MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kembali Tertunda


__ADS_3

Sekitar jam 10.30 malam, Cilla lebih dulu meninggalkan grand ballroom diantar 2 orang staf MUA yang diminta khusus oleh mama Diva untuk membantu Cilla mengurus dandanan dan pakaian pengantin Cilla


Tidak membutuhkan waktu lama, sekarang Cilla sudah mengenakan jubah mandi, bersiap menyegarkam tubuh dan wajahnya.


Tepat di pintu kamar mandi, Cilla berpapasan dengan Arjuna yang baru saja selesai mandi dan mengenakan jubah mandi juga.


“Mas Juna kapan balik kesini ?” Cilla mengerutkan dahi karena tidak merasa melihat Arjuna masuk ke dalam kamar yang disiapkan untuk mereka.


“Pas Cilla dibersihkan wajahnya,” aahut Arjuna. Cilla hanya mengangguk-angguk.


“Nggak pakai lama,” bisik Arjuna saat posisinya berdiri di samping Cilla.


Cilla hanya tertawa pelan dengan wajah yang perlahan bersemu merah. Tanpa menjawab apapun, Cilla bergegas masuk ke kamar mandi dan langsung menguncinya.


Cilla berdiri di balik pintu kamar mandi sambil memegang dadanya yang berdegup semakin kencang dan tidak teratur. Rasanya tidak karuan mendengar Arjuna berkali-kali mengingatkan untuk memberikan haknya malam ini.


Usia Cilla memang masih muda, tapi ia pun sadar akan konsekuensi tugasnya sebagai istri. Dan menikah dengan Arjuna adalah keputusannya, bukan paksaan dari orang lain.


Rasanya benar-benar menegangkan. Belum pernah Cilla merasa seperti ini bahkan saat menghadapi ujian sekolah dua minggu lalu. Tapi sekarang atau nanti Cilla harus melewatinya sebagai sesuatu yang indah bukan menakutkan.


Setelah hampir 30 menit di kamar mandi, perlahan Cilla membuka pintu dan menyembulkan kepalanya. Terlihat Arjuna sedang duduk di atas ranjang bersandar pada kepala ranjang, sibuk dengan handphonenya namun senyuman terus terlihat di wajahnya.


“Kenapa ngintip-ngintip ?” ledek Arjuna sambil tertawa pelan. “Nggak ada orang lain di kamar selain Mas Juna.”


Cilla tertawa kikuk dan melebarkan pintu kamar mandi supaya ia bisa keluar. Rambutnya terbungkus handuk kecil dan badannya mengenakan jubah mandi.


Arjuna mengerutkan dahi saat melihat Cilla malah berjalan menuju koper mereka.


“Cilla mau ngapain ? Sini dekat sama Mas Juna, nggak usah pakai piyama nanti juga dibuka semua,” ujar Arjuna dengan wajah serius namun tetap tersenyum.


Blush


Wajah Cilla langsung terasa panas namun ia tidak memutar arah tetap menuju kopernya.


Arjuna hanya memperhatikan tingkah istrinya dengan mata memicing dan akhirnya menautkan alis saat melihat Cilla bergegas kembali ke kamar mandi sambil membawa satu set piyama.


Arjuna kembali mengambil handphone yang sempat ditaruhnya di atas ranjang. Sejak tadi dia berselancar mencari artikel bagaimana melewati malam pertama penuh sensasi namun tetap berkesan.


Matanya kembali memicing saat melihat Cilla keluar kamar mandi sudah mengenakan satu set piyama, celana panjang dan atasan lengan pendek. Rambut Cilla yang masih basah tidak lagi terbungkus handuk kecil.


“Mas Juna,” panggil Cilla pelan dan wajahnya tertunduk saat berdiri di samping ranjang Arjuna.


“Maaf,” lirih Cilla dengan kepala tertunduk.


“Alasan apalagi sekarang ?” tanya Arjuna sambil menghela nafas.


“Cilla nggak bisa menepati janji malam ini,” ujar Cilla sambil menatap cemas pada Arjuna.


“Cilla belum siap lagi ?” terdengar suara Arjuna mulai sedikit kesal.


“Bukan,” Cilla menggeleng. “Cilla datang bulan.”


