuna sambil terkekeh.


“Kok gue nggak yakin, ya ?” mata Theo memicing. “Muka elo terlihat mesum banget. Apalagi elo kan udah pengalaman banget sama Luna,” cebik Theo.


“Si**lan lo !” Arjuna melempar Theo dengan tisu yang diremas. “Tampang boleh mesum, kelakuan masih pantas dapat gelar cowok alim. Justru gue agak ngeri-ngeri sedap pas jalan sama Luna. Terlalu agresif, bahkan sama cowok-cowok yang dia akui sebagai atasannya.”


“Dan ogebnya elo diemin aja tuh singa betina nguras kartu kredit sampai jebol,” ejek Theo sambil tertawa. “Gue sama yang lain pikir karena kalian udah sampai plus plus.”


“Kalau soal kartu kredit kayaknya gue kena guna-guna, sampai bisa-bisanya kasih kartu tambahan yang limitnya bisa beli satu motor balap. Kalau plus plus, gue bukan tipe cowok yang sembarangan sama cewek. Lagian gue jamin kalau gue bakalan jadi yang kesekian buat Luna,” ujar Arjuna sambil menghela nafas.


“Bukan guna-guna, tapi memang elong ogeb,” ujar Theo sambil tergelak.


“Balik ke masalah Cilla, Bro. Papi berangkat berdua aja sama Cilla ? Gue pengen banget nemenin papi berobat apalagi ada Cilla juga. Minimal Cilla nggak akan merasa sendirian saat tahu kebenarannya. Tapi gue udah terlanjur janji sama papa mau bantu di kantor. Kayaknya papa lagi dalam masalah berat sampai minta tolong gue langsung masuk mulai Senin.”


“Tenang aja, sepertinya bokap minta gue nemenin nyokap yang mau ikutan juga sekalian untuk mendampingi Cilla,” ujar Theo sambil menaik turunkan alisnya.


“Awas lo macam-macam, ya !” ujar Arjuna dengan wajah galak. “Jangan coba-coba memprovokasi calon istri gue dengan pikiran kotor elo !”


Theo terbahak melihat raut muka Arjuna yang terlihat sangat tidak rela kalau Cilla akan pergi dengan Theo.


“Nggak janji,” ledek Theo sambil menaikan kedua alisnya.


“Kalau sampai Cilla berubah sedikit aja pas balik ke Jakarta, habis elo gue kulitin sampai tinggal tulang dan kentut,” gerutu Arjuna dengan wajah galaknya.


“Berubah jadi wanita dewasa,” ledek Theo sambil terbahak.


“Nggak ada sering-sering peluk ya ! Elo itu sepupu yang udah lama nggak ketemu, jadi jangan sampai salah jalur kalau terlalu dekat sama Cilla,” tegas Arjuna masih dengan wajah galaknya.


“Posesif banget sih,” cibir Theo. “Perasaan waktu sama Luna nggak sampai posesif begini.”


“Dih segitu yakinnya kalau elo cowok baik-baik,” cebik Theo.


Arjuna makin memasang wajah sombongnya dengan penuh percaya diri.


Tidak lama handphone Arjuna yang di atas meja bergetar dan nama anak bebek muncul di layar.


“Ya ampun Jun, sampai ke daftar panggilan handphone elo kasih nama anak bebek,” Theo geleng-geleng kepala.


“Anak kesayangan gue, Theo,” Arjuna tersenyum sambil menggeser ikon hijau handphonenya.


“Iya sayang,” Arjuna sengaja dengan suara mesra menjawab panggilan Cilla.


Theo langsung memasang wajah ingin muntah dengan bibir mencebik. Arjuna hanya senyum-senyum melihat reaksi sahabatnya.


Arjuna pun memberitahu posisinya sekarang supaya Cilla, Amanda dan Jovan menyusulnya dan Theo yang masih menikmati sisa minuman mereka.


Hanya dalam waktu 10 menit, ketiganya sudah menghampiri meja Theo dan Arjuna.


“Mau pesan minum, sayang ?” tanya Arjuna dengan suara lembut dan tatapan mesra.


Jovan langsung memutar bola matanya, Amanda senyum-senyum dan Theo kembali bersikap seperti orang mau muntah.


Cilla tidak menjawab tapi menyentuh kening Arjuna dengan punggung tangannya.


“Mas Juna nggak salah minum sesuatu, kan ?” tanyanya sambil mengernyit. “Dari tadi pangil-panggil sayang terus.”


“Memangnya nggak mau dipanggil sayang ?” mata Arjuna mengerjap membuat Cilla memutar bola matanya.

