MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Pilih Angsa atau Anak Bebek ?


__ADS_3

Jam sepuluh lebih lima menit Cilla sudah sampai di lapangan dekat gang tempat kost Arjuna. Cilla yang sudah memarkir mobilnya langsung mengambil handphone dan mengirimkan pesan pada Arjuna. Sambil menunggu balasan, Cilla memainkan handphonenya, hingga sepuluh menit kemudian kaca di sampingnya diketuk dari luar.


 


Cilla langsung keluar dan berpindah ke kursi penumpang depan. Ia sempat memandangi Arjuna yang sudah duduk di balik kemudi dan mulai menyalakan mobil yang bergerak perlahan meninggalkan lapangan.


 


“Kenapa ? Apa penampilan saya terlalu berlebihan ?” Arjuna yang sempat melirik dan melihat Cilla masih memandanginya tersenyum tipis melihat tatapan gadis itu yang terlalu fokus pada dirinya.


 


“Bapak keren banget hari ini,” Cilla tersenyum sambil memberikan jempolnya. “Sudah pasti om dan tante akan bangga dalam hati mereka karena Pak Arjuna tidak kehilangan pesonanya biarpun tidak mendapatkan fasilitas dari orangtua.”


 


“Kayaknya semalam ada yang bilang kalau wajah saya nggak ganteng-ganteng amat malah sangat jelek kalau lagi jutek,” sindir Arjuna sambil mencibir.


 


“Keren sama ganteng itu memang sebelas duabelas, Pak, tapi tetap maknanya berbeda,” sahut Cilla sambil terkekeh. “Kalau keren itu lebih cenderung ke penampilan fisik, tapi kalau ganteng ya lebih ke wajah. Saya kan bilangnya hari ini Bapak kelihatan keren, bukannya ganteng,” sahut Cilla sambil tertawa pelan.


 


Arjuna mencebik dan melirik Cilla sekilas dari spion tengah, sementara Cilla tergelak karena melihat wajah Arjuna yang tidak menerima seratus persen ucapannya.


 


“Kalau sama Theo, lebih ganteng saya atau dia ?” pancing Arjuna.


 


“Saya nggak mau jawab, karena pertanyaan Bapak itu seperti jebakan batman. Lagipula apapun jawaban saya, tidak akan merubah pikiran Bapak terhadap saya,” Cilla hanya tertawa pelan dan merubah posisi duduknya menghadap ke depan.


 


“Kalau saya berubah pikiran, memangnya kamu bersedia melepaskan Theo ?” tanya Arjuna kembali dengan wajah serius meski pandangannya tetap lurus ke depan.


 


“Saya nggak pernah mengikat Kak Theo dipagar, jadi nggak perlu dilepaskan juga. Kan Kak Theo bukan perliharaan saya,” sahut Cilla sambil tertawa.


“Dan hari ini fokus saja dengan tujuan Bapak. Selain menjenguk orangtua, cobalah bicara baik-baik dengan papanya Pak Arjuna. Siapa tahu, anak SMA yang mau dijodohkan dengan Pak Arjuna  itu cantik, sopan, kalem, dan semua yang memang mendekati selera Pak Arjuna.”


Dalam hati, rasanya Arjuna belum rela mendengar Cilla memanggil Theo dengan sebutan kakak sementara sahabat lainnya masih dipanngil om, sedangkan ia dan Dono tetap dipanggil Bapak.


 


“Saya tidak tahu apakah papa masih mau menerima kalau saya bilang berubah pikiran,” ujar Arjuna sambil menghela nafas.


 


“Pak, jangan pernah takut mencoba sekalipun masih ada kemungkinan gagal. Lagipula yang namanya orangtua selalu punya kata maaf tanpa batas untuk anaknya. Yang perlu Bapak ingat kalau keluarnya Bapak dari rumah adalah karena pilihan Bapak sendiri, bukannya diusir secara langsung oleh orangtua. Jangan lupa, buang jauh-jauh rasa gengsi. Siapa tahu, abege yang mau dijodohkan dengan Bapak itu memang cocok untuk Pak Arjuna.”