Mata Arjuna membelalak. Kenapa alam tidak mendukung niatnya. Padahal suasana kamar presidential suite ini begitu mendukung dan semangat Arjuna sudah sampai di ubun-ubun. Gairah yang sudah ditahannya sebulan lebih demi memenuhi permintaan Cilla.


“Memangnya Cilla nggak tahu kalau bakal datang bulan ?” nada suara Arjuna sedikit meninggi dan raut wajahnya terlihat kesal menatap Cllla dengan tajam.


“Biasanya baru tiga sampai empat hari lagi. Nggak tahu kenapa bulan ini datangnya lebih cepat.”


“Terus Cilla udah bawa pembalut ?” Cilla mengangguk membuat Arjuna menghela nafas.


“Nah itu udah persiapan. Berarti Cilla udah tahu kalau mau datang bulan ?”


“Nggak tahu, Mas Juna !“ Cilla menggoyankan telapak tangannya sambil menggeleng.


“Cilla benar-benar nggak menduga. Cilla bawa karena… “


“Karena apa ?”


“Baca di artikel kalau saat malam pertama itu biasanya perempuan akan mengeluarkan darah. Jadi buat jaga-jaga Cilla bawa pembalut.”

__ADS_1


Arjuna menyibakan selimutnya dengan kasar. Cilla terbelalak saat melihat Arjuna hanya mengenakan boxer saja. Selama menikah, belum pernah Arjuna tidur bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer seperti malam ini.


“Mas Juna mau kemana ?” tanya Cilla mendekati suaminya yang sudah memakai celana pendek dan kaos.


“Mau cari angin !” ketus Arjuna sambil mengambil dompet dan handphonenya tanpa menoleh ke arah Cilla.


“Jangan tinggalin Cilla sendirian di sini,” Cilla menahan lengan Arjuna, lalu berdiri di depan suaminya dengan wajah memelas.


“Cilla juga nggak tahu akan jadi seperti ini. Cilla benar-benar mau melakukannya malam ini sama Mas Juna, tapi siapa yang sangka kalau akhirnya seperti ini. Tolong jangan tinggalin Cilla sendirian di sini.”


Arjuna menatap Cilla sekilas. Sadar kalau memang bukan kesalahan Cilla namun keinginan biologisnya untuk melewati malam pertama dengan Cilla saat ini menyulut emosi.


Belum lagi tubuhnya terasa sangat penat dengan aktivitas dua minggu terakhir, hingga Arjuna memutuskan untuk keluar sebentar mencari udara segar.


“Mas Juna butuh waktu untuk menenangkan diri sebentar,” ujar Arjuna melepaskan kedua tangan Cilla yang memegangi lengannya. “Nggak lama, Mas Juna hanya mau cari angin.”


Suara Arjuna mulai melunak dan Cilla kembali menundukan kepalanya.


“Apa Cilla boleh ikut ?” lirihnya pelan. “Cilla nggak suka di tempat asing begini sendirian.”


“Mas Juna nggak bisa tenangin diri kalau Cilla ikutan juga.”


Cilla hanya terdiam saar Arjuna berjalan meninggalkan kamar, melewati ruang tamu baru sampai ke pintu menuju koridor.


Cilla menghela nafas saat mendengar pintu kamar ditutup. Dengan langkah gontai Cilla mengambil handphonenya yang ada di meja rias lalu lanjut ke ranjang.


Lili : nggak sabar rasanya mendengar Cilla berbagi pengalaman


Febi : dih somplak, pengen tahu aja malam pertama orang 😤😤


Lili : ala gue yakin elo diam-diam pasti pengen tahu juga kan ? 😜😜😂


Jovan : daripada penasaran dan kepo-in Cilla, mendingan elo berdua cepat-cepat cari suami, bukan pacar lagi.


Febi : ogah banget. Nggak niat gue kawin muda


Lili : eh kok Cilla online nih ? Yuuhhuu Cilla… Nggak ada acara malam penuh kehangatan nih ? 😁😁🤔


Lili : Cilla sayang, ingat ya jangan terlalu bersemangat teriaknya 🤣🤣🤣


Cilla hanya tersenyum tipis membaca percakapan tiga sahabatnya.


Diletakan handphonenya di atas nakas dan dibaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan selimut menutupi hingga ke kepalanya.


