
~|~Jangan menilai sesuatu tanpa kita memastikan nya terlebih dahulu. karena belum tentu apa yang terlihat, sama dengan apa yang kita pikirkan.~|~
*******
Di sisi lain Mela yang baru saja sampai di lobi rumah sakit, segera saja melangkahkan kaki nya dengan sedikit tergesa-gesa menuju ruang rawat Lila berada.
Setibanya di depan ruang rawat Lila, Mela sedikit mengusap keringat yang mengalir di dahinya karena ia terlalu senang dan terburu-buru datang ke sini, karena takut Lila akan rewel dan tidak mau makan kalau bukan Mela yang menyuapi nya.
Dengan gerakan perlahan tanpa menimbulkan suara Mela membuka kenop pintu ruangan rawat Lila. Ketika pintu tersebut telah terbuka seperempat bagian, saat itu lah hati Mela merasakan sesak seketika.
Di mana pemandangan di dalam ruangan rawat Lila adalah, suatu pemandangan layak nya sebuah keluarga yang bahagia dan membuat Mela menyadari nya.
Di sana, Mela dapat melihat bahwa kini Lila tengah disuapi dengan telatan oleh seorang wanita cantik yang selalu menyunggingkan senyum manis nya saat menyuapi Lila.
Sesekali terdengar suara canda tawa dari kedua nya. Sementara Wilden hanya diam di sisi tempat tidur Lila yang lain sambil sesekali menatap wanita itu dengan tatapan intens.
__ADS_1
Bahkan, Mela dapat melihat seulas senyum tipis bersarang di sudut bibir Wilden yang bahkan tidak diberikan Wilden pada nya.
Mela merasa bahwa semua ini salah, tidak seharus nya dia tetap berada di sini dan merusak segala nya. Ia tahu posisi nya kini, tapi ia tidak menyangkal bahwa ada setitik rasa sesak dalam dada nya saat melihat pemandangan di depan nya.
Tapi sebisa mungkin Mela menekan setitik rasa sesak tersebut dalam hati nya dan berusaha menguraikan senyuman agar tersinggung di bibir nya.
Karena pada kenyataan nya, tampak nya Lila telah merasa nyaman dengan keberadaan wanita cantik tersebut. Merah menyadari bahwa mungkin dia tidak terlalu di butuhkan saat ini.
Andai saja Lila lebih dahulu bertemu dengan wanita tersebut. Mungkin Mela tidak akan pernah berada di posisi seperti ini, menjadi istri dari seorang Wilden Afando.
Setiba nya di kafetaria, Mela segera memesan satu cup jumbo es krim rasa vanila, dan memakan nya di salah satu meja yang letak nya berada didekat jendela dan lumayan strategis.
"Sedang asyik menikmati es krim mrs. Xaverius?"
Mela sontak langsung mendongak dan terkejut ketika mendapati bahwa Wilden telah berada disamping nya dengan tatapan mata elang nya.
__ADS_1
"K_ak Wilden,"
"Jadi ini yang kamu lakukan? sedari tadi Lila tidak berhenti menanyakan kapan kamu akan datang menjenguk nya, sementara kamu malah sedang asyik menikmati es krim mu di sini."
Wilden langsung memotong kata-kata pedas nya yang seketika membuat Mela menunduk merasa bersalah.
"Maaf,"
Hanya itu yang mampu Mela ucapkan, ia bingung harus menjawab apa.
"ayo , Lila sudah mencari mu sedari tadi."
Wilden langsung menggenggam tangan Mela dan menarik nya agar segera mengikuti nya menuju ruang rawat Lila.
" Tapi Kak, "
__ADS_1
Wilden kembali berbalik menatap kedua manik mata Mela dengan tatapan tajam nya, membuat Mela kembali menundukkan wajah nya. karena ia tak kuasa di tatap setajam itu oleh Wilden.