 


Suasana menjadi hening karena Cilla sendiri sengaja memdiamkan Arjuna, agar pria itu punya waktu berpikir dan menenangkan hatinya. Hingga akhirnya mobil berhenti di sebuah rumah mewah dengan pos penjaga di depannya.


 


“Ini rumah orangtua saya, Cilla,” ujar Arjuna setelah memarkir mobil di depan gerbang.


 


Seorang pria berkumis berusia sekitar 35 tahun keluar dari gerbang dan mendekati mobil Cilla yang disetiri oleh Arjuna. Cilla pun membuka kaca di sampingnya dan ia agak memundurkan wajahnya agar wajah Arjuna bisa terlihat.


 

__ADS_1


“Den Arjuna !” seru pria itu dengan wajah tercengang, tidak menyangka anak majikannya yang sudah lama pergi, datang kembali membawa gadis muda yang tersenyum manis kepadanya.


 


“Apa kabar Mang Udin ?” sapa Arjuna sambil mengangkat satu tangannya.


 


“Baik, Den. Senang bisa melihat Den Arjuna lagi. Ini neng manis… “ Mang Udin menggantung kalimatnya sambil menunjuk ke arah Cilla.


 


“Saya muridnya Pak Arjuna, Mang Udin. Sekarang anak boss udah jadi guru keren,” sahut Cilla sambil tertawa.


 


 Cilla pun melepas seatbelt dan membuka pintunya, hendak bertukar tempat dengan Arjuna yang akan masuk ke dalam rumah.  Ia berjalan memutar di depan mobil dan menghampiri sisi Arjuna yang baru saja keluar dan berdiri di samping pintu mobil.


 


“Kamu nggak mau ikut masuk ?” tawar Arjuna saat posisi mereka berdekatan di samping mobil.


 


“Nggak, Bapak selesaikan dulu masalah dengan keluarga. Lagipula kalau nanti beneran ada angsa cantik itu, saya jadi minder dan bisa patah hati,” sahut Cilla sambil  tertawa pelan.


 


“Dasar anak bebek !” Arjuna menyentil kening Cilla.  “Kalau kamu ikut masuk dan bertemu dengan angsa yang sudah menunggu saya di dalam, setidaknya kamu bisa jadi juri buat saya, kira-kira gadis itu cocok nggak buat jadi istri saya,” lanjutnya sambil tertawa.


 


“Kan Bapak bilang sendiri, lebih baik memilih gadis yang dijodohkan oleh orangtua Bapak daripada dengan saya yang seperti anak bebek jelek yang bawel dan menyebalkan. Jadi tidak perlu lagi dengar pendapat orang lain, apalagi dari anak bebek jelek seperti saya,” Cilla tertawa getir.


“Kamu tahu darimana saya pernah mengucapkan kalimat itu ?” Tanya Arjuna sambil menautkan kedua alisnya.


 


 


“Kebanyakan perempuan sekalipun tidak menyukai bunga, pasti akan terharu kalau menerima rangkaian bunga dari orang yang dicintainya,” Cilla menyodorkan sebuah bunga tangan berupa gabungan mawar pink, magrit dan lili.


 


“Mawar pink ini memberikan arti rasa terima kasih pada orang yang dicintai dan lili putih ini melambangkan cinta suci layaknya seorang ibu kepada anaknya. Jadi berikan ini pada tante, beliau pasti bahagia.”



Arjuna menatap dengan ekspresi tidak percaya dengan apa yang diberikan oleh Cilla. Bahkan gadis cerewet ini menyiapkan kado tambahan untuk mama Diva.


 


“Jangan lupa, bunga ini saya siapkan supaya Bapak berikan untuk tante bukan untuk anak angsa yang mungkin sudah menunggu Bapak di dalam,” mata Cilla melotot sambil menegaskan ucapannya.