Tanpa mampu dicegah, air mata mulai menetes dari kedua matanya meski Cilla berusaha untuk memejamkan mata dan berharap Arjuna benar-benar hanya membutuhkan waktu sebentar untuk menyegarkan pikirannya.


“Mas Juna jangan lama-lama cari anginnya,” tulis Cilla lewat pesan yang dikirimnya untuk Arjuna.


Sampai di lantai bawah, Arjuna yang semula berniat masuk ke cafe hotel yang masih buka, urung melangkah ke sana, ia memilih ke arah kolam renang yang ada di lantai dasar.


“Belum tidur tuan muda ?” sapa seseorang membuat lamunan Arjuna buyar.


”Pak Trimo ?” Arjuna tercengang melihat sosok pria baya yang mendekat ke arahnya.


”Apa kabar Pak ?” Arjuna tersenyum sambil mengulurkan tangannya menjabat Pak Trimo. “Kok belum tidur, Pak ?”


“Maklum wong ndeso, Tuan muda,” Pak Trimo tertawa. “Nggak biasa tidur di tempat mewah.”


“Kamar Pak Trimo di lantai berapa ?”


“Lantai 5, Tuan muda. Tuan Rudi berbaik hati mengundang anak cucu saya untuk hadir di pesta Tuan muda dan noni.”


“Sudah seharusnya, Pak. Selama ini Bik Mina dan Pak Trimo sudah seperti orangtua bagi Cilla, dan tentunya bagi saya juga.”


“Tuan muda sendiri belum tidur ?” kedua alis Pak Trimo menaut, menatap Arjuna yang tersenyum tipis.


“Cari udara segar untuk menenangkan pikiran,” sahut Arjuna.


“Apa non Cilla sudah membuat kesal Tuan muda ?”

__ADS_1


“Nggak juga, Pak. Sepertinya kesibukan akhir-akhir ini membuat badan saya cukup lelah hingga mudah emosi,” sahut Arjuna sambil tertawa pelan.


“Jangan lama-lama meninggalkan non Cilla di tempat asing sendirian. Pengalaman buruknya di masa Nyonya Sofi membawa sedikit trauma untuknya.”


“Pengalaman buruk apa, Pak ?” dahi Arjuna berkerut.


“Nyonya Sofi pernah mengurung non Cilla di gudang hampir seharian. Waktu itu tuan sedang keluar kota, non Cilla tidak sengaja membuat kotor baju non Mia yang akan dipakai ke pesta ulangtahun temannya. Amukan non Mia membuat nyonya langsung menghukum non Cilla dan melarang kami memberi makan, hanya boleh sebotol kecil air mineral. Non Cilla sudah berulang kali minta maaf dan memohon agar tidak dikurung dalam ruangan. Sepertinya non Cilla ada sedikit trauma juga berada di satu ruangan tertentu sejak meninggalnya nyonya Sylvia.”


“Tapi Cilla tidak pernah takut tidur sendirian kan, Pak ?”


“Selama nyonya Sofi masih tinggal serumah, non Cilla terus berusaha menunjukan kalau semuanya baik-baik saja terutama saat tuan sedang di rumah. Tapi saya dan Bik Mina tahu kalau trauma itu masih sekali-kali mengganggu non Cilla, terutama di tempat-tempat asing.”


“Apa papi tahu hal-hal seperti ini, Pak ?”


“Tidak,” Pak Trimo menggeleng sambil tersenyum. “Non Cilla selalu menutupi banyak kelemahan dirinya hingga orang yang melihatnya selalu menganggap kalau non Cilla baik-baik saja. Yang pasti ia tidak mau menyusahkan orang lain. Jangan terlalu percaya kalau ke depannya non Cilla bilang baik-baik saja sambil tersenyum bahkan tertawa. Itu pertanda sebaliknya karena non Cilla justru sedang dalam kondisi yang tidak baik sama sekali.”


“Terima kasih banyak ceritanya, Pak,” Arjuna tersenyum dan beranjak bangun dari kursi di pinggiran kolam.


“Tuan muda,” panggil Pak Trimo membuat Arjuna urung melangkah.