__ADS_1


“Udah deh, minta uang,” Amanda mengulurkan tangannya pada Arjuna. “Amanda sama Jovan haus, kalau Cilla nggak mau, traktir kita berdua aja, sebagai upah karena disuruh khusus kemari jadi pengawal calon istri tercinta.”


Arjuna mencebik tapi dikeluarkannya juga dompet dari saku celananya. Ia memberikan dua lembar uang ratusan pada Amanda.


“Kamu nggak pesan minuman juga ?”


“Itu apa ?” Cilla menunjuk pada gelas kertas yang ada di depan Arjuna.


“Hot coffe latte. Mau ? Udah nggak panas, kok,” Arjuna mengangkat gelasnya.


“Nggak doyan kopi,”


“Ya udah sana beli es cokelat atau strawberry smoothies.”


“Mas Juna serius dengan ucapan yang tadi di toko handphone ?” Cilla mengernyit untuk memastikan.


Arjuna mengangguk sambil tertawa. Akhirnya Cilla ikut ke kasir menyusul Amanda dan Jovan.


“Sepertinya salah besar kalau menolak lagi perjodohan sama Cilla,” ujar Arjuna sambil tersenyum dan pandangannya masih mengikuti langkah Cilla.


“Untung nyadar,” cebik Theo.


Saat mereka sedang menikmati minuman sambil mengobrol ternyata Doni mengabarkan Arjuna kalau masalah handphone Cilla masih membutuhkan waktu lebih dari sehari.


Akhirnya karena sudah terlalu sore, Arjuna minta dikabarkan kalau masalah handphone Cilla sudah selesai.


“Mas Juna pulang sama Cilla, kan ?” tanya Cilla sambil menatap calon suaminya itu.


“Sepertinya aku harus mengantar Amanda dulu, sudah teralu sore,” sahut Arjuna.


“Nggak usah, Kak !” tolak Amanda cepat. Arjuna menoleh dan menatap adiknya sambil mengernyit.


“Amanda biar saya yang antar Pak Juna. Ada helm bapak, kan ? Biar Amanda pakai helm Pak Juna.”


“Kok saya nggak yakin, ya ?” Arjuna menatap Jovan sambil mengernyit.


“Ya ampun, Pak. Saya masih belum punya catatan kriminal di sekolah apalagi di masyarakat. Apa perlu kita ke kantor polisi dulu untuk buat surat keterangan kelakuan baik ?” Wajah Jovan mengerut kesal.


“Mas inget,” bisik Cilla. “Nggak boleh terlalu sebal sama orang.”


Arjuna menghela nafas dan akhirnya mengalah membiarkan Amanda diantar oleh Jovan.


“Hati-hati, Van. Lecet sedikit bukan cuma nilai matematika kamu yang jelek, tapi juga terancam tidak lulus,” ancam Juna dengan wajah serius.


Theo tertawa tapi dalam hati ia memuji sikap Arjuna yang peduli dan sayang pada Amanda. Belum lagi bagaimana sahabatnya itu mendengarkan saran dan permintaan Cilla.


Kalau saja bukan demi kewarasan Arjuna, ingin rasanya Theo mengacungkan 4 jempolnya. Kalau sampai Theo melakukannya, sudah bisa dipastikan guru matematika itu bukan hanya akan bersikap jemawa tapi melayang tinggi hingga lupa menginjak tanah.


Mereka berpisah di pintu menuju pintu keluar karena Amanda dan Jovan menuju parkiran motor dan Theo menuju parkiran mobil, sementara Arjuna dan Cilla sudah meminta Bang Dirman ke lobby utama.


Belum sampai sepuluh menit mobil meninggalkan mal, Cilla sudah tertidur di mobil. Kepalanya bergoyang ke kanan dan kiri hingga akhirnya Arjuna meraihnya supaya bersandar di pundaknya.


Dengan penuh kasih sayang Arjuna menggenggam tangan Cilla dan mencium kening gadis itu cukup lama.


Arjuna berharap calon istrinya tetap menjadi sosok yang kuat dan tegar seperti biasanya saat mendengar kenyataan kalau papi Rudi sakit parah dan sulit untuk disembuhkan.


Arjuna mempererat genggamannya, seolah ingin memberikan tambahan kekuatan untuk Cilla. Arjuna berjanji pada dirinya sendiri, kalau sampai terjadi sesuatu pada calon mertuanya, ia akan menjadi suami sekaligus orang yang membimbing Cilla.

__ADS_1


__ADS_2