 


Arjuna yang masih  tercengang hanya mengangguk dan tersenyum.


 


“Saya jalan dulu, Pak,” Cilla menyakan mesin mobil. Beberapa detik, Cilla terlihat ragu-ragu, ia masih belum menjalankan mobil dan akhirnya kembali mengembalikan posisi gear ke P.


 


“Pak Arjuna,” panggil Cilla sambil mengeluarkan wajahnya ke jendela. “Saya boleh tanya ?”


 


Arjuna mengerutkan dahi dan mengangguk.

__ADS_1


 


“Seandainya Bapak diberi kesempatan oleh om untuk memilih, mana yang akan Bapak pilih, seekor angsa putih yang cantik atau anak bebek yang cerewet ?”


 


Arjuna yang menganggap pertanyaan Cilla sebagai gurauan malah terbahak mendengar ucapan gadis itu. Wajah Cilla langsung cemberut dan bibirnya mengerucut.


 


“Saya lagi tanya Pak Arjuna, bukannya melawak,” gerutunya kesal.  Tangannya bergerak hendak menutup jendela, namun belum sampai tertutup seluruhnya, tangan Arjuna menahan jendela.


 


“Kamu yakin mau mendengar jawaban saya ?” tanya Arjuna di sela-sela tawanya.


 


“Yakinlah !” sahut Cilla dengan nada sedikit ketus dan wajah masih cemberut. Padahal tangannya mulai panas dingin dan hatinya deg-deg kan menunggu jawaban Arjuna.


 


“Tentu saja saya akan memilih angsa putih yang cantik, soalnya saya suka pusing sama anak bebek yang terlalu cerewet dan sukanya mendebat saya,” sahut Arjuna sambil kembali tergelak.


 


“Iya…. Iya…. Terima kasih jawabannya, Pak Arjuna Hartono,” jawab Cilla dengan wajah cemberut.


 


Ia pun segera memindahkan gear ke D dan perlahan menjalankan mobilnya tanpa berbicara apa-apa lagi atau pamitan pada Arjuna. Begitu menjauh, Cilla langsung menutup rapat jendelanya dan tanpa mampu dicegah, air mata mulai keluar dari sudut matanya.


 


Sementara Arjuna sedikit kaget melihat Cilla pergi begitu saja tanpa pamit lagi kepadanya. Ia masih berdiri menatap mobil Cilla sampai hilang dari pandangan.


 


Kecemasan melanda hati Arjuna, khawatir kalau Cilla akan menanggapi serius ucapannya. Ia sendiri masih bingung, bagaimana kalau saat bertemu nanti, papa Arman tetap memaksa Arjuna untuk menerima perjodohan dengan putri sahabatnya. Dan Cilla sendiri, memintanya dengan tegas untuk menuruti permintaan papa Arman.


 


Bagaimana kalau pada akhirnya Arjuna harus kembali memilih ? Hatinya memang sudah tidak lagi dipenuhi dengan nama Luna. Sekarang bayangan Cilla justru sering mengganggu tidur malamnya, apalagi sejak tahu kalau Cilla mulai dekat dengan Theo, bahkan merubah panggilannya khusus pada Theo. Hati Arjuna sering menjadi tidak tenang, rasanya ia tidak bisa terima dengan perubahan sikap Cilla pada Theo.


 


Arjuna kembali menghela nafas. Mobil Cilla sudah lama tidak terlihat. Arjuna memandangi rangkaian bunga yang sudah disiapkan untuk mama Diva sambil melangkah memasuki rumah orangtuanya yang sudah hampir 8 bulan tidak disambanginya.


 


Mang Udin yang sudah menunggu di gerbang menganggukan kepala saat Arjuna melewatinya, sementara anak majikannya masih larut dalam pikirannya sambil memegang rangkaian bunga di tangannya.


 


Semoga hari ini, Arjuna tidak perlu dihadapkan kembali pada pilihan yang sulit.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2