“Sejak pertama kali bertemu dengan tuan muda, hati saya berkata kalau Tuan adalah laki-laki baik yang akan mendampingi non Cilla. Dan sekarang baik saya maupun Mina bahagia melihat tuan muda akhirnya benar-benar menjadi suami non Cilla. Tolong jaga non Cilla dengan segenap hati dan cinta, karena non Cilla akan menyerahkan seluruh hidupnya untuk cintanya. Kalau suatu saat Tuan muda tidak bisa lagi mendampingi non Cilla, tolong jangan ditinggalkan sendirian. Antarkan kembali pada tuan Rudi atau kami.”


“Saya mungkin bukan laki-laki yang sempurna, Pak Trimo,” Arjuna tersenyum. “Tapi sampai kapan pun, selama saya masih diberi hidup oleh Tuhan, saya tidak akan pernah meninggalkan Cilla sendirian.”


“Terima kasih Tuan muda,” Pak Trimo menganggukan kepala sambil tersenyum.


”Saya balik ke kamar dulu, Pak. Sepertinya saya sudah meninggalkan Cilla cukup lama dan perasaan saya juga sudah lebih baik.”


Pak Trimo hanya mengangguk dan tersenyum mengiringi kepergian Arjuna.


Sampai di lantai presidential suite, Arjuna mempercepat langkahnya dan mengeluarkan kartu untuk membuka pintu.


Ruangan kamar tidur masih terang seperti saat Arjuna keluar. Matanya menyipit, tidak terlihat sosok Cilla di atas ranjang. Langkahnya semakin dekat ke ranjang dan melihat ada gundukan di bawah selimut.


Perlahan Arjuna menyibak selimut sambil duduk di tepi ranjang. Terlihat wajah tenang Cilla sudah tertidur dengan posisi meringkuk di bawah selimut.


Dengan lembut Arjuna menyentuh wajah Cilla. Tangannya meraba pipi Cilla, memastikan kalau ada bekas air mata yang sudah mengering di satu sisi wajah Cilla yang menempel pada bantal.


Arjuna mendekat dan mencium kening Cilla sebelum akhirnya dia bangun dan berganti baju.


Saat mengeluarkan handphone dan bermaksud meletakannya di atas nakas, Arjuna baru membaca pesan yang dikirim Cilla sekitar satu jam yang lalu. Bibirnya tersenyum saat membaca pesan dari istrinya itu.


Diraihnya tubuh Cilla ke dalam dekapan setelah Arjuna ikut merebahkan diri di samping Cilla.


“Mas Juna ?” mata Cilla mengerjap dan mendongak menatap wajah Arjuna yang begitu dekat.


“Maafin Cilla,” lirihnya.


Arjun tersenyum lalu mencium kening Cilla cukup lama kemudian berpindah ke mata, hidung dan berakhir di bibir Cilla.


Merasakan balasan dari Cilla, Arjuna pun bukan sekedar memberikan ciuman selamat malam untuk Cilla.


“Maaf…” Arjuna langsung mengecup bibir Cilla.


“Mas Juna yang harusnya minta maaf. Maaf karena hanya memikirkan nafsu biologis saja,” Arjuna tersenyum dan menggesekan hidungnya pada hidung Cilla.


“Cilla udah siap kok,” ujar Cilla dengan mata berkaca-kaca. “Tapi nggak tahu kenapa tamu bulanannya bisa pas datang begini.”


“Nggak apa-apa. Sekarang kita sudah saling memiliki. Mas Juna akan sabar menunggu sampai Cilla siap. Mas Juna sayang sama Cilla dan menikahi Cilla bukan hanya untuk kebutuhan biologis saja. Maafin Mas Juna, ya.”


Cilla mengangguk dan menyusupkan kepalanya ke dalam pelukan Arjuna


“Sekarang bobo, ya,” ujar Arjuna sambil mengelus-elus punggung Cilla.


Cilla mengangguk namun beberapa saat ia langsung merenggangkan pelukannya dan menatap Arjuna dengan dahi berkerut.


“Mas Juna ngantongin apa nggak di celana tidur ? Kok kayak ada yang ganjel ?”


Arjuna membelalak dan mulai merasakan sesuatu yang langsung bereaksi saat berdekatan dan memeluk Cilla.

__ADS_1


“Nggak usah dipikirin malam ini, Cilla bobo aja. Setelah selesai datang bulannya baru kita bahas.”


Cilla masih mengernyit tapi menurut saat Arjuna kembali memeluknya dan berusaha memejamkan mata meski masih sedikit penasaran dengan ucapan Arjuna.


__ADS_2